
Selepas makan malam, Mama Aura memilih duduk di ruang keluarga. Dia menonton acara televisi melalui saluran berbayar. Malam itu, Mama Aura menonton acara FTV di salah satu stasiun TV. Hampir setiap malam dia habiskan di ruang tamu, menonton acara favorit kesayangannya.
Sementara Joe sudah masuk ke dalam kamar, dia diminta oleh sekretarisnya menghadiri sebuah rapat internal via zoom.
Mark dan Gladys menemani si kecil di ruang keluarga. Mereka duduk sambil memperhatikan tingkah menggemaskan Alpukat. Bayi mungil itu tengah sibuk menggulingkan tubuhnya di atas karpet bulu berukuran panjang.
Tawa riang selalu tersungging di bibir bayi itu, memperlihatkan satu buah gigi yang baru tumbuh di sana.
"Apakah setiap malam kamu menemani anak kita bermain seperti ini?"
"Tentu saja, aku tidak mau melewatkan kesempatan langka ini, Kak. Menyaksikan tumbuh kembang si kecil secara langsung, memberikan kebahagiaan tersendiri bagi seorang Ibu."
"Alpukat pasti bangga memiliki Mama sepertimu. Baik, cantik, penuh kasih sayang dan sangat perhatian. Aku yakin, kelak sudah dewasa dia akan lebih menyayangimu daripada aku."
Gladys hanya tersenyum masam, "dia bahkan akan memukulimu jika tahu dulu kamu pernah menyakitiku!"
Jleb!
Pria itu merasakan ribuan anak panah menancap tepat di jantung. Semua perkataan Gladys benar-benar menyakitkan tetapi Mark ikhlas karena kenyataannya dia memang sudah melakukan sebuah kesalahan besar, telah menyia-nyiakan istrinya.
"Jika itu terjadi, aku rela menjadi pengganti samsak tinju untuk putra kita. Membalaskan rasa sakit hati Ibunya." Pandangan mata pria itu dia alihkan pada sosok bayi mungil di depan sana.
"Gladys, sudah jam segini sebaiknya kamu ajak Alpukat dan suamimu ke kamar. Mark pasti lelah, seharian ini mengeluarkan energi untuk meyakinkanmu agar mau menerimanya kembali," ucap Mama Aura tanpa basa basi.
"Di kamar sudah ada perlengkapan mandi dan pakaian untuk suamimu. Layani dia dengan sepenuh hati. Walaupun kamu masih sakit hati tapi masih punya kewajiban untuk melayaninya."
"Baik Ma."
Wanita muda itu bangkit lalu meraih tubuh si kecil yang sedang merangkak ke sudut rak televisi.
"Anak, Mama. Ayo kita ke kamar. Sudah waktunya bobok." Dia menciumi pipi tembem Alpukat yang terlihat seperti bakpao.
"Ayo ke kamar!"
Mark mengangguk. Dia mengekori di belakang.
Setelah pintu lift terbuka, Gladys berjalan ke lorong sisi kiri kemudian terus melangkah hingga tiba di kamar paling ujung dekat sebuah kaca jendela berukuran tinggi.
"Masuklah, Kak. Ini kamarku dan Baby Andra."
__ADS_1
Di ambang pintu, Mark tertegun dengan dekorasi kamar istrinya. Kamar itu sangat luas. Di dominasi warna merah jambu dan putih. Sebuah ranjang king size dengan sprei putih terletak di tengah ruangan. Di samping ranjang terdapat dua buah meja nakas berwarna putih, satu set sofa lengkap dengan meja terletak di sudut ruangan. Box bayi berada persis di dekat ranjang.
"Dulu kamarku tidak seluas ini. Semenjak Baby Andra lahir, Mama meminta tukang memperluas kamar ini agar terlihat lebih luas dan bisa dimanfaatkan untuk area bermain."
Wanita itu melangkah perlahan lalu duduk di ranjang, membaringkan si kecil yang sudah mulai gelisah. Terdengar lenguhan kecil dari bibirnya.
"Lebih baik kamu mandi dulu, Kak. Di kamar mandi sudah tersedia semua peralatan mandi berikut pakaian yang bisa kamu kenakan." Gladys langsung mencari posisi nyaman lalu membuka ritsleting bagian belakang dressnya. Memberikan ASI sebelum tidur sambil menyanyikan lagu Nina Bobo, lagu pengantar tidur sejuta umat.
