
"Ameera...."
"Ada apa dengan Ameera?"
"Saat ini ia sedang hamil,"
"Oh itu, Mama sudah tahu. Kamu bikin panik saja!" wanita itu merebahkan tubuhnya ke belakang.
"Apa Mama juga tahu bahwa Ameera istri siri Tuan Mark?"
"Hah?" kedua mata Mama Aura terbelalak dan mulutnya terbuka lebar.
"Coba kamu jelaskan secara terperinci pada Mama, apa yang sebenarnya terjadi?" kini Mama Aura kembali duduk tegak, memasang indera pendengarannya dengan tajam.
"Saat Ameera pertama kali menjalankan tugas sebagai mahasiswa magang, ia diminta Tuan Mark untuk menemaninya bertemu klien. Saat itu Joe dan Winda, sekretaris perusahaan menangani proyek lain."
"Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja Joe diminta menjadi saksi pernikahan antara Ameera dan Tuan Mark. Belakangan baru tahu, bahwa gadis itu hamil!" ucap Joe panjang lebar, ia masih fokus menatap jalanan di depan sana.
Mama Aura panas, ia mengepalkan tangan hingga memperlihatkan buku tangan memutih dan meninggalkan luka kecil di telapak tangan.
"Jadi, Ameera..." lidah Mama Aura rasanya kelu, tubuhnya gemetar dan ia merasakan seolah-olah bumi tak lagi berputar.
"Lantas bagaimana perlakuan Stevanie dan si tua bangka itu?"
"Mama sudah bisa menebaknya sendiri tanpa Joe beritahu."
"Kasihan sekali anak itu, dia pasti menderita selama menikah dengan Mark," mata Mama Aura berkaca-kaca, hatinya terasa sakit membayangkan Ameera mendapatkan perlakuan tak adil dari mertua dan istri pertama suaminya.
"Joe, pokoknya Mama tidak mau tahu kamu harus selidiki asal usul Ameera. Kalau perlu, dua hari sudah ada hasilnya!"
"Baik Ma, akan Joe usahakan."
Jika Ameera benar Gladys tak kan kubiarkan mereka terus menyakitinya. Kalau perlu, aku akan membawa dia pergi jauh dari keluarga Pieter selamanya agar Ameera tidak menderita lagi.
Aku masih sanggup kok membiayai Ameera dan cucuku toh harta peninggalan Mas Taufiq tak kan habis sampai tujuh turunan.
__ADS_1
***
Sementara itu, Ameera baru saja masuk ke dalam rumah. Ia melihat sang bunda sedang menyetrika pakaian. Perlahan-lahan berjalan mendekati Bunda Meta dan mengucapkan salam, "Assalamu a'laikum," ucapnya.
"Wa'alaikum salam. Kamu kebiasaan sudah di dalam rumah baru mengucapkan salam!" tegur wanita itu.
"Ih Bunda, tadi Meera sudah mengucapkan salam hingga dua kali namun tak ada balasan akhirnya masuk ke dalam ternyata pintu tidak dikunci. Ya sudah Meera masuk saja dan melihat Bunda sedang menyetrika pakaian."
"Oh iya, soalnya Bunda terlalu fokus jadi tidak mendengar salammu," ucap Bunda Meta. Tangannya masih fokus melipat pakaian yang sudah rapi dan menatanya ke sebuah meja.
"Ayah belum pulang?" Ameera duduk di sofa dan mengusap perutnya, akhir-akhir ini ia sering merasakan kram pada kandungannya.
"Belum, mungkin sebentar lagi. Perutmu masih sering kram, Nak?" kini Bunda Meta menghentikan sejenak kegiatannya. Ia mematikan alat setrika pakaian dan berjalan menghampiri Ameera.
"Masih Bun, malah lebih sering dari biasanya. Meera takut terjadi apa-apa dengan si Alpukat!" nampak raut cemas pada wajah gadis itu. Sesekali ia meringis kesakitan.
"Bunda telpon dulu Dokter Diana, besok kita check up," ucapnya sebelum beranjak dari sofa dan mengambil sebuah benda pipih di dalam kamar.
"Halo Di, besok kamu ada di rumah sakit? Aku mau bawa Ameera check up, akhir-akhir ini kandungannya sering kram," ucap wanita itu setelah terdengar suara dari seberang sana.
