
Jakarta
"Joe, apakah kamu benar-benar tidak ingin memberitahu keberadaan istriku?" tanya Mark memasang wajah memelas, nada suaranya kini merendah.
"Bukankah istrimu ada di mansion?" jawab Joe santai.
"Aku serius, Joe!"
"Aku lebih serius, Mark!"
"Sudahlah, lebih baik kamu pulang. Hari ini masih banyak agenda yang harus dikerjakan," Joe melengos begitu saja meninggalkan Mark yang masih membeku di sofa.
"Aku akan mengerahkan orang untuk mencari Ameera!" ujar pria itu sebelum Joe masuk ke dalam kamar.
Joe hanya melambaikan tangan tanpa berucap, pria itu meneruskan langkahnya hingga tubuhnya menghilang di balik pintu.
"Semakin kamu berusaha mencari maka aku akan semakin keras menutupinya."
Joe mengulurkan tangan, mengirimkan pesan pada seseorang.
"Tidak semudah itu kamu menemukan adikku. Tunggu hingga aku benar-benar puas kemudian baru kuberikan titik terang keberadaan Ameera!"
Setelah berhasil mengirimkan pesan singkat, pria itu masuk ke kamar mandi, menanggalkan semua pakaian dan mengguyur tubuhnya di bawah pancuran air dingin.
***
Mobil mewah berwarna putih milik Mark sudah tiba di depan sebuah mansion megah akan tetapi ia belum turun dari kendaraannya.
"Sejujurnya aku enggan kembali ke mansion ini. Bangunan itu megah, mewah dan semua fasilitas lengkap bahkan beberapa pelayan, tukang kebun dan satpam siap 24 jam melayaniku tapi mengapa selama menikah jiwaku terasa hampa dan aku baru sadar bahwa wanita yang seharusnya kunikahi adalah Gladys bukan Stevanie," pria itu bergulat dengan pikirannya sendiri.
"Andai saja aku tidak berniat membahas suatu hal dengan Stevanie, mungkin saat ini lebih baik kembali ke rumah kontrakan meskipun kecil, hanya ada 1 ART yang merangkap mengerjakan semua pekerjaan asalkan bersama Ameera, hatiku tenang dan merasa damai."
Pria itu terlalu larut dalam pikirannya hingga tak menyadari kehadiran supir yang berdiri di samping mobil.
Tok tok tok!
Terdengar suara kaca mobil yang diketuk dari luar.
Mark tersadar dari lamunannya. Ia membuka kaca mobil, "ada apa?" tanya pria itu pada salah satu supir yang bertugas mengantar dan menjemput Stevanie.
"Apakah Anda baik-baik saja, Tuan? Saya perhatikan sedari tadi Anda termenung," ujar supir tersebut.
"Aku baik-baik saja!"
Tanpa diperintah, supir tersebut membukakan pintu untuk majikannya, kemudian Mark turun dan menaiki satu per satu anak tangga menuju pintu utama mansion.
__ADS_1
Nampak seorang pelayan sedang membersihkan jendela rumah dibantu 2 orang pekerja laki-laki.
"Selamat datang, Tuan!" sapa pelayan dengan membungkuk hormat.
"Apakah Nyonya ada di rumah?"
"Ada, Tuan. Saat ini Nyonya sedang berada di kolam renang bersama Nyonya Martha."
"Baik, aku akan ke dalam. Kalian lanjutkan pekerjaan," setelah memberikan perintah, pria itu segera masuk ke dalam kamar tamu. Ia membersihkan diri sebelum bertemu sang istri.
Pria itu baru menyadari penampilannya sungguh mengerikan, pantas saja semua orang memandang aneh ke arahnya bahkan ada sebagian yang berbisik mengatakan ia adalah orang gila.
Kini ia bercermin di cermin westafel memperhatikan pantulan dirinya, "aku memang gila karenamu, Meera!" Mark meremas erat tepian westafel hingga buku-buku tangannya memutih.
"Ameera!" teriak pria itu.
"Aku bodoh, sangat bodoh sudah menyia-nyiakanmu dan anak kita."
"Andai saja waktu bisa diputar, tak kan kusia-siakan kamu," ucapnya penuh penyesalan.
Pukul delapan pagi, Mark sudah bersiap dengan setelan jas yang biasa dikenakan sebagai baju perang dalam mencari nafkah.
