
Di dalam kamar, Mark sedang sibuk mencari kunci mobil dan card apartemen yang sengaja ia beli khusus untuk kado ulang tahun pernikahan dengan sang istri.
Mobil dan apartemen mewah itu dibeli atas jerih payah Mark saat perusahaan masih berjaya.
Ia kerahkan semua tenaga untuk mencari keberadaan kunci tersebut. Mencari di lemari, meja nakas hingga brankas yang ditaruh di bawah ranjang.
"Akhirnya aku menemukanmu," ucap pria itu sambil mengangkat kedua kunci ke udara.
"Sudah saatnya kalian aku lepas agar hidupku semakin tentram."
Ceklek!
Terdengar suara pintu kamar dibuka, dibalik pintu sudah ada Stevanie menunggu dengan raut wajah pucat. Di bawah pantulan sinar lampu, Mark bisa melihat ada sebutir peluh sebesar biji jagung mengenang di kening wanita itu.
Dulu, ketika manisnya pernikahan masih dirasakan oleh pasangan suami istri itu, Mark tidak akan tinggal diam melihat peluh membanjiri kening, pelipis maupun leher jenjang wanita itu. Ia akan mengulurkan tangan, mengusapnya menggunakan tisu namun kini pria itu seolah buta membiarkan mantan istrinya dibanjiri keringat.
"Ini kunci mobil dan apartemen. Awalnya ingin kuberikan saat anniversary pernikahan tapi ternyata sebelum genap empat tahun pernikahan badai sudah menerpa dan menghancurkan kapal yang sedang kita dayung bersama," ucapnya sambil menyodorkan dua kunci itu pada Stevanie.
"Tapi Mark, aku masih mencintaimu."
"Tadi aku hanya terbawa perasaan saja. Kumohon tolong maafkan aku."
Tatapan wanita itu terfokus pada manik mata mantan suaminya, ia masih mencoba meluluhkan hati pria setengah bule itu dengan sisa tenaga tersisa. Meskipun peluang untuk berhasil hanya sepuluh persen saja, tapi ia akan terus berusaha hingga titik darah terakhir.
"Vanie, aku tahu semua yang kamu ucapkan tadi merupakan isi hatimu selama ini."
"Semua amarahmu itu ibaratkan sebuah bom waktu yang akan meledak suatu hari nanti. Pernikahan kita sudah tak harmonis lagi, oleh karena itu demi kebaikan bersama lebih baik berpisah."
Stevanie membeku seketika, seakan tak percaya bahwa kini pria tampan yang amat ia cintai telah menjatuhkan talak padanya.
"Kamu bisa tinggal di sini malam ini tapi kumohon setelah sinar mentari merangkak naik ke atas dan menyinari bumi, lekas tinggalkan mansion ini. Aku tak ingin menjadi bahan gunjingan orang banyak jika mereka tahu kita sudah berpisah namun masih tinggal satu atap."
"Mark..."
"Aku lelah Vanie, sebaiknya kamu beristirahat. Selamat malam."
Genggaman tangan wanita itu melemas dan air mata jatuh kembali membasahi pipi. Dadanya terasa sakit bagai ribuan sembilu menusuk tepat di jantung. Ia masih mematung, menatap tubuh Mark dengan tatapan nanar.
__ADS_1
"Kini semuanya telah usai, cintaku hilang dan tak kan kembali."
Ia menangis tersedu-sedu, menumpahkan isi hatinya lewat tangisan. Malam itu untuk pertama kalinya, Stevanie merasakan artinya sebuah kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
Dulu ia pernah merasakan kesedihan akibat kehilangan kedua orang tua dan kini wanita itu pun harus kehilangan separuh jiwanya. Mark bukan hanya suami, teman masa kecil namun pria itu juga merupakan cinta pertama dalam hidupnya.
Sedangkan di dalam kamar, Mark terduduk lemas di sofa. Tatapan mata pria itu kosong. Ia tak menyangkan pernikahan yang awalnya dikira akan berakhir bahagia kini malah berakhir tragis dan penuh air mata.
Wanita yang ia puja, tanpa sadar sudah membuka sendiri wujud aslinya.
