
"Cukup, Lee!" teriak Stevanie histeris.
Wanita itu bangkit lalu menatap kekasihnya dengan tatapan nyalang. "Kamu benar, memang tidak seharusnya pria terhormat sepertimu mencintai wanita mandul sepertiku. Yang hanya akan menjadi beban hidup bagi siapa pun. Tuan Ibrahim saja membuangku setelah tahu selamanya tidak akan memberikan penerus untuk keluarga Pieter, apalagi keluargamu!"
Mr. Lee terpaku menatap mata indah milik kekasihnya. Mata itu memancarkan kepiluan dan rasa sakit hati yang mendalam tapi lidah pria itu terasa kelu, membuatnya tidak mampu mengucapkan sepatah kata apapun. Pria itu hanya mematung menyaksikan bagaimana air mata membanjiri wajah Stevanie.
Stevanie mengusap sisa air matanya, tatapan mata wanita itu kosong. "Namun aku sadar, semua itu memang salahku. Ini karma yang pantas kuterima karena sudah berusaha menyelakai wanita sebaik Ameera. Aku ikhlas dengan semua musibah yang datang menimpaku," ucapnya lirih.
"Aku terima semua hinaan yang keluar dari mulutmu itu! Tapi, asal kamu tahu, aku tidak pernah memerintahkan orang mengawasi perusahaanmu dan mencari celah agar bisa meninggalkan kekasihku di saat dia bangkrut. Cukup sekali aku berbuat salah dan berjanji tidak akan melakukan hal yang sama kepadamu, tapi..."
Stevanie menghentikan sejenak kalimatnya. Dadanya terasa sakit hingga membuat wanita itu kesulitan bernapas. Setelah paru-parunya terisi penuh oleh oksigen, dia melanjutkan kembali ucapannya, "Tapi kamu malah mengecewakanku. Selama empat bulan ini, kamu bekerja keras meluluhkan hatiku dan itu berhasil. Kamu berhasil meluluhkan hatiku dan perlahan-lahan menyingkirkan nama pria itu. Namun hari ini, kamu juga sudah menyadarkanku untuk tidak jatuh cinta pada siapa pun karena selamanya aku tidak akan pernah memberikan keturunan."
Air mata kembali bercucuran. Stevanie meninggalkan Mr. Lee. Pintu berdegum keras. Dia berlari ke arah ruang tamu lalu membawa ponsel dan kunci mobil miliknya. Wanita itu sudah tidak memikirkan penampilannya yang berantakan, riasan wajah luntur, mata merah dan bengkak akibat terlalu banyak menangis.
"Mengapa ujian datang menghampirku lagi, di saat aku sudah mulai bertaubat. Apakah aku memang tidak pantas untuk bahagia?" ujarnya setelah masuk ke dalam mobil.
Dia menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi, meninggalkan basement dan melajukan kendaraannya ke sebuah tempat yang bisa membuat wanita itu melupakan sejenak permasalahan yang sedang melanda.
Mr. Lee melangkah menuju ranjang, pria itu menatap kepergian Stevanie dengan rasa bersalah karena sudah menghina dan menyakiti hati kekasihnya.
"Argh!" Mr. Lee berteriak histeris.
Pria itu mengacak-acak rambutnya. "Seharusnya aku tidak menghina Stevanie. Dia pasti terluka oleh perkataanku."
Mr. Lee menendang bantal yang ada di bawah kakinya, menarik selimut dan menghempaskannya ke lantai. Dia terduduk lemah di tepi ranjang.
"Jadi, selama empat bulan ini, diam-diam dia sudah mulai mencintaiku tapi aku malah menghancurkan perasaannya."
"Stevanie..." teriak Mr. Lee dari dalam kamar.
__ADS_1
***
Tujuh hari setelah mengadakan akad nikah, Mark dan keluarga kecilnya mulai pindah ke rumah baru. Gladys memutuskan hanya mempekerjakan tiga orang pelayan, tukang kebun dan security. Selebihnya diberhentikan karena dia tidak sanggup menampung semua pelayan dalam rumah yang sempit.
Untuk rumah impian, Gladys memilih konsep rumah bergaya mediterania modern dan mewah. Interior mediterania di identifikasi sebagai gaya interior dan juga artitektur ala-ala rumah Eropa bagian selatan. Gaya mediteria tercermin dalam desain yang menampilkan suasana santai dan perabotan ala pedesaan (rustic) serta identik dengan warna ceria tapi menenangkan.
