
Beberapa hari kemudian, dokter sudah memperbolehkan Ameera pulang ke rumah karena semua hasil pemeriksaan menunjukan keadaan gadis itu baik-baik saja. Kabar tersebut membawa angin segar bagi Ameera ditengah kekecewaannya terhadap ayah dan bunda.
Saat ini ia masih berada di ruang rawat inap, Mark dan Bunda Meta beserta Ayah Reza membereskan semua barang-barang milik gadis itu.
Sementara itu, Mama Aura sudah tak lagi menemui Ameera semenjak terjadi perang dingin antara dirinya dengan Bunda Meta namun ia masih memantau kesehatan putrinya lewat bantuan Dokter Firman selaku dokter yang bertanggung jawab terhadap gadis itu.
Mark membantu Ameera duduk di kursi roda, lalu mendorongnya hingga mereka tiba di lobi rumah sakit. Gadis itu merasa risih karena sepanjang perjalanan semua mata menatap ke arahnya.
Mengapa mereka menatapku dengan tatapan penuh kebencian, salahku apa?
"Sus, tolong gantikan saya mendorong kursi roda ini!"
"Ayah, saya akan membayar semua tagihan rumah sakit kalian tunggu saja di sana."
"Nak Mark, biar Ayah saja yang membayar kebetulan kami masih punya tabungan."
"Ayah, Ameera adalah istri saya dan ini sudah menjadi tanggung jawab sebagai seorang suami. Lebih baik uangnya disimpan saja untuk kebutuhan lain," Mark tersenyum dan berlalu menuju meja administrasi.
"Mari Nona, saya bantu Anda masuk ke dalam mobil," ucap Suster Kirana setelah berada di depan pintu masuk rumah sakit.
"Tidak perlu, saya masih sanggup menggendong Ameera."
Tanpa basa basi, pria itu langsung menggendong istrinya dan tindakannya sukses menarik perhatian semua pengunjung rumah sakit bahkan beberapa tenaga medis seperti dokter, perawat dan staf rumah sakit menyaksikan bagaimana perhatian yang diberikan Mark terhadap Ameera.
"Mas, lebih baik turunkan aku sebelum ada wartawan yang memotret dan menyebarkan berita buruk tentang Keluarga Pieter. Nanti nama baik perusahaan dan Nyonya Stevanie tercoreng gara-gara kamu menggendong wanita lain di belakang istrimu!"
"Persetan dengan nama baik, untuk apa aku memikirkan omongan orang lain. Jelas-jelas yang aku gendong adalah istriku bukan selingkuhan apalagi pelakor!"
"Sudah, lebih baik kamu diam dan peluk aku jika tidak ingin terjatuh dan melukai si Alpukat."
Ameera patuh dan mengalungkan tangan di leher pria itu. Ia membenamkan wajah di dada bidang milik suaminya. Jarak begitu dekat membuat gadis itu bisa mendengar detak jantung Mark yang berdegup tak beraturan.
"Mas, aku ingin pulang ke rumah kontrakan."
"Kamu serius?"
"Iya, aku sedang ingin tinggal sendiri."
"Baiklah, aku akan menemanimu tinggal di sana."
Dengan hati-hati Mark membawa tubuh Ameera masuk ke dalam mobil, setelah semua orang memasang sabuk pengaman, supir itu segera melajukan kendaraan menuju rumah kontrakan.
__ADS_1
Sekitar tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di rumah kontrakan yang sengaja Mark sewa untuk Ameera.
Rumah itu masih terlihat bersih sama seperti saat Ameera meninggalkannya beberapa hari lalu karena ART yang diberi tugas membantu pekerjaan rumah tangga hampir setiap hari menyapu dan mengepel meskipun sang majikan tidak ada di rumah.
Sejak kandungan Ameera menginjak usia 16 minggu, ia sudah tinggal bersama kedua orang tuanya.
Awalnya gadis itu hanya ingin menginap 2 atau 3 hari setelah mengadakan acara tasyakuran kehamilan 4 bulanan namun siapa sangka ia malah merasa lebih nyaman tinggal bersama mereka dan baru kembali hari ini.
Setelah mobil terparkir sempurna di depan pelataran rumah kontrakan, Mark melepas sabuk pengaman dan langsung menggendong gadis itu.
"Selamat datang kembali Nona, Meera!" sapa seorang ART setelah melihat majikannya turun dari mobil.
