BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
PASCA PERCERAIAN


__ADS_3

Stevanie mengurung diri di dalam kamar. Semenjak hakim mengetuk palu dan mengabulkan gugatan cerai yang dilayangkan oleh Mark, wanita itu duduk sambil memandangi figura foto pernikahan yang dipajang di kamar tersebut.


Foto itu diambil empat tahun lalu, saat ia dan suami masih berstatuskan pasangan suami, istri. Di dalam foto tersebut nampak rona kebahagiaan, senyum bahagia terpancar dari wajah sepasang insan yang baru saja mengikrarkan janji setia sehidup semati di hadapan Sang Pencipta.


Berbalut gaun pengantin dengan model lengan setengah renda bertabur mutiara menambah kesan mewah dan glamor.


Kebahagiaan yang ia kira akan abadi selamanya kini berakhir di meja pengadilan. Hakim baru saja mengetuk palu di hadapan tergugat dan penggugat.


"Mark, semudah itukah kamu melupakanku? Sejak kecil kita sudah bersama, tumbuh dewasa bersama dan hanya karena satu kesalahan kamu menceraikanku, sungguh tidak adil!"


"Hanya karena kamu sudah menemukan Gladys, aku dicampakan begitu saja. Tega kamu, Mark!"


Wanita itu beranjak dari sofa, mendekati bingkai foto yang di pajang di dinding. Ia berdiri di atas sofa kemudian menurunkan figura itu. Mungkin lebih tepatnya membantingnya ke lantai hingga serpihan kaca figura itu berhamburan di lantai.


"Kamu tega mengkhianatiku, Mark!" teriaknya histeris.


Tanpa memikirkan pecahan kaca, dengan kaki telanjang Stevanie berjalan ke arah meja rias. Ia melemparkan semua produk kecantikan, koleksi parfum dan membanting semua barang-barang yang ada di kamar.


"Apa salahku, Tuhan, sampai Kau tega memberikan cobaan ini!"


Stevanie meraung, meratapi kesedihannya. Air mata terus mengalir menyebabkan matanya merah dan bengkak. Kini wanita itu terkulai di lantai, kecantikan wajahnya kini pudar, lenyap entah ke mana.


"Mengapa semua orang meninggalkanku. Papi, Mami dan kini Mark juga pergi dari sisiku," ucap wanita itu disela isak tangis.


Suara ketukan pintu tak membuat Stevanie berhenti menangis.


Seorang pria bermata sipit masuk ke dalam kamar. Ia mengarahkan pandangan ke sekitar, keadaan kamar sudah seperti kapal pecah. Serpihan kaca berasal dari figura foto, botol parfum, alat kosmetik dan barang-barang lain bertebaran di mana-mana.


"Vanie," suara lembut pria itu terdengar seirama suara tangisan Stevanie.


Mr. Lee masuk ke dalam kamar, ia melangkah dengan sangat hati-hati menghindari pecahan kaca yang bertebaran di lantai.


"Aku tahu, perpisahan ini tidak mudah bagimu, mengingat kalian tumbuh dewasa bersama apalagi pria itu merupakan cinta pertama bagimu. Namun, semua sudah berakhir. Cobalah untuk bangkit dan lupakan semua kenangan tentang Mark."

__ADS_1


Mr. Lee duduk di tepi ranjang di samping Stevanie. Hatinya ikut teriris melihat sang pujaan hati meratapi kehancuran pernikahan yang telah dibina selama hampir 4 tahun.


"Kenapa Tuhan begitu kejam padaku, Lee? Dia merampas semua hal yang ada ditanganku dalam sekejap," wanita itu mencoba tegar di hadapan Mr. Lee. Sekuat tenaga membendung agar air mata tidak meluncur tetapi gagal. Cairan berwarna kristal itu berderai membasahi pipi.


"Kini aku hidup sebatang kara tanpa keluarga dan saudara."


"Hei, kamu lupa, masih ada aku di sini. Selamanya akan selalu mendampingimu."


Pria berwajah Asia itu mengulurkan tangan, mengusap sudut mata menggunakan ujung jari, menarik napas panjang dan melanjutkan kalimatnya, "aku tidak akan membiarkanmu sendirian di dunia ini. Kamu masih ingat janjiku ini 'kan?"


Mr. Lee membawa tubuh lemah wanita itu dalam pelukan, mencium puncak kepala Stevanie dengan penuh cinta.


