
Arief termenung untuk beberapa saat. Hatinya mulai goyah, dia merasa mendapat tamparan keras. Lama tak bertemu, sikap Ahmad berubah menjadi lebih berani dan tak gentar berhadapan langsung dengan mantan rivalnya itu.
"Aku merasa semua perkataan yang diucapkan Ahmad benar adanya. Selama ini aku egois, demi kesenangan pribadi rela mengorbankan Sandra dan Kirana. Ya Tuhan, semoga aku masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri."
Tak berselang lama, Bu Sandra datang menghampiri Pak Arief yang sedang duduk di kursi. Tangan wanita itu terulur ke depan. "Ini." Bu Sandra menyodorkan piring berisi nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayuran di atasnya. "Resepsi pernikahan masih berlangsung hingga malam hari, jangan sampai kamu sakit karena telat makan."
Sambil menerima piring yang disodorkan oleh Bu Sandra, Pak Arief berucap. "Terima kasih." Kemudian melirik sekilas ke arah istrinya. Dengan bibir bergetar, dia berkata. "Sandra, tolong maafkan aku karena belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik bagi Kirana," ucap Arief tulus.
Bu Sandra menarik napas dalam, kemudian menghembuskan secara perlahan. "Aku sudah memaafkanmu Mas, jauh sebelum kamu menyadari kesalahanmu itu. Namun, sebaiknya kamu juga meminta maaf pada Kirana karena hatinya pernah hancur akibat kesalahanmu dulu!"
Pak Arief menyentuh lembut tangan Bu Sandra. "Tentu saja aku akan meminta maaf pada Kirana." Pria berambut perak dan bertato itu mencium kening sang istri. " Tolong bantu aku dan ingatkan selalu agar menjauhi judi dan tidak lagi menegak miras!"
Kemudian, orang tua Kirana tersenyum manis lalu memandang wajah pasangan pengantin yang tampak bahagia duduk di pelaminan.
Di antara ratusan tamu undangan yang hadir, di deretan kursi paling depan yang dikhususkan untuk keluarga, Mr. Lee dan Stevanie duduk dengan manis sambil berselfie ria. Sesekali terdengar gelak tawa dari bibir keduanya.
"Lee, foto ini kamu hapus saja. Dalam foto ini aku terlihat lebih berisi," protes Stevanie kala jemari lentik itu menggeser layar benda pipih berukuran 6.5 inci.
"No! Foto ini sangat bagus sekali. Aku menyukainya." Mr. Lee merebut ponsel dari tangan wanita yang amat dicintainya itu.
Stevanie mendengus seraya mengerucutkan bibir ke depan. "Kamu jahat!"
Mr. Lee mendesah pelan. "Baiklah, aku akan menghapusnya. Lihat, sudah aku hapus 'kan!"
Dengan gerakan secepat kilat, Stevanie mencium pipi Mr. Lee. "Thank you! Malam ini aku akan memberikan hadiah spesial sebagai imbalannya."
Tak terasa waktu berputar dengan cepat, sinar mentari kini tergantikan oleh sinar rembulan. Tepat pukul sebelas malam, resepsi pernikahan antara Joe dan Kirana telah usai digelar. Semua tamu yang hadir sudah kembali ke rumah masing-masing. Hanya menyisakan Mama Aura dan kedua orang tua Kirana.
__ADS_1
Mr. Lee dan Stevanie sejak sore hari sudah undur diri karena esok pagi harus terbang ke Korea untuk menghadiri acara keluarga dalam menyambut kehadiran anggota keluarga baru. Sementara Mark dan Gladys kembali ke kamar hotel karena Alpukat mulai rewel berada di tempat ramai.
"Akhirnya, semua runtutan acara pernikahan anak-anak kita berjalan lancar tanpa ada kendala sedikit pun," ucap Mama Aura seraya mengusap pundak Bu Sandra.
"Benar, Bu. Saya sempat was-was, khawatir melakukan kesalahan dan malah membuat keluarga Ibu malu. Sebab, semua tamu yang hadir merupakan kenalan Bu Aura dan Nak Joe semua."
Mama Aura terkekeh. "Namun, buktinya semua berjalan lancar. Iya 'kan?"
"Oh iya, Ibu dan Bapak besok malam kita akan mengadakan makan malam bersama. Jika berkenan, sudikah kiranya ikut bergabung bersama kami."
"Tentu saja, saya dan istri saya bersedia menghadiri jamuan makan malam bersama," timpal Pak Arief.
