BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
CINTA SEGI EMPAT


__ADS_3

"Makanmu lahap sekali!" ucap Stevanie setelah selesai menyuapi Mark.


"Apa kamu tidak diberi makan layak oleh mereka?" lanjutnya.


"Vanie, jangan berbicara begitu tidak enak jika terdengar orang tua Ameera. Ayah dan Bunda sudah baik menampungku tinggal di sini jadi tolong hormati mereka!" Mark menasihati istrinya sembari mengusap sisa makanan di mulut menggunakan tisu.


"Aku selalu saja salah di matamu!" Stevanie mendengus kesal, ia menyenderkan kepala di sandaran sofa. Tangannya sibuk mengibas-ngibas tangan karena kegerahan.


Maklum saja, rumah orang tua Ameera tidak memiliki pendingin ruangan (Air Conditioner). Di rumah itu hanya terdapat dua buah kipas angin di setiap kamar. Berbanding terbalik dengan Mansion Keluarga Pieter, di sana hampir seluruh ruangan terdapat AC bahkan kamar para pelayan di fasilitasi pending ruangan.


"Sayang, aku heran mengapa kamu bisa nyaman tinggal di sini. Lihat, tidak ada AC sama sekali. Lebih baik, kita segera pulang agar riasanku tidak luntur," gerutu Stevanie.


"Tunggu sampai Ayah dan Bunda pulang, aku ingin berpamitan dulu sebelum meninggalkan rumah ini," Mark membantu Stevanie mengibasi lehernya agar tidak kegerahan.


Hampir sepuluh menit Stevanie menyuapi suaminya, dan selama itu juga peluh terus bercucuran sebesar biji jagung. Riasan wajah wanita itu sedikit demi sedikit mulai memudar dan pakaian yang dikenakan mulai basah oleh keringat.


"Jangan lama-lama, aku sudah tak tahan berada di rumah ini!" ucap Stevanie dengan nada merajuk dan wajah yang dibuat sedih mampu membuat hati Mark merasa bersalah.


"Iya sayang, kamu tolong bersabar sebentar."


"Sayang, aku kangen sama kamu."


"Aku juga kangen sayang," Mark dan Stevanie saling berpelukan.


"Sebagai gantinya, kamu harus mengajakku shooping hari ini. Bagaimana?" Stevanie masih memeluk Mark dan enggan untuk melepaskan.


"Assalamu a'laikum," ucap Ayah Reza dan Bunda Meta hampir bersamaan.


"Wa'alaikum salam," jawab Mark.


Mark melepaskan pelukan dan beranjak menyambut mertuanya. Ia mencium tangan orang tua Ameera bergantian.


Tatapan Ayah Reza langsung tertuju pada sosok wanita cantik dengan tubuh proposional layaknya seorang model Victoria Secret. Tinggi semampai, kaki jenjang dan bentuk bibir yang seksi mampu membuat kaum Adam terpesona oleh kecantikannya.


Akan tetapi, kecantikan wanita itu hanya di luar saja, di dalam hatinya penuh kebencian terhadap Ameera karena ia merasa memiliki saingan dalam memperebutkan cinta dan kasih sayang suami mereka.


Sejak kecil Stevanie sudah terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan, kedua orang tuanya selalu memanjakan wanita itu. Itulah sebabnya ia menjadi wanita arogan dan egois tidak ingin memberikan apa yang sudah menjadi miliknya.


"Ayah, perkenalkan ini Stevanie!"


"Vanie, perkenalkan dirimu pada Ayah!" Mark menarik tangan istrinya agar ia berdiri dari sofa.


"Halo Om, saya Stevanie istri sah menantu Anda!" ucap Stevanie dengan gaya angkuh.

__ADS_1


"Vanie!"


"Apa? Memang benar kan, aku istri sahmu!" Stevanie melipat kedua tangan ke dada.


"Halo Nyonya Stevanie, senang berkenalan dengan Anda!" Ayah Reza mengulurkan tangan namun Stevanie tidak merespon.


"Ehm, silakan duduk kembali Nyonya. Ameera, persilakan temanmu masuk ke dalam." Ayah Reza masuk ke dalam rumah dan mengambilkan kursi makan karena sofa di ruang tengah hanya cukup untuk empat orang saja.


Terlihat seorang pria muda masuk dan duduk persis di samping Mark. Donny duduk tenang dan senyum mengembang di wajah pria itu.


Sedangkan Mark menghunus tatapan kebencian saat melihat Donny duduk di sampingnya.


Pemuda ini masih berani menampakan batang hidungnya di hadapanku, apa dia tidak takut dengan ancamanku kemarin!


Stevanie menatap wajah suaminya penuh tanda tanya dalam hati wanita itu berkata "apakah suamiku cemburu melihat Ameera di dekati pria lain?"