"Baiklah, aku akan mandi," ucap pria itu tanpa melirik ke arah istrinya.
Di dalam kamar mandi, dia mulai menyalakan kram air lalu membasihi tubuhnya dengan air hangat.
Setengah jam berlalu, pria itu keluar kamar dengan tubuh bersih dan wajah terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Dia melangkah perlahan lalu duduk di sofa, menatap pemandangan laut dari jendela besar.
"Kamu sering bermain di pantai?" tanya Mark. Pria itu duduk tepat di samping istrinya.
"Jarang. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di balkon sambil menikmati suasana sore. Dari depan sana, semua keindahan laut bisa kita nikmati tanpa harus berdesak-desakan dengan pengunjung lain."
Melihat sikap suaminya gelisah, timbul dorongan di dalam hati untuk bertanya pada Mark, "ada hal yang ingin kamu tanyakan?"
"Lewat operasi. Saat itu terjadi sebuah insiden. Aku banyak mengeluarkan darah, menyebabkan kesulitan melahirkan secara normal. Apalagi dulu aku juga sempat di rawat di rumah sakit dengan kasus yang sama hingga Dokter Calista tidak mau ambil resiko."
"Maafkan aku karena tidak ada di sisimu. Andai saja waktu itu aku tahu kamu ada di Australia mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini."
Mark beringsut duduk lebih dekat lalu menarik pinggang Gladys hingga posisi keduanya hanya berjarak satu jengkal.
"Terima kasih karena kamu sudah mengorbankan nyawa demi melahirkan putraku ke dunia ini. Aku berhutang banyak padamu, Sayang."
Mata wanita itu memerah dan berkaca-kaca. Mark melihat bayangan kesedihan, sakit hati dan cinta di sana membuatnya semakin merasa bersalah.
Pria itu meraih tubuh Gladys dalam pelukan, mencium puncak kepala sang istri dengan lembut.
"Aku ingin, mulai malam ini kita isi lembaran baru yang hanya ada kamu, aku dan anak-anak kita."
Gladys terdiam beberapa saat, merasakan detak jantungnya berdetak lembut, mencium aroma khas tubuh suaminya memberikan ketenangan bagi jiwanya. Wanita itu membiarkan Mark memberikan kecupan penuh cinta pada kening, hidung dan beralih pada benda kenyal berwarna merah jambu.
"Tidurlah, kamu pasti lelah mengurusi Alpukat. Aku akan tidur di sofa."
__ADS_1
"Selamat malam, jangan lupa mimpikan aku."
Namun Gladys bergeming, dia membeku di tempat tak beranjak dari sofa.
"Ada apa?" tanya Mark cemas. Pria itu menyentuh ujung dagu istrinya, memeriksa setiap inci wajah Gladys.
"Aku baik-baik saja. Ehm... Itu..."
Mark mengerutkan kening hingga terlihat segurat garis halus di sana.
"Ada apa? Katakan padaku."
"Sebaiknya Kakak tidur di ranjang bersamaku. Kita masih suami istri jadi tidak malah bila tidur dalam satu selimut yang sama."
"Kamu yakin?" tanya Mark memastikan.
"Iya, itu pun kalau Kakak mau. Jika tidak, tidur saja di sofa," ujarnya seraya bangkit.
"Tunggu! Aku mau tidur bersamamu." Dia mencekal erat tangan Gladys.
Usai membaringkan tubuh di atas ranjang, Gladys memadamkan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur. Dia sengaja memadamkan lampu utama agar putrnya bisa tidur lebih nyenyak.
"Kamu tahu, Sayang. Tepat di hari kamu meninggalkan Indonesia, aku baru tahu bahwa kamu adalah Gladys, kekasih kecilku."
"Semenjak kejadian itu, aku dihantui rasa bersalah karena mengingkari janji yang pernah kuucapkan." Pria itu menoleh, tetapi istrinya tidak merespon. "Tiap malam aku bermimpi buruk membuat emosiku tidak stabil. Semua karyawan terkena imbas atas perubahan emosiku."
"Aku sudah seperti orang gila yang kehilangan akal sehat setelah kepergianmu."
"Baguslah, kamu memang pantas menerimanya!" ucap Gladys sinis.
Terdengar suara hembusan napas kasar. Dalam hati pria itu berdo'a semoga dia bisa menyembuhkan luka yang sudah pernah ditorehkan pada hati wanita itu.
"Good night, my sweetheart." bisiknya.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.