"Baik, besok aku dan Ameera akan ke sana. Terima kasih Di dan maaf sudah mengganggu."
"Sama-sama, aku tunggu besok di rumah sakit."
Bunda Meta mengakhiri panggilan dan kembali duduk di sofa. Ia melihat sang putri tertidur lelap dengan tangan masih menyentuh perutnya.
"Semoga kandunganmu baik-baik saja ya Nak, walaupun anak itu hadir akibat sebuah kesalahan namun Ayah dan Bunda ikhlas menerimanya sebagai salah satu bagian dari keluarga kita," Bunda Meta mengusap rambut Ameera dan mencium kening gadis itu dengan penuh cinta.
Keesokan hari, Ameera terbangun di atas ranjang kesayangan. Ia mengerjapkan mata dan memperhatikan sekeliling.
"Perasaan semalam aku tertidur di sofa tapi kenapa malah ada di kamar? Mungkin kah aku tidur sambil berjalan?"
Ameera melihat sebuah jam weker di atas nakas dan bangkit dari ranjang. Aroma lezat tercium oleh indera penciumannya. Aroma itu berasal dari dapur, sedikit tergesa-gesa ia membuka pintu kamar dan berjalan ke dapur.
Gadis itu melihat Bunda Meta sedang sibuk dengan peralatan masak, Ameera duduk di kursi makan dan memperhatikan bundanya mengolah makanan.
__ADS_1
Jemari Bunda Meta begitu lihai saat memotong bawang dan mengiris sayuran. Ia menyadari sedari tadi Ameera sedang memperhatikannya tanpa berkedip.
"Kamu sudah bangun, bagaimana semalam, apakah tidurmu nyenyak?" tanya Bunda Meta, ia tersenyum dan membawa dua uah piring berisi lauk pauk dan sayuran dan meletakanya di atas meja makan.
"Nyenyak sekali Bun, sampai Meera bermimpi bertemu Alpukat tapi wajahnya dipenuhi sinar," ia mengembuskan napas berat.
"Di dalam mimpi, Ameera dan Alpukat bermain bersama di sebuah padang rumput hijau yang sangat luas. Kami berlari ke sana ke sini dan tertawa bersama."
"Saat sedang asyik bermain tiba-tiba saja sebuah awan tebal muncul dan suara gemuruh petir mengarah tepat di depan kami. Ketika Ameera menoleh ke samping, Alpukat sudah tidak ada di tempat. Dia menghilang bersamaan awan hitam yang berubah menjadi langit cerah."
Raut wajah Ameera berubah dalam hitungan detik, telapak tangan dan pelipisnya mulai berkeringat jika mengingat betapa mengerikan mimpinya semalam. Mimpi indah yang menyelimuti gadis itu tiba-tiba saja berubah menjadi menyeramkan.
"Meera, kamu baik-baik saja, Nak?" Bunda Meeta meletakan piring dan gelas sembarang karena melihat wajah putrinya yang pucat pasi bagaikan mayat.
"Bun, Meera takut terjadi hal buruk pada bayi ini!" ucap Ameera dengan bibir gemetar.
"Nak, itu hanya sebuah mimpi dan kata orang merupakan kembang tidur jadi kamu tidak perlu memikirkannya," bujuk Bunda Meta.
"Akan tetapi, Meera merasakan mimpi itu begitu nyata bahkan sampai saat ini suara petir itu masih terngiang-ngiang di telinga," kali ini bukan hanya bibir Ameera saja yang bergetar namun tubuhnya pun ikut bergoyang seirama gerakan bibir.
"Sayang, percayalah pada Bunda semua akan baik-baik saja. Lebih baik kamu cuci muka dulu setelah itu sarapan, kita aka ke rumah sakit secepatnya." ucap Bunda Meta sebelum meninggalkan Ameera. Wanita itu keluar rumah memanggil Ayah Reza yang sedang membersihkan akuarium di teras rumah.
Semoga bayiku memang dalam keadaan baik-baik saja. Hanya dia yang kumiliki saat ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika hal buruk menimpanya.
Mungkin saja aku akan ikut menyusulnya meninggalkan dunia ini selamanya.
.
.
.
bersambung....
Hai, update lagi nich. Jangan sampai lupa kasih like ya Kak. Terima kasih. ❤
__ADS_1