
"Tidak!" Ameera menjerit histeris, menangis tatkala melihat tubuh sang papa terlempar saat bunyi ledakan keras mengguncang bangunan bioskop.
Napas gadis itu tersengal-sengal, peluh memenuhi sekujur tubuh, beberapa butir mengalir melewati pelipisnya.
Matanya mulai memindai lingkungan sekitar, dadanya masih terasa sesak. Lagi-lagi ia bermimpi buruk, tragedi itu kembali menghantuinya. Debaran jantungnya masih berpacu cepat, serasa mau copot dari tempatnya.
Ameera baru sadar bahwa keadaan sekitar gelap gulita, bahkan pencahayaan di luar pun tak ada.
"Aneh sekali, kenapa semuanya gelap! Rumah sakit besar seperti ini mana mungkin tidak memiliki generator set," gumam gadis itu.
"Ayah..."
Tidak ada respon sama sekali, hanya keheningan yang ada menemani gadis itu.
"Bukankah tadi sebelum aku tidur, Ayah masih berada di sini. Lantas sekarang pergi kemana?"
Ia berusaha bangun dan menggapai benda yang bisa terjangkau, meraba tembok ruangan mencari saklar lampu. Beberapa kali mencoba namun kamar tetap gelap.
"Ayah, apakah terjadi pemadaman listrik?" tanya gadis itu saat mendengar suara pintu terbuka.
"Ayah mengapa diam saja!"
Ia membalikan tubuh, lalu mundur beberapa langkah kebelakang ketika melihat sosok pria misterius berdiri di hadapannya. Pria itu menyeringai sinis ke arah Ameera.
Alih-alih menjawab pertanyaan Ameera, ia malah mengacungkan sebuah pisau ke arah gadis itu bersiap menghunus tepat di perutnya.
Tanpa pikir panjang, Ameera segera menghindar, ia berlari mengikuti instingnya.
"Tolong... siapa saja tolong aku..." teriak Ameera saat pria semakin mendekat.
"Ayah!"
"Bunda!"
"Mama!"
"Kak Joe!"
"Kak Mark!"
"Siapa saja, tolong Gladys!"
Hening, tak ada satu orang pun menolongnya.
Gadis itu berteriak sekuat tenaga meminta pertolongan namun suaranya seakan menghilang di udara.
Sial, pasti ada seseorang yang ingin membunuhku. Aku yakin, pria ini orang suruhan Nyonya Stevanie.
"Kamu... mau apa dariku?" Ameera mencoba mengalihkan perhatian pria itu, tangannya meraba sesuatu yang ada di dekatnya.
"Halo Nona cantik, sebaiknya kamu menyerah saja karena dirimu tak kan mampu melawanku dengan kondisi tengah berbadan dua!"
"Kamu siapa dan kenapa ingin membunuhku!" gadis itu menaikan suaranya mencoba menggertak pria di depannya.
Pria itu menusukan pisau tersebut ke sebuah apel di genggamannya kemudian menarik dan menusuknya kembali.
"Kamu bisa memanggilku Malaikat Maut karena sebentar lagi aku akan membunuhmu dan janin itu!"
Sret!
Satu tusukan kuat dan mendalam menancap di ranjang rumah sakit, Ameera berhasil menghindar saat pria itu mengacungkan senjata ke arahnya.
"Dasar ja*ang! Sudah kukatakan, sia-sia kamu melawan!"
Pria itu kembali mengacungkan pisau ke arah Ameera namun gadis itu berhasil menghindar.
__ADS_1
Tak ingin membahayakan nyawanya, ia meraih gelas yang ada di atas meja, memukul kepala pria itu dengan keras hingga terdengar suara erangan memilukan.
"Argh!" ia mengusap darah yang mengucur dari kepalanya.
"Gadis brengsek, beraninya kamu melawanku. Akan kukirim kau ke neraka secepatnya!"
Pria itu berjalan selangkah demi selangkah ke arah Ameera.
Gadis itu bersembunyi di balik tirai yang memisahkan antara ranjang dan ruang tamu.
Mata gadis itu terpejam, napasnya tersengal-sengal dan detak jantungnya berdenyut lebih kencang, tubuhnya bergetar dan keringat dingin mulai berjatuhan.
