BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
BERTAMBAH SATU POINT


__ADS_3

Gladys menatap lekat-lekat pria paruh baya itu. Kini sikap sombong dan angkuh Tuan Ibrahim telah sirna bersamaan dengan melemahnya saraf dan anggota tubuh lainnya.


Dulu, dia terlalu angkuh karena diberikan kesehatan, kekayaan dan kejayaan, tetapi siapa sangka roda berputar dengan cepat. Hanya dalam sekali kedip, semua hal yang dibanggakan oleh Tuan Ibrahim ditarik kembali oleh Sang Pencipta.


Setitik air mata bahagia membasahi pipi Gladys. Keinginannya untuk bisa diperlakukan baik oleh mertuanya kini bisa dia rasakan. Wanita itu melihat kesungguhan terpancar dari bola mata berwarna biru milik Tuan Ibrahim.


"Pa, aku sudah memaafkanmu. Jangan menangis lagi." Gladys menyusut sudut mata mertuanya.


"Tidak perlu menyesali semua yang sudah terjadi. Aku ikhlas atas perlakuan Papa di masa lalu." Wanita itu mengusap lembut jemari Tuan Ibrahim.


"Yang terpenting saat ini, Papa sembuh agar bisa menemani Alpukat bermain." Gladys tersenyum seraya mengusap putranya yang sedang asyik mengoceh sendiri.


"Tunggu, sejak tadi Papa mendengar kalian memanggil cucuku dengan sebutan Alpukat. Kamu memberi namanya Alpukat?" tanya pria tua itu ke arah putranya.


Dengan segera Mark melambaikan kedua tangan ke depan seraya berucap, "bukan aku yang memberikan nama itu."


Gladys tersenyum menyaksikan kedekatan suami dan mertuanya. "Aku yang memberi nama Alpukat pada bayi mungil ini." Wanita muda itu mengangkat tubuh anaknya dan mendudukannya di pangkuan.


"Karena, sewaktu hamil sangat menyukai buah dengan warna kulit hijau apalagi alpukat madu, bisa habis 3 buah dalam satu hari." Bibirnya melengkung membentuk senyuman, deretan gigi putih semakin memperindah senyuman itu.


"Tapi, Papa bisa memanggilnya dengan nama Andra."


Terlihat raut wajah penuh tanda tanya, tetapi Tuan Ibrahim enggan berucap.


"Nama lengkapnya Rafandra Avocado. Terserah Papa mau memanggil bayi ini dengan panggilan apa. Asalkan Papa nyaman, aku tidak keberatan."


"Gladys..." ucap pria itu lirih hampir menyerupai hembusan angin di malam hari.


"Iya, Pa, ada apa?"


"Bolehkah Papa meminta nama keluarga Pieter disematkan diakhir nama lengkap cucuku ini?" tanya Tuan Ibrahim sedikit ragu.

__ADS_1


Dia tahu permintaannya ini sedikit konyol dan tak masuk akal. Apalagi jika menengok ke belakang, betapa jahatnya pria itu. Dengan teganya Tuan Ibrahim menghina dan menuduh Gladys sengaja menjual keperawanannya demi status sosial agar bisa dipandang oleh orang lain.


Pria itu memang egois, meminta menantunya agar berbesar hati mau menyematkan nama keluarga Pieter di belakang nama lengkap sang anak.


"Papa tahu, kamu akan keberatan mengabulkan permintaan ini, Nak. Namun, jika kamu menolak, tidak apa-apa." Pria itu mencoba ikhlas andaikan Gladys tidak menyetujui permintaannya.


Tuan Ibrahim sadar, meski dia sudah meminta maaf tetapi rasa sakit di hati Gladys tidak akan mudah sembuh dalam waktu singkat. Butuh waktu berbulan-bulan untuk menyembuhkan luka yang pernah ditorehkan pada wanita itu. Bahkan mungkin seumur hidup, luka itu tidak akan mengering.


Melihat tatapan mata penuh pengharapan, membuat Gladys tidak tega. Dia sadar, bagaimana pun juga, setengah darah yang mengalir dalam tubuh Alpukat, mengalir darah pria tua yang tengah terbaring di atas ranjang ini.