"Bagaimana jika kita liburan? Kamu mau ke Singapura, Malaysia, Jepang, Australia atau ke kampung halamanku di Korea juga boleh. Sekalian akan kukenalkan pada keluarga besar di sana. Mereka pasti senang berkenalan denganmu."


Stevanie memikirkan perkataan pria itu, saat seperti ini ia membutuhkan hiburan untuk melupakan kesedihan akibat perceraian.


"Apakah kamu akan ikut bersamaku? Menemaniku seperti yang kamu ucapkan tadi?" tanyanya sambil mendongakan kepala.


"Tentu saja, aku akan menemanimu, Vanie."


"Aku mencintaimu, Vanie. Dulu, sekarang dan di masa depan, hanya kamulah cintaku."


Mata sipit itu menatap intens wajah wanita yang selama ini ia cintai. Hidung mancung, bibir tipis, kulit bersih, meskipun terdapat luka bekas kecelakaan di kening tetapi kecantikannya tetap terpancar.


Kabut ga*rah tiba-tiba menelusup merasuki jiwa pria itu. Matanya berkilat saat menatap bibir merah jambu yang setengah terbuka memperlihatkan gerakan sensual membangkitkan jiwa kelaki-lakiannya.


Ia mulai bergerak mendekatkan wajah dan menyatukan bibir mereka ke dalam sebuah ciuman. Semakin lama ciuman itu berubah menjadi panas, pria itu mulai memperdalam ciuman membuat tubuhnya memanas bahkan suhu pendingin udara di kamar itu tak terasa. Semua gerakan, sentuhan yang diberikan Stevanie membangkitkan hasrat yang selama ini Mr. Lee bendung.


"Vanie, bolehkah aku?" tanyanya dengan melepas pangutan mereka.


"Lakukanlah Lee, tidak perlu kamu tahan lagi," ucapnya dengan suara parau.


Wanita itu memejamkan mata saat pria itu memberikan tanda kepemilikan di seluruh tubuhnya, hingga ia merasakan sebuah gelombang besar datang dan meluluhlantakan benteng pertahanannya.

__ADS_1


Penderitaan wanita itu tidak berakhir sampai di situ saja, ia kembali memejamkan mata saat sebuah benda keras menghujam inti tubuhnya, menyeruak masuk hingga menimbulkan sensasi nikmat yang selama ini dirindukan olehnya.


Suara er*ngan dan de*ahan menjadi saksi pergulatan panas yang terjadi antara Stevanie dan Mr. Lee.


***


"Tuan, apakah ada yang Anda butuhkan?" tanya seorang pramugari berjalan di antara kursi penumpang first class.


Setelah menghadiri pembacaan keputusan pengadilan, Mark ditemani Barra berjalan menuju bandara. Tepat pukul dua siang Waktu Indonesia Barat (WIB) mereka masuk ke dalam sebuah pesawat yang akan mengudara selama kurang lebih 10 jam 55 menit.


"Tolong berikan saya susu putih saja," ujar Mark.


Kemudian, pramugari berpakaian biru muda dengan rambut di sanggul menuangkan susu putih ke dalam gelas dan memberikannya untuk Mark.


"Tuan, saat tiba di Australia kita akan langsung ke hotel. Selama beberapa hari, Anda tinggal di sana sampai sebuah kesepakatan terjadi baru kembali ke Indonesia."


Pria bertubuh jangkung itu hanya mengangguk pasrah, tangannya masih sibuk membuka majalah bisnis. Lembaran demi lembaran ia buka untuk mengusir kebosanan selama berada di dalam pesawat.


"Andai dulu keadaan perusahaan baik-baik saja, mungkin saat ini aku berada di jet pribadi milik keluarga Pieter," gumam Mark.


Hembusan napas kasar terdengar, sukses membuat Barra melirik Bosnya.


"Tuan, apakah Anda merasa tidak nyaman berada di pesawat ini?"


"Jujur saja Barra, ini pertama kalinya saya melakukan perjalanan bisnis menggunakan pesawat komersial. Dulu, setiap waktu akan ada pilot yang siaga mengantarkan ke mana pun saya pergi menggunakan jet pribadi tetapi kini semua hanya kenangan."


"Saya mengerti perasaan Anda. Mungkin pertama kali menggunakan pesawat komersial akan merasa tak nyaman tapi lama kelamaan Anda akan terbiasa."


"Ya sudah, saya ingin istirahat. Jika sudah selesai ceramah, tidurlah. Sisakan energimu untuk menemaniku selama berada di Australia."


Bersambung


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2