BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
RAFANDRA AVOCADO


__ADS_3

"Anda butuh bantuan apa Nyonya?" tanyanya seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.


Semoga Nyonya Aura tidak mengetahui bahwa tadi aku sempat memperhatikan wajahnya.


"Saya minta kamu untuk sementara waktu ini menemani Joe di ruangan sana karena tidak mungkin wanita tua renta ini merawat dua orang anak sekaligus."


"Apa? S-saya, merawat Tuan Joe?"


Mata sipit gadis itu melebar tatkala mendengar permintaan dari wanita yang kini duduk dengan posisi tegak sambil memicingkan mata ke arahnya.


"Kenapa, apakah kamu keberatan merawat putraku? Dia masih single kok, jadi tidak akan ada gadis lain yang melabrak atau menyirammu dengan segelas air putih seperti di FTV."


"Wah, tak kusangka Nyonya Aura tahu acara FTV yang sering kutonton. Meskipun usia hampir lima puluh tahun tapi jiwa masih anak. Benar-benar calon mertua idaman," ucapnya dalam hati.


Gadis itu menghela napas panjang, ia dihadapkan pada dua pilihan sulit. Jika menolak, maka reputasi sebagai perawat junior teladan akan hancur dan itu pasti akan membuat Dokter Firman kecewa sebab berkat pria paruh baya itu kini Suster Kirana bekerja di salah satu rumah sakit elite di Jakarta Selatan. Apabila menerima, maka peluang untuk bersama Joe semakin besar.


"Bagaimana?" tanya Mama Aura lagi.


"Dengan senang hati, karena itu sudah menjadi salah satu tugas saya sebagai seorang perawat," jawab Suster Kirana tegas.


"Bagus, saya suka prinsipmu. Sudah, kamu boleh mulai bekerja sekarang."


Gadis itu mengangguk tapi sebelum Suster Kirana pergi meninggalkan Mama Aura, ia mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu berdiri, "mari Nyonya, saya antar Anda ke dalam dulu. Sudah malam, sebaiknya istirahat."


Wanita paruh baya itu menyambut uluran tangan Suster Kirana.


Setelah posisi berdiri sudah sempurna, gadis itu berkata, "selamat malam Nyonya, semoga mimpi indah," lalu mereka saling melempar senyum.


***


Cuaca Melbourne pagi hari ini terlihat cerah, sangat bersahabat. Angin berhembus lembut dan langit pun berwarna biru. Musim panas di Kota Melbourne sangat cocok bagi pariwisata untuk menikmati liburan atau melakukan aktivitas di luar rumah bagi penduduk setempat. Sebab pada musim panas cuaca akan terasa hangat.


Di sebuah ruang rawat inap presidential suite, seorang wanita cantik tengah tertidur pulas di bawah selimut hangat rumah sakit. Sinar mentari di luar menerobos masuk melalui celah jendela rumah sakit, menyilaukan sekaligus menyadarkannya dari tidur panjang.


"Sst, sakit," desisnya saat merasakan bagian perut wanita itu terkena gesekan pakaian yang dikenakan.


"Di mana ini?"

__ADS_1


"Apakah aku sudah berada di surga? Tapi kalau ini adalah surga mengapa tidak ada Pangeran-Pangeran Surga yang melayaniku. Bukankah aku mati syahid karena meninggal saat melahirkan Alpukat!" gumamnya.


Wanita itu memindai setiap bagian ruangan, membalikan tubuh menghadap jendela mencoba mengingat kembali kejadian sebelum ia tak sadarkan diri.


"Aneh, mengapa situasinya mirip di bumi. Sungguh benar-benar aneh!"


"Dasar bodoh, sudah menjadi Mama masih bersikap konyol."


"Kak Joe, kenapa ada di surga? Kakak juga sudah meninggal? Oh astaga, kalau kita berdua meninggal, Mama pasti akan sedih," cerocos wanita itu tanpa henti.


Joe berjalan mendekati ranjang, tangannya menjentik kening Gladys.


"Aw, sakit!" pekik wanita itu seraya menyentuh kening.


"Jangan bicara sembarangan. Kita berdua masih hidup dan kamu berhasil melewati masa kritis."


