
Gladys mundur tiga langkah ke belakang, membalikan tubuh dan bergegas meninggalkan Mark yang masih membeku di tempat.
"Ameera, tunggu!" seru Mark. "Berikan aku waktu untuk berbicara."
"Tuan, mohon untuk tidak membuat keributan di dalam museum!" ujar penjaga museum memperingatkan Mark dalam Bahasa Inggris.
"Maaf, Tuan," balas Mark.
Kemudian pria itu berlari, mengejar Gladys di antara kerumuman wisatawan.
Gladys mengacuhkan suara Mark. Dia terus berlari hingga beberapa pengunjung museum menatap ke arahnya dengan tatapan aneh.
Wanita itu tidak bisa menghindar tatkala tubuh kecilnya menabrak seorang turis dan dia terjerembab.
Tangan kekar itu terulur ke depan, dengan penuh perhatian dia membantu istrinya berdiri.
"Apakah ada terluka?" tanya Mark setelah Gladys berdiri dengan posisi tegak.
"Tadi itu sangat bahaya, bisa saja kamu tergelincir dan malah menyebabkan tangan atau kaki cidera. Kalau sampai terjadi, siapa yang akan merawat anak kita?"
Ingin rasanya Gladys berontak, mendorong atau menampar pipi pria itu karena sudah lancang menyentuhnya tanpa izin terlebih dulu tetapi hatinya berkata lain. Dia menikmat sentuhan dan perhatian yang diberikan oleh Mark.
"Kenapa kamu pergi tanpa meminta izin dariku? Aku masih suamimu, Meera," tanya pria itu tiba-tiba.
Mata almond Gladys terbelalak, ia terkejut karena pria di hadapannya ini berbicara tanpa basa basi.
Wanita itu mengepalkan tangan, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menjawab pertanyaan suaminya, "aku tidak mau mengorbankan nyawa anak kita demi keegoisan kedua orang tuanya." Dia menundukan wajah dan perlahan-lahan air mata jatuh di antara hidung dan pipi.
"Maafkan aku, Sayang, karena tidak bisa menjagamu dan bayi kita dengan baik. Aku sangat menyesal," suara pria itu bergetar. Ada penyesalan di setiap kalimat yang diucapkan.
"Ada banyak hal yang ingin kujelaskan selama berpisah denganmu. Bagaimana jika kita mencari tempat dan berbincang sebentar?"
Dengan terpaksa, Gladys menuruti keinginan suaminya itu. Dia membawa Mark ke sebuah cafe yang terletak di dalam gedung museum.
Di sana sudah banyak para turis dan wisatawan duduk sambil menikmati minuman hangat untuk menghangatkan tubuh akibat cuaca di musim dingin.
Setiap pertengahan tahun, negara Australia akan memasuki musim dingin bahkan di daerah tertentu seperti Mt. Buller akan turun salju, berjarak sekitar 3 jam dari Melbourne menggunakan kendaraan roda empat.
Daerah pegunungan bersalju sangat cocok menjadi spot wisata untuk bermain ski dan bermain snow boarding bersama keluarga, sahabat, teman atau bahkan pasangan.
__ADS_1
Sepasang suami, istri itu masuk ke dalam salah satu cafe. Mereka memilih kursi yang terletak di pojokan.
Mark sengaja memilih tempat itu agar lebih nyaman untuk berbincang dengan istrinya.
"Ternyata kota ini lebih indah dari yang kubayangkan. Mama Aura dan Joe memang pandai memilih tempat untuk melarikan diri dariku dan Stevanie," ucap Mark. Matanya sibuk memandangi bangunan indah gedung pameran kerajaan di seberang sana.
"Sayang, bicaralah. Jangan diam saja. Aku mengajakmu ke sini untuk meluruskan semua masalah yang terjadi di antara kita," pria itu menyentuh tangan sang istri yang berada di atas meja bundar yang terbuat dari kayu berwarna coklat muda.
"Sayang, kumohon. Bicaralah."
Dalam diam, Gladys memandangi wajah berahang tegas yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Wajah tampan pria itu kini terlihat dewasa tetapi lebih berwibawa dan berkharisma membuat hati wanita itu meleleh bagaikan cokelat yang dimasukan ke dalam oven.
Sorot mata tajam, hidung mancung dan tatapan penuh cinta sukses membuat Gladys jatuh cinta untuk kedua kalinya.
