BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
SUNGAI YARRA, AUSTRALIA


__ADS_3

Saat menyusuri Sungai Yarra, suasana sekitar cukup ramai oleh turis maupun penduduk lokal, walaupun memasuki musim dingin tetapi tidak menyurutkan antusiasme masyarakat menikmati keindahan aliran sungai yang merupakan ikon di Kota Melbourne, Australia. Terbentang di sebelah selatan Victoria dan mengalir sepanjang 240 km.


Sungai yang sangat bersih, tidak ada sampah sedikit pun mengambang di atas permukaan sungai. Di sisi aliran sungai, berjajar bangunan-bangunan tinggi menjulang ke langit. Terdapat kedai makanan menyajikan menu masakan khas Eropa, Asia atau makanan ringan yang dapat dinikmati sambil memandang keindahan aliran sungan di depan sana.


Pemerintah setempat juga menyediakan fasilitas seperti jogging track dan alat pemanggang di beberapa titik tertentu yang bisa digunakan oleh pengunjung tanpa dikenakan biaya sedikit pun (gratis).


Terdapat spot menarik yang bisa dimanfaatkan untuk berselfie bersama keluarga atau pasangan.


Saat sore menjelang malam, dari kejauhan para pengunjung dapat melihat indahnya gemerlap lampu yang berasal dari bangunan tinggi di sekitar.


Sementara itu, permukaan Sungai Yarra pun membiaskan cahaya lampu yang pijar terang membentuk satu kesatuan berwarna warni seperti pelangi, sungguh menakjubkan.



"Pantas, kamu enggan meninggalkan negera ini, ternyata suasana di sore hari sangat menakjubkan," gumam Mark tanpa mengalihkan pandangannya dari Sungai Yarra. Matanya sibuk menikmati keindahan sekitar.


Gladys duduk di kursi yang berjarak sekitar sepuluh langkah dari posisi Mark berdiri.


Selepas mengisi perut di sebuah cafe yang berada di dalam gedung museum, Gladys menerima ajakan suaminya untuk berkeliling menikmati keindahan Kota Melbourne di sore hari. Sebagai penduduk setempat sekaligus istri dari pria berdarah campuran itu, dia berkewajiban menuruti semua keinginan sang suami.


Menurut wanita itu, tidak ada yang salah jika dia jalan berdua dengan Mark menyusuri aliran Sungai Yarra hingga matahari tenggelam, toh status mereka masih suami dan istri, sah menurut agama.


"Pertama kali aku berada di kota ini, sejujurnya merasa tidak nyaman karena sejak kecil sudah terbiasa tinggal di negara beriklim tropis. Tiba-tiba saja dalam waktu 6 jam perjalanan udara, sudah berada di negara yang memiliki 4 musim. Bisa kamu bayangkan, Kak, bagaimana sulitnya aku beradaptasi dengan lingkungan."


"Belum lagi dengan kondisi tubuh yang tengah berbadan dua, harus bed rest total pasca mengalami pendarahan akibat terjatuh. Minggu pertama berada di Melbourne, membuatku tersiksa. Untung saja ada Ayah, Bunda dan Mama menemani." Nampak Gladys sedang membuka tutup botol air mineral berukuran 600 ml. Semenjak melahirkan, dia lebih sering mengkonsumsi air putih agar bisa menghasilkan produksi ASI yang berkualitas untuk si kecil.


"Maaf, di saat kamu kesulitan, aku tak ada di dekatmu."


Mark berjalan mendekati Gladys, duduk di samping wanita itu.

__ADS_1


"Gladys, bisakah aku menebus semua kesalahanku di masa lalu? Bisakah kamu mengizinkan aku kembali menjadi suamimu, membina rumah tangga seperti dulu?" tanya pria itu.


Dia menangkup wajah, membelai lembut dan mendaratkan sebuah kecupan penuh cinta di kening Gladys.


"Sayang, berikan kesempatan sekali lagi untuk membuktikan bahwa aku layak menjadi suami dan Papa yang baik bagi Alpukat. Kali ini aku bersungguh-sungguh tidak akan membuat kalian menderita seperti dulu."


Gladys menatap Mark. Debaran lembut kembali muncul menyelimuti hati, saat dia melihat ketulusan terpancar di manik biru milik suaminya. Wanita itu tidak melihat sedikit pun kebohongan di sana, yang hanya ada ketulusan, cinta dan penyesalan.


