
Happy reading 🍃
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit pasca operasi, Dokter Calista sudah memperbolehkan Gladys pulang ke rumah.
Hari ini, di sebuah ruang rawat inap setara kamar hotel bintang lima, Mama Aura sedang mengemasi pakaian serta perlengkapan si kecil ke dalam koper. Suster Kirana bertugas membantu Gladys bersiap, memastikan luka jahitan, obat-obatan yang akan dikonsumsi calon Adik Iparnya sudah masuk semua ke dalam kotak obat. Sementara Joe, bertugas sebagai supir dan babysitter untuk Baby Andra.
"Nyonya Gladys, ada beberapa pantangan yang harus Anda hindari selama menjalani proses pemulihan pasca operasi seperti tidak boleh melakukan aktivitas fisik yang berat selama 6-8 minggu kedepan, turun naik tangga, bergerak terlalu cepat, berhubungan intim selama 6 minggu pasca melahirkan dan terlalu menjaga pola hidup sehat demi mendapatkan tubuh ideal seperti dulu," ujar Dokter yang menangani Gladys.
"Harus lebih sering minum air putih, makan makanan sehat dan berserat agar terhindar dari sembelit dan apabila sudah memasuki minggu ke-8 luka bekas operasi sudah tidak terasa sakit, Anda boleh melakukan olahraga ringan seperti yoga, pilates atau jalan santai," tambahnya.
"Untuk Suster Kirana, tolong perhatikan kebersihan luka dan personal hygiene pasien. Dalam kasus ini tidak perlu saya jelaskan lagi 'kan," tanyanya pada Suster Kirana yang berdiri tidak jauh dari ranjang Gladys.
"Anda tenang saja Dokter, calon menantuku pasti akan menjalankan tugasnya dengan baik," bela Mama Aura seraya menyentuh lembut pundak gadis itu.
Sedetik kemudian, pipi Suster Kirana memerah mendengar perkataan wanita itu.
"Loh, kenapa wajahmu memerah?" tanya wanita paruh baya itu sambil mengulurkan tangan untuk menyentuh kening Suster Kirana.
"Tidak demam kok tapi kenapa memerah?" ujar wanita itu lagi dengan memasang wajah polos tak berdosa.
"Ma, jangan menghambat pekerjaan Dokter," Joe mencoba memperingatkan sang Mama namun dalam hati sebenarnya ia ingin menyelamatkan gadis itu dari godaan Mama Aura.
Kening Dokter Calista berkerut, ia merasa seperti obat nyamuk berada di tengah keluarga pasien, merasa asing dan sangat tidak diharapkan kehadirannya.
"Nampaknya semua penjelasan saya sudah jelas. Kalau begitu, permisi dulu. Semoga Anda lekas sembuh, Nyonya Gladys."
Tak ingin terlalu lama berdiri diantara keluarga itu, Dokter Calista keluar dari dalam ruangan dan melajutkan pekerjaannya.
Saat Gladys keluar kamar, di depan sana sudah berdiri orang tua angkat gadis itu lengkap dengan pakaian rapi. Mereka langsung mendekat tatkala melihat putri kesayangan duduk di kursi roda.
"Sayang, akhirnya kamu diperbolehkan pulang oleh Dokter. Mulai malam ini bisa tidur di kasur empuk tanpa harus mencium bau obat dan cairan disinfektan rumah sakit," ujar wanita itu terkekeh.
__ADS_1
"Bunda benar, rasanya seperti sudah bertahun-tahun aku meninggalkan kasur empuk di kamarku," raut wajahnya berubah murung.
Selama hampir seminggu berada di rumah sakit, Gladys merindukan kasur empuk, suasana kamar, suasana rumah lengkap dengan kegaduha para pelayan saat bekerja serta pemandangan pesisir pantai laut biru membuatnya terkadang menitikan air mata karena ini merupakan kedua kalinya wanita itu harus meninggalkan salah satu ruangan yang menjadi tempat favorit di kala lelah melanda.
"Jangan memasang tampang imut dan menggemaskan seperti itu, Nak."
"Memang kenapa tidak boleh? Apakah karena Gladys sudah menjadi Mama sehingga kalian tidak mencintaiku lagi?"
