
Saat sebuah mobil ambulans tiba di Rumah Sakit Umum Persada, beberapa orang perawat sudah bersiaga mendorong brankar mendekati mobil tersebut.
Mereka sibuk membawa tubuh sintal dan seksi itu ke dalam ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama. Seorang dokter yang mengenakan seragam putih memeriksa keadaan pasien, sesekali memberikan instruksi pada perawat yang bertugas.
"Segera hubungi Tuan Mark dan minta para security untuk berjaga, aku yakin kabar kecelakaan Nyonya Stevanie cepat atau lambat akan mencuat ke permukaan dan menjadi berita panas," titah dokter yang berjaga.
Pria itu bernama Dokter Raihan yang merupakan Kepala Instalasi Gawat Darurat.
Ia termasuk dalam susunan keanggotaan organisasi di rumah sakit. Pernah beberapa kali bertemu Tuan Ibrahim dan Stevanie saat Direktur Utama mengadakan rapat internal dengan para pengurus, melibatkan donatur terbesar RSU Persada. Itulah sebabnya mengapa pria itu tahu pasien yang sedang ditangani merupakan menantu dari Tuan Ibrahim.
"Baik Dokter," ujar salah satu perawat. Ia segera melakukan perintah yang di instruksikan padanya.
Sementara itu, di tempat lain Mark baru saja masuk ke dalam ruangan CEO. Ia nampak frustasi karena gagal mencari orang untuk berinvestasi di perusahaan yang dikelolalnya. Selain itu, ia juga sedang dilanda kerinduan akan sosok Ameera.
Mark memandangi sebuah foto hasil USG milik anaknya di atas meja, menatap titik samar itu lekat-lekat kemudian memeluknya erat.
"Nak, Papa sangat merindukan kalian. Semoga Tuhan masih bisa mempertemukan kita kembali!" ia menciumi foto itu dengan mesra.
Pria itu memejamkan mata sejenak sambil membayangkan malaikat kecil itu bermain bersamanya. Saat tengah asyik berkhayal, Winda selaku sekretaris perusahaan memberitahu sang bos bahwa salah satu perawat rumah sakit menghubungi dan ia diminta untuk meneruskan panggilan tersebut.
"Halo, saya Mark. Ada perlu apa?" tanya pria itu tanpa menaruh curiga sama sekali.
"Tuan, kami dari Rumah Sakit Umum Persada ingin memberitahukan bahwa saat ini istri Anda bernama Nyonya Stevanie Pieter mengalami kecelakaan. Keadaan beliau cukup parah. Mohon untuk segera ke rumah sakit," ujarnya panjang lebar.
"Apa?" pria itu berdiri dari kursi sambil membelalakan kedua mata.
"Baik, saya segera kesana!" Ia segera mengambil jasnya dan menyambar kunci mobil di atas meja.
"Tuan!" ucap Winda setelah melihat Mark keluar ruangan.
"Ada apa? Saya harus ke rumah sakit. Jika ada persoalan tentang perusahaan, tunggu sampai semua urusan selesai!"
"Tapi ini sangat penting, Tuan! Menggenai laporan keuangan perusahaan."
Sebelah alis pria itu terangkat sebelah seraya menatap wajah Winda dengan tatapan dingin. Meskipun ia dalam keadaan cemas namun entah mengapa ekspresi wajahnya tetap dingin.
"Baik, ikut ke ruangan saya sekarang!"
__ADS_1
Mark berjalan terlebih dulu dan wanita itu mengekori dari belakang sambil menenteng laporan keuangan perusahaan.
"Katakan, ada masalah apa?"
"Tuan, menurut laporan keuangan sepertinya ada oknum yang sengaja menggelapkan dana perusahaan menyebabkan kita merugi puluhan milyar," Winda melangkah maju sambil menyodorkan laporan ke arah Mark.
"Bagaimana bisa, bukankah setiap bulan saya selalu meminta kalian memeriksanya dengan teliti!" ia menggebrak meja.
Brak!
Winda tersentak, ia langsung menundukan pandangan tak berani menatap pria di hadapannya. Wanita itu sangat yakin bahwa saat ini wajah Mark lebih menakutkan berkali-kali lipat dibanding biasanya.
Pria itu penasaran, dengan tergesa-gesa tangannya membuka lembaran demi lembaran kertas di hadapannya. Alangkah terkejutnya Mark saat melihat beberapa keganjalan dalam laporan tersebut.
"Brengsek! Berani-beraninya dia bermain api di belakangku!" sentak Mark sambil meremas tepian meja hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia ingin mengumpat dan membanting semua barang-barang di ruangan akan tetapi nalarnya sebagai seorang pemimpin masih berfungsi hingga membuat pria setengah bule itu hanya bisa meredam emosinya.