"Apakah aku memiliki dosa terhadap kedua orang tuaku hingga Kau memberikan ujian ini?"
"Pertama, Kau sudah memisahkan aku dengan gadis kecil yang sangat kusayangi. Kedua, Kau mengambil kembali nyawa Mamaku. Ketiga, Kau tumbuhkan rasa cinta dihati ini untuk Stevanie. Menyatukan kami dalam ikatan pernikahan yang kukira akan bahagia tapi sekarang semua kebaikan wanita itu hanya topeng."
Pria itu meninju sandaran sofa berkali-kali, berteriak dan menjerit sekencang-kencangnya.
Argh!
"Ameera!" pekik pria itu.
"Mama, apakah aku memang tak pantas untuk hidup bahagia bersama orang yang kucintai?" tanyanya pada sosok wanita cantik di dalam frame kayu berwarna gold.
"Aku lelah, Ma. Andai Mama masih hidup, pasti saat ini Mark sudah tidur di pangkuanmu."
Pandangan mata pria itu memudar, cairan bening krital mengumpul di pelupuk matanya. Perlahan namun pasti cairan itu meluncur satu per satu.
"Mark sangat merindukan Mama."
Saat ia tengah larut dalam kesedihan, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari salah satu aplikasi yang sedang banyak dipergunakan muncul di layar kaca.
"Nomor siapa ini?" tanyanya sambil menaik turunkan alis.
Tangannya mulai menyentuh layar ponsel, membuka isi pesan dari nomor tak diketahui.
Deg!
Rasanya jantung pria itu berhenti berdetak, bumi ini tak lagi berputar. Tangan Mark gemetar, setelah melihat isi pesan tersebut.
__ADS_1
Di dalam foto itu, terlihat seorang wanita cantik sedang mengarahkan padangan ke arah Sang Surya yang mulai kembali ke peraduan. Ia berpose dengan tangan terangkat ke atas, menyentuh perutnya yang semakin membesar namun wajah si pemilik perut buncit itu tertutup sticker berbentuk hati.
"Ameera!" gumam pria itu.
Meskipun ia wajah wanita itu tertutupi sebuah sticker maupun di blur tapi instingnya sebagai seorang suami masih bisa mengenali siapa wanita hamil yang tengah berpose di pinggir pantai dengan background matahari tenggelam.
"Sayang, perutmu semakin membesar. Andaikan aku berada di dekatmu sudah dipastikan saat ini akan kuhujani perut buncitmu itu dengan ciuman."
"Alpukat, semoga kelak kamu menjadi pria sejati yang tak kan melakukan kesalahan sama seperti Papa, Nak."
"Aku sangat merindukan kalian."
Sebuah ide terlintas dalam benaknya, dengan tangan gemetar, sisa cairan bening kristal masih ada di sudut mata, ia mencoba menghubungi nomor tersebut.
Namun keterangan di layar ponsel menunjukan tulisan "memanggil". Tak mau menyerah, pria itu mengirimkan pesan tapi centang satu.
"Sial, rupanya orang ini ingin bermain-main denganku."
Mark kembali menelepon nomor asing itu via sambungan telepon biasa namun hanya suara operator yang terdengar.
"Brengsek!" makinya sambil melempar benda pipih itu ke atas ranjang.
"Bisa gila aku karena dirundung rasa rindu pada istri dan anakku."
Pria itu memijat pelipisnya yang terasa pening. Perasaan kecewa, rindu, amarah bercampur menjadi satu dan membentuk sebuah titik putih membuat kepalanya terasa mau pecah.
"Sebaiknya aku mandi, besok akan kuminta Barra untuk melacak keberadaan nomor ini."
Mark bangkit dari sofa dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia membasuh wajah dengan air mengalir, memandangi pantulan diri di cermin westafel.
"Usaiku baru akan menginjak 28 tahun tapi ujian hidupku terasa berat."
"Coba dulu Papa tak menyetuji permintaan Mami Stevanie, mungkin saat ini aku hidup bahagia bersama Ameera dan putraku."
Bersambung
.
__ADS_1
.
.