
Ponsel milik Mark yang diletakan di atas meja kayu berbentu persegi panjang bergetar. Dia memicingkan mata ketika melihat nomor tidak dikenal tertera di layar.
"Siapa?" Joe menegakan posisi duduknya.
Mark mengangkat bahu tanda tidak tahu siapa gerangan yang menghubunginya. "Tidak tahu," ucap pria itu singkat.
"Coba kamu angkat, siapa tahu itu penculiknya!" seru Stevanie.
Gladys menjauhkan tubuh dari pelukan Mark, terlihat dia mengusap air matanya menggunakan tisu yang diberikan oleh Stevanie.
Ponsel milik Mark kembali bergetar. Sebelum menggeser layar, dia menarik napas dalam kemudian terjadilah percakapan di antara pria itu dengan seseorang di seberang sana.
"Datanglah ke salah satu gedung terbengkalai di kawasan Tangerang, sebelum pukul dua belas siang. Gedung itu didirikan tepat pada tahun 2000-an, hingga sekarang pembangunanya dihentikan. Itu clue yang harus kamu pecahkan. Datang tepat waktu. Jika telat, bersiaplah menemui anakmu di neraka!" tanpa menunggu lawan bicaranya membuka mulut, pria di seberang sana segera mematikan sambungan telepon.
"Sialan!" maki Mark seraya melempar ponselnya ke lantai dengan sangat keras, sehingga benda pipih berukuran 6.7 inchi itu membentur lantai kemudian layarnya pecah.
Melihat perubahan raut wajah Mark, Joe berdiri dari sofa, lalu mendekati iparnya. "Ada apa?" tanyanya penasaran.
"Penculik itu memintaku datang ke salah satu gedung terbengkalai di kawasan Tangerang, sebelum dua belas siang. Jika tidak..." Mark menghentikan perkataannya. Dia tidak sampai hati menyampaikan kabar buruk yang mungkin saja terjadi pada Gladys bahwa kini nyawa putra tercinta sedang dalam bahaya.
"Jika tidak, Alpukat akan meninggal, 'kan?" tanya Gladys lirih, disertai isak tangis menyayat kalbu.
"Gladys... Jangan cemas, penculik itu tidak akan membunuh anakmu. Percayalah." Stevanie mengusap pundak adik angkatnya dengan lembut.
Joe ikut tersulut emosi. Pria dengan watak pendiam dan tidak pernah gegabah dalam bertindak, kini menunjukan sosok lain yang bersembunyi di dalam dirinya. "Brengsek! Akan kubunuh orang itu dengan tanganku sendiri," ujar Joe seraya meninju cermin, yang terletak di tengah ruangan. Pecahan cermin berjatuhan, darah segar mengalir di sela punggung tangan akibat terlalu keras memberikan pukulan pada benda mati tersebut.
"Kak..." teriak Kirana. Gadis cantik, berstatus kekasih dari pria tampan di depan sana berlari menghampiri Joe. Dengan tangan masih memegang kotak P3K, dia menyentuh tangan kekasihnya. "Aku obati dulu lukamu."
__ADS_1
"Bangunan terbengkalai di kawasan sana banyak dan kita tidak memiliki cukup waktu untuk mengunjungi satu-satu." Mark mengepal, hingga guratan otot terlihat jelas di punggung tangan.
Suara tangisan, teriakan dan dentuman keras benda yang dipukul membuat Stevanie semakin frustasi. Wanita itu masih duduk memeluk tubuh Gladys. Setelah mencoba menjernihkan pikiran, dia bangkit dari sofa. "Memang banyak. Namun, hanya ada empat bangunan saja yang dibangun pada tahun 2000-an. Kita bagi dalam beberapa tim. Minta semua anak buahmu turun tangan!"
"Aku dan Mark akan pergi ke Gedung Skyfall. Sisanya pergi ke gedung yang lain," titah Stevanie.
"Tunggu! Kenapa kamu dan aku pergi ke Gedung Skyfall?" tanya Mark.
Stevanie hanya mendengus kesal. Dia memutar bola mata malas. "Karena aku yakin, Lee adalah dalang dibalik penculikan Alpukat. Dia mengira, di dalam hatiku masih ada namamu, Mark," ucap wanita itu lirih.
Dengan gerakan cepat, Mark berlari lalu menghambur ke depan Stevanie. Tangan kokoh yang dulu digunakan untuk membelai, menggandeng serta mencumbu mantan istrinya kini berubah menjadi senjata yang mematikan. Kedua tangannya menekan pangkal tenggorokan wanita itu kuat-kuat.
"Dasar pembawa sial! Seharusnya kamu tidak hadir dalam kehidupan rumah tangga yang baru kubina lagi bersama anak dan istriku."
