BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
MANTAN RIVAL CINTA


__ADS_3

Stevanie menghela napas kasar. Betapa jahatnya dia dulu. Dengan tidak berperasaan, dia tega mencari cara untuk membunuh bayi tak berdosa dalam kandungan Gladys. Nalurinya sebagai seorang Ibu lenyap tatkala rasa iri, dengki dan dendam menyelimuti hati, hingga membutakan mata hatinya sebagai seorang wanita.


Dulu, Stevanie menyalahkan Gladys karena dia hadir dalam rumah tangga yang dibangun susah payah oleh dirinya. Bukan perkara mudah mempertahankan sebuah rumah tangga di tengah-tengah segudang aktivitas yang dijalani, beruntung Mark tipe suami setia hingga tak ada satu orang wanita pun berani menggoyahkan pendirian dan cintanya terhadap istri tercinta.


Namun tiba-tiba saja seorang gadis berusia dua puluh satu tahun muncul dan mengancam posisi Stevanie sebagai ratu di hati Mark. Belum lagi gadis itu tengah mengandung, membuat Stevanie semakin membenci rivalnya.


"Aku memang jahat karena berusaha membunuh bayi tak berdosa dalam kandunganmu. Hanya karena cemburu, membuat mata, hatiku tertutup. Kini, Tuhan sudah merampas satu-satunya harapanku untuk menjadi seorang Ibu."


"Ya, selamanya aku tidak akan pernah menjadi wanita seutuhnya. Itu semua karena dosa yang pernah kuperbuat di masa lalu. Tuhan menegurku dengan cara yang sangat indah."


Stevanie tak kuasa membendung air mata yang sedari tadi ditahan. Perlahan, cairan kristal itu membasahi pipi wanita itu.


"Aku berdosa, Gladys. Sungguh, aku benar-benar menyesal sudah berbuat jahat padamu," ucapnya Stevanie.


"Jika teringat akan kenangan masa lalu, membuat dadaku sesak. Dosa-dosa yang kuperbuat seperti sekumpulan monster, bersiap menguburku hidup-hidup. Aku takut, Gladys. Takut kalau aku mati dalam keadaan masih berlumuran dosa."


Wanita itu kembali terisak, tubuhnya gemetar dan dadanya terasa sesak bagaikan ditimpa bongkahan batu yang sangat besar.


Entah mengapa, Gladys terenyuh mendengar semua perkataan yang terucap dari bibir Stevanie. Wanita muda itu memeluk erat Stevanie. Dia ikut larut dalam kesedihan yang dirasakan oleh mantan istri suaminya.


Stevanie menumpahkan kesedihannya lewat tangisan. Selama ini dia berusaha tegar di depan Mr. Lee karena tidak ingin menambah beban pikiran pria itu, tapi dalam pelukan Gladys, dia menumpahkan isi hatinya.


"Maafkan aku, Gladys. Aku menyesal. Sungguh!"


Gladys memberanikan diri mengusap punggung wanita itu. Dia bisa merasakan bahwa saat ini, Stevanie sudah berubah dan menyesali semua perbuatannya.


Stevanie berucap di sela isak tangisnya, "aku sudah mendapatkan karma. Semua yang kumiliki satu per satu diambil kembali oleh Tuhan. Seorang pria yang mencintaiku, kini menuduhku masih mencintai Mark padahal di dalam hati ini sudah tidak ada lagi nama dia."

__ADS_1


"Kupikir, kebahagiaan akan segera menghampiriku tapi nyatanya hanya angan-angan belaka."


"Aku bisa mengerti perasaanmu, Vanie. Memang berat ujian yang kamu hadapi, tapi percayalah semua akan ada hikmah dibalik semua ini. Soal pria itu, kalau boleh tahu, siapa gerangan yang sudah meluluhkan kerasnya hati seorang Stevanie Hendrawan?"


Stevanie melepaskan diri dari pelakukan Gladys. Dia menatap wajah wanita itu dengan tatapan sayu. "Pria itu adalah Lee," ucapnya disertai senyuman yang dipaksakan.


Gladys termangu sejenak. Dia mengernyitkan alis, kedua mata terbelalak. Wanita itu sedikit kaget mendengar nama rival bisnis suaminya disebut.


"Kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku bisa dekat dengan rival mantan suamiku itu, iya kan?" Stevanie menghapus air matanya menggunakan tisu, yang diberikan oleh Gladys.


