
Melbourne, Australia
Empat puluh empat menit kemudian, Ameera sudah sampai di kawasan perumahan elite di pinggiran selatan yang dikenal dengan nama Bayside, Melbourne, Victoria.
Mama Aura sengaja membeli perumahan dengan view pantai agar ia bisa menikmati matahari tenggelam atau sunset tanpa harus jauh-jauh dan berdesakan dengan orang lain. Wanita itu hanya cukup membuka jendela kamar, duduk di kursi sambil minum secangkir teh hangat.
"Ayo turun, kita sudah sampai!"
Seorang supir WNI membukakan pintu untuk majikannya.
"Terima kasih, Pak." ucap wanita itu setelah turun dari mobil.
Mama Aura lebih dulu turun diikuti Ameera dan kedua orang tua angkat gadis itu.
Empat orang pelayan berdiri menunggu sang empunya rumah masuk ke dalam. Satu diantara pelayan tersebut merupakan warga negera setempat.
Saat Mama Aura memutuskan tinggal di Australia, ia meminta bantuan lembaga penyedia jasa asisten rumah tangga dari Indonesia untuk menemaninya tinggal selama di negera tersebut dengan kriteria mahir berbahasa asing sebab mereka tinggal di luar negeri yang mewajibkan berinteraksi menggunakan Bahasa Inggris.
Kini mereka berdiri di depan sebuah rumah. Bangunan itu terdiri dari 2 lantai, di dominasi warna cat putih, dibagian depan terdapat 4 pilar besar, terdapat 6 kamar tidur, 7 kamar mandi dan dibagian belakang pemilik rumah sengaja meletakan kolam renang yang menghadap langsung ke pantai.
Tampilan depan rumah.
Tampilan belakang rumah yang menghadap langsung ke pantai.
"Selamat datang, Nona Gladys!" sapa para pelayan dalam Bahasa Inggris.
Mereka membungkuk dengan hormat.
Miss Lucy menatap Ameera dari ujung kepala hingga ujung kaki, batinya berkata, "putri Nyonya Aura begitu cantik seperti boneka hidup."
Ayah Reza dan Bunda Meta saling menatap, kemudian kembali terbengong.
"Sudah cukup kalian mengagumi kecantikan putriku."
Ucapan itu menarik kesadaran para pelayan dan mereka segera menundukan kepala, "maafkan kami, Nyonya." ujarnya hampir bersamaan.
"Tolong kalian bawa semua koper ini ke kamar masing-masing!" titah wanita itu.
"Mari, aku ajak kalian berkeliling. Melihat setiap setiap sudut ruangan dan pemandangan sekitar rumah."
Ia mengulurkan tangan, menyentuh pundak Bunda Meta sementara Ayah Reza mendorong kursi roda.
Mereka menghabiskan waktu berkeliling rumah, melihat keramaian pantai sambil menikmati sunset.
Setibanya di kamar, Ameera tersenyum melihat semua furniture dan dekorasi kamar sesuai selera gadis itu. Meskipun sudah 17 tahun berpisah namun sang Mama masih ingat warna kesukaan, dan selera putrinya.
__ADS_1
"Terima kasih, Ma, karena masih mengingat warna kesukaan dan seleraku," ujar gadis itu sambil mencium pipi Mama Aura.
"Sama-sama, Sayang. Mama bahagia jika kamu menyukainya," balas wanita itu dengan wajah berbinar.
"Istirahatlah, saat makan malam nanti, Mama akan meminta Miss Lucy membantumu turun."
Ameera mematuhi perintah Mamanya. Ia merebahkan tubuh di atas ranjang.
Ini pertama kalinya gadis itu berada jauh dari tanah air. Pikiran dan suasana hatinya sangat tidak nyaman. Jarak antara Jakarta dan Melbourne sangat jauh.
"Kak, maafkan aku karena harus pergi tanpa pamit darimu."
"Semoga aku tidak masuk dalam kategori istri yang durhaka karena pergi tanpa meminta izin darimu," ucap gadis itu sambil menatap langit-langit kamar tidur.
Pikiran gadis itu tidak karuan, sekelebat bayangan wajah suaminya mengusik sanubari.
"Tuhan, tolong jaga suamiku dimanapun dia berada," ucapnya lirih.
Perlahan-lahan gadis itu terlelap dan mulai tertidur.
***
Esok harinya saat matahari terbit, semua pelayan sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Miss Lucy selaku kepala pelayan memantau semua pekerjaan anak buahnya. Ia ingin memastikan pekerjaan mereka sesuai standar yang dinginkan oleh Mama Aura.
