BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
SI JAGO MERAH


__ADS_3

"Aura, bagaimana keadaan keluargamu di Bandung?" tanya mertuanya saat mereka berkumpul di ruang keluarga.


"Alhamdulillah sehat, Bu. Ketika Aura pulang untuk menghadiri acara haul yang ke sembilan tahun, Paman dan Bibi titip salam untuk Bapak dan Ibu."


"Syukurlah, kalau semua keluargamu dalam keadaan sehat walafiat."


"Tak terasa sudah sembilan tahun orang tuamu meninggal," mata Nenek Gladys berkaca-kaca mengenang kebersamaannya bersama kedua besan sekaligus sahabatnya.


"Jangan merusak suasana Bu," tegur Kakek Gladys.


"Maafkan Ibu karena larut dalam suasana berduka."


"Tidak apa-apa," Mama Aura mengusap tangan mertuanya dengan lembut.


"Kalian pasti lelah, sudah sana istirahat dulu."


Mama Aura memang sudah kehilangan kedua orang tuanya sejak ia membina rumah tangga di tahun kedua pernikahan namun wanita itu masih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari mertuanya.


Orang tua Papa Taufiq begitu menyayangi Mama Aura, mereka menganggap wanita itu sebagai anaknya sendiri meskipun tahu menantunya saat itu belum bisa menerima putranya sebagai suami.


***


Setelah seharian beristirahat di rumah, Papa Taufiq berencana mengajak istri beserta kedua anaknya jalan-jalan menikmati suasana Yogyakarta.


Gladys dan Joe kecil sudah bersiap menunggu papanya keluar rumah. Sore itu mereka berencana jalan-jalan di 0 (nol) kilometer Yogyakarta.


Jarak antara rumah dengan titik nol kilometer tidak begitu jauh hanya memakan waktu sekitar 20 menit menggunakan becak alat transportasi umum beroda tiga yang sering dijumpai di Indonesia dan sebagian di Asia.


"Tuan, kita sudah sampai," ujar tukang becak saat mereka sudah sampai di depan Pasar Brigharjo, Yogyakarta.


"Baik, Pak. Ini uangnya," Papa Joe mengeluarkan uang 10.000 zaman dulu dari dalam dompet miliknya.


"Terima kasih."


"Yey! Hole!" Gladys kecil lompat-lompat gembira dalam genggaman Mama Aura.


"Dik, main kejar-kejaran yo! siapa yang kalah akan menerima hukuman."


"Ayo, Kakak pasti kalah," kemudian Gladys kecil langsung berlari menghindari tangkapan sang kakak.


Joe dan Gladys kecil begitu bahagia bermain bersama, mereka berlari kesana kesini tanpa mengenal lelah.


"Sayang, kita duduk di sana!" Papa Joe menggenggam tangan istrinya.


Mereka duduk di bangku taman di depan Museum Benteng Vredeburg sambil menikmati bakpia pathok salah satu makanan khas Yogyakarta.


"Anak-anak begitu bahagia ya Mas, aku juga turut bahagia jika mereka tertawa lepas," Mama Aura menyenderkan kepala di dada suaminya.


"Kamu benar, lihatlah wajah imut Gladys sukses mengalihkan konsentrasi muda muda di sana yang sedang berkencan," Papa Joe menunjuk ke arah Gladys berada.


"Aku sangat yakin, kelak dia akan tumbuh menjadi gadis cantik, pintar dan memiliki hati malaikat seperti Mamanya," Papa Joe mencolek dagu istrinya.


"Dih, Papa gombal."


"Dik, kamu kenapa diam saja!" tanya Joe. Ia melihat Gladys kecil berdiri tepat di depan penjual mainan.


"Adik, ayo main lagi!" masih tidak ada respon.

__ADS_1


"Adik, ayo!" Joe menarik tangan adiknya agar menjauh dari pedagang tersebut.


"Kakak tunggu di cini, Ndis mau Mama bental." Gadis kecil itu berlari menghampiri Papa dan Mamanya.


"Papa, Ndis mau beli mobilan," rengek Gladys.


"Loh, Gladys kan anak perempuan, tidak boleh membeli mobil-mobilan."


"Mama, Ndis mau beli mobilan untuk Kakak Malk (Mark)."


Sontak Papa dan Mama Gladys tertawa mendengar alasan mengapa gadis kecil itu ingin membeli mobilan.


"Memangnya kenapa Gladys ingin membelikan Kakak Mark hadiah?" tanya Mama Gladys setelah membelikan mobilan yang diinginkan putrinya.


"Kemalin Kakak Malk bilang mau kembali ke Amelika jadi Ndis diminta beliin hadiah."


"Ndis juga dikacih hadiah boneka, lucu deh Ma," ia mengeluarkan boneka beruang berukuran kecil.


"Kata Kakak, dia cayang dan kalau udah gede mau nikahin Ndis."


"Hah! A-apa! Menikah!" Mama Aura tergagap, sama sekali tak menyangka anak berusia 10 tahun menjanjikan sebuah pernikahan pada gadis kecil berusia 4 tahun seperti Gladys.


"Lalu Gladys bilang apa?" tanya Mama Aura penasaran.


"Ndis bilang, mau nikah dengan Kakak!"


"Joe, kamu ajak Adikmu bermain lagi," titah wanita itu.


"Pa, kamu dengar semua yang dikatakan Gladys?" tanya Mama Aura setelah Joe dan Gladys kembali bermain.


