BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
AKU INGIN BERPISAH


__ADS_3

Hai-hai, author update lagi nih. Oh iya, author ucapkan banyak terima kasih atas kritik dan saran yang kalian tulis di kolom komentar. Mohon maaf jika kisah ini tidak sesuai ekspektasi dan terkesan di luar nalar, jujur pengetahuan author seputar dunia perkantoran masih minim. Namun author akan berusaha selalu memberikan yang terbaik untuk kalian. Okey, mari kita lanjut.


Happy reading. 🤗


Ameera membuka pintu kamar setelah selesai mandi dan menganti pakaiannya yang basah dengan daster khusus ibu hamil, ia melihat Ayah Reza dan Bunda Meta serta Mark sudah berkumpul di ruang tamu.


Ia melangkah menuju ruang tamu dan duduk di samping Bunda Meta. Terjadi ketegangan beberapa saat, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Jika boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Ayah Reza memulai percakapan.


"Ameera, bisa tolong jelaskan pada Ayah ada apa dengan rumah tanggamu?"


"Rumah tangga putri kita baik-baik saja, Ayah!" Bunda Meta mencoba menutupi kisruh rumah tangga yang terjadi diantara anak dan menantunya.


Ia tidak ingin jika Ayah Reza mengetahui bahwa selama ini Ameera menderita bahkan lebih buruk lagi putri kesayangan mereka telah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga yang dibina oleh Mark bersama Stevanie, hingga detik ini pria itu belum mengetahui bahwa sebenarnya Mark telah beristri.


"Sudah saatnya Ayah tahu kebenaran rumah tangga Ameera, Bun!" sergah Ameera.


"Meera!" Bunda Meta menggenggam tangan putrinya.


Ameera melirik Bunda Meta seakan memberitahu bahwa ia sudah siap membongkar rahasia yang disimpan rapat selama empat bulan terakhir.


"Pernikahan Ameera selama ini bermasalah. Berawal dari sebuah kecelakaan menyebabkan Ameera terjebak dalam sebuah pernikahan, di mana satu imam terdapat dua makmum," Ameera menghela napas panjang, mengisi paru-parunya dengan oksigen.


Dada Ameera terasa sesak harus berterus terang pada Ayah Reza menceritakan bagaimana peliknya rumah tangga yang ia jalani selama ini. Harus menjadi istri kedua yang tak dianggap oleh suami sungguh menyiksa batin.


"Teruskan!" titah Ayah Reza.


"Bulan pertama pernikahan, Ameera baru mengetahui bahwa Tuan Mark sudah beristri itulah sebabnya mengapa pria ini tidak mau mendaftarkan pernikahan ke catatan sipil karena ia tidak bisa menikahi dua wanita sekaligus tanpa persetujuan dari istri pertama!"

__ADS_1


"Nyonya Stevanie tidak menerima Ameera sebagai madunya, ia selalu berusaha mencelakai bayi ini. Selain itu, sikap Tuan Mark pun tidak tegas. Ameera hanya menginginkan ia mengakui pernikahan siri kami agar bayi ini mendapat pengakuan dari orang lain dan tidak di cap sebagai anak haram."


"Ameera tahu, bahwa selamanya anak ini akan menjadi aib keluarga karena hadir akibat sebuah kesalahan tapi tidak adil rasanya jika bayi suci tak berdosa harus menanggung kesalahan orang tuanya." Tiba-tiba cairan bening mengalir melalui sudut mata gadis itu dan bibirnya saling mengatup.


"Maka dari itu, setelah bayi ini lahir Ameera ingin berpisah dengan Tuan Mark!"


Bola mata Mark melebar, seluruh tubuhnya meremang. Ia tampak terkejut mendengar keinginan istrinya agar mereka bisa berpisah setelah bayi itu lahir.


Mark menatap Ameera namun gadis itu seolah tak mempedulikan tatapan suaminya.


"Nak Mark, apa ada yang ingin disampaikan?" tanya Ayah Reza selembut mungkin, ia berusaha menjadi penengah dan tidak mau membela salah satu dari mereka. Pria itu ingin berlaku adil dan mencari jalan keluar terbaik untuk anak dan menantunya.


"Putri Ayah berkata jujur, saya memang sudah menikah sebelum kecelakaan itu terjadi tapi Stevanie tidak berniat mencelakai Ameera dan bayinya. Dia wanita baik, memang sedikit arogan namun hatinya lembut jadi tidak mungkin tega melenyapkan bayi itu."


