
|| Rumah Sakit Umum Persada||
"Papa!" teriak Stevanie dari ambang pintu.
Wanita itu segera berlari menghampiri Tuan Ibrahim, ia mencium pipi kanan dan pipi sang mertua. Sang empunya hanya melongo melihat sikap menantunya.
"Vanie, apa yang membuatmu bahagia Nak? Apakah kamu diminta menjadi juri dalam ajang pemilihan model?" tanya Tuan Ibrahim penasaran.
"Bukan Papa, aku bahagia karena sebentar lagi akan ada bayi di dalam sini," Stevanie mengusap perutnya.
"Apa kamu serius?"
"Serius Pa, kami baru saja menemui Dokter Maria dan beliau mengatakan bahwa kondisi tubuhku baik-baik saja. Aku sudah berbicara dengan managerku, ingin rehat dulu dari dunia model."
"Tapi ada beberapa kontrak yang aku langgar Pa dan mereka menuntut ganti rugi," jawab Stevanie. Ia menundukan wajah dan meremas kedua tangannya.
"Tidak masalah! Nanti Papa akan membantumu membayarkan semua denda atas kerugian yang mereka derita. Kamu lupa, siapa mertuamu!"
"Papa, terima kasih. Vanie sangat bahagia memiliki Papa Mertua baik seperti Tuan Ibrahim," Stevanie tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia memeluk tubuh mertuanya dan melupakan kehadiran Mark.
"Ehem, apakah kalian melupakan kehadiranku?"
"Astaga, maafkan aku sayang hampir melupakanmu," Stevanie segera merangkul suaminya dan duduk bersama-sama di atas sofa.
Tuan Ibrahim tersenyum, mengingat sebentar lagi ia akan menimang cucu dengan tangannya yang mulai mengeriput.
Akhirnya, Stevanie mengabulkan keinginan terbesarku, kelak Keluarga Pieter akan memiliki penerus dari garis keturunan yang sah dan gadis mura*an itu perlahan-lahan menjauh dari kehidupan Mark.
"Papa!" panggil Stevanie membuyarkan lamunan Tuan Ibrahim.
"Apa?"
"Papa kenapa senyum-senyum sendiri?"
"Papa tidak tersenyum," elak Tuan Ibrahim.
"Jangan-jangan, Papa sudah tidak sabar ya menimang cucu," goda Stevanie.
"Kamu bisa saja!"
Kemudian terdengar suara gelak tawa dari Mark, Stevanie dan Tuan Ibrahim. Ruangan itu awalnya sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan namun kini kembali ramai berkat kabar yang diberikan Stevanie membuat Mark dan Tuan Ibrahim kembali bersemangat menghadapi hari esok.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, Mark sudah berada di dalam ruangan. Satu hari meninggalkan kantor membuat pekerjaannya menumpuk, walaupun ada Joe dan Ameera membantu namun rasanya tenaga mereka tidak mampu mengerjakan semua pekerjaan yang membuat kepala hampir pecah.
Ia mengintip dari jendela ruangan ke arah ruang kerja Ameera. Ruang kerja Mark dan ruang kerja Ameera serta Joe bersebrangan hanya dipisahkan lorong kecil sebagai akses jalan.
"Sudah pukul setengah sembilan mengapa Ameera belum sampai, apakah dia sakit?" gumam pria itu.
Mark menekan tombol sambungan pesawat telpon dan meminta Joe ke ruangan. Ia berpura-pura menanyakan hasil follow up meeting kemarin dengan Pak Suryo padahal niat pria itu ingin menanyakan keberadaan Ameera, istri keduanya.
"Joe, ke ruangan saya sekarang dan bawa laporan meeting kemarin!" ucap Mark singkat.
"Baik Tuan!"
Joe membawa tiga buah dokumen dan satu buah buku notulen ke ruangan Mark. Ia melaporkan semua hasil meeting secara detail tanpa ada yang terlewatkan.
Joe memang sangat bisa diandalkan, kemampuannya di atas rata-rata itulah kenapa Mark dan Tuan Ibrahim mempercayakan semua urusan pekerjaan jika terjadi masalah di perusahaan.
"Ada yang ingin Anda tanyakan, Tuan?" tanya Joe setelah ia menyampaikan semua laporan pekerjaan.
"Ehm, Joe. Ameera ke mana?"
"Ameera izin tidak masuk kantor, dia diminta dosen pembimbingnya ke kampus untuk membahas soal skripsi. Rencananya Ameera akan ikut wisuda gelombang pertama."
"Wisuda gelombang pertama!"
