BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
FILOSOFI ALPUKAT


__ADS_3

Beberapa menit sebelum Ameera dibawa ke IGD, Stevanie bergegas menemui suaminya.


Ia begitu tergesa-gesa menarik tangan Mark untuk segera meninggalkan rumah sakit.


"Kamu kenapa?" Mark heran dengan sikap istrinya.


"Aku bosan di sini, lebih baik kita pulang saja ya!" Stevanie memelas.


"Baik, aku akan mengantarkanmu pulang kemudian pergi ke kantor."


"Tidak mau, aku ingin hari ini kita jalan-jalan menghabiskan waktu bersama. Kamu lupa dengan saran Dokter yang mengatakan bahwa..." belum sempat Stevanie melanjutkan perkataannya, Mark sudah menyela, ia menyentuh bahu wanita itu dan kini posisi mereka saling berhadapan.


"Sayang tapi perusahaan membutuhkanku. Baru saja Joe menelpon dan mengatakan bahwa ada masalah dan harus segera diselesaikan."


"Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga mengabaikanku!" Stevanie melepaskan diri dan membelakangi suaminya.


"Ini kah balasanmu atas pengorbananku?" Stevanie tertunduk dengan ekspresi murung.


"Sayang, jangan ngambek dong. Baik, aku tidak akan pergi ke kantor. Kita pergi jalan-jalan kemanapun kamu suka," Mark meraih tangan Stevanie.


Sejak kecil hingga dewasa sifat Stevanie tetap tidak berubah, batin Mark.


Sepanjang perjalanan, Stevanie tidak melepaskan tangan dari genggaman suaminya. Ia bergelayut manja terkadang mencoba menggoda Mark dengan suara-suara nakal yang membuat pikiran pria itu berkelana kemana-mana.


Untung saja Mark masih bisa mengendalikan diri sehingga mereka bisa selamat hingga tempat tujuan.


Mark dan Stevanie pergi ke tempat rekreasi yang ada di Jakarta Utara. Mereka berjalan bersisiran bergandengan tangan.


Tiga orang pengunjung wanita menatap iri ke arah Mark dan Stevanie. Stevanie melirik dengan tatapan sinis membuat ketiga orang tersebut mengalihkan pandangan ke arah lain.


'Apa kalian iri melihat pria setengah bule ini bersanding denganku?' Stevanie berkata dalam hati.


Kemudian Steavanie berlalu, meninggalkan mereka dengan rasa bangga karena berhasil menjadi wanita yang begitu dicintai Mark.


"Sayang, bagaimana jika kita masuk ke sana!"


Mark mengikuti arah tangan Stevanie. Wanita itu menunjuk sebuah pintu masuk tempat wisata dunia bawah laut.


Sebuah akuarium besar terpampang di depan Stevanie. Wanita itu merasa saat ini sedang berada di dasar laut, memandangi kehidupan ribuan biota laut secara langsung.


Wisata dunia bawah laut memiliki sekitar tujuh ribu tiga ratus ekor biota air tawar yang terdiri dari 48 jenis ikan, 1 jenis reptil sampai biota perairan laut.


Biota air laut ini terdiri dari sebelas ribu lima ratus ekor, memiliki seratus tiga puluh delapan jenis ikan dan avertebrata serta 3 jenis reptil.


Biota-biota tersebut dalam 28 display yang terbagi dalam 9 akuarium perairan tawar, 19 akuariun perairan laut dan 4 kolam terbuka.


"Sayang lihat, ada 2 orang penyelam sedang memberikan makan," Stevanie memekik dan menarik lengan suaminya.


Mark tertawa lepas, hingga membuat pengunjung yang berada di sana menatap aneh sekaligus iri melihat ketampanan dan kecantikan sepasang suami istri yang nampak serasi.


"Kamu menyukainya?" Mark mengusap rambut istrinya dan memeluk wanita itu dalam dekapan.


Stevanie menganggukan kepala dalam pelukan suaminya, "ini kedua kalinya aku melihat penyelam memberikan makan kepada mereka. Terakhir kali saat aku masih berusia 6 tahun, Papi dan Mami mengajakku ke sini sebagai hadiah ulang tahun."


Tanpa sadar, air mata wanita itu menetes, ia teringat akan sosok kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Jika Tuan Ibrahim tidak mengangkatnya sebagai anak mungkin saat ini ia sudah hidup sebatang kara dan masa depannya pasti suram.

__ADS_1


"Kamu merindukan kedua orang tuamu?" tanya Mark, ia mencium puncak kepala Stevanie.


"Iya, aku sangat merindukan mereka," ucapnya lirih.


"Ingin berziarah mengunjungi makam mereka?"


Stevanie mendongak dan bertanya dengan suara yang nyaris tak terdengar "apakah boleh?"


"Tentu saja, besok akan aku temani kamu berziarah ke makam Papi dan Mami."


"Namun sebelum itu, harus tersenyum dulu. Lihatlah, awan di luar sana mendung akibat kamu bersedih," Mark mencoba menghibur istrinya.


"Dasar gombal," Stevanie mncubit hidung suaminya.


"Kita coba melihat akuarium di sana!" Stevanie menarik tangan Mark.


