BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
DI KOTA YANG SAMA


__ADS_3

Roda-roda waktu terus berputar, tak terasa sudah enam bulan kehadiran malaikat kecil berwujud bayi mungil nan menggemaskan itu memberikan kebahagiaan pada keluarga Kurniawan.


Tawa dan canda tak henti-hentinya menghiasi bibir mungil seorang wanita muda bernama Gladys. Dia dengan sangat telaten mengurusi buah hatinya hingga bayi itu tumbuh menjadi anak yang sehat tanpa kekurangan sedikit pun cinta dan kasih sayang dari sebuah keluarga.


Setelah tiga bulan pasca operasi, wanita itu mulai diberikan tanggung jawab untuk melanjutkan bisnis yang dibangun oleh Nyonya Besar Kurniawan. Terkadang, dia harus menggantikan sang Mama menemui klien untuk membahas rencana kerjasama dalam investasi berlian.


Setelah seharian sibuk bekerja, mengurusi usaha berlian milik Mamanya dan turut membantu Joe mengurusi perusahaan yang baru merintis, kini waktunya wanita muda itu menghabiskan waktu bersama Baby Andra.


"Kamu berhasil memberikan keuntungan untuk usaha Mama, Sayang. Terima kasih," ujar Mama Aura dengan bangga.


"Mama terlalu berlebihan, dalam kurun waktu tiga bulan, aku hanya bisa menarik satu orang untuk berinvestasi," wanita muda itu membawa tubuh mungil si kecil mendekati dada. Baby Andra merasa haus karena lelah bermain bersama sang Mama.


"Adikku yang cantik ini memang hanya menyumbang satu orang saja untuk berinvestasi tapi kamu banyak memberikan ide-ide brilian pada perusahaan yang baru saja aku bangun," ucap Joe dari dalam dapur. Pria itu sedang membuat mie rebus lengkap dengan telur dan sayuran hijau.


"Benar tidak, Ma?" tanya Joe. Kini pria itu tengah menaburkan bawang goreng di atas mangkuk mie hangat yang baru saja ditiriskan.


"Yeah, benar sekali."


"Sayang, besok tolong gantikan Mama menemui klien ya. Soalnya ada urusan yang harus dikerjakan di salon."


"Loh, memangnya Mama jadi memperluas usaha di bidang kecantikan?"


"Jadi dong, Mama sudah berinvestasi di salon milik Tante Adam. Oleh sebab itu, besok diminta datang untuk tanda tangan berkas kerjasama."


"Wah, hebat. Itu artinya Gladys bisa datang sesuka hati tanpa harus mengeluarkan uang dari dalam dompet."


"No... No... Harus tetap bayar, ini kan bisnis tidak ada kata gratis jika melibatkan bisnis," jari telunjuk wanita itu terangkat kemudian bergoyang ke kanan dan ke kiri.


"Ish, Mama pelit," wanita muda itu mengerucutkan bibir ke depan.


Mendengar keluhan putrinya, Mama Aura terkekeh pelan dan membalas, "cucu Nenek paling tampan se-dunia, cepatlah kamu besar dan lihat sikap Mamamu ini. Sudah dewasa tetapi bersikap kekanak-kanakan."


Gladys mendesah tak berdaya, "benar kata Kak Joe, jika berdebat dengan Mama maka kita akan kalah. Hufh, dasar emak-emak tak berdaster," batinnya.

__ADS_1


Gladys beranjak dari duduknya, menggendong tubuh mungil Baby Andra dalam dekapan.


"Ma, Kak Joe, aku ke kamar dulu menidurkan Andra. Sekalian rebahan, tubuhku letih ingin beristirahat."


"Ya, kamu istirahat sana. Kumpulkan energi untuk esok hari!"


Wanita itu pun langsung masuk ke dalam lift yang membawa tubuhnya naik ke lantai atas.


"Bagaimana Joe, sudah kamu atur?" tanya Mama Aura sambil mengawasi pintu lift yang sudah tertutup sempurna.


"Mama tenang saja, semua sudah disusun rapi. Tinggal menunggu sejoli itu bertemu. Semoga saja besok merupakan awal baik bagi mereka untuk menjalin kembali kisah asmara yang sempat terputus."


Joe berjalan menuju sofa yang terletak di ruang tamu, meletakan mangkuk berisi mie rebus lengkap dengan toping.


