
|| Kediaman Keluarga Pieter ||
"Sayang, ayo sarapan dulu," ucap Stevanie saat ia melihat suaminya keluar dari lift.
"Menu apa pagi ini?" tanya Mark sembari mencium kening sang istri."
"Pelayan membuatkan salad buah dicampur keju. Kamu pasti menyukainya," Stevanie menarik tangan Mark dan mereka berjalan menuju ruang makan.
"Ini semua pelayan yang menyiapkan," Stevanie tersenyum.
Andaikan kamu yang menyiapkan ini semua, hidupku akan terasa lebih bahagia. Seharusnya kamu belajar dari Ameera bagaimana cara melayani suami dengan baik.
Ameera bukan hanya pandai di atas ranjang namun ia juga ahli dalam menyiapkan semua kebutuhanku.
'Astaga, tidak seharusnya aku membandingkan kedua istriku!' ucap Mark dalam hati.
"Iya, Sayang. Terima kasih," Mark menautkan tangan pada jemari lentik istrinya.
"Sayang, hari ini aku ada janji dengan Dokter Maria, kamu bisa mengantarkanku?"
"Boleh, pukul berapa?" Mark mengambil piring dan sendok lalu mengisinya dengan salad buah yang sudah disediakan oleh para pelayan.
"Pagi saja, kebetulan hari ini Dokter Maria praktek pukul sembilan sampai dua belas siang." Stevanie langsung menyantap salad buah.
"Baiklah, aku akan menelpon Joe dan mengatakan bahwa hari ini sedikit terlambat karena akan mengantarkanmu," Mark mengunyah salad hingga makanan tersebut habis.
Tepat pukul setengah sembilan, Mark dan Stevanie masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir tepat di depan pintu masuk mansion.
Wanita itu duduk dengan manis dan meletakan tas di belakang kursi. Mark hanya tersenyum memandangi kecantikan istrinya. Hari ini Stevanie begitu cantik dalam balutan dress berwarna merah maroon dengan rambut di ikat kuda. Polesan make up flawless semakin menonjolkan kecantikannya.
Mark mulai melajukan kendaraannya meninggalkan halaman mansion Keluarga Pieter.
Sepanjang perjalanan Mark terus diam, tatapannya terfokus pada jalan. Akhir-akhir ini ia sering memikirkan Ameera dan anak yang dikandung gadis itu.
Bahkan semalam pria itu bermimpi Ameera dan anaknya terjatuh dari sebuah tebing yang sangat tinggi. Ia hanya terpaku dan membisu melihat dua orang yang dicintainya pergi untuk selamanya.
"Sayang!" Stevanie menyenderkan kepala di pundak Mark.
"Kamu kenapa?" lanjutnya.
"Tidak apa-apa," jawab Mark datar.
Mendengar nada bicara sang suami terkesan datar dan dingin, Stevanie menatapnya. "Kamu kenapa sih, perasaan tadi di rumah baik-baik saja tapi sekarang sikapmu berubah!"
"Kamu pasti memikirkan wanita ja*ang itu kan?" tanya Stevanie dengan tatapan tajam.
"Stop Vanie! Jangan pernah kamu sebut dia dengan panggilan itu! Ameera juga istriku tolong kamu hargai ibu dari anakku!" ucap Mark sedikit membentak.
"Bagus, sekarang kamu sudah berani membentakku!"
"Kamu lupa, bahwa saat ini aku juga sedang berusaha memberikan keturunan untukmu."
"Bahkan aku rela mengorbankan karier demi memberikan penerus untuk perusahaan!" kini tubuh Stevanie bergetar, butiran kristal turun dari sudut matanya.
Mark segera menepikan mobil dan memarkirkannya ke tempat yang sepi.
"Sayang, tolong maafkan aku tadi tidak bermaksud menyakitimu," Mark mengusap pundak sang istri dan membawa tubuh wanita itu dalam dekapannya.
__ADS_1
"Sudah, jangan menangis lagi nanti cantikmu hilang," goda Mark.
"Kamu janji jangan membentakku lagi!"
"Baik, janji." Mark menautkan jari kelingking ke jari istrinya.
Mereka telah sampai di rumah sakit dan kini sedang menunggu di depan ruang periksa poli kandungan.
Mark dan Stevanie duduk di antara pasien yang sedang mengantri sesekali wanita itu bersikap manja dengan bergelayut di lengan sang suami.
Tanpa sengaja, kedua matanya menangkap sosok seorang gadis cantik yang begitu ia benci.
Sial, mau apa gadis itu di sini? Tidak bisakah dia memberikan ketenangan dalam hidupku sedetik saja tanpa mengganggu kemesraanku dengan Mark.
"Kamu duduk dulu di sini, Nak!" Bunda Meta membantu putrinya.
Saat Ameera duduk di kursi, tatapannya tertuju kepada sosok yang sudah lebih dulu duduk di kursi antrian tak jauh darinya. Ameera pun membuang pandangan setelah menyadari Stevanie menatapnya penuh dengan kebencian.