Akan tetapi, hatinya masih sakit akan semua luka yang ditorehkan di hati. Begitu sakit hingga dia sendiri tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan luka itu. Berbulan-bulan Gladys mencoba melupakan Mark tetapi bayangan wajah pria itu selalu hadir, mengganggu dan memporak porandakan hatinya.


"Gladys, bicaralah. Keluarkan isi hatimu padaku."


"Terlalu sakit bila kuingat masa lalu," Gladys menepis tangan suaminya yang masih menangkup wajah wanita itu. Dia beringsut memberi jarak agar tidak terlalu dekat.


"Aku dan wanita itu adalah istrimu, tetapi kamu memperlakukan kami berbeda."


"Wanita yang kamu cintai adalah dia, bukan aku."


Gladys bangkit dari kursi, tangannya menyentuh pagar pembatas. Tatapan mata dia alihkan ke sebuah kapal pesiar kecil yang berada di aliran Sungai Yarra. Pikirannya melayang, terbang ke masa lalu. Bayangan bocah laki-laki seumuran Kakaknya membawa tubuh mungil itu menghindari kerumunan orang dewasa ke sebuah pohon besar di belakang penginapan.


Bocah laki-laki itu memberikan sebuah boneka beruang kecil berwarna coklat kepadanya dan menjanjikan sebuah pernikahan saat mereka berdua tumbuh dewasa.


Tanpa sadar bibir wanita itu menyunggingkan senyum tipis. Bagaimana dia bisa menyetujui ucapan bocah kecil berusia 10 tahun, sedangkan mereka sendiri belum tahu apa makna sebuah pernikahan yang sesungguhnya.


"Kamu sudah menepati janjimu menikahiku, Kak. Sebuah pernikahan yang diucapkan saat aku berusia 4 tahun tetapi, apakah pernikahan ini yang ingin kamu berikan padaku?" bisik Gladys lirih.


Melihat Gladys berbicara dan menangis membuat Mark tidak tahan, dia segera berhambur memeluk tubuh istrinya dari belakang. Meletakan ujung dagu di pundak sang istri.


"Biarkan aku memelukmu sebentar saja."

__ADS_1


Wanita itu terkesiap, matanya mulai memerah dan berkaca-kaca. Sudah lama dia mendambakan pelukan kehangatan dari suami tercinta, kini keinginanya sudah terkabul. Gladys semakin tenggelam dan terhanyut.


"Sayang, aku tahu, ratusan bahkan ribuan kata maaf tak kan mampu mengembalikan semua kepedihan dalam hidupmu."


"Jika kamu memang tidak bisa memaafkanku, aku terima."


"Dan bila kamu tetap ingin bercerai dariku, akan kukabulkan, tetapi tolong beri aku kesempatan sekali saja untuk bertemu Alpukat. Aku ingin memeluknya untuk terakhir kali. Setelah itu, di hadapan Joe, Tante Aura dan Ayah Reza, aku akan menjatuhkan talak agar kamu terbebas dari penderitaan ini," ucap Mark.


Tubuh wanita itu semakin bergetar, tangisnya semakin kencang. Dia tak bisa membayangkan bagaimana nasib putranya jika bayi mungil itu tumbuh dewasa tanpa kasih sayang seorang Papa. Namun, dirinya belum siap kalau harus membina kembali sebuah hubungan rumah tangga yang sempat terputus.


Setelah menumpahkan segala kesedihannya lewat tangisan, dia membalikan tubuh dan menatap suaminya.


Mata pria itu pun merah, Gladya bisa merasakan bagaimana kesedihan Mark saat mengucapkan kalimat terakhir.


"Langit sudah mulai gelap, aku ingin pulang. Sudah terlalu lama meninggalkan Alpukat di rumah. Aku takut dia rewel karena berpisah dalam jangka waktu yang lama."


"Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang. Sekalian ingin bertemu Tante Aura dan Joe."


"Ayo pulang," ujar Mark seraya mengulurkan tangan ke depan.


Mark berjalan bersisiran dengan istrinya, menautkan jemari dengan erat menyusuri Sungai Yarra, Australia.



Bersambung


.


.

__ADS_1


.


Episode selanjutnya, diperkirakan akan update nanti malam. Nantikan di apkikasi kesayangan kalian. ☺


__ADS_2