"Ya, semoga saja besok adalah titik balik bagi keduanya untuk kembali membina rumah tangga. Mama rasa sudah cukup kita menyiksa batin Mark dan kini saatnya menyatukan mereka."


"Ma, tetapi bagaimana jika Gladys masih belum bisa memaafkan Mark dan bersikap dingin pada pria brengsek itu?" pria itu kembali memasukan satu sendok mie rebus ke dalam mulut.


"Anak tak tahu diri itu harus berusaha meluluhkan hati putriku dong. Lain halnya jika dia sudah tidak mencintai Gladys tapi Mama yakin, Mark masih mengharapkan permata hati keluarga kita."


Wanita itu tersenyum sembari menyibak rambut hitam panjang miliknya. Dia sangat yakin rencana yang sudah disusun untuk menyatukan kembali Gladys dan Mark akan berhasil.


Meskipun awalnya ragu, tetapi setelah berdiskusi dengan Joe dan orang tua angkat Gladys, mereka sepakat menyatukan kembali dua insan manusia yang masih saling mencinta itu.


Kini, bukan lagi menyangkut kebahagiaan Gladys dan Mark melainkan ada satu makhluk kecil hadir di tengah-tengah mereka dan itu membuat Mama Aura dilema.


Sebagai seorang ibu, pasti tidak mau jika anaknya menderita tapi sungguh sangat egois bila dia menjauhkan anak dari Papa kandungnya. Itulah mengapa Mama Aura mencoba ikhlas dan membantu Mark untuk berkumpul dengan keluarga kecilnya.


***


"Tuan, ini adalah hotel tempat kita menginap selama beberapa hari kedepan," ucap Barra tatkala mobil yang ditumpangi berhenti tepat di depan sebuah hotel bintang lima, terletak di pusat kota Melbourne, Australia.


Bangunan tinggi di depan sana merupakan sebuah hotel bintang lima dengan konsep bangunan perpaduan antara gaya gothic vintage dan modern.

__ADS_1


Hotel itu memiliki sepuluh lantai, tiap sudut ruangan dihiasi lukisan sebagai pelengkap. Langit-langit tinggi dan di bagian puncak lantai terdapat sebuah restoran dengan konsep rooftop dimana para pengunjung dapat melihat indahnya suasana kota Melbourne di pagi atau malam hari.


"Selain itu, ada juga beberapa fasilitas yang dapat dinikmati, seperti kolam renang indoor, spa, jacuzzi, gym dan restoran. Saya yakin, Anda akan puas bermalam di sini."


"Oke, terima kasih karena sudah memilihkan penginapan yang sesuai dengan seleraku," balas Mark dengan tersenyum kaku.


"Mari, Tuan, saya antar kalian ke kamar," ucap salah satu petugas hotel dalam Bahasa Inggris.


Dua orang itu berjalan bersisiran di dalam bangunan hotel yang menjulang tinggi ke atas. Mark berdecak kagum ketika melihat dekorasinya yang sangat indah. Setiap sudut ruangan terdapat lukisan karya pelukis terkenal.


"Selera anak muda ini boleh juga, meskipun banyak omong tetapi dia bisa diandalkan dalam segala hal sama seperti Joe."


"Ah, mengapa tiba-tiba saja aku merindukan bocah tengil itu. Joe... Joe... Apakah kamu benar-benar membenciku hingga tak sudi lagi membalas pesan, atau mengangkat telepon dariku!" batinnya.


"Aku sadar, semua ini memang salahku. Kamu dan Mama Aura berhak membenciku karena pernah melukai hati seorang gadis baik seperti Gladys."


"Ini kamar Anda, Tuan. Silakan beristirahat," suara serak petugas hotel mengembalikan konsentrasi pria berdarah campuran itu.


"Baik, terima kasih."


"Selamat beristirahat, semoga mimpi indah," ucap Barra sambil tersenyum.


Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Barra diantar oleh petugas hotel menuju kamarnya.


Bersambung


.


.


.


Mohon maaf baru sempat update, soalnya semalam author ngantuk banget sehingga dini hari tidak ada satu episode pun yang bisa dibaca oleh Kakak sekalian.

__ADS_1


Episode berikutnya diperkirakan akan publish siang dan malam hari.


__ADS_2