Wajah Stevanie memerah, kedua tangannya mencoba melepaskan cekalan di leher. Pasokan oksigen dalam paru-paru wanita itu mulai habis dan dia kehabisan napas.
Mark terkesiap mendengar suara teriakan istrinya. Namun emosi pria itu sudah mencapai ubun-ubun. Dia tetap mencekik Stevanie. "Biarkan aku mencekik rubah betina ini hingga mati! Gara-gara dia, anak kita dalam bahaya."
"Kak Joe, tolong!" teriak Gladys dengan panik.
Joe melirik ke ruangan sebelah. Dia hanya menyembulkan sedikit kepalanya di pintu penghubung dengan ruangan lain. "Bodoh! Kamu bisa membunuh Stevanie!" Pria itu berlari, lalu meraih lengan Mark, mencoba membantu melepaskan cekalan di pangkal tenggorokan wanita yang kini sudah menjadi saudara angkatnya.
Gladys tidak tinggal diam, dia mencari opsi lain, yaitu memeluk Mark dari belakang lalu mencium titik sensitif di bagian belakang telinga, "Hentikan, Sweetheart, jangan lukai wanita yang berniat membantu kita," ucap wanita itu.
Suara lembut serta gerakan tak terduga dari Gladys, membuat tubuh Mark memberikan sensasi luar biasa. Tubuh pria itu menegang, rasanya seperti tersengat aliran listrik berteganggan ribuan volt. Perlahan, cekalan itu terlepas.
Stevanie terengah, tangan mulusnya menyentuh pangkal tenggorokan. Sakit dan perih, itulah yang dirasakan oleh wanita yang pernah berprofesi sebagai model terkenal tanah air. "Sial! Kamu hampir membunuhku," makinya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan pasokan oksigen cukup, dia melirik arloji yang ada di pergelangan tangan. "Tersisa waktu satu jam lagi. Sebaiknya kita pergi sekarang!"
"Joe, tolong kamu minta anak buah kita menyusuri gedung tua sisanya. Aku dan Stevanie menuju gedung Skyfall!" titah Mark. Pria itu segera menyambar kunci mobil di atas meja.
"Gunakan motor saja. Jalanan akan macet di hari libur dan akhir pekan. Kita bisa telat tiba di sana," ucap Stevanie saat melihat Mark menyambar kunci mobil kesayangannya.
Stevanie menghela napas kasar melihat mantan suaminya mematung di tempat. "Oh astaga, Mark. Kamu bisa meminjam kendaraan roda dua milik Johan atau security di rumahmu," ucap wanita itu, seolah mengetahui isi kepala Mark.
Stevanie hampir saja memukul bahu mantan suaminya. Mark Pieter, seorang CEO sukses di dunia bisnis dengan segudang kelebihan tapi buktinya sangat lemot dalam bertindak apabila menyangkut hal tentang anak tercinta. Dan bodohnya lagi, dulu dia pernah mencintai pria seperti itu.
Motor bebek milik Johan, kini melaju di jalanan Ibu Kota dengan kecepatan tinggi. Sesuai kesepakatan bersama, Mark dan Stevanie berangkat menuju gedung Skyfall, sementara Joe memerintahkan Barra dan anak buahnya yang lain pergi ke gedung terbengkalai lain di kawasan Tangeran.
Jemari Stevanie berpegangan pada pundak Mark, meski pria itu melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi, tapi dia tak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan cara memeluk pinggang mantan suaminya. Selama ada opsi lain, dia lebih baik mengambilnya daripada merusak hubungan harmonis pasangan suami istri yang baru saja membina rumah tangga.
"Di persimpangan jalan di depan sana, kamu ambil kiri, lalu lurus saja sekitar dua kilo meter berbelok ke kanan," teriak Stevanie. Karena jalanan ramai dan bising membuat wanita itu harus berteriak agar pria di depannya mendengar semua instruksi yang diberikan.
"Apakah lokasinya masih jauh?" tanya Mark setelah memasuki kawasan Tangeran.
"Sekitar setengah jam lagi jika jalanan di depan sana tidak macet. Area sini sering terjadi macet di waktu-waktu tertentu." Stevanie membuka penutup helmnya, lalu berkata, "kamu tenang saja. Aku tahu jalan tikus di sini. Beberapa kali Lee mengajakku berkencan menggunakan motor sport kesayangannya melewati jalanan ini. Jadi, kita bisa tiba di sana tepat waktu."
Bersambung
.
.
.
__ADS_1
Halo teman-teman semua, mohon maaf nih, sudah dua hari author sedang berada di luar kota. Jadi hanya sempat update sedikit. Jika sudah balik rumah, akan update seperti biasa. Jangan lupa tinggalkan jejak ya Kak. Terima kasih. 🙏