Hari ini ia sengaja berangkat ke kantor lebih siang sebab ada hal penting yang harus dibicarakan bersama istri pertamanya.
"Vanie!" pria itu memanggil istrinya yang sedang duduk santai sambil menikmati segelas jus jeruk.
Penampilannya begitu seksi dan mampu membangkitkan singa yang sedang tertidur.
Mark tidak munafik, melihat penampilan istrinya begitu menggoda membuat inti tubuh pria itu mengeras dan membuat di bawah sana terasa sesak namun ia mencoba menahan hawa napsu yang sudah membuatnya hampir meledak.
"Sayang, kamu sudah kembali."
Stevanie berlenggak lenggok memperlihatkan kemahirannya berjalan seperti di atas runaway, tubuh sintal dengan ukuran bo*ong dan pa**dara yang bisa dikatakan diatas rata-rata membuat siapa saja akan tergoda oleh kemolekan tubuh wanita itu.
Jemari lentiknya mulai bergerilya menyentuh roti sobek milik suaminya yang terbungkus setelan jas. Ia memasang wajahnya yang dibuat seseksi mungkin untuk menggoda suaminya.
"Ayolah Mark, cumbu aku dan lampiaskan hasratmu sekarang!" bisik wanita itu di telinga suaminya.
"Bukankah kita sudah lama tidak bercinta, kuyakin kamu akan menikmatinya," ia sengaja menghembuskan napasnya di telinga pria itu.
"Hentikan Vanie!" bentak pria itu.
"Aku sedang tidak ingin bercinta denganmu," imbuhnya.
Wanita itu menyeringai, berjalan mengelilingi pria di hadapannya.
__ADS_1
"Bibirmu bisa berkata tidak tapi tubuhnya berkata lain. Ayolah, kamu jangan munafik. Kita itu suami istri, melakukan hubungan intim merupakan hal wajar bagi pasangan yang sudah menikah."
"Apalagi kita sedang berencana memiliki momongan. Kamu lupa, Dokter Maria menyarankan agar kita rajin melakukan "itu". Kurasa hari ini merupakan waktu yang tepat untuk b-e-r-c-i-n-t-a!"
Stevanie langsung menyambar bibir suaminya, ia menahan tengkuk pria itu, memaksa Mark membuka mulutnya agar wanita itu leluasa menjelajahi setiap bagian mulut suaminya.
Pria itu mendorong Stevanie sekuat tenaga agar terlepas dari bujuk rayu istrinya.
"Dasar munafik! Aku memberikanmu kenikmatan duniawi tapi mengapa kamu malah menolaknya!" dengus wanita itu kesal.
Stevanie marah karena kali ini usahanya lagi-lagi gagal padahal ia sudah merencanakan semuanya.
Wanita itu berpikir jika ia mendapatkan kesempatan untuk bercinta sekali saja dengan Mark maka kemungkinan untuk hamil bisa terwujud.
Mark merapikan kembali jas dan rambutnya yang berantakan akibat kelakukan Stevanie. Pria itu menetralkan kembali pikirannya, nyaris saja ia terbuai oleh rayuan maut sang istri.
"Kenapa kamu mendorongku? Apa aku salah meminta hakku sebagai seorang istri!" wanita itu duduk di kursi santai sambil memakan potongan buah. Ia berusaha meredam emosi akibat penolakan pria itu.
"Aku kesini hanya untuk menanyakan suatu hal padamu tentang Ameera!" Mark mengarahkan pandangannya ke arah kolam renang.
"Cih, ternyata kedatanganmu hanya untuk pelakor itu!"
"Vanie, gadis itu memiliki nama tolong panggil dia dengan namanya."
"Terserah. Cepat katakan, kamu mau bertanya apa!"
"Jangan berbelit-belit, aku tak memiliki waktu membahas gadis itu."
"Kamu tahu, waktuku begitu berharga. Jika digunakan untuk membahasnya maka akan rugi."
Mark memutar bola matanya, sungguh ia sangat muak melihat tingkah laku wanita itu.
Mengapa aku baru menyadari ternyata sikap Stevanie begitu memuakkan.
Bodohnya aku kenapa malah jatuh cinta dan terjebak dalam pernikahan yang sudah direncanakan oleh Papa!
Bersambung
.
.
.
Selamat berakhir pekan, semoga hari Kakak semua menyenangkan.
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya Kak. ❤