BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
HASIL TES DNA


__ADS_3

Akhirnya Mama Aura membuka amplop putih dan merobek ujungnya, ia mengeluarkan secarik kertas putih kemudian membacanya.


Wanita itu membaca surat yang berisi tes DNA di dalamnya bertuliskan 'bahwa probabilitas Joe Kurniawan dengan Ameera Rinaldi adalah 99.99%'.


Berhubung papa kandung Ameera telah meninggal jadi di sisi author mengambil sample darah Joe karena mereka sama-sama anak kandung Tuan dan Nyonya Kurniawan hanya untuk mendapatkan hasil yang lebih valid.


Ia langsung melihat ke arah Dokter Firman, menatap pria itu sambil tersenyum.


"Ameera adalah Gladys, Dokter!"


Mama Aura menangis haru karena pencariannya selama ini berbuahkan hasil, anak perempuan yang dulu hilang kini ada di depannya. Akibat sebuah pertemuan yang tak direncanakan malah membuka lebar jalan bagi wanita itu bertemu dengan buah hati tercinta.


Dokter Firman bangkit berdiri dan memeluk Mama Aura, memeluknya erat dan ikut larut dalam kebahagiaan yang tengah wanita itu rasakan. Jarak mereka begitu dekat dan tidak ada batas di sana bahkan pria itu bisa mencium aroma parfum yang biasa digunakan mantan kekasihnya.


Mama Aura menangis dalam pelukan pria paruh baya itu, tubuhnya berguncang dan cairan bening meluncur dari sudut mata.


Dokter Firman menangkup wajah Mama Aura dan menatap wanita itu.


"Pencarianmu telah berakhir, Ra!"


"Gladys, anakku!" Mama Aura semakin menangis membuat Dokter Firman kembali memeluknya dan mata pria itu pun ikut berkaca-kaca. Ia terharu melihat wanita yang pernah dicintainya kini bisa bertemu kembali dengan putrinya.


Suara ketukan di luar membuat mereka menghentikan kegiatan dan Mama Aura segera melepaskan diri dari pelukan pria itu. Terjadi kecanggungan diantara mereka, Dokter Firman merapikan snelli atau jas putih yang biasa dikenakan oleh para profesional di bidang medis kemudian duduk kembali di kursi.


"Masuk!" titah pria itu.


Seorang perawat berseragam putih lengkap dengan kap di atas kepala berjalan ke dalam sambil membawa 3 map berisi catatan medis pasien yang akan diobservasi.


"Dokter, saya membawa 3 buah map catatan media pasien yang akan Anda observasi siang ini," perawat itu menyodorkannya ke atas meja. Ia menyempatkan diri memberikan senyuman untuk Mama Aura.


"Baik, kamu bisa kembali berjaga. Lima menit lagi kita keliling menemui pasien dan melakukan observasi."


"Baik Dokter, kalau begitu saya permisi dulu."


Dokter Firman membaca nama-nama pasien dan satu diantara tiga merupakan rekam medis milik Ameera. Ia tersenyum penuh arti dan menatap ke arah Mama Aura.

__ADS_1


"Kamu ikut denganku observasi di ruang rawat inap milik Ameera. Kebetulan siang ini harus mengecek keadaanya."


"With pleasure!" (dengan senang hati)


"Kini jati diri Ameera sudah terungkap, apa kamu akan langsung memberitahu bahwa mereka bukan orang tua kandung gadis itu!"


"Jika aku perhatikan, Tuan dan Nyonya Rinaldi begitu menyayangi anakmu."


"Aku pun bisa melihatnya Dokter, bagaimana tulusnya mereka merawat dan membesarkan Ameera hingga putriku tumbuh menjadi gadis pintar, baik hati dan peduli terhadap sesama."


"Tuan dan Nyonya Rinaldi orang baik, aku bersyukur karena Tuhan menyelamatkan Ameera dan menitipkannya pada satu pasang suami istri berhati malaikat seperti mereka."


"Aku akan berbicara pelan-pelan dengan Tuan dan Nyonya Rinaldi, tak tega rasanya jika harus memisahkan mereka begitu saja. Tujuh belas tahun bukan waktu sebentar bagi ketiganya untuk memutuskan hubungan yang sudah terjalin."


"Aku memang ingin membawa Ameera pergi dan meninggalkan negara ini tapi harus menyelesaikan permasalahan yang akan muncul akibat terungkapnya jati diri anakku."


"Sepertinya akan kupikirkan matang-matang agar tidak timbul permasalahan dikemudian hari."


