
Setelah melakukan serangkaian perawatan full body di salon khusus wanita serta pergi ke butik langganan, Gladys diantar Naomi menuju sebuah hotel bintang lima di kawasan Jakarta Pusat.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua tampak terlibat perbincangan hangat menceritakan berbagai hal untuk dijadikan bahan obrolan. Waktu terus berputar dan tak terasa kini mobil mewah itu berhenti di depan pintu masuk hotel.
"Selamat bersenang-senang!" ucap Naomi sebelum sahabatnya itu turun dari mobil. "Aku berharap, semoga setelah malam ini akan ada Alpukat baru hadir ke dunia." Naomi mengerlingkan sebelah mata.
Gladys menggelengkan kepala, meraih tas branded keluaran terbaru lalu mengayunkannya ke pundak Naomi. "Jangan ngelantur! Mana mungkin aku hamil dalam waktu dekat. Setidaknya tunggu dua atau tiga tahun ke depan, baru Dokter memperbolehkanku memberikan adik untuk Alpukat!"
Naomi terkekeh mendengar perkataan sahabatnya. "Aku hanya bercanda. Sudah sana, jangan biarkan suamimu menunggu. Di dalam sana akan ada Barra yang menggantikanku menjagamu."
Dan benar saja, saat wanita itu berjalan masuk ke dalam hotel. Dia disambut hangat oleh beberapa pegawai hotel, satu diantaranya adalah Barra.
Pria berkemeja biru navy itu tersenyum sembari berkata, "selamat malam, Nyonya. Mari, Tuan Mark sudah menunggu Anda sejak tadi."
Gladys tersenyum kaku. Malam ini dia merasa semua perlakuan yang diberikan oleh Mark sangat istimewa. Ya, meski hari-hari sebelumnya pria bermata biru itu sering memberikan kejutan kecil serta memperlakukannya layaknya seorang Ratu, tapi entah mengapa malam ini terasa begitu berbeda.
Wanita itu melangkah masuk ke dalam lift yang membawa tubuhnya naik ke lantai teratas menuju sebuah restoran bintang lima dengan konsep rooftop. Dari atas bangunan tersebut, kita bisa menyaksikan gemerlap cahaya lampu dari gedung pencakar langit di seberang sana memantulkan sinarnya serta kelap kelip bintang di atas langit dan sinar rembulan memberikan kesan indah bagi siapa saja yang memandang.
Ketika lift berdenting dan terbuka, Gladys langsung keluar. Di belakang sana, Barra dan dua orang pengawal mengekori dengan patuh. Wanita itu berhenti sejenak, ketika bola mata indahnya menyaksikan cahaya lilin elektrik tersusun rapi membentuk lorong seperti sebuah jalan setapak.
Perlahan, Gladys kembali melangkah. Suasana hening membuat suara ketukan langkah high heels milik wanita itu menggema. Hingga tiba di depan pintu restoran, seorang pelayan restoran berdiri dengan tegap dengan senyum ramah terlukis di wajah.
"Silakan, Nyonya. Tuan Mark sudah menunggu di dalam," ujar pelayan pria tersebut seraya meraih gagang pintu dan membukanya.
Gladys terperangah melihat kejutan yang diberikan oleh suaminya. Mata wanita itu berkaca-kaca, tak menyangka Mark akan mendapatkan kejutan manis dari kekasih masa kecilnya.
Ruangan itu sangat luas, cukup menampung puluhan pelanggan. Namun karena malam itu akan menjadi malam bersejarah bagi Gladys, maka Mark sengaja menyewa satu restoran tersebut hanya untuk melayani mereka berdua.
Masih dengan suasana temaram, puluhan lilin sengaja diletakan di tempat-tempat tertentu sebagai satu-satunya pencahayaan di ruangan tersebut.
__ADS_1
Di tengah ruangan terdapat sebuah meja dengan kursi makan dilapisi penutup berbahan satin berwarna putih dengan pita merah sebagai pemanis, disekelilingnya terdapat beberapa lilin yang sengaja dibentuk menyerupai sebuah hati dan bertaburkan bunga mawar merah sebagai simbol cinta sejati.
Seorang pria berkemeja putih lengkap dengan setelan jas dan sepatu hitam berdiri tegap sembari tersenyum.
"Selamat malam, Sweetheart," sapa Mark.
