
Happy reading 🍃
"Pa... Papa."
Teriak Mark saat kaki jengjang pria itu keluar dari lift. Ia melangkah dengan langkah panjang, berlari sambil berteriak memanggil pria paruh baya yang selama belasan tahun membesarkan dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang.
"Pelayan, di mana Papaku?" tanya Mark pada salah satu pelayan yang sedang menganti gorden kaca di lantai dua.
"Tuan Besar ada di kamar, baru saja selesai makan malam," ujar pelayan sambil menundukan pandangan.
"Jika pekerjaanmu sudah selesai, segera beristirahat. Ini sudah pukul delapan malam, jangan sampai terlalu asyik bekerja lantas melupakan kesehatan. Saya tidak mau semua pelayan di mansion ini sakit dan membuat kondisi Papa semakin memburuk."
"Kamu sudah lama bekerja dengan Papa, bahkan sebelum saya menikah jadi sudah tahu persis bagaimana kondisi Tuan Besar," timpal Mark.
"Baik Tuan, setelah selesai mengganti gorden akan segera istirahat."
***
Di dalam kamar tamu, seorang perawat laki-laki sedang membuat ancang-ancang mengangkat tubuh Tuan Ibrahim dari kursi roda.
Selama tujuh hari dalam seminggu akan ada dua orang perawat yang bertugas menjaga dan melayani semua kebutuhan Tuan Ibrahim. Dibagi dalam dua shift, shift pertama dimulai dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 14.00 dan shift kedua pukul 19.00 hingga pukul 07.00 pagi.
Shift pertama yang bertugas adalah perawat wanita karena Mark tidak mau ada perempuan asing menginap di mansion. Pria itu memiliki alasan tersendiri mengapa lebih memilih perawat laki-laki bertugas di shift kedua ketimbang perempuan. Ia bercermin dari pengalaman dulu, bagaimana gilanya Stevanie berusaha mencelakai Ameera akibat tingkat kecemburuan diatas rata-rata. Untuk itulah, Mark lebih memilih menugaskan perawat laki-laki untuk menjaga Tuan Ibrahami saat malam hari.
"Tuan, saya akan membersihkan tubuh Anda dan mengganti pakaian sebelum tidur," ujar perawat laki-laki yang bernama Yusuf.
Perawat itu berjalan ke kamar mandi, ia menyalakan kran air dan menampungnya dalam sebuah baskom plastik, menyiapkan semua kebutuhan Tuan Ibrahim seperti waslap handuk, popok dewasa, piyama dan tak lupa sikat gigi beserta pasta gigi.
Meskipun kini tubuh Tuan Ibrahim lumpuh, namun personal hygiene (kebersihan diri) tetap menjadi nomor satu agar memberikan rasa nyaman, meningkatkan kepercayaan diri, harapan hidup semakin panjang dan lebih penting menghindari berbagai macam penyakit muncul yang akan memperburuk keadaan pasien.
Yusuf dengan telaten melakukan tugasnya tanpa membuat kesalahan sedikit pun. Tangannya sibuk melepas manik kancing milik Tuan Ibrahim.
"Tuan, boleh saya mulai sekarang?" tanya Yusuf sebelum memulai tindakan.
Pria paruh baya itu hanya mengangguk kepala, memberikan isyarat bahwa ia mengizinkan Yusuf memulai tindakan.
"Saya perhatikan semakin hari napsu makan Anda semakin banyak. Jika terus menerus seperti ini, bisa dipastikan kondisi tubuh akan membaik," ucap perawat itu disela-sela kegiatannya mengelap tubuh Tuan Ibrahim.
__ADS_1
Sesekali tangan pria berusia 25 tahun itu mencelupkan kemudian memeras waslap sebelum mengelapkan ke tubuh pasien.
"Besok pagi sebelum saya selesai bertugas, kita akan membersihkan rambut Anda menggunakan shampo. Nampaknya sudah 3 hari rambut indah Tuan belum tersentuh shampo."
Lagi dan lagi, Yusuf melakukan komunikasi pada pasien, walaupun Tuan Ibrahim hanya menganggukan kepala namun pria paruh baya itu merasa senang karena ia merasa memiliki teman di saat anak dan menantunya sibuk dengan urusan masing-masing.
Di saat Yusuf melakukan tugasnya sebagai seorang perawat, dari arah luar kamar terdengar suara ketukan pintu.
