BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
SALAHKAN DIA BEREAKSI DI WAKTU YANG TIDAK TEPAT


__ADS_3

Di sebuah gedung tinggi pencakar langit, nampak dua orang insan manusia tengah duduk bersantai di kursi. Si pria menikmati secangkir kopi sambil sesekali memakan cemilan yang sengaja dibeli sebelum berangkat ke kantor sedangkan si wanita itu duduk di sebuah sofa panjang berwarna hitam, jemari lentiknya sibuk menggeser slide foto pada sebuah galeri ponsel.


Alisnya tertaut satu sama lain tatkala melihat sosok gadis cantik dalam ponsel itu.


"Ia semakin cantik saat perutnya semakin membesar. Meskipun seluruh tubuh berisi namun kecantikan alami gadis itu tak pernah pudar."


"Kamu benar, ia memang sangat cantik. Tak salah jika Tuan Mark jatuh cinta padanya," ujar pria itu sambil menghirup aroma nikmat secangkir kopi di tangan.


"Bagaimana, sudah kamu kirim foto itu?" tanyanya setelah menyeruput cairan berwarna hitam kental di dalam gelas.


"Sudah. Bahkan ia mencoba menghubungi nomorku tapi segera kumatikan agar tak diteror terus olehnya."


"Bagus, jangan sampai pria itu tahu bahwa kita sudah bekerjasama dengan Tuan Joe untuk memberi pelajaran padanya."


"Cih, bawel. Kamu tenang saja, aku bukan gadis ceroboh, bertindak gegabah dan merusak rencana yang sudah disusun rapi," gadis itu berdecak kesal karena pria di hadapannya meragukannya.


"Bisa tidak sih, kamu rubah sedikit sikapmu. Jika terus menerus seperti ini, kapan memiliki kekasih?" tanya pria itu dengan nada sinis.


"Dasar bawel! Kamu tidak memiliki cermin di rumah hingga tak bisa memperhatikan dirimu sendiri!"


"Kita sama-sama jomblo, jadi untuk apa kamu mengurusi hidupku. Urusi saja pekerjaanmu," hardik gadis itu.


Ia melempar bantal sofa ke arah lawan bicaranya di sana.


Greb!


Untung saja pria itu gesit, sehingga lemparan bantal sofa bisa ditangkap olehnya.


"Aku penasaran pria mana yang ingin menjadikanmu kekasih. Sedangkan dari sikap, penampilan semuanya sangat jauh dari kriteria gadis impian."


"Sungguh sial pria itu!"


"Kamu..."


Gadis itu sudah mengangkat jari telunjuk ke udara, ia sudah bersiap membalas ejekan lawan bicaranya namun suara dering ponsel nyaring berbunyi.


"Tunggu, Tuan Joe menelepon."


Ia menegakan duduknya, kemudian membawa benda pipih itu ke telinga.


"Halo Tuan, ada yang bisa saya bantu?"


"Bagaimana, apakah sudah kamu kirim foto kemarin pada pria itu?" tanya Joe.


"Sudah Tuan. Saya juga sudah melepas nomor itu agar tidak diganggu olehnya."


"Bagus. Rahasiakan ini hingga waktunya tiba. Aku ingin memberikan sedikit pelajaran untuk Adik Iparku sebelum akhirnya mempertemukan mereka kembali," ujar Joe di seberang sana.

__ADS_1


"Baik Tuan, sesuai permintaan Anda. Oh ya, bagaimana kabar Ameera. Apakah sudah waktunya melahirkan?"


"Tinggal menunggu waktu. Aku akan berada di sini selama beberapa hari sampai kondisi Adikku membaik. Semua urusan pekerjaan kantor sudah kuserahkan pada asistenku."


Gadis itu hanya mengangguk-anggukan kepala, sementara pria di sebelahnya menatap penuh tanda tanya. Biasanya ia akan segera mendekat bila Joe melakukan panggilan telepon namun kali ini pria itu enggan mendekat karena telah terjadi perang sindiran diantara sepasang manusia berbeda jenis kelamin.


"Ya sudah, aku hanya ingin menyampaikan itu saja. Kalian jaga terus rahasia ini, jangan sampai bocor."


"Tentu Tuan."


Setelah mengucapkan kalimat terakhir, pria di seberang sana mematikan sambungan telepon.


Terlihat raut wajah penuh tanda tanya dari pria di hadapannya. Gadis itu mendelik, menatap sinis pria itu.


"Apa? Kamu penasaran dengan apa yang kubahas tadi!"


"Baiklah, akan kuberi tahu kamu." ujar gadis itu seolah-olah ingin memberitahu partner kerjanya.


Pria itu langsung tersenyum ketika melihat ekspresi wajah gadis di hadapannya.


"Ayo, lekas katakan. Aku sudah penasaran," ucapnya antusias.