Sementara itu, Mark duduk di samping Stevanie dan ia baru menyadari bahwa istri keduanya berada di rumah sakit yang sama ditemani oleh mertuanya.
Melihat padangan mata Mark terus tertuju pada madunya, timbul rasa cemburu pada diri wanita itu. Ia berusaha merebut perhatian Mark dan bersikap manja seolah-olah ingin memamerkan kemesraan pada semua orang khususnya Ameera.
Ameera berusaha menutupi perasaannya dengan bersikap acuh dan memalingkan wajah ke arah lain.
"Meera, bukan kah itu Nak Mark?" tanya Bunda Meta.
"Benar, Bun."
"Ya sudah, kamu pura-pura saja tidak melihat mereka."
"Kamu mau ke mana?" tanya Stevanie.
"Bohong, kau pasti ingin menemani dia kan!" Stevanie semakin erat menggenggam tangan suaminya dan memaksa pria itu untuk tetap berada di sampingnya.
"Vanie, aku mohon lepaskan tanganku."
"Tidak mau!"
"Vanie!" ucap Mark sedikit berteriak.
"Aku hanya ingin menemui mertuaku, itu saja. Setelah itu kembali lagi dan menemanimu."
Mark menghempaskan tangan Stevanie dan segera berjalan menemui mertua serta istrinya yang lain.
"Bunda."
"Nak Mark, kebetulan sekali bertemu di sini," ucap wanita itu basa basi.
"Iya Bun, tak menyangka akan bertemu di sini."
"Meera, apa terjadi sesuatu pada kandunganmu?" kini pandangan mata Mark beralih ke arah Ameera.
"Hanya kram saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," Ameera memalingkan wajah ke arah lain.
"Kenapa tidak memberitahuku, aku..."
"Untuk apa? Bukan kah sebentar lagi status kita hanya sebatas mantan suami dan istri saja!" ucap Ameera penuh penegasan.
__ADS_1
Mark mematung, dadanya terasa sesak seolah batu besar sedang menghimpitnya. Ucapan Ameera begitu tajam bagaikan sembilu yang menancap tepat di jantung.
"Tapi..."
"Nyonya Ameera Rinaldi!" terdengar suara seorang perawat memanggil nama Ameera dengan suara lantang.
Ameera bangkit dari kursi dibantu sang bunda dan meninggalkan Mark yang masih berdiri mematung di tempat.
Di dalam ruang pemeriksaan, Ameera duduk di temani Bunda Meta. Ini pertama kalinya ia memeriksakan kandungan di rumah sakit terkenal yang menjadi favorit bagi kelas menengah ke atas dan para selebritis tanah air.
Untuk biaya per sekali datang bisa menghabiskan kocek minimal tiga juta rupiah belum termasuk biaya obat, jasa dokter dan lain-lain.
Sebenarnya Ameera keberatan jika harus menemui Dokter Diana di Rumah Sakit Persada namun apa boleh buat, wanita itu hanya bisa praktek di rumah sakit tersebut sebelum mengambil cuti akhir tahun.
Oleh sebab itu dengan pertimbangan yang matang, akhirnya Ameera menyetujui keinginan Bunda Meta memeriksakan kandungannya ke rumah sakit tersebut.
"Halo Ameera," sapa Dokter Diana.
"Halo Dokter, selamat pagi," balas Ameera.
"Hai Ta, apa kabar?" tanya Dokter Diana ramah.
"Alhamdulillah baik, kamu bagaimana?"
"Baik, aku pikir kalian tidak jadi datang."
"Jadi dong, soalnya aku kasihan pada anakku hampir setiap hari mengalami kram."
"Selain kram, apa lagi yang kamu rasakan Meera?" Dokter Diana mencatat semua informasi pada sebuah kertas rekam medis.
"Nyeri dada, bahu dan sakit punggung, Dokter."
"Apakah terjadi perdarahan?"
"Beberapa hari lalu saat buang air kecil, memang ada sedikit flek tapi setelah itu tidak muncul lagi."
"Banyak atau sedikit?"
"Sedikit."
"Ya sudah, lebih baik kita langsung USG saja untuk memastikan keadaan si kecil."
"Suster, tolong bantu persiapkan semua keperluan!" ucap Dokter Diana kepada suster yang bertugas membantu sang dokter.
Ameera merebahkan tubuhnya di atas bed khusus pasien dibantu seorang perawat.
"Di, apakah cucuku akan baik-baik saja?" tanya Bunda Meta dengan wajah sendu.
"Kamu berdo'a saja semoga cucumu baik-baik di dalam kandungan Ameera."
"Aku akan mulai memeriksa anakmu dulu," ucap Dokter Diana sebelum beranjak dari kursi.
bersambung....
.
.
__ADS_1
.
Double update nih, likenya ya Kak jangan lupa.