"Pa, ini Mark. Apakah boleh masuk?"
"Suruh anakku masuk, Cup," titah Tuan Ibrahim dengan suara cadel atau pelo.
Perawat laki-laki itu tersenyum ramah sambil berkata, "baik Tuan."
Ia beranjak dari ranjang dan memegang knop pintu, "silakan masuk, Tuan. Tuan Besar sudah menunggu."
"Apakah Papaku sudah selesai dibersihkan?" tanya Mark.
Pria itu duduk di tepian ranjang, memandangi wajah dan tubuh renta sang Papa.
"Sudah Tuan, baru saja saya ganti piyama Beliau. Anda boleh menciumnya untuk memastikan."
"Tidak perlu, saya percaya bahwa kamu dan Suster Ochi akan merawat Papa dengan baik."
"Terima kasih atas kepercayaan Anda, Tuan."
"Tolong kamu tinggalkan saya dan Papa berdua. Kami ingin bicara hanya empat mata."
"Tentu saja, Tuan. Kalau begitu saya akan menunggu di bawah. Anda bisa memanggil jika sudah selesai berbincang dengan Tuan Besar."
Kemudian Yusuf meninggalkan Mark dan Papanya. Kini hanya ada mereka berdua di kamar itu.
"Pa, bagaimana keadaannya hari ini?" tanya Mark sambil menarik selimut sampai menutup kaki dan dada pria itu.
"Sehat, Nak. Papa perhatikan sepertinya suasana hatimu sedang bahagia, ada apa?"
"Prediksi Papa benar sekali."
__ADS_1
"Papa tahu tidak, hari ini perusahaan kita memenangkan proyek dari Mr. Tamada," ucap Mark.
Tatapan mata pria blasteran Indo-Amerika itu berbinar bahagia saat mengatakan kalimat terakhir.
"Dengan ini kita bisa mulai bangkit lagi, Pa. Nominal yang diberikan cukup besar. Ya... Walaupun tidak sebesar dengan proyek-proyek kita terdahulu saat masih berjaya tapi setidaknya cukup untuk mengisi kekosongan kas perusahaan."
"Kamu benar Nak. Besar atau kecil nominal yang dihasilkan, kita harus tetap bersyukur."
Pria paruh baya itu mengusap telapak tangan sang anak dengan lembut, mengerahkan semua tenaga untuk tersenyum.
"Semenjak lumpuh, Papa banyak introspeksi diri dan merenungi semua kesalahan selama hidup di dunia ini."
"Dulu Papa terlalu sombong dengan kekayaan yang dimiliki. Selalu melihat ke atas tanpa memperhatikan lingkungan sekitar. Hingga akhirnya Tuhan menegur dengan cara yang sangat indah."
"Papa sadar bahwa semua kekayaan, kesehatan dan kejayaan bisa diambil kembali oleh Sang Pencipta. Di saat itu semua terjadi, kita hanya bisa pasrah menerimanya," ucap Tuan Ibrahim.
"Maafkan Papa, Nak sudah membuatmu menderita. Mewariskan perusahaan dengan berbagai permasalahan di dalamnya."
Tatapan mata pria itu lurus ke depan. Bayangan masa lalu saat ia masih gagah dan sehat memenuhi isi pikirannya.
Dulu ia terlalu sombong, angkuh bahkan selalu meremehkan orang lain dan kini karma itu datang, membuatnya sadar bahwa selama ini ia telah melakukan perbuatan dosa.
Mark mengusap air mata yang sudah jatuh membasahi pipi sang Papa. Ia menggenggam tangan pria itu.
"Mark bahagia karena Papa sudah menyadari semua kesalahan selama hidup di dunia ini."
"Sebelum terlambat, mari kita bertaubat, memohon ampun pada Tuhan. Siapa tahu, hidup kita semakin bahagia setelah kembali ke jalan-Nya."
Tuan Ibrahim semakin erat menggenggam tangan Mark, "kamu benar, Nak. Hidup akan jauh bahagia bila kembali ke jalan Tuhan," ujar pria itu sambil tersenyum.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1
Mohon maaf karena author baru sempat update. Badan lagi kurang sehat nih tapi akan diusahakan selalu update setiap harinya.
Jangan lupa kasih like ya Kak. Terima kasih. ☺