
"Maaf, Nyonya, saya terlalu kencang melempar bola ini hingga tidak sengaja terlembar ke sini," ujar pria bertubuh tegap.
Stevanie termangu di tempat, matanya masih sibuk mengawasi wajah bayi tampan di hadapannya.
"Nyonya, apakah bola ini melukai Anda?" tanya pria itu. Dia melambaikan tangan ke depan wajah Stevanie.
Pria itu sedikit cemas melihat wanita di hadapannya mematung tanpa suara. Akan sangat merepotkan jika bola karet ini melukai pengunjung lain. Bisa-bisa, dia akan diintrogasi habis-habisan oleh majikannya.
"Nyonya." Kali ini pria itu bertanya dengan menaikan satu oktaf suaranya, membuat Stevanie tersadar dari lamunan.
"Oh, itu... Ya, aku baik-baik saja," jawab Stevanie setelah sadar kembali. Dia mengedipkan mata sekali lalu menatap kembali bayi kecil di hadapannya.
"Tuan, apakah bayi ini putra majikanmu?"
Pria itu menatap Stevanie dengan kening berkerut.
"Bayi ini, pasti anak gadis itu," ujar Stevanie sambil melangkah maju ke depan. Tangannya sudah terulur ke depan, ingin menyentuh wajah tembem Alpukat dengan raut wajah terharu.
"Hentikan, Nyonya!" Pria berbadan tegap itu mundur tiga langkah ke belakang. Dia memasang ancang-ancang, bersiap mendaratkan sebuah tamparan berjaga-jaga jika wanita di hadapannya berniat jahat pada Alpukat.
"Anda jangan macam-macam, saya bisa berlaku kasar jika Anda berniat jahat pada bayi ini," ucapnya lagi. Pria itu semakin waspada, gerak gerik Stevanie.
"Anda tenang saja, saya tidak punya niatan jahat. Saya hanya ingin memastikan saja. Wajahnya mirip kerabat saya. Kalau boleh tahu, apakah bayi ini adalah cucu Tuan Ibrahim Pieter?"
"Benar, dia cucu Tuan Ibrahim. Anda siapa?" tanya bodyguard semakin mempererat gendongannya.
"Aku..."
"Anda jangan macam-macam, Nyonya Stevanie!" teriak Bi Mirna. Wanita paruh baya itu segera berlari setelah melihat sosok Stevanie. Nyaris saja dia lengah dan membiarkan nyawa Tuan Muda keluarga Pieter terancam.
"Bi Mirna, kamu juga di sini?"
"Benar, saya diperintahkan menjaga dan melindungi Tuan Muda. Anda ada perlu apa? Jika berniat mencelakai bayi ini, saya tidak segan-segan meminta Johan menampar atau bila perlu menyeret Anda ke kantor polisi, atas dugaan penculikan!" jawab Bi Mirna menatap tajam ke arah Stevanie. Wanita itu langsung menggendong Alpukat.
"K-kalian... Jangan salah paham dulu. Aku... Tidak berniat jahat." Stevanie tergagap melihat para pengunjung lain mengarahkan padangan ke arahnya.
"Lantas, mau Anda apa?"
__ADS_1
"A-aku hanya ingin menyentuh bayi itu saja, tidak lebih."
Bi Mirna tersenyum sinis, "menyentuh tapi setelah itu membawa kabur dan melenyapkan nyawanya, iya kan?"
"Kamu salah paham, Bi. Demi Tuhan, aku tidak berniat jahat pada bayi ini. Sungguh!"
Baru saja Stevanie selesai bicara, seorang wanita muda bertubuh mungil, berambut sebahu dalam balutan peplum top dipadu dengan celana jeans dan high heels setinggi dua centi meter memberikan kesan elegan dan berkelas berdiri tepat di belakang Stevanie.
"Nyonya Stevanie."
Mendengar suara lembut nan merdu memanggil namanya, refleks wanita itu menoleh ke belakang. Dari jarak tujuh langkah, seorang wanita muda berdiri tegap dengan penampilan anggun dan mempesona.
"Ameera..."
"Ehm, maksudku, Gladys."
Gladys menatap wajah Stevanie. Mulai dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Tidak ada yang berubah dalam diri wanita itu, dia masih sama seperti satu tahun lalu. Hanya saja kini, tubuhnya terlihat lebih berisi dari tahun lalu. Saat mereka tak sengaja bertemu di rumah sakit dan menyebabkan dirinya harus dirawat di rumah sakit akibat mengalami pendarahan.