"Tapi... Nampaknya aku berpikir dua kali untuk memberitahumu," timbal gadis itu merubah ekspresinya menjadi datar.


Pria itu awalnya sumringah kini ternganga, mulutnya terbuka lebar membentuk huruf O.


"Dasar brengsek!" teriak gadis itu.


Ia bangkit dari sofa, berjalan menghampiri pria itu. Berniat memberikan pukulan namun ternyata lawannya itu gesit, ia lebih dulu berlari menghindari gadis itu.


"Sialan, ke sini kamu. Akan kuberi pelajaran padamu!" teriakan gadis itu memenuhi ruangan.


"Ayo kejar aku, kamu pasti tidak bisa menangkapku," goda pria itu.


Ia semakin mempercepat gerakan, bergerak ke kanan dan ke kiri menghindari gadis itu.


"Hu... Dasar payah. Kamu jago taekwondo tapi tak berhasil menangkapku," ujarnya dengan napas tersengal-sengal.


Namun gadis itu tetap mengacuhkannya. Ia menarik napas dalam, mengisi kembali oksigen yang habis akibat berlari mengejar temannya, tubuh membungkuk dan tangan menyentuh lutut.


"A-aku... Sudah lama tidak lari jadi... Dadaku rasanya sesak sekali," tangan gadis itu menyentuh dadanya.


Dengan penuh perhatian, tangan pria itu terulur ke depan, menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah gadis itu.


"Kamu baik-baik saja? Apakah perlu kubawa ke rumah sakit?"


"T-tidak... A-aku... Baik-baik saja," ucapnya terbata-bata.

__ADS_1


Aneh, mengapa jantungku tiba-tiba berdegup kencang tidak seperti biasanya.


Tunggu, mengapa wajah pria ini begitu tampan. Hidung mancung, alis tebal dan ekspresi wajahnya saat mengkhawatirkanku sungguh membuatku terpesona.


Setelah sadar dengan apa yang diucapkan, ia menggeleng-gelengkan kepala. "Dasar bodoh, apakah kamu terpikat oleh pria ini? Jangan gila, kalian itu bekerjasama untuk membantu Tuan Joe memberi pelajaran pada pria setengah bule itu. Tidak... Tidak boleh jatuh cinta pada pria ini!" batin gadis itu.


"Hei, kamu baik-baik saja?" tanya pria itu sekali lagi. Ia memeriksa setiap inci wajah lawan bicaranya.


"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku."


Gadis itu mendorong tubuh pria di depannya tapi sayang ia sendiri ikut tertarik hingga tubuh keduanya saling menindih.


Deg!


Deg!


Deg!


Degup jantung keduanya berpacu dengan cepat. Posisi tubuh sepasang manusia berbeda jenis kelamin itu jika dilihat sangat ambigu sekali.


Si pria terlentang di lantai, sementara gadis itu berada di atas dengan tangan menyentuh dada pria itu. Wajah saling berhadapan, napas saling memburu dan tiba-tiba saja tubuh keduanya seperti ada aliran listrik yang menyengat.


Mereka tertegun beberapa saat, detik kemudian, mata indah milik pria itu tak sengaja melihat belahan dada gadis cantik berkulit kuning langsat. Ia terkesiap beberapa saat menyaksikan pemandangan indah secara langsung. Dulu ia hanya bisa memandanginya lewat situs video dewasa namun kini matanya secara langsung bisa menyaksikan salah satu aset berharga milik seorang wanita.


Duah buah benda kenyal itu membuat pandangannya terpaku bahkan ia kesulitan untuk berkedip. Pria itu menelan saliva susah payah. Pikirannya berkelana kemana-mana membayangkan kepalanya bisa terbenam di sana.


"Oh, sungguh indah sekali pemanandangan di depan saja. Tak kusangka gadis itu memiliki bentuk dada indah dan berisi," batinnya tanpa sadar.


Akibat pikirannya berkelana kemana-mana membuat inti tubuh pria itu bereaksi dan membuatnya terasa sesak.


"Sial, mengapa kamu bereaksi di waktu yang tidak tepat," maki pria itu dalam hati.


Reaksi alami yang terjadi pada pria itu sontak membuat gadis penyuka minuman boba bangkit dan berkata, "dasar mesum. Punya mata jelalatan!" ujarnya sambil berlari meninggalkan ruangan.


"Jangan salahkan aku tapi salahkan saja dia yang bereaksi di waktu yang tidak tepat."


Bersambung


.


.


.


Tebak-tebakan yuk, kira-kira siapa nih dua tokoh karakter di atas yang author maksud? 🤭


Untuk sementara disembunyikan dulu namanya agar para pembaca semakin penasaran. Jangan lupa tinggalkan jejak ya Kak. 🥰

__ADS_1


__ADS_2