Jangan sampai itu terjadi, aku tidak akan membiarkan Mark mencintai Ameera dan semua yang kuperjuangkan selama ini berakhir sia-sia.


Stevanie menatap penuh kebencian terhadap Ameera, matanya memerah menggambarkan kemarahan dan kebencian menjadi satu.


Ayah Reza memperhatikan sikap menantu dan teman putrinya. Bagaimana Donny menatap Ameera dengan penuh cinta sedangkan Mark mengawasi pria itu dengan perasaan kesal.


'Pria bodoh, berani sekali dia memandangi istriku dengan tatapan seperti itu! Ameera adalah istriku dan kamu tidak berhak atas dirinya!' maki Mark dalam hati. Ia berusaha meredam emosi berkali-kali pria itu mengumpat dan merutuki Donny.


"Bunda, tolong buatkan minuman untuk tamu kita," Ayah Reza mencoba mendinginkan suasana.


Bunda Meta beranjak dan menuruti perintah suaminya. Ia membuatkan teh manis hangat untuk Donny.


"Donny, tumben kamu ke sini apa kalian berencana pergi berdua?" tanya Stevanie mencoba memprovokasi Mark.


"Jika mau, kita bisa melakukan double date dan pergi bersama-sama mencari restoran. Kebetulan aku dan suamiku mau pergi makan siang romantis di sebuah restoran yang sering dikunjungi. Kami berdua ingin bernostalgia, mengenang masa pacaran dulu. Iya kan sayang!" ucap Stevanie dengan sebuah ide yang terlintas di benaknya.


"Terima kasih atas ajakannya, Nyonya," tolak Ameera secara halus.


"Baguslah jika kamu menolak. Oh iya, kamu juga pasti tidak keberatan kan jika aku membawa suamiku pergi makan siang!" tanya Stevanie sinis.


"Tidak apa-apa Nyonya, Anda juga berhak atas diri Tuan Mark. Lagipula, beliau pasti bahagia berada di sisi istri tercinta!" Ameera tersenyum getir menjawab pertanyaan Stevanie namun dalam hati ia merasa sakit hati. Bagaimana ia bisa ikhlas melihat Mark harus pergi bersama Stevanie sedangkan dirinya juga adalah istri pria itu.


Aku harus kuat dan tidak boleh cengeng, jangan sampai wanita ini bahagia melihat penderitaanku. Ia pasti akan tertawa jika melihat kesedihanku.


"Anda tenang saja Nyonya, dia tidak akan keberatan karena saya juga akan mengajaknya makan siang di luar kebetulan Mama dan Papa ingin bertemu dengan Ameera," Donny tersenyum puas karena berhasil membalikan keadaan.


Kalian pikir akan semudah itu menyakiti perasaan Ameera! Selama masih ada aku, tak kan kubiarkan seorangpun membuatnya bersedih.

__ADS_1


"Wah, kalau begitu bagus dong jadi aku tidak perlu merasa bersalah karena memisahkan Mark dari istri keduanya." Stevanie bergelayut manja.


"Vanie hentikan! Bukan waktu yang pas memperlihatkan kemesraan di depan umum," Mark mencoba melepaskan diri.


Stevanie melonggarkan genggamannya dan menjauhkan diri dari Mark.


"Begitu saja ditegur!" dengus Stevanie kesal.


Tak lama berselang, Bunda Meta datang membawakan nampan berisi teh manis hangat berikut satu toples kue dan meletakannya di atas meja.


"Silakan dicicipi Nak Donny. Mohon maaf hanya sekedar teh manis hangat dan makanan ringan saja."


"Baik Tante, terima kasih."


Drt


Drt


Ponsel Stevanie bergetar, ia melihat layar ponsel dan tertera nama Tuan Ibrahim.


"Papa!" gumamnya.


Stevanie langsung beranjak dan berjalan ke teras rumah.


"Halo, Pa!" ucap Stevanie setelah telpon tersambung.


"Vanie, jangan lupa jemput Papa di rumah sakit. Siang ini Papa sudah boleh pulang."


"Baik, Pa. Nanti Vanie ajak Mas Mark ke sana."


"Oke! Papa tutup dulu telponya."


Stevanie duduk kembali dan ia berbisik pada Mark "Papa minta dijemput sekarang, sebaiknya kita pergi dari sini jangan biarkan mertuaku menunggu terlalu lama," Stevanie mendelik ke arah suaminya. Ia masih marah karena ditegur oleh Mark.


Dengan berat hati Mark berpamitan pada orang tua Ameera. Sebenarnya pria itu masih ingin berada di sana mengawasi Ameera namun ia tidak bisa egois karena ada hal lebih penting yang harus segera diurusi yaitu menjemput sang papa keluar dari rumah sakit.


.


.


.


Jangan lupa likenya ya Kak. ❤

__ADS_1


__ADS_2