
"Mas, aku takut," Ameera mendongakan kepala saat kursi roda itu didorong dari belakang menyusuri koridor rumah sakit menuju sebuah ruang periksa di poli kandungan.
"Kamu takut apa? Ada aku dan Bunda menemani," Mark mengusap pundak gadis itu.
"Bagaimana jika jenis kelamin anak kita perempuan, apakah kamu akan kecewa?"
"Ameera, bayi perempuan maupun laki-laki menurutku sama saja asalkan kita mendidik mereka dengan baik pasti akan menjadi anak berguna di kemudian hari."
Ameera sedikit tenang, ia menghela napas lega dan kembali merebahkan kepala di sandaran kursi roda. Perlahan-lahan mereka sampai di depan pintu sebuah kamar periksa, Mark mengikuti Suster Kirana masuk ke dalam.
Di sana sudah ada Dokter Maria yang menggantikan tugas Dokter Diana selama wanita itu mengambil cuti akhir tahun, ia diberikan tanggung jawab memantau perkembangan janin Ameera.
"Halo Nona Ameera, apa kabar!" sapa wanita itu saat melihat gadis berusia 21 tahun masuk ke dalam ruangan.
Mark menggendong Ameera dan merebahkannya di atas ranjang, sementara Suster Kirana membantu mempersiapkan semua keperluan Dokter Maria.
"Wah, Tuan Mark memang suami siaga. Nona Ameera beruntung menjadi istri beliau," ucap Dokter Diana, wanita itu mencuci tangan terlebih dulu menggunakan air sebelum memulai pemeriksaan.
Dokter Maria tak henti-hentinya menebarkan senyuman, ia bahagia melihat kedekatan pasangan suami istri di depannya.
"Mari kita mulai, Nona," Dokter Maria mulai memakai sarung tangan yang terbuat dari bahan latex. Ia mulai mendudukan tubuhnya di bangku, meletakan sebuah alat dan memantaunya lewat layar monitor.
Mark dan Bunda Meta memperhatikan layar monitor, mereka nampak antusias saat tangan lembut Dokter Maria menggeser alat pada permukaan perut Ameera.
"Kalian bisa mendengarnya! Itu adalah detak jantung si kecil."
"Dan jenis kelaminnya adalah laki-laki!" lanjutnya.
Mark tak sanggup berkata-kata, pria itu begitu takjub menatap tubuh mungil di layar monitor meskipun wajahnya belum terlihat sempurna namun beberapa anggota tubuh sudah mulai terbentuk seperti telinga, mata sudah berkembang menuju sempurna, tulang selangka dan kaki bayi mulai mengeras itulah sebabnya mengapa Ameera akhir-akhir sering merasakan tendangan si kecil saat malam hari meski masih terasa pelan namun membuat sang empunya kesakitan.
"Perkiraan berat badan janin pada usai 18 minggu sekitar 200 gram dan bentuknya seperti paprika."
"Apakah dia sehat, Dokter?"
"Tentu saja, dia kuat dan sehat walaupun nyaris saja nyawanya melayang namun Tuhan masih memberikan padanya kesempatan untuk hidup jadi, kalian harus merawatnya dengan baik."
"Baik Nona Ameera, pemeriksaan sudah selesai."
"Suster, tolong dibantu,"
Mark membantu istrinya bangun dari ranjang dan mendekatkan kursi roda, setelah memastikan Ameera duduk dengan nyaman pria itu mendorongnya ke ruang kerja sang dokter.
"Semua hasil pemeriksaan dalam keadaan sehat, berat badan Mama dan bayi normal, tekanan darah, detak jantung si kecil semua dalam keadaan sehat."
"Pada perkembangan usai 18 minggu, telinga si kecil sudah terbentuk sempurna, disarankan Nona Ameera sering memutarkan musik untuk merangsang motorik anak."
__ADS_1
"Beberapa tips bagi Nona Ameera kurangi makanan pedas, batasi konsumsi makanan laut, hindari kelelahan dan jangan terlalu lama duduk ataupun berdiri untuk menghindari sakit pada area punggung serta tidak mengangkat berat beban," ucap Dokter Maria panjang lebar.
Ameera dan Mark hanya menganggukan kepala sebagai tanda bahwa mereka mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh wanita itu.
"Sampai sini apakah ada yang ingin ditanyakan?"
"Ehm, Dokter mengapa istri saya dianjurkan membatasi konsumsi makanan laut bukankah itu malah bagus bagi kesehatan si kecil."
Mark mulai merubah posisi duduk, ia ingin mendapatkan penjelasan logis mengapa wanita hamil dianjurkan membatasi konsumsi makanan laut.
"Sebenarnya ibu hamil masih diperbolehkan makan ikan dan jenis makanan laut lainnya asal tidak berlebihan karena laut merupakan sumber nutrisi tetapi makanan ini juga dapat mengandung zat-zat beracun."