"Sembarangan, mana mungkin kami tidak menyayangimu lagi. Karena sudah menjadi Mama, kamu harus bersikap dewasa dan mulai merubah sikap. Jangan sampai kelak Baby Andra melihat Mamanya menangis cuma karena rebutan es krim dengannya," goda Bunda Meta.
Mata almond milik Gladys terbelalak. Orang tua angkatnya masih menganggap dirinya seperti seorang anak kecil. Ia sedikit malu diperhatikan oleh Suster Kirana, meskipun gadis itu pura-pura tak mendengar tapi ia yakin saat ini diam-diam pemilik mata sipit itu mengulum senyum dan menahan tawa. Ingin rasanya Mama Muda itu menggali lubang dan bersembunyi selamanya di sana.
"Ih, Bunda. Gladys tidak secengeng itu kok," protesnya.
"Iya, anak Ayah dan Bunda tidak cengeng. Gladys yang sekarang sudah dewasa, tegar dan tak mudah untuk ditindas seperti dulu," bela Ayah Reza sembari mengelus pipi putri kesayangannya dengan lembut.
"Gladys, anak Ayah. Kedatangan kami berdua bukan hanya meenyambutmu keluar dari rumah sakit, melainkan untuk berpamitan sebelum kembali ke Indonesia."
"Karena tugas kami sudah selesai. Kamu sudah aman tinggal di sini. Bu Aura dan Nak Joe pasti menjagamu dengan baik."
"Selain itu, masih ada satu tugas yang harus dikerjakan oleh kami."
"Apa itu?" tanya Gladys.
"Kami harus mengadakan acara akikah Baby Andra. Jika kita melakukan di sini nampaknya kurang afdol, untuk itulah Ayah berinisiatif meminta Mamamu mengizinkan kami menggelar acara tersebut di Indonesia," ucap Ayah Reza panjang lebar.
"Ayahmu benar, Ndis. Lagipula, Bunda sudah kangen rumah, kangen mulut lemesnya Bu RT serta bisikan-bisikan halus dari mulut tetangga kita," Bunda Meta mencoba mencairkan suasana yang sedikit tegang.
"Ayah dan Bunda janji, kami akan mengunjungimu dan Baby Andra kalau semua urusan sudah selesai," Bunda Meta berjongkok di depan kursi roda. Tangannya terulur, membelai lembut rambut putrinya.
Wanita itu selalu melakukan hal sama di saat sang anak merasa sedih atau kecewa terhadap orang lain. Ia akan memangku kepala putrinya di paha, kemudian mengelusnya sampai Gladys benar-benar tertidur.
__ADS_1
"Baiklah, kalian boleh kembali ke Indonesia tapi janji harus sering melakukan panggilan video untuk mengobati rasa rindu di hatiku," ucap Gladys dengan bibir mengerucut.
Sepasang suami istri itu tertawa lepas sebelum menjawab, "tentu saja. Kalau perlu satu jam sekali Ayah meneleponmu dan menanyakan kamu sedang apa, sudah makan atau belum, bagaimana keadaan cucukku dan masih banyak lagi sampai membuatmu bosan."
"Ayah, selalu saja menggodaku."
"Ya sudah, kalau begitu kami pulang dulu."
Kemudian Gladys memeluk orang tuanya secara bergantian.
"Bu Aura, kami titip Gladys dan Andra. Tolong jaga mereka baik-baik," ucap Bunda Meta dengan bibir dan tubuh gemetar.
"Kamu tenang saja Bu Meta, kami di sini pasti akan menjaga putri dan cucu kita baik-baik."
"Kalau kalian ingin datang ke Australia, pintu rumah kami terbuka lebar," ujar Mama Aura.
Dua orang wanita tangguh yang sama-sama mencintai Gladys saling berpelukan, terdengar suara isak tangis menandai perpisahan.
"Aku percaya, Bu Aura akan menetapi janji," timpal Bunda Meta.
Setelah berpamitan, kini orang tua angkat Gladys masuk ke dalam mobil. Seorang supir sudah bersiap di balik kemudi.
Dari balik jendela mobil, sepasang suami istri itu bisa melihat jelas raut kesedihan terlukis di wajah Gladys. Meskipun berat melepaskan wanita muda itu yang selama 17 tahun dibesarkan dengan penuh kasih sayang namun mereka harus ikhlas karena sebuah pertemuan pasti akan ada perpisahan.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1
Mohon maaf karena baru sempat update. Episode selanjutnya diperkirakan sore. Terima kasih.