Pria bertubuh atletis, dengan pahatan otot di mana-mana begitu terpesona melihat penampilan istri tercinta. Dalam balutan gaun panjang berwarna merah marun dengan model off shoulder, menampakan bahu di sisi kanan dan kiri terbuka. Memperlihatkan kulit bersih nan mulus milik wanita itu terekspose sempurna.
Rambut kemerahan panjang tergerai indah. Satu set perhiasan berlian berkilau di kedua telinga dan leher jenjang wanita itu memberikan kesan elegan.
Perlahan, Mark melangkah maju. Pria itu mengulurkan tangan ke depan serta menggenggam jemari lentik sang istri untuk duduk di kursi.
"Malam ini kamu begitu cantik dan seksi," bisik Mark di telinga Gladys. Membuat pipi wanita itu merona.
"Terima kasih, Sweetheart. Kamu juga terlihat tampan malam ini."
Mark menarik sebuah kursi untuk istrinya. Setelah memastikan Gladys duduk dengan nyaman, barulah dia menarik kursi untuknya sendiri. Kini mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Apakah kamu menikmatinya?" tanya Mark.
"Hu'um. Meskipun ini kali pertama aku mencicipinya tapi rasa makanan ini bisa ditolerir oleh lidahku."
Mark tersenyum, matanya tak mau lepas dari wajah cantik bidadari di hadapannya. "Baguslah jika kamu menyukainya."
Pria itu meraih jemari Gladys, lalu menciumnya dengan penuh cinta. "Terima kasih karena kamu sudah memberiku kebahagiaan yang tak terhingga. Berkat dirimu, aku bisa merasakan arti kehidupan yang sesungguhnya. Dengan cinta, kasih sayang dan perhatian yang diberikan olehmu, sudah cukup bagiku untuk mengetahui bahwa kamu memang layak untuk kujadikan istri."
Mark menarik napas dalam-dalam kemudian matanya menatap wajah sang istri. "Maka dari itu, aku punya kejutan lain untukmu." Pria itu menjentikan jemari, lalu seorang pelayan datang mendorong troli makanan.
Di atas troli itu terdapat satu buah piring besar berwarna putih, tertutup rapat. Pelayan pria berseragam hitam dan putih tersebut menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Kejutan apa lagi yang kamu siapkan untukku, Kak?"
"Sebentar lagi kamu akan mengetahuinya."
"Letakan piring itu di sana!" titah Mark pada pelayan restoran.
Setelah menjalankan tugasnya dengan baik, pelayan tersebut undur diri. Meninggalkan sepasang suami istri yang tengah menikmati makan malam romantis dalam suasana temaram.
"Kamu boleh membukanya sekarang."
Detak jantung Gladys semakin tak beraturan. Tangannya mulai gemetar, manakala jemari lentik itu perlahan membuka penutup piring yang terbuat dari bahan stainless steel.
"Jangan takut. Aku tidak mungkin meletakan katak atau ular mainan di dalam sana," ujar Mark dengan sedikit menggoda.
Gladys menutup mulut dengan telapak tangan. Kedua matanya terbelalak sempurna ketika melihat isi dari piring tersebut. Sedetik kemudian, terdengar suara alunan instrumen biola di belakang kursi wanita itu. Beberapa pemain biola berusia belasan tahun memainkan alat musik gesek tersebut dengan begitu merdu.
Instrumen lagu Perfect milik Ed Sheeran terdengar menggema memenuhi seisi ruangan. Dari layar LCD di tengah ruangan, menampilkan beberapa slide foto Gladys dan Mark ketika masih kecil, remaja dan beranjak dewasa.
Tanpa di duga, pria tampan nan rupawan itu berlutut di depan Gladys seraya membuka kotak cincin berlian. Di hadapan para pelayan restoran, dengan suara lantang dan penuh percaya diri, Mark berkata, "will you marry me?"
"Aku tahu, awal pernikahan kita hanya atas dasar sebuah pertanggung jawaban saja karena saat itu kamu tengah mengandung buah cinta kita."
Masih dengan posisi berlutut, Mark melanjutkan kalimatnya. "Dua kali kita menikah, tetapi tidak sekali pun aku melamarmu. Untuk itulah, aku sengaja mengadakan kejutan ini khusus untukmu."
Bersambung
.
.
__ADS_1
.