"Aku dan Lee sudah berteman lama, jauh sebelum menikah dengan Mark. Diam-diam pria itu menaruh hati padaku. Kami mulai dekat lagi di saat rumah tanggaku mulai retak. Dia memintaku menggugat cerai Mark dan berjanji akan menikahiku."


Stevanie berhenti sejenak, mengatur kembali napasnya. Setiap kali mengucapkan nama Lee, membuat wanita itu teringat kembali pertengkarannya tadi pagi.


"Pasca putusan sidang perceraian, Lee memintaku tinggal bersamanya di apartemen. Hari demi hari kami lalui bersama hingga suatu hari dia mengutarakan perasaannya dan kami memutuskan untuk menjalin kasih." Tanpa sadar, sudut bibir wanita itu terangkat. Sebuah senyuman simpul terlukis di sana.


"Aku saja sudah melupakan nama Mark, bagaimana mungkin berniat berjumpa lagi dengan pria itu. Pria plin plan seperti dia tidak pantas aku rindukan!" Stevanie mengerucutkan bibirnya ke depan.


Gladys terkekeh, mendengar suaminya dicap sebagai pria plin plan.


"Kamu benar, Vanie, mantan suamimu itu memang plin plan. Asal kamu tahu, pertama kali bertemu dia lagi, aku pun mengatakan hal sama sepertimu."


"Sungguh?" tanya Stevanie antusias. Raut wajah wanita itu berubah. Perlahan-lahan awan kesedihan menghilang, tergantikan oleh pelangi mana kala rona kebahagiaan terpancar di wajah cantik Stevanie.


"Hu'um. Ah, sayang sekali. Seharusnya dulu aku merekamnya kemudian menunjukan padamu, akan menjadi bahan obrolan mengasyikan bagi kita untuk menghabiskan waktu bersama," ujar Gladys.


Sedetik kemudian, terdengar suara tawa dari kursi taman tempat Gladys dan Stevanie duduk. Mereka berdua bercengkrama, membicarakan segala hal yang berkaitan dengan Mark, mengenang masa lalu dan berdiskusi seputar dunia wanita.

__ADS_1


Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Matahari mulai berjalan perlahan menuju peraduannya. Gladys dan Stevanie merasa puas sudah mencurahkan keluh kesah, isi hati dan meluruskan permasalahan yang terjadi di masa lalu. Mereka pun memutuskan untuk menjalin kembali tali silaturahmi sebagai seorang teman, yang sama-sama pernah singgah di hati Mark.


"Gladys, terima kasih kamu sudah menghiburku hari ini. Sungguh, aku tidak menyangka kamu bisa menjadi pendengar setia. Next time, bolehkah kita bertemu lagi? Aku ingin berjumpa dengan anakmu ini. Dia sungguh menggemaskan." Stevanie mencium pipi dan mengusap rambut Alpukat.


"Tentu saja boleh. Kamu bisa menghubungiku. Kapan pun dan di mana pun, aku akan datang bersama Alpukat dan bodyguard itu," ujap Gladys sambil tertawa.


Rambut berambut itu mengangguk. "Ya, kamu harus terbiasa dengan situasi sekarang ini. Mark dan Tuan Ibrahim akan menjaga kalian dengan baik."


"Oh ya, tolong sampaikan salam untuk Mark dan Tuan Ibrahim."


"Ehm, aku berniat meminta maaf pada mereka. Jika suatu hari nanti meminta bantuanmu, apakah kamu bersedia mempertemukan kami?" tanya Stevanie sedikit ragu.


Gladys menatap Stevanie dengan tatapan tajam, membuat wanita itu menundukan wajah.


"Kalau kamu keberatan, aku akan mencari cara sendiri menemui mereka," Stevanie memelintir ujung blouse miliknya.


Gladys menyentuh pundak wanita di hadapannya lalu berkata, "tentu saja aku akan membantumu," ujarnya seraya tersenyum.


Mata Stevanie berkaca-kaca, tak menyangka bahwa mantan rival cintanya mau memaafkan semua kesalahannya di masa lalu, bahkan kini mereka memutuskan untuk menjadi teman.


"Terima kasih Gladys. Kamu memang layak dipertahankan oleh Mark," ujar Stevanie sebelum meninggalkan taman.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2