
Setelah merasa lega karena sudah meluapkan kesedihan lewat tangisan, Ameera bercermin di depan kaca memperhatikan penampilannya. Matanya bengkak dan merah akibat terlalu banyak menangis. Perasaan gadis itu lebih sensitif semenjak hamil karena pengaruh hormon menyebabkannya jadi mudah berbawa perasaan.
Ameera membasuh wajahnya berkali-kali dengan air mengalir, menaburkan sedikit bedak dan memoleskan lipstick berharap orang lain tidak mengetahui bahwa ia baru saja menangis.
"Aku harus kuat dan mulai sekarang jangan lagi mengharapkan Tuan Mark mengumumkan status pernikahan kami. Pria itu sudah menentukan pilihan maka aku tidak akan mengemis apalagi bersujud memohon agar ia memilihku. Bagiku, hidup berdua dengan bayi ini sudah lebih dari cukup."
Ameera menguatkan diri sebelum membuka pintu toilet, ia berjalan menyusuri lorong-lorong hingga tiba di ruangan. Di sana sudah ada Joe menunggu kedatangan Ameera, pria itu mengkhawatirkan keadaan istri siri bosnya yang tiba-tiba saja menghilang padalah setengah jam lagi waktu makan siang dan mereka berjanji akan menemui klien penting di sebuah restoran Itali.
"Tuan Joe!" sapa Ameera selembut mungkin.
"Meera, kamu baik-baik saja?" tanya Joe cemas.
"Tuan tidak usah mencemaskan saya. Lebih baik kita jalan, jangan biarkan Pak Suryo menunggu terlalu lama."
Ameera membawa semua perlengkapan meeting mulai dari laptop, buku notulen, pena dan beberapa file khusus ke dalam satu wadah.
"Kamu duduk di depan saja dan letakan semua itu di kursi belakang," Joe menunjuk ke arah tas yang dibawa Ameera kemudian beralih ke kursi penumpang yang terletak di seat kedua.
"Baik Tuan." Ameera mematuhi ucapan Joe.
Ameera dan Joe turun dari mobil saat tiba di parkiran sebuah restoran. Joe membantu Ameera membawa tas berat berisi semua perlengkapan meeting.
"Kamu sedang hamil, tidak boleh membawa barang-barang berat," bisik Joe.
Tuan Joe baik sekali dan sangat perhatian. Aku merasa seperti seorang adik yang sedang dilindungi oleh kakaknya. Andai saja Tuan Joe benar-benar kakakku, pasti orang-orang jahat itu tidak berani menghinaku.
"Ayo masuk!"
Joe berjalan di depan Ameera mencari tempat strategis untuk bertemu Pak Suryo, tak perlu menunggu waktu lama acara meetingpun dimulai.
Joe bertugas menggantikan Mark memfollow up agar Pak Suryo bersedia bekerjasama dengan PT Indah Sentosa sementara Ameera mencatat beberapa bagian penting dalam sebuah buku notulen.
Satu jam berlalu dan kini telah terjadi kesepakatan kerjasama antara kedua perusahaan, bersamaan dengan itu seorang pelayan wanita mengantarkan makanan.
"Silakan Tuan, selamat menikmati," ucap pelayan sembari meletakan beberapa hidangan lengkap dengan alat makan seperti sendok dan garpu.
__ADS_1
Joe dan Pak Suryo terlibat pembicaraan ringan, Ameera sibuk memakan pudding coklat yang ia pesan di restoran tersebut. Ia sedang tidak ingin makan hidangan pokok jadi langsung memesan hidangan penutup (dessert).
~Ting~
Dosen Pembimbing
'Ameera, besok temui saya di kampus pukul sembilan pagi. Bawa skripsimu dan kita akan bahas tuntas agar kamu bisa secepatnya ikut wisuda gelombang pertama.'
Ameera mengerutkan alis saat melihat dosen pembimbingnya mengirimkan pesan singkat.
'Alhamdulillah, Bu Dona mau membantuku agar secepatnya bisa wisuda gelombang pertama. Ini langkah awal bagiku untuk menjauh dari Keluarga Pieter.'
Acara meeting dengan Pak Suryo berjalan lancar, Ameera dan Joe berjalan ke luar restoran menuju parkiran mobil. Cuaca hari itu panas dan terik membuat Ameera merasakan kepalanya terasa pusing. Ia memijat pelipisnya berlawanan arah.
