
Setelah menghadiri rapat penting, Mark meminta Barra mengantarkannya ke lokasi. Pria bermata biru itu duduk di kursi depan. Dia masih asyik memperhatikan istri dan anaknya yang tengah terlelap di kursi penumpang.
"Apakah leher Anda tidak sakit? Sejak tadi berada di posisi yang sama hanya untuk memandangi Nyonya Gladys dan Tuan Muda."
"Saya menggajimu untuk mengantarkan kami bukan malah sibuk mengurusi urusan orang lain!"
Barra memutar bola mata malas. "Baik, Tuan."
'Dasar Bos aneh, tidak bisa diajak bercanda!'
Bi Mirna yang duduk di kursi paling belakang hanya tersenyum.
Seketika suasana kembali hening. Semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing. Namun, tiba-tiba saja terdengar suara erangan dari kursi belakang.
"Aw!" desis Gladys. Tangan wanita itu menyentuh perut. Wajahnya pucat, perut terasa mulas dan keringat dingin mulai mengucur.
Mendengar erangan Gladys, Bi Mirna segera bangkit dari kursi. "Nyonya, Anda kenapa?"
"Bi, perutku sakit sekali!" lirih Gladys.
"Apakah Nyonya akan melahirkan?" tanya Bi Mirna panik. Dia mengeluarkan tisu dari dalam tas, kemudian mengelap peluh yang mengucur di kening.
Mark mendengar keributan dari arah belakang, melepaskan headset yang menancap di telinganya.
"Ada apa?" tanya pria itu seperti orang bodoh karena dia terlalu sibuk mendengarkan musik favoritnya.
"Astaga, Tuan. Nyonya Gladys mau melahirkan tetapi mengapa Anda begitu santai!"
Sontak, ucapan Barra membuat Mark panik hingga tanpa sadar melempar ponsel hingga membentur dashboard. "Barra, segera naikan kecepatan. Bawa istriku ke rumah sakit!"
Barra menuruti perintah Mark. Dia melihat ke arah spion untuk putar balik. Untung saja jalanan belum terlalu ramai hingga pria itu tidak kesulitan memutar arah.
Setelah memakan waktu kurang lebih dua puluh menit. Dengan modal klakson dan kemahiran Barra dalam menyalip setiap kendaraan yang ada di depan, dia berhasil membawa kendaraan roda empat milik bosnya ke rumah sakit.
Para perawat segera membawa Gladys masuk ke dalam ruang operasi. Namun, sebelum itu dokter akan menyuntikkan obat bius terlebih dulu.
"Tuan, Anda harus tenang. Saya yakin Dokter Diana dan tim medis di rumah sakit ini akan memberikan usaha maksimal demi keselamatan Nyonya Gladys." Barra mencoba menenangkan Mark.
"Tapi kenapa Dokter lama sekali. Apakah terjadi hal buruk pada istri dan anakku?"
__ADS_1
"Sebaiknya Anda berdo'a daripada berpikiran macam-macam!"
Tak berselang lama, akhirnya pintu terbuka diikuti seorang wanita paruh baya keluar dengan pakaian operasi lengkap dengan penutup kepala dan masker.
"Syukurlah, operasinya berjalan lancar. Putri Anda lahir ke dunia ini dengan selamat tanpa ada kekurangan sedikit pun," ucap Dokter Dianka.
Dengan bibir gemetar, pria yang terkenal tegas, bijak dan sangat dihormati oleh para karyawan perusahaan berkata, "Lantas, bagaimana keadaan istri saya?"
"Nyonya Gladys masih dalam pengaruh obat. Sebentar lagi kami akan membawa istri Anda ke ruang perawatan." Wanita itu tersenyum. "Kalau begitu, saya permisi dulu."
Tak perlu menunggu lama, dua orang perawat membawa brankar Gladys menuju kamar presidential suite. Kamar yang diperuntukan khusus bagi keluarga Pieter. Di dalam kamar rawat inap, Gladys masih tertidur akibat pengaruh obat bius. Jarum menancap di punggung tangan sebelah kanan.
"Selamat, Tuan. Akhirnya harapan Anda untuk memiliki bayi perempuan terkabul," ucap Barra lirih.
"Terima kasih, Barra." Mark duduk di kursi di samping sang istri. Dia menciumi tangan yang tak terpasang infus. "Barra, bisakah kamu meninggalkan kami sebentar?"
Barra mengangguk. Kemudian pria yang menjabat sebagai asisten sekaligus sopir pribadi Mark keluar ruangan.