"Jika ibu hamil terus menerus mengkonsumsi makanan laut tinggi merkuri bisa memicu cacat lahir pada bayi, Nona dan Tuan pasti tidak menginginkan itu terjadi kan pada si kecil."
"Tentu Dok, saya menginginkan bayi ini tumbuh sehat, cerdas dan kuat."
Diam-diam tangan pria itu terulur dan menyentuh perut istrinya.
Ameera kebetulan sedang menoleh ke arah Mark sedikit terpana akan perhatian yang diberikan namun gadis itu segera memalingkan wajah saat tatapan mata pria itu mengarah padanya.
Tuhan, tolong jangan buat aku luluh oleh perhatian yang diberikan suamiku. Berikan jalan padaku agar bisa segera lepas darinya.
***
"Kamu dengar kan semua saran dari Dokter Maria!" pria itu mengusap punggung Ameera dengan lembut.
"Setelah kamu kembali magang di perusahaan, semua tugas akan kualihkan pada Joe dan Winda. Kamu hanya perlu merawat bayi itu dengan baik, paham!"
Ameera hanya menganggukan, menuruti perkataan suaminya.
"Nak Mark, Bunda ingin berbicara berdua dengan Ameera apakah bisa tinggalkan kami sebentar?" tanya Bunda Meta setelah putrinya terbaring di ranjang.
"Tentu saja boleh!"
"Aku akan keluar sebentar, kalian berbicaralah."
Mark tersenyum lembut dan meninggalkan mertua serta istrinya berdua dalam ruangan.
Bunda Meta mengulurkan tangan dan menggenggam erat tangan putrinya. Wanita itu menatap wajah Ameera turun ke hidung, dagu dan memandangi perut gadis itu. Di dalam sana ada bayi yang kelak menjadi cucunya.
"Ada hal penting yang ingin Bunda sampaikan mengenai jati dirimu!" ucap Bunda Meta.
"Jati diri, maksud Bunda apa?"
"Tentang orang tua kandungmu."
__ADS_1
"Loh, bukannya orang tua Ameera, Ayah dan Bunda!"
Bunda Meta semakin mengeratkan genggamannya.
"Ameera, ada sebuah rahasia yang kami sembunyikan darimu, Nak."
"Sebenarnya..."
Bunda Meta berhenti sejenak, wanita itu menghirup napas dalam sebelum melanjutkan perkataannya.
"Sebenarnya, kamu bukan putri kandung kami!"
Jleger!
Bagai mendengar suara petir di siang bolong, ucapan Bunda Meta membuat tubuh gadis itu mematung seketika.
Saat ini perasaannya campur aduk, antara sedih, bingung dan kecewa. Ketiga elemen itu bergabung menjadi satu dan berkumpul membuat udara sekitar tak mampu memberikan oksigen untuk paru-parunya. Dada gadis itu terasa sesak dan mulutnya terkunci untuk beberapa lama.
"Ibu kandungmu bukan Bunda melainkan Nyonya Aura!"
Wanita itu memalingkan wajah menyembunyikan air mata yang nyaris meluncur. Hatinya sakit, benar-benar sakit.
Ameera menggigit bibir dan tubuhnya gemetar, entah mengapa ucapan sang bunda bagaikan sebuah bom yang dilemparkan tepat di hadapannya. Begitu tiba-tiba dan serba mendadak hingga otaknya sulit mencerna apa yang sudah terjadi.
Gadis itu mulai terisak dalam pelukan Bunda Meta. Ia ingin berteriak, memaki dan menjerit meluapkan perasaan sakit di hatinya.
Ameera merasa telah dibohongi selama ini meskipun dua orang berhati malaikat itu sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang namun ia tetap manusia biasa yang bisa kecewa bila dibohongi.
"Meera, maafkan Ayah dan Bunda karena sudah menutupi rahasia ini selama 17 tahun."
"Bunda terpaksa membohongimu, Nak. Tolong maafkan kami."
Bunda Meta menangis sesegukan, matanya sudah merah dan bengkak karena air matanya tak kunjung berhenti mengalir.
Suasana ruang rawat inap seketika berubah menjadi lautan air mata, terdengar suara tangis dua orang wanita saling bersahutan. Mereka larut dalam perasaan masing-masing.
Bersambung
.
.
.
sumber : hellosehat.com
__ADS_1
Yuk ah, kita sharing. Dulu sewaktu Bunda hamil si kecil momen paling bahagia saat apa nich? Terus bagaimana perasaan kalian saat pertama kali melihat jenis kelamin buah hati tercinta. Bisa komentar di bawah sini. ☺
Oh iya, kalau ada typo mohon dimaklum ya Kak. Jari masih sering keseleo soalnya. 😅