"Lihat, Anda masih saja membela Nyonya Stevanie padahal sudah jelas wanita itu berniat mencelakai anakku!" teriak Ameera, ia beranjak dari sofa dengan kedua tangan mengepal.


"Kamu sudah salah paham pada Stevanie, dia wanita baik-baik," Mark masih mencoba membela istrinya.


"Meera, duduk!" perintah Ayah Reza.


Bunda Meta menarik tangan anaknya agar duduk kembali di sofa.


"Lanjutkan, Nak Mark!"


"Saya minta maaf karena sudah membohongi Ayah tapi jauh di lubuk hati ini tidak ada niatan sedikit pun untuk berpisah dengan Ameera."


"Saya mencintai Stevanie namun juga mencintai Ameera, putri Ayah," suara Mark terdengar lirih.


"Memang terkesan serakah karena menginginkan dua wanita sekaligus tapi saya benar-benar tidak ingin melepaskan Ameera maupun Stevanie. Jadi, sampai kapan pun keinginanmu untuk bercerai tidak akan dikabulkan!" Mark menatap tajam ke arah Ameera.

__ADS_1


"Anda egois, Tuan! Menginginkan dua wanita sekaligus, memangnya Anda pikir saya tidak mempunyai perasaan apabila disakiti akan terus bertahan. Pokoknya, setelah bayi ini lahir setuju ataupun tidak setuju saya tetap mau kita bercerai!" tegas Ameera. Ia lalu meninggalkan ruang tamu dan memilih kembali ke kamarnya.


Di dalam kamar ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, menenggelamkan wajah di bawah bantal. Ameera lelah menghadapi semua permasalahan yang menimpa dirinya hingga tanpa sadar perlahan-lahan matanya tertutup dan ia berkelana ke alam mimpi.


Sementara itu, Mark dan kedua orang tua Ameera masih duduk di atas sofa. Ayah Reza menatap menantunya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Nak Mark, Ayah tahu kamu berada dalam situasi yang sulit saat ini namun keputusan memiliki dua istri sekaligus bukanlah keputusan bijak apalagi Ameera sudah memutuskan ingin bercerai setelah melahirkan nanti."


"Jadi Ayah harap, Nak Mark pertimbangkan keinginan Ameera untuk bercerai dan juga sepertinya Stevanie tidak mungkin bersedia jika harus terus berbagi suami dengan Ameera. Pada dasarnya, seorang istri itu egois menginginkan cinta dan kasih sayang suami hanya diberikan kepadanya. Walaupun Nak Mark berkata akan berlaku adil namun itu akan menyiksa perasaan Ameera." Ayah Reza menyenderkan kepalanya disandaran sofa.


Ayah Reza menatap langit-langit rumah, semua kejadian hari ini terjadi begitu cepat.


"Nak Mark tahu, saat Ayah mengetahui Ameera akan dinikahi oleh pria yang telah merebut kesuciannya ada rasa lega dalam diri ini."


"Seluruh beban hidup terangkat semua, kelak tidak akan ada lagi permasalahan yang menimpa putri kecil kami tapi ternyata dugaan Ayah salah. Ameera menderita dan Ayah gagal melindunginya."


"Maafkan saya, Ayah!"


"Sudahlah, semua telah terjadi. Nak Mark sebaiknya malam ini tidur di sini, di luar sangat dingin dan sangat berbahaya jika menyetir dalam keadaan pikiran sedang kacau. Nanti tidur dengan Ayah di kamar depan, biar Bunda menemani Ameera di kamarnya."


"Bunda, tolong siapkan makan malam biar Ayah merapikan kamar. Nak Mark pasti lelah seharian bekerja."


"Baik Ayah!" Bunda Meta menuruti perintah suaminya. Wanita itu menyiapkan semua bahan-bahan makanan, malam ini ia berencana memasak oseng kacang panjang daging cincang menu masakan yang mudah diolah mengingat waktu menunjukan pukul setengah sembilan malam, sudah lebih dari jam makan malam.


Sementara itu, Ayah Reza merapikan kamar utama. Ia mengganti sprei, menaruh pakaian kotor ke dalam mesin cuci dan menyemprotkan pengharum ruangan agar menantunya merasa nyaman tidur di kamar utama. Memang kamar tersebut tidak sebesar Mansion Keluarga Pieter namun Ayah Reza berusaha membuat menantunya betah tinggal di gubuk peninggalan kakek dan nenek Ameera.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2