***


|| Ruang Rawat Inap RSU Persada ||


"Donny, Mama dan adik sepupumu akan pulang naik taxi. Setelah semua urusan di sini selesai secepatnya pulang. Banyak hal yang harus kita diskusikan!"


"Tolong sampaikan salam untuk Ameera dan katakan besok akan membesuk bersama Papa," lanjutnya.


"Baik Ma, hati-hati di jalan."


Donny mengetuk pintu sebelum masuk kembali ke ruang rawat inap.


"Mama titip salam untukmu, besok akan membesuk bersama Papa."


"Tadi aku mengantar adik sepupu periksa kandungan ditemani Mama. Sudah, jangan terlalu banyak berpikir lebih baik fokus terhadap kesembuhanmu."


Donny duduk di sofa bersebelahan dengan Barra dan Emon, sementara Naomi setia menemani Ameera berada di kursi dekat ranjang. Gadis itu memijat kaki dan tangan sahabatnya yang tak terpasang jarum infus.


"Nom, sudah sore. Kita pulang yo!" ajak Emon setelah melihat arloji di lengan kiri.


Waktu menunjukan pukul lima sore dan lalu lintas ibu kota akan macet saat jam pulang kerja.


"Benar, Nom. Aku harus ke kantor dulu mengambil sepeda motor."


"Kamu tenang saja Em, aku sudah meminta Om Imam untuk memberitahu satpam perusahaan bahwa motor bututmu menginap di sana," ucap Naomi sengaja menggoda Emon.


"Aduh Nom, jangan memancing emosiku terus!"


"Kamu berani melawanku!" Naomi mengangkat lengan kemejanya ke atas dan pura-pura bersiap menghajar Emon.


"Hadeh, kalian seperti Tom dan Jerry selalu bertengkar setiap saat dan setiap waktu," Barra menghembuskan napas berat.


"Don, kamu mau pulang atau masih mau menunggu di sini?" lanjut Barra.


"Aku akan menemani Ameera karena sebentar lagi Tante Meta akan pulang untuk beristirahat."


"Baiklah, kalau begitu kita pamit dulu. Salam untuk Tante Meta."


"Meera, aku pulang dulu. Cepat sembuh dan jangan lupa minum obat," Naomi memeluk sahabatnya erat dan mengusap perut gadis itu.

__ADS_1


"Keponakan aunty yang menggemaskan, kamu harus sehat agar kelak bisa membawa Mama pergi dari oang-orang jahat seperti Mama tirimu!" ucap Naomi lirih.


"Naomi!" tegur Ameera.


Naomi tertawa dan beranjak dari kursi.


"Let's go boys!" ajak naomi pada dua orang pria di belakangnya.


"Bye, Ameera!" Barra, Emon dan Naomi melambaikan tangan dan berjalan keluar kamar.


Kini tersisa hanya Ameera dan Donny, sementara Bunda Meta sedang berada di kantin. Ia sedang membeli beberapa makanan ringan dan minuman untuk Donny.


"Ameera, apakah Nyonya Stevanie dalang dibalik kecelakaan yang menimpamu?"


Ameera tersentak karena kaget dengan apa yang ia dengar barusan.


"Bagaimana Donny bisa tahu, Nyonya Stevanielah yang menyebabkan aku hampir kehilangan Alpukat."


"Aku melihat suami dan madumu masuk ke dalam ruang periksa Dokter Maria akan tetapi saat tatapan mata Tuan Mark mengarah kepadaku, segera kututupi wajah tampan ini dengan koran."


"Memang benar, Nyonya Stevanielah pelakunya. Dia mendorongku saat kami bertengkar di toilet. Aku tak menyangka akibat melawan wanita itu nyawa Alpukat menjadi taruhannya."


"Alpukat?'" tanya Donny heran.


"Ya, aku memanggil bayi ini dengan sebutan Alpukat."


"Dari artikel yang kubaca, saat janin berusia 17 minggu bentuknya sebesar buah alpukat sebab itulah aku memanggilnya dengan sebutan Alpukat."


"Selain itu, ketika mengandungnya alpukat merupakan buah favoritku," ucap Ameera sambil tersenyum.


"Oh, jadi itu filosofi nama bayimu. Cukup unik dan aku menyukainya."


"Lain kali, jika kamu bertemu dengan Nyonya Stevanie, lebih baik menghindar jangan berbuat konyol apalagi mencelakai dirimu sendiri. Paham!" Donny mengusap kepala Ameera.


"Paham! Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."


"Kamu calon istriku jadi tidak perlu sungkan," goda Donny.


"Ih, kamu apa-apaan sih," Ameera memajukan bibirnya ke depan dan memasang wajah cemberut.


"Ayolah, aku hanya bercanda. Please, jangan marah ya!"


Ameera hanya tersenyum kecut dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang rumah sakit.


.


.


.


sumber : www.ancol.com


Note : Di episode sebelumnya dan episode kali ini author kan sering menulis adik sepupu Donny. Nah, jadi ceritanya sepupu Donny ini nikah muda dan lagi hamil.


Jangan lupa likenya ya Kak. ❤

__ADS_1


__ADS_2