"Apakah semua hidangan sudah siap?" tanya Miss Lucy setelah kembali dari kamar majikannya. Wanita itu baru saja mengantarkan teh hangat untuk Mama Aura.
"Sudah, Miss."
Para pelayan sibuk mondar mandir sambil membawa troli makanan. Sang empunya rumah sengaja meminta para pelayan menyiapkan hidangan istrimewah, ada jamur white truffle, anggur ruby roman dan semangka hitam densuke yang memiliki daging lebih berair, renyah dan rasanya lebih manis dari semangka biasa.
"Siang nanti Mama akan mengajakmu ke salon. Kita akan meng make over penampilanmu agar terlihat lebih dewasa, anggun dan mempesona."
"Selain itu, akan ada guru private yang akan mengajarkanmu cara bagaimana mengelola perusahaan dengan baik."
"Oh ya, selama kamu hamil pernah mengikuti kelas yoga khusus ibu hamil?" tanya wanita itu sambil menjentikan jemari lentiknya di udara, memberikan isyarat kepada para pelayan untuk menghidangkan makanan.
Satu per satu sajian dihidangkan di atas meja makan, mulai dari appertizer, main course dan dessert. Semua makanan begitu menggugah selera.
"Mari, silakan dinikmati."
"Meera, kamu belum menjwab pertanyaan Mama."
"Oh itu, belum pernah Ma," jawab Ameera di sela-sela kegiatannya menikmati hidangan di depannya.
Wanita itu menghela napas berat, "selain bodoh, Mark juga ternyata pelit. Tak kusangka ia bahkan tidak memberimu uang untuk mengikuti kelas yoga khusus ibu hamil."
"Kak Mark tidak pelit, Ma," Ameera berusaha membela suaminya.
"Kamu sudah berkali-kali disakiti tapi tetap saja membelanya."
__ADS_1
"Sayang, akan banyak manfaat yang didapat jika kamu mengikut kelas yoga!"
"Seperti mengurangi stress dan kecemasan selama masa kehamilan dan persalinan, meringankan keluhan pada ibu hamil, mengurangi terjadinya resiko komplikasi, menurunkan tekanan darah dan masih banyak lagi."
Ayah Reza dan Bunda Meta hanya memperhatikan interaksi antara ibu dan anak sambil menyendokan makanan ke dalam mulut.
"Nyonya Aura begitu perhatian pada Ameera. Beruntung sekali kamu Nak memiliki ibu sebaik beliau."
"Jadi, nanti Mama akan menyusun agenda untukmu mengikuti kelas yoga!" suara wanita itu tegas dan menciutkan nyali Ameera. Ia tak berani membantah perintah sang Mama karena semua yang dilakukan Mama Aura demi kebaikan gadis itu dan janinnya.
"Baik, Ma."
"Maafkan Mama jika terkesan egois namun ini semua demi kebaikan kamu dan Alpukat."
"Iya, Ma, Ameera paham kok!" gadis itu tersenyum manis ke arah Mama dan orang tua angkatnya.
"Habiskan makananmu, jangan biarkan Alpukat kelaparan," wanita itu tersenyum simpul.
"Tuan dan Nyonya Reza, apakah semalam tidur kalian nyenyak?"
"Nyenyak sekali, Nyonya."
"Mohon maaf jika pelayanan saya kurang memuaskan."
"Nyonya terlalu merendah, kami seharusnya mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan izin menginap beberapa hari di sini," timpal Bunda Meta.
"Meera, Ayah dan Bunda tidak bisa selamanya menemanimu karena kami memiliki tanggung jawab di Indonesia," ujar Ayah Reza, seakan dapat membaca isi pikiran gadis itu.
"Ayahmu benar, Nak. Kami akan kembali setelah kamu terbiasa tinggal di sini," Bunda Meta mengusap lembut punggung tangan Ameera.
"Lantas, bagaimana jika aku merindukan kalian?" raut wajah gadis itu berubah dalam hitungan detik.
"Kita bisa meminta orang tua angkatmu menginap di sini. Mama akan menyiapkan pilot khusus untuk menjemput mereka."
"Sungguh!"
"Tentu saja. Kapanpun mereka mau, bisa terbang kesini, 24 jam pintu rumah ini terbuka lebar untuk Tuan dan Nyonya Reza."
Raut kebahagiaan jelas terlukis di wajah gadis itu, masalah yang mengganjalnya kini terselesaikan.
Sepasang suami istri itu bisa bernapas lega sebab orang tua kandung Ameera begitu baik dan masih memperbolehkan mereka menemui gadis itu.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1
Maaf ya author baru sempat update, soalnya baru dapat waktu senggang untuk nulis. Jangan lupa tinggalkan jejak cinta untuk Mimih Kucing. ❤