Di dalam ruangan, Mark menangis melihat perjuangan Gladys melahirkan anak tercinta. Ini merupakan pengalam pertama bagi pria itu berada di samping sang istri dan menemani wanita itu berjuang melahirkan putri tercinta. Sebab, dulu ketika kelahiran anak pertama, Mark tidak berada di sisi Gladys.
"Beribu kali aku mengucapkan kata maaf tak kan mampu menebus semua kesalahan yang sudah kuperbuat di masa lalu. Aku menyesal karena pernah menyia-nyiakanmu, Sweetheart."
"Kenapa menangis?"
Mark tersenyum, menghujani Gladys dengan ciuman. "Karena aku teringat akan perbuatan jahatku di masa lalu."
"Jangan lagi mengingat masa lalu. Aku sudah melupakannya." Gladys meringis, merasakan nyeri di area sekitar bekas operasi.
"Perlu aku panggilkan Dokter?"
"Tidak perlu. Masih bisa kutahan!" Gladys menghembuskan napas secara perlahan, mengusir rasa tak nyaman pada luka bekas operasi. "Di mana putri kita?"
Belum sempat Mark membuka suara, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Seorang perawat membawa kereta bayi masuk ke dalam ruangan. Di susul Naomi yang sedang menggandeng tangan Alpukat.
"Ini bayi Anda, Nyonya!" ucap si perawat seraya membaringkan di sisi Gladys. Setelah menyelesaikan tugas, perawat itu segera undur diri.
Bayi kecil berjenis kelamin perempuan dengan rambut pirang kecoklatan, hidung mancung, dan berkulit bersih tampak sangat cantik.
"Selamat atas kelahiran anak keduamu," ucap Naomi. Wanita itu duduk di samping Gladys. "Setelah mendengar kabar kamu akan melahirkan, aku segera menyusul ke sini. Jadi maaf, hanya bisa membawakan buah-buahan ini."
__ADS_1
"Terima kasih karena kamu sudah menyempatkan diri datang ke sini." Gladys tersenyum lebar.
"Jangan sungkan. Kita adalah sahabat dan di antara sahabat tidak ada kata terima kasih maupun maaf." Naomi meletakan parcel buah-buahan di atas nakas.
"Selamat Tuan, akhirnya harapan Anda untuk memiliki bayi perempuan terwujud." Naomi memperhatikan wajah bayi itu yang berada dalam dekapan Gladys.
"Terima kasih, Naomi," ucap Mark datar tanpa ekspresi.
"Ya sudah, aku akan menemui suamiku dulu di luar." Naomi berjalan, meninggalkan sepasang sejoli yang tengah berbahagia atas kelahiran anak kedua.
"Papa, Dedeknya Andra sudah lahir?" tanya Alpukat polos. Kedua mata bocah kecil itu berbinar kala melihat tubuh mungil mengolet dalam dekapan sang mama.
"Benar, Sayang. Lihatlah, ini Adiknya Andra." Gladys menurunkan sedikit tubuh anak keduanya, sehingga Alpukat bisa melihat wajah adik tercinta.
Bocah kecil itu meloncat kegirangan seraya berseru, "Hore! Alpukat punya adik. Dia sangat cantik sekali seperti Mama."
Mark dan Gladys tersenyum melihat tingkah polos Alpukat.
"Sudah hentikan, jika kamu meloncat terus nanti akan terjatuh!"
Kemudian, Alpukat duduk kembali di kursi tanpa mengalihkan pandangan dari sosok bayi mungil nan lucu di hadapannya.
Tangan Gladys terulur ke depan. "Kamu ingin mencoba menggendongnya?"
Dengan ragu, pria itu menggendong sang putri dengan sangat hati-hati. Dia mencium pipi bayi mungil itu.
"Terima kasih, karena kamu sudah mempertaruhkan nyawa demi kedua anakku. Terima kasih ...." ucap Mark seraya menitikan air mata saat melihat anaknya berada dalam gendongan.
"Sama-sama, Kak. Itu sudah menjadi kewajibanku untuk melahirkan mereka berdua ke dunia ini."
"Halo, anak Papa. Welcome to the world, my little girl!" bisiknya di telinga sang putri.
Gladys tersenyum bahagia melihat interaksi antara putri dan suami tercinta.
"Kak, kamu sudah menyiapkan nama untuk putri kita?"
Mark tampak berpikir sejenak dan detik berikutnya dia berkata, "Aku akan menamainya Jelita Cherryl Pieter."
...~TAMAT~...
__ADS_1