Dari jarak sekitar dua meter, sepasang pengantin berdiri menatap ke arah dua wanita dan satu orang pria yang tengah sibuk bercengkrama. Kirana melihat senyum manis tanpa beban terlukis di wajah sang ibu, membuat hatinya bahagia.
"Ayo, pamitan dulu pada orang tuamu dan Mama." Joe mengulurkan tangan dan disambut oleh Kirana.
"Mama, Ayah, Ibu," sapa Joe seraya tersenyum. "Terima kasih karena sudah membantu hingga resepsi ini sukses digelar."
"Benar, Sayang. Hanya ini yang bisa kami lakukan sebagai tanda kasih sayang pada kalian berdua."
"Ibu ...." Kirana memeluk erat tubuh Bu Sandra. Air matanya jatuh mengingat bagaimana kerasnya perjuangan Bu Sandra dalam membesarkan Kirana seorang diri. Meskipun ada Pak Arief, tetapi pria itu tidak bisa diandalkan. Dia hanya sibuk berjudi dan menegak miras hingga melupakan kewajibannya seorang suami dan seorang ayah.
"Jangan khawatir, Kirana. Ibumu akan aman bersama Ayah. Mulai detik ini, tak kan kubiarkan seorang pun melukai hati dan fisik Ibumu."
Kirana memicingkan kedua mata, menatap sinis ke arah ayah tirinya. Kemudian beralih menatap Bu Sandra.
"Do'a kita sudah dikabulkan. Ayahmu mau berubah dan meminta kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki diri," bisik Bu Sandra.
__ADS_1
Kirana tertegun sejenak. "Pantas saja Ibu tersenyum lebar. Ternyata pria ini telah membawa angin segar dalam kehidupannya. Semoga saja dia benar-benar berubah."
"Ayah tahu selama ini telah berbuat banyak salah padamu dan Ibumu. Namun, dalam kesempatan kali ini izinkan Ayah meminta maaf dan tolong berikan kesempatan padaku untuk memperbaiki diri."
Joe berdiri di samping Kirana mengulurkan tangan lalu menyentuh pundak sang istri. "Cobalah untuk memaafkan, agar hidupmu tenang!"
"Baiklah, aku akan memaafkan Ayah. Namun, kali ini tolong jangan kecewakan aku dan Ibu. Sudah cukup penderitaan Ibu selama ini, Yah. Jangan berikan penderitaan lagi padanya karena kalau sampai itu terjadi, aku akan membawa Ibu pergi jauh dari sisi Ayah!" ancam Kirana.
Pak Arief tersenyum manis, seraya merangkul tubuh Bu Sandra dalam pelukan. "Sebelum itu terjadi, Ayah sudah lebih dulu membanjiri Ibumu dengan cinta, kasih sayang yang akan membuatnya lupa akan luka yang pernah kutorehkan dulu."
"Dasar gombal!" ledek Kirana.
"Sudah-sudah, lekas masuk kamar dan buatkan cucu yang banyak untuk kami," pinta Mama Aura dengan kerlingan mata nakal.
"Mama tenang saja. Do'akan kami semoga segera memberikan kabar baik untuk kalian."
***
Joe mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam kamar. Lampu kamar temaram, lilin elektrik dibuat menyerupai jalan setapak dan di atas sprei putih bertabur mawar merah berbentuk hati. Membuat suasana semakin romantis.
Perlahan, Joe menurunkan sang istri. "Aku akan mandi, kamu beristirahatlah dulu! Kakimu pasti pegal karena seharian menggunakan heels."
Joe hendak berjalan menuju kamar mandi. Dia tidak bisa menahan diri lebih lama. Sebab, penampilan Kirana hari ini begitu cantik membuat pria itu berkali-kali menelan saliva. Akan tetapi, belum sempat Joe meninggalkan kamar, lengan pria itu dicekal.
"Ada apa, Babe? Kakimu ingin kupijat lagi seperti kemarin?" tanya Joe.
"Ehm ... itu ..." Kirana menunduk, menggigit bibir bagian bawah dengan gugup. "Aku ingin ikut mandi denganmu sekaligus menunaikan kewajiban sebagai suami istri."
__ADS_1
Joe tercengang, mengira bahwa istrinya ingin diservis. Akan tetapi, dirinyalah yang akan diberikan servis oleh istri tercinta.
"Let's go, Babe! Malam ini mari kita nikmati surga dunia yang belum pernah dirasakan!"