
Happy reading 🤗
"Halo, Mr. Lee. Aku baru saja datang ke kantormu tapi salah satu pegawai di bagian resepsionis malah melarangku masuk ke ruangan presdir. Aku dilarang olehnya karena tidak membuat janji terlebih dulu," ucap Stevanie.
Di seberang sana, terlihat raut wajah Mr. Lee berubah merah padam, ia menggertakan giginya hingga suara itu menggema di udara.
"Lantas kamu di mana sekarang? Aku akan menjemputmu," Mr. Lee langsung bangkit dari kursi, membuat sang asisten yang berdiri di hadapan pria itu terlonjak kaget hingga benda pipih berukuran 8.7 inci nyaris terjatuh dari genggamannya.
"Aku dalam perjalanan pulang ke mansion. Tak sudi berlama-lama di kantormu hanya dijadikan bahan tontonan semua karyawan lebih baik kembali dan beristirahat di mansion."
"Vanie, kumohon tolong maafkan kelalaian pegawaiku. Aku janji, kejadian ini tidak akan terulang lagi."
"Sudahlah, aku tidak ingin berhubungan lagi denganmu. Lebih baik kita tidak usah bertemu lagi," Stevanie sudah bersiap menggeser layar untuk mengakhiri panggilan.
"Tunggu, jangan putuskan hubungan pertemanan kita. Aku tak mau jika kamu menjauh dariku."
Tubuh pria itu lemas saat mendengar perkataan terakhir Stevanie, ia benar-benar takut kehilangan wanita pujaannya dan peluang untuk meluluhkan hati wanita itu hancur hanya gara-gara hal sepele.
"Kumohon, Vanie jangan marah lagi. Aku bersedia melakukan apapun asalkan kamu tidak meninggalkanku."
Di saat bersamaan, asisten Mr. Lee bernama Guruh tengah menerangkan agenda harian pria bermata sipit itu.
"Mr. Lee."
Namun pria itu hanya memberikan isyarat melalui gerakan tangan, meminta sang asisten untuk menutup mulut sejenak.
"Vanie..."
"Baiklah, aku tidak akan memutuskan hubungan pertemanan kita."
Bola mata pria bermata sipit itu berbinar bahagia karena ia memiliki kesempatan untuk terus bersama Stevanie dan mencoba meluluhkan hati wanita itu. Lalu Mr. Lee tersenyum lebar.
"Posisimu saat ini di mana? Akan aku susul meskipun sudah hampir sampai kediamanmu."
"Memangnya kamu tidak takut dihajar oleh suamiku?" tanya Stevanie.
"Untuk apa takut, lagipula aku tidak berselingkuh dibelakang pria itu tapi kalau kamu mau kita bisa selingkuh secara terang-terangan di hadapannya."
Asisten Mr. Lee tercengang dengan mulut terbuka lebar, nyaris saja ia tersedak air liurnya sendiri, "Mr. Lee benar-benar gila. Dia berani mengajak istri pria lain untuk berselingkuh. Sungguh patut kuacungi jempol atas keberaniannya ini," gumam Guruh dalam hati.
__ADS_1
"Kamu sudah gila Lee, aku ini wanita bersuami malah kamu ajak selingkuh."
"Hei, memangnya kenapa? Aku pria sukses, mapan, tampan dan berkarisma tidak kalah dari suamimu itu," lanjut Mr. Lee membuat Stevanie memutar bola matanya.
"Aku akan menunggumu di restoran Korea, dalam waktu tiga puluh menit kamu harus sudah sampai," wanita itu mematikan sambungan telepon tanpa menunggu Mr. Lee mengucapkan salam.
"Stevanie Pieter, kamu memang membuatku gila setengah mati."
"Tuan, bisakah saya melanjutkan kembali membaca agenda kegiatan Anda hari ini?" tanya Guruh selembut mungkin.
"Batalkan semua rapat dan pertemuan dengan klien, aku akan menemui Stevanie."
"Tapi, Tuan..."
"Aku tahu semua agenda kegiatan itu sangat penting dalam kelangsungan usahaku tapi Stevanie juga penting bagi hidupku. Berkat dia aku bisa sukses seperti ini. Wanita itu adalah penyemangatku, Ruh. Kuharap kamu mengerti."