Rumah ini dibangun di atas lahan seluas 600 m2, dengan luas bangunan 300 m2. Terdiri dari dua tingkat, bagian depan terdapat dua buah pilar tinggi dengan diameter besar. Bagian pintu dan jendela berbentuk persegi panjang tapi melengkung di bagian atas, untuk bagian dinding Gladys sengaja memilih warna cat coklat dan krem serta perabotan di dalam rumah tersebut berdesain klasik dan modern serta tidak lupa terdapat halaman luas serta kolam renang.
Hari ini tepat hari ke tujuh Gladys dan keluarga kecilnya tinggal di rumah baru. Dia baru saja selesai menata pajangan, lukisan dan figura si kecil. Wanita bertubuh mungil itu menghempaskan tubuh dengan kasar di sebuah kursi taman di dekat kolam renang. Butuh tenaga ekstra hingga semua pekerjaan selesai tepat waktu. Meskipun dibantu pelayan, tukang kebun dan security tapi dia tetap harus turun langsung mengawasi kinerja para pekerjanya.
"Nyonya, mau saya buatkan minuman dingin?" tanya kepala pelayan setelah dia selesai mengelap pajangan yang baru beberapa hari dibeli oleh majikannya.
"Boleh, tolong kamu buatkan sirup rasa cocopandan tambahkan sedikit buah leci dan biji selasih," jawab Gladys seraya memijat pundak dan tangannya yang terasa pegal.
"Selain itu, apakah ada yang Anda butuhkan lagi?" Wanita berseragam hitam dan putih itu kembali bertanya sebelum mengerjakan perintah sang majikan.
"Baik, Nyonya. Segera saya bawakan." Wanita itu membungkuk hormat lalu berjalan masuk ke dalam bangunan mewah itu.
Duduk sendirian di kursi taman membuatnya merasa kesepian karena suami dan anaknya tidak ada di rumah. Mark, sejak pukul tujuh pagi sudah meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor. Sementara Baby Andra atau Alpukat, saat ini sedang berada di sebuah taman, dijaga Bi Mirna dan seorang supir sekaligus bodyguard yang ditugaskan oleh Mark melindungi anak dan istrinya.
Gladys mendesah. "Baru beberapa jam ditinggal Alpukat, aku sudah merindukan bocah itu." Dia merogoh saku celana dan mengeluarkan benda pipih tersebut, lalu menghubungi nomor seseorang.
"Bi Mirna, apakah Alpukat menyusahkanmu?" tanya Gladys setelah mengucapkan salam terlebih dulu.
"Tuan Muda tidak merepotkan saya sama sekali, dia patuh dan tidak rewel," jawab Bi Mirna, mantan ART Gladys dulu saat wanita itu masih tinggal di kontrakan dekat kantor.
"Syukurlah, aku sempat mengkhawatirkannya. Aku takut dia rewel karena terlalu lama jauh dariku."
Bi Mirna terkekeh, dia sibuk mengawasi Alpukat dari kejauhan. Ketika mendengar ponselnya berbunyi, dia meminta bodyguard menggantikannya bermain bersama si kecil. "Nyonya tidak perlu cemas, saya sudah membawa semua bekal sebelum meninggalkan rumah."
__ADS_1
"Baiklah, tolong jaga Alpukat. Setengah jam lagi, aku akan menyusul kalian." Lalu Gladys menutup sambungan telepon.
Tak berselang lama, minuman dingin yang dia minta terhidang di atas meja. Lalu, Gladys mengambil gelas itu kemudian menikmatinya dengan penuh semangat.
Sementara itu, seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun tiba di sebuah taman kota yang terletak di daerah Jakarta Pusat. Dia memasang kacamata hitam untuk menutupi mata merah akibat menangis.
Kaki jenjang wanita itu menyentuh tanah. Setelah menutup pintu mobil, dia berjalan ke arah permainan khusus anak-anak.
Secara perlahan, wanita itu duduk di kursi taman. Menatap ke arah anak-anak yang tengah asyik bermain bersama di sana.
"Andai saja dulu aku tidak berusaha melenyapkan nyawa bayi tak berdosa di dalam kandungan Ameera, mungkin saja saat ini rahimku masih ada dan aku bisa bermain bersama si kecil." Butiran kristal membasahi pipi, kemudian tangannya mengusap perut.
"Hem... Penyesalan hanya akan muncul diakhir, kalau di awal namanya gladi resik," ujarnya seraya terkekeh.
Ketika sedang asyik menertawakan nasibnya sendiri, sebuah bola berhenti tepat di depan kakinya. Seorang pria bertubuh tegap berjalan ke arahnya, tangan kanan pria itu menggendong bayi laki-laki yang memiliki paras rupawan. Tanpa di duga, bayi itu tersenyum tatkala mata jernihnya melihat ke arah Stevanie.
"Bayi itu... Apakah dia?"
Bersambung
.
.
.
Visual rumah baru Gladys dan Mark.
__ADS_1