
Selama hampir lima bulan, kondisi perusahaan makin terpuruk. Kabar kebangkrutan PT Indah Sentosa sampai ke telinga pendiri perusahaan yaitu Tuan Ibrahim. Dengan kondisi tubuh lemah tak berdaya, membuat pria itu hanya bisa pasrah menerima nasib. Beberapa aset milik keluarga Pieter satu per satu terjual termasuk villa yang berada di Puncak Kota Bogor tempat kediaman Tuan Ibrahim, dengan sangat terpaksa harus dijual guna membayar gaji para karyawan yang menunggak selama 3 bulan.
Banyak pelayan, supir dan beberapa karyawan terkena imbas dari kemunduran perusahaan yang sudah hampir belasan tahun menjadi ladang bagi Tuan Ibrahim mencari nafkah. Kini Mark memulai kembali bisnisnya mulai dari nol sama persis yang pernah dilakukan sang Papa sewaktu pertama kali mendirikan perusahaan.
Pria itu hampir setiap hari berangkat pagi dan pulang larut malam, menyusun strategi memenangkan proyek kecil-kecilan untuk bisa menyambung kelangsungan hidup para karyawan perusahaan yang masih mau bertahan.
Hari ini seperti biasa, Mark harus berangkat pagi-pagi sekali. Ia bahkan tidak sempat mencicipi roti sandwich isi sayuran dan telur mata sapi buatan pelayan mansion tapi pria itu menyempatkan diri berpamitan pada Tuan Ibrahim.
"Pa, Mark berangkat ke kantor dulu. Mungkin akan pulang telat seperti biasa, jika butuh sesuatu minta pada kepala pelayan atau bisa langsung menghubungiku."
Ia berjongkok mensejajarkan tinggi dengan Papanya, tangan pria itu menyentuh punggung tangan dan menciumnya.
"Mark berangkat dulu, Papa baik-baik di rumah, ya."
"Suster, tolong jaga Papa baik-baik. Kalau butuh apa-apa bisa langsung minta pada kepala pelayan," ujar Mark sebelum meninggalkan mansion.
"Baik, Tuan."
Di depan pintu masuk mansion, mobil yang mengantarkan Mark sudah siap. Seorang supir langsung berdiri tegap dan membuka pintu tatkala melihat majikannya keluar dari dalam mansion.
"Selamat pagi, Tuan," sapa supir itu ramah.
"Selamat pagi."
"Apakah kita sudah boleh berangkat?" tanya supir itu setelah majikannya duduk dengan aman di dalam mobil.
"Ya, lajukan mobil ini menuju kantor dengan kecepatan sedang. Aku masih ingin hidup karena tanggung jawabku terhadap Papa masih harus berjalan."
"Tuan Ibrahim sungguh beruntung memiliki putra sebaik Anda, Tuan."
"Kamu terlalu berlebihan, Pak. Saya tidak sebaik yang Anda pikirkan. Saya ini pria bejad, tak berguna dan payah," ujar Mark sambil menghembuskan napas secara kasar.
"Tuan, saya memang tidak tahu masalah apa yang sedang terjadi pada Anda tapi kalau boleh memberi saran, selama napas masih berhembus dan jantung masih berdetak gunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk memperbaiki diri karena kesempatan hanya datang sekali."
"Ya, kamu benar Pak. Terima kasih sudah memberikan nasihat pada saya."
__ADS_1
"Sama-sama, Tuan. Sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menasihati," supir itu tersenyum dan melirik ke arah spion yang ada di depannya.
Sesampainya di kantor, Barra dan Naomi sudah menunggu sang boss, penerus perusahaan.
"Selamat pagi, Tuan Mark," ujar Naomi dan Barra sambil membungkuk dengan hormat.
"Selamat pagi. Mengapa kalian sudah tiba di kantor, bukankah masih ada waktu dua jam lagi jam kerja perusahaan dimulai!"
Pria itu berhenti sejenak, ia berdiri di hadapan dua orang pegawai junior yang dulu pernah berstatuskan sebagai mahasiswa magang di perusahaan tempat Mark bekerja.
"Kalian sengaja datang lebih awal untuk membantuku mengurus proyek atau..."
Mark menyelidiki kedua karyawan muda itu dengan sorot mata tajam.
"Atau apa, Tuan?" tanya Naomi penasaran.
"Atau... Kalian sengaja mencuri waktu agar bisa berpacaran tanpa dipergoki oleh siapapun!"