"Hu'um!"


"Sudah, kami berdua setuju menjodohkan Mark dan Gladys. Lagipula mereka sudah akrab sejak kecil dan saling menyayangi."


"Lantas, bagaimana dengan Mami Stevanie?"


"Dia pasti setuju, toh Tuan Ibrahim sendiri yang meminta putriku menjadi calon menantunya bukan aku yang mengemis padanya."


"Ya sudah, kamu urus sendiri. Asalkan tak membahayakan anak-anak, aku akan selalu mendukung."


Malam harinya, Taufiq mengajak keluarga kecilnya menonton di salah satu bioskop di pusat kota Yogyakarta.


Pria itu sudah memesan 4 tiket masuk bioskop, membeli pop corn dan 2 minuman soda dingin yang akan dinikmati ditengah keseruan menonton film.


Banyak pasangan suami istri mengajak anaknya menonton film yang bisa ditonton oleh semua usia mulai dari anak-anak hingga orang dewasa oleh sebab itu, Taufiq turut serta mengajak kedua buah hatinya menonton film seraya menikmati suasana kota Yogyakarta di malam hari.


"Kebakaran!"


"Kebakaran!"


Suara sirine kebakaran berbunyi, membuat semua orang panik. Suasana bioskop yang semula hening mendadak kacau balau. Para pengunjung berhamburan, berlari kesana kemari menyelamatkan diri dan keluarga agar tak menjadi korban keganasan si jago merah.


Jerit histeris begitu memilukan, kobaran api semakin menjulang tinggi, merambat kemana-mana.


"Mas, kebakaran!" wajah Mama Aura pucat bagaikan mayat.


Beberapa orang terjatuh, terinjak oleh pengunjung lain keadaan di depan mata begitu mengerikan.

__ADS_1


"Cepat, kamu ikuti aku dari belakang." Papa Joe langsung menggendong Gladys yang sedang menangis ketakutan saat melihat kobaran api semakin mengamuk.


Mama Aura berlari menggandeng tangan Joe. Beberapa kali genggaman tersebut terlepas saat para pengunjung tak sengaja menabraknya hingga ia terpisah dari suaminya. Wanita itu terus berlari mengikuti beberapa orang di depan karena mengira suaminya sudah berada di depan.


"Papa!" teriak Gladys saat sebuah ledakan yang sangat kuat menjungkir balikan tubuh Papa Joe ke belakang. Pria itu terpental jauh dari putrinya.


Mama Aura tercekat melihat kaca-kaca gedung bioskop pecah akibat suara ledakan tersebut.


"Mas..." teriak Mama Aura.


Wanita itu berteriak setelah menyadari suaminya masih terjebak di dalam kepungan api.


"Pak, tolong di dalam masih ada suami dan putri saya," teriak Mama Aura.


Di saat wanita itu hampir putus asa, ia melihat 2 orang pria memapah tubuh Taufiq keluar dari lokasi kejadian kebakaran.


Tubuh Taufiq berlumuran darah akibat terkena serpihan kaca, pria itu masih bernapas meski detak jantungnya melemah.


"Mas, di mana Gladys!" wanita itu menggoyangkan tubuh suaminya yang tergeletak di tanah.


"Mas!"


"Bu, korban dalam keadaan tidak sadar sebaiknya hentikan menggoyangkan tubuh pria ini."


"Kita tidak tahu apakah terjadi luka dalam atau tidak, tunggu sampai tenaga medis datang!" ucap seorang pria yang sudah menolong Taufiq.


"Tapi Pak, di dalam masih ada anak saya."


"Saya ingin menyelamatkannya."


"Bu, api semakin besar dan mustahil putri Anda selamat."


"Tidak, anak saya harus selamat. Dia pasti baik-baik saja di dalam."


Mama Aura sudah bersiap menerobos kobaran api yang semakin besar, untungnya beberapa pengunjung yang selamat menghentikan wanita itu.


"Bu, hentikan! Jika Anda memaksa masuk, bagaimana dengan suami dan anak itu!" ujar seorang wanita seumuran dengannya mencoba memperingatkan.


Tubuh wanita itu jatuh tersungkur ke tanah, air matanya mengalir dan dadanya terasa sesak. Ia merasa gagal menjadi ibu karena tidak mampu menyelamatkan Gladys.


Joe kecil menyaksikan bagaimana mengerikannya keadaan sekitar, pecahan kaca bertebaran dimana-mana, matanya yang suci melihat puluhan orang tergeletak di tanah semuanya berlumuran darah.


Anak kecil itu berlari menuju pintu masuk bioskop, sesekali mendongak dan melihat kepulan asap hitam membumbung tinggi ke langit.


"Ndis..." ucap Joe lirih.


"Gladys, kamu akan baik-baik saja. Mama yakin kamu akan selamat, Nak!"


Hati wanita itu mencelos melihat api semakin merambat dan mengepung bangunan bioskop. Bayangan wajah imut putrinya seketika hadir membuat dunianya tiba-tiba berubah menjadi gelap.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


Cerita ini menurut versi Mama Aura, di episode selanjutnya masih flash back namun mengambil dari sudut pandang Bunda Meta.


Note : Tragedi kebakaran ini terinspirasi dari kejadian kebakaran yang pernah terjadi di salah satu bioskop di daerah Yogyakarta pada tahun 90-an.


__ADS_2