Dulu, jika Mark tidak memperkosanya, mungkin saat ini dia tidak akan hidup bahagia. Melihat Alpukat tumbuh sehat di dalam perut, melihat keindahan senyuman, suara tangisan, rengekan bayi mungil itu hanya akan menjadi cerita belaka yang dia dengar dari teman-temannya yang sudah menikah saat masih kuliah dulu.


"Aku setuju, kalau Papa mau memberikan nama Pieter di belakang nama anakku. Toh, bayi mungil ini adalah bagian keluarga kalian juga. Mulai detik ini, nama lengkapnya adalah Rafandra Avocado Pieter."


Pria itu terkesiap mendengar jawaban menantunya, "kamu memang wanita baik, Gladys. Taufiq pasti bahagia memiliki putri berhati malaikat sepertimu," batin Tuan Ibrahim.


"Pa, besok aku akan mengajak Gladys mencari rumah untuk kami tinggali."


"Ya, lebih cepat lebih baik. Gunakan uang Papa di bank untuk membantu kalian menemukan rumah yang cocok. Cari rumah yang memiliki halaman luas agar Alpukat bisa leluasa bermain," ucap Tuan Ibrahim antusias. Meskipun dengan nada bicara pelo, tetapi Mark dan Gladys bisa mendengar jelas setiap perkataan yang keluar dari mulutnya.


"Tidak perlu, Pa. Itu uang Papa, untuk keperluan terapi. Mark masih punya uang lebih di bank. Cukup untuk membeli rumah dua lantai di pusat Ibu Kota."


"Terserah kamu saja. Namun, jika uangmu kurang, ambil saja di rekeningku. Jangan biarkan anak dan istrimu mendapatkan tempat tinggal yang kurang layak. Papa tidak akan membiarkan itu terjadi."


Mark mengulurkan tangan untuk mengusap punggung tangan Papanya. "Aku tidak akan membiarkan mereka menderita, Pa. Tenang saja!"


Gladys menatap Mark dengan sorot yang tak terbaca. Perasaan wanita itu kini campur aduk, antara bahagia, sedih dan terharu. Dia mendongakan kepala ke atas, menghindari agar air mata tak jatuh di pipi akan tetapi usahanya gagal. Cairan kristal itu meluncur tanpa dikomando.


"Argh! Kenapa aku menangis di saat seperti ini!" batin wanita itu.


Wanita itu memalingkan wajah ke arah lain, tangannya terangkat lalu menyusut cairan bening itu di sudut matanya.

__ADS_1


"Mark, ajak istrimu makan malam. Dia pasti sudah lapar. Setelah itu beristirahatlah, kasihan cucuku tertidur akibat kecapekan."


Mark mengangguk cepat, dia mendorong stroller dan menggandeng tangan sang istri.


"Selamat malam, Pa. Semoga mimpi indah."


Mark dan Gladys berjalan bersisiran menuju sebuah kamar di seberang kamar Tuan Ibrahim.


"Ini kamarku. Malam ini kamu tidur dulu di sini, besok baru kuantar ke apartemen Mama. Namun, jika mereka belum berangkat ke Indonesia, kamu masih boleh menginap di sini," ujar Mark seraya membaringkan tubuh mbul Alpukat di atas ranjang. Dia meletakan guling di samping kanan dan kiri, menghindari agar si kecil tidak terjatuh ke lantai.


"Sementara kita makan malam, akan kuminta seorang pelayan menjaga Alpukat."


"Ayo!" ucap Mark seraya menggenggam jemari istrinya.


Sepasang suami istri itu berjalan melewati lorong panjang. Tidak ada pembicaraan apa pun di sepanjang jalan menuju ruang makan.


"Hanya kamu satu-satunya orang paling netral di antara para pelayan di mansion ini. Kuminta, tolong jaga anakku sampai kami selesai makan malam."


Mark memberikan perintah pada kepala pelayan dengan memberikan isyarat agar wanita itu segera naik ke lantai atas.


"Kamu tidak perlu cemas, kepala pelayan itu bisa dipercaya. Dia sudah melayani keluarga Pieter sudah hampir 20 tahun. Jadi, anak kita akan aman bersamanya."


"Terima kasih karena sudah memperlakukan kami dengan baik. Hari ini, nilaimu bertambah 1 point," ujar Gladys.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2