"Lantas, tindakan apa yang kalian lakukan?" Mark menyisir rambutnya dengan kasar.
"Kami sudah menyambangi kediamannya namun sayang dia sudah melarikan diri dan membawa sebagian dana perusahaan, Tuan!" jawab Winda lirih.
"Oh Tuhan, masalah apa lagi ini? Mengapa cobaan datang silih berganti!" pria itu mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Itu artinya perusahaan kita benar-benar berada diambang kebangkrutan?"
Winda hanya mengangguk lemah. Lidah wanita itu rasanya kelu tak dapat berucap, selama menjabat sebagai sekretaris baru kali ini ia mendengar pertanyaan Mark dengan nada suara putus asa.
Mark semakin frustasi rasanya, meskipun perusahaan itu didirikan oleh Tuan Ibrahim namun sebagai seorang CEO ia merasa gagal karena tidak bisa melindungi warisan yang diturunkan kepadanya.
"Ya sudah, kita akan bahas lagi nanti. Sementara ini, tetap kerjakan semua pekerjaanmu. Saya akan ke rumah sakit dulu."
***
Kini Mark sudah berada di rumah sakit, pria itu duduk termenung di depan ruang UGD. Tak berselang lama, Dokter Raihan keluar ruangan dan Mark segera menghampiri.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?"
__ADS_1
Melihat raut wajah Dokter Raihan yang tak biasa membuat Mark bisa menebak telah terjadi hal buruk pada istrinya.
"Nyonya Stevanie sudah melewati masa kritis, hanya saja akibat benturan benda keras pada perutnya menyebabkan rahim istri Anda rusak dan harus segera dioperasi."
Dokter Raihan menarik napas sejenak, "jika kita lakukan operasi itu artinya peluang kalian untuk memiliki anak sudah tidak ada harapan lagi."
Raut wajah pria itu penuh penyesalan. Sungguh sebenarnya ia sulit menyampaikan berita ini namun kenyataan harus disampaikan meskipun itu pahit.
Mark terkejut, rasanya seisi bumi ini runtuh menimpa tubuhnya. Lidah pria itu kelu, matanya mulai berkaca-kaca.
Walaupun cinta pria itu pada Stevanie semakin memudar namun sebagai seorang manusia, ia masih memiliki hati nurani dan akan merasa kasihan bila suatu hal buruk menimpa istrinya. Bagaimana pun Stevanie adalah teman masa kecil sekaligus istri yang dulu pernah amat dicintai olehnya.
"Apa tidak ada cara lain selain mengangkat rahim istri saya Dokter?"
"Hanya ini jalan satu-satunya Tuan untuk menyelamatkan Nyonya Stevanie. Jika dibiarkan malah akan mengancam jiwanya."
Tak pernah terbayangkan oleh Mark sebelumnya bahwa semuanya akan serumit ini. Lagi-lagi ia dihadapkan pada dua pilihan sulit.
Menurut pria itu mengangkat rahim Stevanie sama saja seperti menghancurkan harapan wanita itu untuk memiliki keturunan apalagi mereka sedang menjalankan program hamil tapi nampaknya usaha yang dilakukan hanya akan sia-sia belaka.
"Baiklah, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dokter. Saya percayakan kesembuhan Stevanie pada Anda," ujar Mark mencoba menguatkan diri.
Sejujurya ia amat terpukul mendengar kabar ini. Pria itu juga sulit mengambil keputusan ini tapi Mark tak memiliki jalan keluar lain selain memberikan izin pada Dokter Raihan dan tim untuk melakukan operasi.
"Tentu, kami segenap para tenaga medis akan memberikan yang terbaik untuk Nyonya Stevanie. Bantu dengan do'a semoga operasi kali ini berjalan lancar tanpa kendala apapun."
"Kalau begitu, saya akan mempersiapkan operasinya. Permisi."
Bersambung
.
.
.
Curhat : Maafkan author jika terkesan jahat karena sudah membuat istri pertama Mark harus kehilangan organ dalam yang begitu penting bagi seorang wanita.
__ADS_1
Jujur saja, author sedih dan berat sekali menulis part ini karena sebagai seorang wanita yang sedang berjuang untuk mendapatkan 2 garis merah akan timbul rasa tak tega jika melihat, mendengar apalagi menuliskan nasib malang untuk peran antagonis meskipun tak tega namun harus dilakukan karena ini sudah menjadi konsekuensi bagi seorang author. Toh ini hanya sekedar untuk hiburan semata.
Do'a author untuk para wanita di luaran sana yang sedang menanti kehadiran si buah hati, semoga Tuhan segera mengabulkan impian kita. 😊