Perlahan, dia menepis tangan kekar itu dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
Lebih lama lagi aku memandangi wajah Kak Mark, maka aku akan terjerumus ke dalam lumpur yang sama. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Mengorbankan Alpukat demi keegoisanku sendiri.
"Untuk apa Kakak ke sini?" tanya Gladys dengan nada dingin.
Mark menghela napas kasar. Rupanya hati Gladys sudah membeku, bahkan dia sulit mencairkan hati yang terlanjur tersakiti itu.
"Lebih baik kembali ke Indonesia, jangan pernah menemuiku lagi. Atau, jika tidak..."
"Nyawa anak kita menjadi taruhannya."
"Meera... Aku dan Stevanie sudah bercerai. Kemarin siang, hakim baru saja mengesahkan perceraian kami. Itu artinya wanita gila itu tidak akan mencelakaimu dan anak kita."
"Wanita gila?" ucap Gladys sedikit berteriak.
"Kak, wanita yang kamu katakan gila itu adalah perempuan yang dulu pernah singgah di hatimu. Meskipun kalian sudah bercerai, tapi kamu tidak pantas menjelek-jelekannya seperti itu!"
"Tapi memang kenyataannya begitu. Dia wanita gila yang tega menghalalkan segara cara untuk menarikku kembali dalam pelukannya. Stevanie tahu, kalau aku mencintaimu dan di hati ini sudah terpatri indah namamu."
Pria itu menarik tangan Gladys, membawanya mendekati dada. "Di sini, hanya ada namamu seorang, Gladys Kurniawan. Aku sudah jatuh cinta padamu sejak berusia 10 tahun. Apakah kamu melupakan itu?"
"Jadi, salah besar jika kamu beranggapan bahwa Stevanie adalah cinta pertamaku."
"Bullshit!"
__ADS_1
"Jika kamu mencintaiku, lantas mengapa dulu melukai hatiku."
"Kamu tega membiarkan aku menangis setiap malam, meratapi kesendirianku dan membiarkan tubuh ini kesepian. Hidupku hampa tanpa adanya kasih sayang dan belaian serta ciuman dari seorang suami."
"Di mana kamu saat aku mengadu bahwa Nyonya Stevanie mencoba mencelakai anak kita? Kamu tuduh aku memfitnahnya bahkan tega membentakku demi membela wanita itu!" ucap Gladys berapi-api.
"Aku tahu kesalahanku padamu begitu besar dan mungkin sulit dimaafkan."
"Katakan, apa yang harus kulakukan agar kamu bisa memaafkanku?" tanya Mark dengan frustasi. Pria itu meremas rambut kesal, semua ini salahnya. Dulu dia terlalu dibutakan oleh namanya cinta hingga menutup mata dan telinga.
"Tinggalkan negara ini dan ceraikan aku!"
"Omong kosong! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menceraikanmu, Gladys." teriak Mark.
"Itu yang terbaik untuk kita, Kak. Untuk Alpukat juga tentunya," cairan bening mulai mengambang di pelupuk mata.
"Sayang, katakan padaku. Apakah di hatimu sudah tidak ada lagi cinta untukku?" pria itu menyentuh ujung dagu wanitanya.
"Kamu tahu, Sayang, semenjak kamu meninggalkan Indonesia, hidupku rasanya hampa. Aku seperti orang gila terus mencari keberadaanmu, berteriak, membanting semua benda yang ada di dekatku."
"Tidakkah kamu tahu penderitaanku selama ini?"
"Kamu bohong, Kak."
"Demi Tuhan, aku tidak bohong. Bagaimana mungkin aku berdusta."
"Kalau kamu mencintaiku, lantas mengapa Nyonya Stevanie bisa hamil. Tidak mungkin kan perutnya buncit sendiri tanpa adanya..."
Wanita itu tertunduk malu. Ia meremas kedua jarinya di bawah meja. Telinga dan wajahnya memerah bagaikan kepiting rebus.
Tangan kekar itu beralih, dari dagu pindah ke sudut mata. Ia menyusut cairan bening dengan jarinya, "ternyata Gladysku sangat bodoh, dia bahkan termakan berita gosip murahan yang dihembuskan oleh rubah licik itu."
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, "semenjak aku kembali kepadamu, benda pusaka ini sudah tak lagi bermain-main di sana. Sampai detik ini, dia masih milikmu," ucapnya lirih.
"Dasar mesum!" pekik Gladys seraya memukul lengan suaminya.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.