"Terima kasih, Bi," Ameera membalas sapaan ART nya dengan nada lirih.
"Bi, tolong siapkan makan siang untuk istriku!" titah Mark sebelum meninggalkan ruang tamu.
"Baik Tuan."
Setelah Mark menghilang dari pandangan, ART tersebut berjalan ke arah dapur. Ia membuka lemari es dan melihat isinya yang hanya tersisa wortel, kembang kol dan satu bungkus daging bakso kemudian mengambil semua bahan makanan dan langsung mengolahnya.
Wanita paruh baya itu mulai memotong sayuran tersebut dengan irisan tipis, mencucinya dan barulah menumis bumbu kemudian memasukannya ke dalam wajan. Ia berencana membuatkan capcay daging bakso ala chef author senja_90. 😂
***
"Tidak usah, Mas. Ini koper anak saya tidak sopan jika merepotkan orang lain," Ayah Reza masih berusaha menurunkan koper milik Ameera.
"Tuan, Anda adalah mertua majikan saya dan ini sudah pekerjaan yang harus dilakukan."
Akhirnya Ayah Reza pasrah dan menyerahkan tugasnya pada supir tersebut.
Di dalam kamar, Ameera membelakangi Bunda Meta yang masih berdiri di ambang pintu.
"Meera, apakah kamu masih marah pada Bunda?"
"Ameera ingin tinggal di sini sendirian jadi tolong kalian pulang saja!" Ameera masih membelakangi sang bunda. Gadis itu belum bisa menerima kenyataan bahwa selama 17 tahun sudah dibohongi oleh sepasang suami istri yang ia anggap sebagai orang tuanya.
"Tapi Nak..."
"Bun, tolong mengerti Ameera!"
Bunda Meta sudah membuka mulut dan hendak mngucapkan sesuatu namun Ayah Reza merangkul tubuh istrinya.
__ADS_1
"Biarkan Ameera tenang dulu, dia butuh waktu untuk menerima kenyataan ini. Sebaiknya kita pulang, setelah emosinya reda baru datang lagi."
Bunda Meta patuh dan menuruti perintah suaminya.
"Nak Mark, Ayah dan Bunda pamit dulu. Tolong jaga Ameera sementara kami tidak di sini."
"Baik Ayah, supir akan mengantar kalian sampai depan rumah."
Mark melepas kepulangan mertua hingga mobil yang ditumpangi menghilang sampai di depan gang berhubung langit sudah mulai mendung pria itu buru-buru masuk ke dalam rumah dan menemani istrinya yang sedang terbaring.
Tubuh gadis itu bergetar, ia menahan isak tangis agar tak terdengar oleh suaminya.
"Meera, aku tidak tahu permasalahan apa yang sedang kamu sembunyikan namun jika itu berhubungan dengan Ayah dan Bunda, selesaikan dengan kepala dingin. Ingat, saat ini di dalam perutmu ada nyawa lain. Dia akan ikut bersedih jika Mamanya menangis."
"Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakannya. Saranku carilah orang yang dapat dipercaya untuk dijadikan teman curhat agar beban hidupmu berkurang."
"Kamu bisa minta Naomi datang kesini, kalian kan sudah bersahabat sejak lama dan aku yakin dia bisa dipercaya."
"Apakah kamu mau aku bantu menghubunginya?"
Ameera duduk di sandaran ranjang, sisa air mata masih menggenang di sudut mata almond miliknya.
"Siapa yang mengizinkamu menangis, lihat wajah cantik Mama Alpukat berubah jadi jelek. Kamu tidak malu jika anak kita melihat tampang Mamanya berubah menyeramkan seperti ini!" Mark mengusap sisa air mata menggunakan telapak tangannya.
"Lain kali, jika ada masalah langsung kamu ceritakan jangan dipendam sendiri. Mengerti!"
Ameera tersenyum seketika dan senyuman itu membuat Mark terpesona. Mata, hidung dan bibir gadis itu seperti ada magnet yang menarik tubuhnya untuk semakin mendekat. Perlahan namun pasti kini posisi mereka saling berhadapan, kedua mata saling beradu pandang dan....
Bersambung
.
.
.
Bonus visual Ameera sedang tersenyum.
Hayo, kelanjutan ceritanya apa tuh. 🤭
__ADS_1
Episode selanjutnya diperkirakan akan update sore atau paling lambat malam ya Kak. Jangan lupa likenya. ❤