
"Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Pak Supir yang mengantar Stevanie.
Pria paruh baya itu berdiri beberapa meter dari majikannya dan ia juga menyaksikan semua insiden yang terjadi mulai dari Stevanie memergoki Mark makan berdua dengan lawan jenis hingga pria itu meninggalkannya sendirian.
Ia mengulurkan tangan membantu Stevanie berdiri.
"A-aku... Baik-baik saja!" ujarnya sambil menerima uluran tangan pria itu.
Menyadari tangannya disentuh oleh sang supir, ia langsung menghempaskan sambil berkata, "berani sekali tangan kotormu itu menyentuhku!" maki Stevanie.
"Maafkan saya, Nyonya."
"Dasar supir tak tahu diri, mengambil kesempatan dalam kesempitan."
Wanita berusia 26 tahun itu tak peduli sama sekali akan raut wajah supirnya yang terlihat masam. Ia berjalan dengan langkah panjang menuju parkiran mall.
Pria berseragam serba hitam itu hanya menghela napas panjang sambil mengelus dada.
"Berikan aku kesabaran menghadapi sikap angkuh majikanku ini Tuhan. Jika tak mengingat semua kebaikan Tuan Mark pada keluargaku, sudah jauh-jauh hari aku berhenti bekerja dan mencari majikan lain."
"Lama-lama bekerja dibawah tekanan Nyonya Stevanie, membuatku makan hati setiap hari," gumam pria itu.
Sepanjang perjalanan, Stevanie masih sibuk menghubungi nomor Mr. Lee namun lagi dan lagi pria itu tak menggubris panggilan tersebut. Sementara sang supir hanya melirik dari kaca spion di depan kemudi.
"Brengsek, kemana perginya pria itu!"
"Argh!"
Di luar, langit semakin menghitam, awan semakin menebal dan perlahan-lahan air hujan turun satu per satu.
Wanita itu menatap keluar jendela dan secara bersamaan kilatan cahaya petir sesaat yang menyilaukan mata membuat Stevanie terkejut.
"Sialan, mengapa nasibku akhir-akhir ini selalu sial. Aku yakin, ini semua pasti gara-gara Ameera. Gadis itu memang pembawa sial!" mulut wanita itu tak henti-hentinya memaki dan menghina Ameera.
"Nyonya, alangkah baiknya Anda berdo'a ketika cahaya kilat atau gemuruh terdengar dari langit bukan malah memaki seseorang yang jelas-jelas tidak ada kaitannya dengan semua ini," batin Pak Supir.
__ADS_1
Terdengar suara ponsel menghentikan racauan tak jelas dari bibir wanita itu, ia meraba tas yang diletakan di ruang kosong di sebelahnya, mengeluarkan benda pipih itu dari dalam tas dan tanpa melihat siapa yang menelepon, Stevanie menggeser tombol hijau dan menerima panggilan video.
"Vanie maaf, aku beberapa hari ini terlalu sibuk hingga tak bisa mengangat teleponmu," ujar pria di seberang sana.
"Dasar kamu tukang bohong. Selama 3 hari ini aku menghubungimu bahkan di SMS pun tak kau balas!" oceh Stevanie.
Suara tawa pria itu pecah, membuat Stevanie menautkan kedua alisnya.
"Memangnya kau pikir aku badut yang pantas ditertawakan."
Mr. Lee yang hanya bisa melihat dari layar ponsel membuat pria itu semakin merindukan sosok Stevanie yang selama beberapa hari ini sangat ia rindukan. Bayangan wajah cantik wanita itu selalu mengganggu mimpi indahnya.
Selama 5 tahun menjalin pertemanan, baru kali ini Mr. Lee diliputi kerinduan yang hampir tak terbendung lagi. Setiap malam ia selalu memimpikan wanita itu.
"Oke, aku mengaku salah. Tolong dimaafkan ya," ia menangkupkan kedua tangan.
"Sudahlah, jangan merajuk lagi. Kumohon tersenyumlah."
"Sebagai permintaan maafku, temui aku di kantor akan kutraktir kau makan di sebuah restoran mahal malam ini. Bagaimana?"
Kemudian panggilan video berakhir, wanita itu memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Nyonya, nampaknya hujan akan semakin deras. Apakah Anda yakin tetap menerobosnya?"
"Jujur saja, saya sedikit takut."
"Heh, aku menggajimu untuk melaksanakan tugas dengan baik bukan malah banyak bertanya!"
"Lajukan saja mobil ini dengan kecepatan tinggi dan tutup mulutmu rapat-rapat!"
"Tapi, Nyonya!"
"Diam, cepat kau lajukan saja mobil ini!"
Sang supir hanya menggelengkan kepala, dengan terpaksa pria itu terus melaju kendaraan dibawah guyuran air hujan yang semakin deras.
__ADS_1
Jarak pandang terbatas, membuat penglihatan pria itu tak jelas ditambah matanya yang rabun akibat faktor usia membuatnya semakin kesulitan melihat jalanan di depan sana.
Ketika lampu lalu lintas berwarna hijau, secara otomatis semua pengendara roda dua dan roda empat melajukan kembali kendaraannya begitu juga dengan supir yang bertugas mengantarkan Stevanie, ia menancap gas seperti biasa namun tiba-tiba saja dari arah sebelah kanan melaju sebuah mobil dengan kecepatan tinggi. Mobil itu menerobos lampu lalu lintas padahal APILL menunjukan warna merah.
Pak Supir terkejut dengan kemunculan mobil itu secara tiba-tiba, ia membanting stir guna menghindari insiden kecelakaan namun naas insiden itu tak dapat dihindari.
Brak!
Mobil itu saling bertabrakan di perempatan jalan, menyebabkan semua kendaraan berhenti menyaksikan kecelakaan di depan mata.
Nampak supir itu yang tak lain bernama Pak Burhan mengalami luka parah dan nyawanya tak bisa diselamatkan, pria itu tewas di tempat kejadian akibat benturan keras.
Sementara Stevanie, ia mengalami luka pada area kepala, tangannya mengalami patah tulang dan bagian dada serta perutnya menghantam benda keras. Wanita itu mengerang kesakitan tatkala beberapa orang berusaha membantunya keluar dari dalam mobil.
"Tolong... Selamatkan aku."
Tubuh wanita itu meremang seketika saat melihat wajah Pak Burhan pucat dan banyak mengeluarkan darah. Di depan matanya, ia melihat pria itu berlumuran darah dan membuat bulu kudunya merinding.
"Papa, tolong Vanie."
"Aku tidak mau tinggal bersama mayat."
"Mami, Papi tolong Va...nie..."
"Vanie takut!"
Perlahan-lahan mata wanita itu tertutup dan sedetik kemudian ia tak sadarkan diri.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1