Guruh tertegun mendengar ucapan atasannya, ia tak menyangka pria seperti Mr. Lee rela mengorbankan apa saja demi wanita pujaannya.
"Dunia memang sudah edan, pria bermata sipit itu malah mengejar wanita bersuami padahal di luaran sana banyak gadis yang mengantri mendambakan cintanya," ucap Guruh setelah Mr. Lee pergi meninggalkan ruangan presdir.
Setengah jam kemudian, Mr. Lee sudah tiba di restoran. Sebelum pergi menemui Stevanie, ia membelikan buah-buahan dan bunga khusus untuk wanita itu.
Dengan langkah panjang, pria itu masuk ke dalam restoran. Pandangannya ia alihkan ke seluruh penjuru, mencari sosok wanita cantik yang akhir-akhir ini mengganggu pikirannya. Mr. Lee mempercepat langkah ketika indera penglihatannya melihat Stevanie yang tengah duduk ditemani pelayan.
"Lee, kamu sudah datang," ia nampak terkejut mendapatkan kejutan kecil dari pria berkebangsaan asal negeri gingseng itu.
"Special for you, Stevanie."
Pria itu menyerahkan tas belanja pada pelayan yang berdiri di samping kursi roda Stevanie, sementara buket bunga segar ia berikan langsung pada wanita itu.
"Thank you, Lee," ujarnya sambil mencium buket bunga, ia menerima bunga tersebut menggunakan tangan kiri karena sebelah kanannya mengalami patah tulang akibat kecelakaan.
"Ehm, kamu tidak pernah lupa semua kesukaanku."
"Tentu saja, aku selalu mengingat semua yang kamu suka dan tidak disukai."
Tak lama kemudian, seorang pelayan menyerahkan buku menu. Setelah beberapa saat, Stevanie dan Mr. Lee memesan makanan dan minuman.
"Maafkan aku, Vanie karena tidak sempat membesukmu selama berada di rumah sakit."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku bisa memakluminya."
"Aku dengar, kamu menjalani operasi juga. Kalau boleh tahu, bagian mana yang dioperasi?" tanya Mr. Lee seraya memperhatikan seluruh bagian tubuh Stevanie.
"Ehm, itu..."
Stevanie membeku, ia tidak siap memberitahu orang lain tentang keadaannya yang sesungguhnya.
Menurut Stevanie, operasi pengangkatan rahim merupakan sebuah aib sebab ia tak ingin dianggap sebagai wanita tidak sempurna karena tak mampu mengandung dan melahirkan. Meskipun dulu Stevanie memutuskan untuk menolak keinginan suaminya memiliki keturunan tapi pendiriannya runtuh akibat kehadiran Ameera dalam kehidupan rumah tangga yang sudah dibina selama tiga tahun.
"Vanie, kamu melamun? Apa ada perkataanku yang salah!" ia menyentuh lengan wanita itu.
"Stevanie, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Mr. Lee panik. Stevanie tersenyum pahit, lalu setelah itu ia menggelengkan kepala.
"Aku baik-baik saja, Lee. Hanya saja aku malu memberitahumu," ujarnya lirih.
"Kita sudah lama berteman, kamu masih saja menganggapku tak ada."
Pria itu menyenderkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Lee, bukan begitu. Maksudku..."
"Apa Vanie? Katakan saja dengan jujur, aku janji tidak akan mencelamu."
"Sebenarnya, kemarin Dokter melakukan operasi pada rahimku, Lee," Stevanie menghirup napas dalam sebelum melanjutkan perkataannya, "akibat benturan keras menyebabkan rahimku rusak dan harus dilakukan operasi."
Wanita itu membuang semua keangkuhan dan kesombongan di hadapan Mr. Lee, sosok pria yang selama lima tahun belakangan menjadi temannya. Di depan pria itu, ia rela menahan malu dan menceritakan aib dalam kehidupannya.
"Jadi maksudmu, saat ini kamu..."
"Ya, aku tidak punya rahim sekarang dan selamanya tak kan memiliki kesempatan untuk mengandung dan melahirkan anak-anakku sendiri," tanpa sadar butiran kristal jatuh diantara mata dan pipi.
"Aku tak kan bisa memberikan Mark keturunan," ujarnya di sela isak tangis.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.
Kira-kira reaksi Mr. Lee bagaimana nih. Apakah dia akan tetap menerima Stevanie atau malah sebaiknya? 😁