Naomi melotot dengan mulut terbuka lebar, sementara Barra tersedak salivanya sendiri.
"Aku tidak salah dengar kan, tadi Tuan Mark mencoba menggodaku dan Barra!" batin Naomi.
"Aku akan merestui kalian selama tidak mengganggu pekerjaan," ucap Mark cuek. Pria itu melangkah menuju ruangan CEO diikuti Barra yang menjabat sebagai asisten Mark, menggantikan tugas Joe.
Mark berjalan ke arah kursi kerjanya yang selama beberapa tahun ini menjadi saksi bagaimana Mark bekerja banting tulang demi mengangkat kembali perusahaan yang pernah berjaya pada masanya.
"Tuan, saya akan membacakan agenda Anda hari ini," ucap Barra setelah Mark duduk di kursi.
Ia menggeser layar iPad berukuran 12.9 inci, buatan Negeri Paman Sam. Dengan suara tegas dan lantang, Barra membacakan seluruh agenda kerja atasannya.
"Siang nanti Anda akan menghadiri acara pengumuman pemenang proyek di sebuah ballroom hotel, tepat pukul satu siang. Akan ada banyak pengusahan hadir di sana termasuk..."
Barra terdiam sejenak, pria itu mencari cara menyampaikan kabar selanjutnya agar suasana hati Mark tidak kacau.
"Termasuk siapa? Kalau kamu bicara harus jelas, jangan bertele-tele!" ucap Mark masih dengan nada datar namun kata-katanya cukup menohok.
__ADS_1
"Ehm, termasuk... Mr. Lee, Tuan."
Barra langsung menghembuskan napas secara kasar dan mencuri padang ke arah atasanya, melihat reaksi pria itu.
"Ternyata pria itu masih mau bersaing denganku, padahal perusahaannya sudah maju pesat dari kita. Dia benar-benar tidak ingin membiarkan PT Indah Sentosa mendapatakan satu proyek pun. Sungguh manusia rakus. Proyek recehan begini saja masih mau diembat!" pria itu membanting pena dalam genggamannya.
"Maaf Tuan, saya harus menyampaikan berita ini. Sebab jika Anda mengetahuinya setelah di lokasi, saya takut akan membuat mood Tuan berantakan selama acara berlangsung."
"Dan malah berimbas pada jabatan saya sebagai asisten Anda," ucap Barra dengan suara sangat pelan.
"Saya tidak akan memecatmu, Barra. Kamu dan Naomi merupakan dua mantan mahasiswa magang terbaik yang tersisa dari lima orang itu. Kinerjamu bagus, jujur dan bisa diandalkan meskipun kamu masih harus banyak belajar tapi sejauh ini saya puas. Semua pekerjaan berjalan sesuai dengan keinginan saya."
"Saya tidak mungkin membuang pekerja ulet sepertimu dan Naomi. Kalian masih sangat dibutuhkan di perusahaan ini bahkan kalau perlu selamanya tetap bekerja di sini, jangan kemana-mana."
Barra terbengong sesaat, kemudian tersenyum di detik berikutnya. Ia benar-benar tak menyangka akan mendapat pujian dari atasannya.
Pria itu berpikir, dulu ia kurang percaya diri dan menganggap keputusannya salah mengambil keputusan untuk menerima tawaran pekerjaan di perusahaan yang pernah menampungnya magang, tapi kini semua itu terbantahkan sebab penerus PT Indah Sentosa benar-benar puas terhadap kinerja yang diberikan Barra untuk perusahaan.
"Terima kasih Tuan atas pujian Anda. Saya janji akan memberikan yang terbaik untuk Anda dan perusahaan ini," ucap Barra penuh keyakinan.
"Ya, saya percaya. Kamu boleh kembali dan melanjutkan sesi memadu kasih dengan Naomi tapi ingat jangan sampai terbawa suasana. Kalian masih berada di kantor," goda Mark masih dengan nada datar.
"Saya dan Naomi... Kami..." ucap Barra terbata-bata.
Namun Mark segera mengangkat tangan sambil berkata, "saya pernah muda, Barra. Lagipula di perusahaan ini tidak ada larangan bagi kalian untuk menjalin kasih sesama pegawai perusahaan jadi teruskanlah. Semoga perjalanan cintamu langgeng hingga ke pelaminan."
Barra tersenyum kecut tapi ia tak berani membantah, akhirnya pria itu memutuskan kembali ke ruangan dengan wajah dan telinga memerah seperti udang rebus.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1