"Kamu kenapa?"
"Sedikit sakit kepala."
"Saya antar ke dokter?"
"Oh iya, besok saya izin tidak masuk kantor karena ada janji dengan dosen pembimbing."
"Kamu atur saja, butuh berapa hari cuti magang. Dari semua mahasiswa hanya kamu saja yang belum mengajukan izin, saat mengalami morning sicknesspun masih tetap masuk kerja," sindir Joe. Ia fokus pada jalanan di depan.
Ameera melirik Joe, mencoba membaca apa yang dipikirkan oleh pria itu dalam hatinya berkata "apa mungkin Tuan Joe juga tahu jika aku menangis di toilet tadi?"
"Saya tahu apa yang kamu lakukan di toilet. Jika hatimu merasa sedih dan menangis bisa melegakan perasaanmu maka menangislah. Menangis bukan berarti kamu lemah justru membiarkan air mata mengalir akan melepaskan emosi dan membuatmu merasa lebih baik."
"Terkadang, menangis adalah satu-satunya cara matamu berbicara ketika mulut tidak dapat menjelaskan betapa hancurnya hatimu."*
"So, jangan takut dibully cengeng jika air matamu mengalir, karena orang lain tidak tahu bagaimana penderitaanmu selama ini," tanpa sadar Joe mengusap rambut Ameera layaknya seorang kakak memberikan perhatian pada adiknya.
Ameera tersentuh atas perhatian yang diberikan Joe, mata gadis itu berbinar-binar dan bibirnya bergetar. Ia merasakan nyaman berada di sisi Joe, pria itu bukan hanya baik namun juga perhatian dan selalu membantu Ameera disaat kesusahan.
"Tuan, mengapa Anda sangat baik pada saya?" tanya Ameera memberanikan diri.
__ADS_1
"Kamu tersentuh karena perhatian saya?"
Ameera hanya mengangguk, dadanya terasa sesak menahan tangis agar air matanya tak meluncur.
"Ameera, sejak pertama kali melihatmu di kantor, saya merasa seperti menemukan kembali sosok Gladys."
"Gladys adalah adik bungsuku, dia menghilang tujuh belas tahun lalu hingga kini belum ada informasi mengenai keberadaannya. Itulah mengapa saya selalu perhatian dan ingin melindungimu dari kejahatan orang-orang yang tak menyukai sosok Ameera Chantika, si gadis pintar nan menggemaskan."
"Jadi maksud Tuan, saya mirip Gladys?"
"Tepat sekali bahkan saya sempat berpikir, jangan-jangan kamu adalah Gladys."
"Tidak mungkin Tuan, saya anak Ayah dan Bunda," ucap Ameera tersenyum dan ia mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Bagaimana mungkin mirip Gladys, jelas-jelas aku anak Ayah dan Bunda. Sejak kecil sudah hidup bersama kedua orang tuaku.
"Ha-ha!" Joe tertawa melihat sikap menggemaskan Ameera. Ingin rasanya ia menarik hidung gadis itu namun kedua tangannya sibuk menyetir.
"Iya, kamu anak Ayah dan Bundamu!" Joe mencoba mengalah dan tidak ingin menggoda Ameera lagi. Wajah gadis itu sudah cukup memerah bagai kepiting rebus yang siap disantap.
Joe kembali menatap jalanan di depan dan mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
"Tuan, jika saya bukan Gladys apakah Anda masih mau berteman?"
"Lebih dari temanpun saya mau. Jika kamu mau mulai saat ini anggap saya seperti Kakakmu sendiri. Saat kita berdua jangan gunakan bahasa formal, panggil saya Kak Joe. Bagaimana?"
"Tentu, terima kasih Kak Joe."
"Sama-sama Adikku sayang."
Tak pernah terbayangkan oleh Ameera akan bertemu orang sebaik dan setampan Joe. Awalnya ia berpikir saat magang nanti semua akan berjalan mulus tanpa kendala sama sekali namun kenyataannya salah. Ia harus menghadapi sebuah masalah besar yang memaksanya hidup dalam sebuah ketidakpastian untung saja Ameera dikelilingi orang-orang baik seperti Naomi, Donny, Emon, Barra dan Joe. Mereka selalu hadir disaat dibutuhkan.
Jangan lupa likenya Kak. ❤
NOTE : * sumber : m.bola.com
__ADS_1