Gladys tertegun, ia mengusap wajah menggunakan telapak tangan. Perlu beberapa saat untuk mengembalikan kesadarannya. Efek obat bius yang diberikan membuat kesadaran wanita itu sedikit terganggu.


"Nyonya Gladys tidak usah bingung, ini efek samping yang biasa terjadi pada wanita pasca melakukan operasi," ujar Suster Kirana di ambang pintu.


"Coba tebak, siapa yang ada di dalam box ini?" tanya Mama Aura.


Wanita paruh baya itu menggendong seorang bayi yang dibungkus kain biru muda dan membaringkannya di sisi Gladys.


Wanita itu tak dapat membendung air mata, bibir bergetar dan terdengar tangis bahagia dari mulutnya. Gladys menangis haru, perjuangannya selama sembilan bulan kini membuahkan hasil yang manis.


Ia sudah melewati lika-liku kehidupan saat mengandung malaikat kecil itu di dalam rahimnya. Kesedihan, kebahagiaan, tangisan dan senyuman mewarnai perjuangan Gladys selama menjalani fase kehamilan.


Seorang bayi laki-laki telah hadir ke dunia membawa berjuta-juta kebahagiaan untuk Gladys. Wanita itu teringat masa lalu, saat ia harus ikhlas mengorbankan keperawanannya untuk dirampas oleh seorang pria yang kini berstatuskan sebagai Ayah dari bayi mungil itu.


Bagaimana Gladys harus berjuang mempertahankan Alpukat dari kejahatan istri tua suaminya, hinaan, gunjingan dari orang lain sudah menjadi santapan sehari-hari. Namun wanita itu tetap tegar dan tersenyum meskipun hatinya sakit, ia selalu menanamkan dalam hati bahwa semua ujian hidup pasti banyak hikmah yang dapat dipetik.


"Sayang, sudah waktunya kamu belajar menyusui dia. Sejak semalam para perawat memberikan susu formula untuknya. Mama tidak mau Alpukat menjadi anak sapi, nanti saat menangis bukan kata 'oak' yang terdengar melainkan 'moo'. Orang-orang akan mengira keluarga Kurniawan beralih profesi dari juragan berlian menjadi juragan sapi," ujar Mama Aura mencoba menghangatkan suasana.


Seketika ruang rawat inap menjadi ramai, terdengar suara gelak tawa menghiasi ruangan presidential suite.


Joe dan Suster Kirana pun ikut tertawa, tanpa sengaja tatapan mereka saling beradu tapi buru-buru pemilik mata sipit itu mengalihkan pandangan.

__ADS_1


"Aduh, mengapa harus bersitatap dengan pria itu dan jantungku mengapa berdegup lebih kencang," batin gadis itu.


"Gadis itu terlihat lebih cantik saat tersenyum. Sungguh menyejukan hati," batin Joe.


Kini bayi itu sudah berada dalam gendongan Gladys. Wanita itu memandangi wajah Alpukat dengan mata berbinar bahagia.


Ia menatap bayi itu lekat-lekat. Memperhatikan wajah dan hidungnya sangat mirip sekali dengan sang Papa.


"Kak lihatlah, bahkan Tuhan tidak mengizinkan aku melupakanmu. Dia menciptakan wajah dan hidungnya mirip kamu."


"Selamat datang di dunia yang kejam ini Nak, tapi kamu tidak usah cemas karena selamanya akan ada Mama berada di sampingmu," ucap Gladys sambil mencium kening sang anak.


Suster Kirana membantu Gladys mencari posisi yang nyaman untuk menyusui.


"Aku akan keluar, kalian lanjutkan saja," ucap Joe tersimpu malu.


Bayi itu menyusu dengan sangat rakus, bahkan Gladys kewalahan dibuatnya.


"Sayang, kamu hati-hati. Tidak akan ada yang merebut makananmu ini, Nak," rintih Gladys.


Suster Kirana terpana melihat adegan di depannya, tanpa sadar ia mengusap perutnya sendiri, "semoga Kau pertemukan aku segera dengan jodohku. Kini, kumantapkan hati untuk segera menikah."


Mama Aura memperhatikan anak dan cucunya, ia menyentuh bahu Glayds.


"Sayang, akan kamu beri nama siapa bayi ini?"


"Ehm, Gladys akan memberikan nama Rafandra Avocado," ucapnya penuh percaya diri.


Bersambung


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2