Ameera tidak bisa pergi jauh dariku, ia harus tetap berada di sini selamanya.
"Joe, kamu tolong urus perpanjangan masa magang kelima mahasiswa tersebut. Buat mereka selama satu tahun bekerja di perusahaan atau jika perlu jadikan kelimanya karyawan tetap dan berikan gaji besar khususnya untuk Ameera."
"Tapi Tuan, masa magang kelima mahasiswa tersebut sudah melampaui batas aturan yang ditetapkan seharusnya mereka sudah selesai sejak tiga bulan lalu."
"Persetan dengan aturan! Aku pimpinan perusahaan ini jadi kamu harus laksanakan semua perintahku!" bentak Mark setengah berteriak.
"Baik Tuan, akan saya urus," Joe membungkukan diri sembari pergi meninggalkan ruangan.
Kapan Anda tegas, Tuan. Mengapa semakin hari sikap Anda mudah goyah, kena rayuan sedikit dari Nyonya Stevanie langsung luluh. Disaat mendengar nama Ameera, Anda seperti kebakaran jenggot.
Mark mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi nomor seseorang namun tidak mendapat respon.
"Sial! Ke mana kamu Meera, mengapa tidak menjawab telfonku?" Mark melempar tumpukan berkas di depannya hingga semua terjatuh dan berhamburan memenuhi ruangan.
***
|| Universitas Xx ||
__ADS_1
"Selamat pagi Neng Ameera!" sapa penjaga gerbang kampus.
"Eh, Mamang. Selamat pagi juga!"
"Waduh, si Neng lama tidak bertemu semakin cantik saja."
"Ih, si Mamang bisa saja."
"Mang Udin bagaimana kabarnya?" Ameera berhenti sejenak untuk menyapa penjaga gerbang kampus. Dulu sewaktu Ameera masih sering pergi ke kampus, ia selalu mampir ke pos jaga dan menghabiskan waktu untuk berbincang dengan Mang Udin.
"Alhamdulillah, baik. Neng Ameera sendiri bagimana?"
"Alhamdulillah, baik juga Mang."
"Sudah mau lulus ya Neng?"
"Iya Mang, do'akan ya semoga dalam waktu dekat sudah bisa sidang dan bisa ikut gelombang pertama wisuda."
"Aamiin, Mamang do'akan semoga Neng Meera bisa segera lulus, mendapatkan pekerjaan dan dipertemukan jodoh. Jangan lupa ya Neng, jika menikah kirim undangan untuk Mamang."
Ucapan Mang Udin cukup membuat Ameera tercengang dan membuat gadis itu mati kutu. Gadis itu menggaruk rambutnya yang tidak terasa gatal.
"Iya, Mang. Insya Allah nanti Ameera kirim undangan ke Mamang. Ya sudah, Ameera masuk dulu sudah ditunggu Bu Dona."
"Bye, Mang Udin!" Ameera melambaikan tangan dan berjalan menuju ruang dosen.
"Hufh, kenapa Mang Udin berbicara seperti itu kepadaku? Membuat moodku berantakan saja!"ucap Ameera kesal.
Ameera tidak ingin harinya ssmakin buruk, ia mencoba membayangkan hal-hal indah yang membuatnya tersenyum kembali. Ameera membayangkan sebentar lagi akan menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswa, ia akan mengenakan toga wisuda dan seorang dosen nanti akan memindahkan topi wisudanya. Disaat itulah ia resmi tercatat sebagai alumni Universitas Xx.
"Nak, kamu pasti bahagia juga kan sebentar lagi Mama akan lulus. Nanti kita akan sama-sama naik ke atas panggung dan menerima lembar ijazah kelulusan kemudian kamu dan Mama akan pergi dari kehidupan Papa selamanya."
" Jika Mama sukses nanti, kita akan ajak Kakek dan Nenek untuk tinggal bersama."
"Mama janji akan membahagiakan kalian!"
Kini Ameera sudah berada di ruang dosen, ia duduk berhadapan dengan Bu Dona, dosen pembimbingnya.
Bu Dona membuka lembaran skripsi milik Ameera, sesekali ia mencoret bagian yang tidak penting dan meminta gadis itu merubahnya.
Ameera nampak serius saat berdiskusi dengan dosen pembimbingnya. Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas bertemu Bu Dona, salah satu dosen favorit dan terkenal banyak mencetak lulusan handal.
Author sudah menepati janji nih, double update. Kedepannya jika author ada waktu luang, akan diusahakan double update. Soalnya ngerjain dua novel ongoing nih biar bisa update setiap hari. 😊
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya Kak, terima kasih. 🙏