Melihat raut wajah Stevanie ketakutan, dia berjalan secara perlahan lalu menggendong tubuh anaknya dalam dekapan.
"Anda sedang apa di sini?" tanya Gladys. Wanita itu berdiri dihimpit oleh Bi Mirna dan seorang bodyguard sekaligus supir pribadi keluarga Pieter.
Entah mengapa, tiba-tiba saja muncul rasa iba melihat wanita itu. Meskipun matanya tertutupi kacamata hitam tapi Gladys tahu, saat ini Stevanie dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Kalian tolong tinggalkan kami berdua. Aku ingin berbicara dengan wanita ini," titah Gladys pada pengasuh dan bodyguardnya.
"Tapi, Nyonya... Dulu, dia berusaha mencelakai Anda dan sekarang tidak menutup kemungkinan wanita ini akan melakukan hal yang sama," elak Bi Mirna.
"Benar, Nyonya. Saya diutus Tuan Mark dan Tuan Besar untuk melindungi Anda dan Tuan Muda. Beliau akan menghajar saya bila terjadi suatu hal buruk pada kalian."
Gladys menghela napas panjang. Kamu harus terbiasa dengan situasi ini, Gladys. Mark melakukan ini semua demi keselamatanmu dan anaknya. Jadi, bersabarlah.
"Oke, aku akan membiarkan kalian menjalankan pekerjaan yang diberikan oleh suamiku tapi dari jarak tiga meter. Kalian bisa mengawasi kami di sana. Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan Nyonya Stevanie." Gladys menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
"Tapi, Nyonya..."
"Jika keberatan, kalian bisa pulang ke rumah sekarang!" ucap Gladys tegas.
__ADS_1
Bi Mirna dan bodyguard itu saling berpandangan, mereka berkomunikasi lewat tatapan mata. Lalu, keduanya menganggukan kepala tanda menyanggupi usulan Gladys sambil menggendong Alpukat.
Gladys dan Stevanie duduk di kursi taman. Terjadi keheningan sesaat. Baik Gladys mau pun Stevanie sama-sama mengunci mulut rapat-rapat, tidak ada percakapan di antara mereka.
"Lama tidak berjumpa." Stevanie mengawali percakapan mereka. Dia memandang ke arah depan, menatap kerumunan anak kecil yang sedang bermain bersama.
"Benar, sudah hampir satu tahun tidak berjumpa. Apa kabar, Nyonya?" tanya Gladys.
"Kabarku, baik-baik saja. Ehm, panggil aku Stevanie." Wanita itu melirik ke arah Gladys.
Penampilan, tutur kata dan sikap Gladys kini berubah 180°, sangat berbeda dari satu tahun lalu. Dia terlihat lebih dewasa, tegar dan lebih berkelas hingga tanpa sadar membuat Stevanie malu akan perubahan yang terjadi di antara mereka.
"Kamu sekarang berubah. Aku yakin, kehidupanmu kini jauh lebih baik dari sebelumnya." Stevanie masih memperhatikan mantan rivalnya dalam urusan cinta.
Gladys tersenyum kaku, dia membalas tatapan Stevanie dengan sorot mata tajam, terlalu tajam hingga membuat lawan bicaranya gelisah.
Stevanie meremas jemari lentiknya dengan gelisah, dia menjadi ciut melihat tatapan tajam dan menusuk dari wanita yang dulu pernah menjadi madunya.
"Tanpa saya beritahu, tampaknya Anda bisa melihatnya sendiri." Gladys mengalihkan pandangan ke arah putranya berada. Dia tersenyum tatkala melihat Alpukat tertawa saat bermain bersama Bi Mirna.
"Aku sudah bercerai dengan Mark."
"Kak Mark sudah memberitahuku," balas Gladys singkat.
"Ya, dia pasti akan menceritakan semuanya padamu. Tidak ada satu hal pun yang disembunyikan olehnya." Seulas senyum tersungging di bibir Stevanie.
"Benar, Kak Mark selalu berusaha terbuka pada pasangannya. Hanya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan pada orang lain yaitu status pernikahannya."
Gladys menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan ucapannya. "Selama empat bulan aku hidup di balik bayang-bayang pernikahan kalian. Menjadi istri kedua yang tidak dicintai suami, menantu yang dibenci mertua bahkan anakku disebut anak haram karena lahir dari hasil perkosaan!"
"Belum lagi mendapat teror dari istri lain suamiku. Dia berusaha membunuhku dan bayi dalam kandungan. Sungguh berat hidupku dulu." Gladys melirik sekilas lalu tersenyum smirk.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.