"Ya, aku setuju denganmu. Apalagi pasangan suami istri itu hanya memiliki Ameera, putri kandung mereka meninggal saat berusia 6 tahun akibat sakit karena itulah Tuan dan Nyonya Rinaldi begitu menyayangi putrimu."


Aku punya PR besar yang sedang menanti di depan mata, di sini keahlianku sebagai seorang dokter harus digunakan semoga saja mereka bisa menerima.


***


Kediaman Keluarga Pieter


Sudah satu jam Stevanie duduk di ruang keluarga menemani suaminya menonton berita. Pria itu sengaja tidak berangkat ke kantor, ia berencana membesuk istri keduanya di rumah sakit.


Sudah dua hari semenjak Ameera dirawat, Mark sama sekali belum menunjukan batang hidungnya dan siang ini berencana pergi ke rumah sakit membawa parsel buah-buahan beserta jus buah alpukat kesukaan istrinya.


Pria itu juga tak lupa memesan buket bunga gardenia di sebuah toko bunga. Ia sengaja memilih bunga gardenia karena memiliki aroma yang sangat wangi, berwarna putih bersih melambangkan kesucian dan kemurnian menurut Mark bunga tersebut mewakili kepribadian istrinya tersebut.


Di mata Mark, Ameera merupakan sosok gadis cantik, suci dan memiliki aroma tubuh yang khas, mampu membuat pria itu merasa nyaman dan damai.


"Sayang, sampai kapan kamu akan mendiamkanku seperti ini!"

__ADS_1


"Sudah hampir 1 hari kita perang dingin. Kamu tidur di kamar tamu dan tak berbicara apapun padaku."


Hal itu membuat Mark frustasi, kenapa Stevanie sama sekali tidak menyadari kesalahannya.


"Mark, bicaralah. Jangan diam saja!" Stevanie menggoyangkan lengan pria itu.


"Berhenti!" teriak Mark. Pria itu bangkit berdiri dan melihat ke arah Stevanie.


"Sayang!" panggil Stevanie lirih, ia mendongakan kepala.


"Kali ini kamu sudah mengecewakanku, Vanie. Diam-diam menyimpan rahasia ini di belakangku."


"Kamu tahu, bagaimana ekspresi Joe saat melihatku. Dia mengejekku karena hanya aku satu-satunya orang yang tak mengetahui Ameera dirawat di rumah sakit."


"Aku adalah suami dari Ameera, pria yang sudah membuatnya hamil dan menanam benih pada rahim gadis itu!"


"Namun, aku merupakan orang terakhir yang mengetahui kabar kecelakaan istriku!" Mark mendekat dan mencengkram ujung dagu Stevanie.


Pria itu semakin mengeratkan cengkraman dan melepaskannya setelah mendengar suara seorang pelayan wanita di ambang pintu.


"Tuan, mobil sudah siap dan supir siap mengantar Anda. Semua pesanan sudah kami siapkan," ucap pelayan itu.


"Jangan pernah berharap, aku akan mengasihimu jika kamu masih berusaha mencelakai Ameera dan anakku!" ucap Mark sebelum meninggalkan ruangan.


Mark berjalan ke luar mansion disusul 5 orang pelayan yang membawa 3 buah parsel buah-buahan, 1 buket bunga dan 1 kantong paper bag berisi makanan dan minuman kesukaan Ameera.


'Sayang, tunggu aku di sana. Sebentar lagi kamu pasti terkejut melihat apa yang kubawa untukmu. Semua makanan dan minuman kesukaanmu berada di tanganku' ucap pria itu dalam hati.


"Kalian berempat ikut aku ke rumah sakit dan bawa semua parsel serta paper bag ini." Mark menunjuk ke arah 3 buah parsel buah-buahan dan kantong paper bag yang terbuat dari karton.


"Sementara buket bunga itu biar aku saja yang membawanya."


"Masuklah, kita akan segera berangkat!" seorang supir membukakan pintu dan Mark duduk di kursi penumpang, ia meletakan buket bunga di tempat kosong di sampingnya.


Iring-iringan itu kemudian berangkat menuju Rumah sakit Persada tempat Ameera dirawat. Saat kedua mobil mewah berwarna hitam keluar gerbang kediaman keluarga Pieter dan membaur dengan kendaraan lain, seorang wanita memperhatikan kepergian mereka dari atas balkon. Ia melipatkan tangan ke dada dan bergumam "kita lihat apakah kamu akan tetap dingin saat mengetahui Mark Junior hadir di dalam rahimku!"

__ADS_1


__ADS_2