Tuhan, apakah memang hidupnya akan berakhir hari ini? Tidak bisakah Kau membiarkan aku hidup bahagia tanpa ada gangguan dari orang jahat yang berniat membunuh janin ini!
Aku memang berdosa karena sudah mengandung anak di luar nikah tapi dia juga adalah anugerah Mu, jadi kumohon tolong selamatkan kami.
Grab!
"Mau lari kemana lagi kamu, perempuan sialan!"
"Seharusnya sudah dari tadi aku membunuhmu agar kau bisa secepatnya ke neraka!"
"Mau kamu apa? Lepaskan aku!" Ameera mencoba berontak.
Kedua tangan pria itu menekan tenggorokan Ameera kuat-kuat.
Ameera meronta, mencoba melepaskan cekalan di lehernya namun sia-sia. Tangan pria itu begitu kuat, tenaganya tak cukup kuat melakukan perlawanan.
***
"Nyonya Meta, mengapa wajah Anda pucat? Apakah Anda sakit?" tanya Mama Aura ketika mereka berada dalam mobil menuju kediaman Keluarga Rinaldi.
"Nyonya, bisakah kita kembali ke rumah sakit? Saya takut terjadi hal buruk pada Ameera!"
Terlihat wajah wanita itu pucat, dipenuhi butiran peluh.
"Saya sepertinya memiliki firasat buruk tentang putri kita," ujarnya seraya memasang tampang serius.
"Pak supir, kita kembali ke rumah sakit dan tolong naikkan laju kendaraan!" titah Mama Aura pada supir yang ditugaskan Joe untuk mengantar dan menjemput sang mama.
"Baik, Nyonya!"
Sementara itu, Ameera masih berusaha meloloskan diri dari cengkaraman pria misterius itu. Ia mencoba memukul lengannya sekuat tenaga, namun tenaganya semakin terkuras.
Gadis itu mencoba merentangkan tangan, meraba sesuatu apa saja yang bisa digunakan sebagai alat pelindung diri. Ia mulai kehabisan napas, wajahnya sudah semakin memerah.
"Sial, tidak ada benda apapun di sini!" makinya dalam hati.
"Argh!" pria itu menjerit histeris tatkala Ameera menendang barang pusaka yang kelak menjadi investasinya di masa depan.
"Ja*ang! Sialan!" ia meringis kesakitan menyentuh bagian inti tubuhnya.
Ameera menggunakan kesempatan itu untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Tendangan itu pantas untuk pria jahat sepertimu!" ucap Ameera disela-sela aktivitasnya menghirup oksigen. Gadis itu sudah tak memiliki tenaga untuk melarikan diri.
Ucapan Ameera semakin membuat pria itu emosi, ia sudah mengacungkan pisau dan bersiap membunuh dalam satu kali tusukan.
Ceklek
Pintu ruang rawat inap Ameera terbuka lebar.
Dalam kegelapan, gadis itu melihat sosok pria jangkung berseragam dokter berjalan menghampiri pria misterius itu.
"Penja..." belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, pria misterius itu sudah berlari keluar kamar dan menghilang dalam kegelapan.
__ADS_1
"Dokter, apa yang terjadi?" ucap security rumah sakit. Tangannya mengarahkan cahaya senter ke sudut kamar.
"Ameera!" pekiknya.
"Pak, tolong bantu saya mengangkatnya ke ranjang!" titahnya pada security itu.
Tak berselang lama lampu kamar menyala, keadaan di luar kini kembali terang seperti sedia kala.
"Astaga, Ameera!" Bunda Meta dan Mama Aura berlari menghampiri ranjang gadis itu.
Ameera terbaring lemah dengan kondisi tak sadarkan diri.
"Dokter Firman, apa yang sudah terjadi pada putriku! Mengapa keadaan kamar berantakan!" Mama Aura berdiri, menatap pria itu dengan tatapan mengintimidasi. Matanya melotot seakan bola mata indah itu mau copot dan menggelinding ke arahnya.
"Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi di sini. Saat aku hendak melakukan pemeriksaan, keadaan lorong menuju kamar presidential suite gelap gulita."
"Semua lorong rumah sakit, kamar rawat inap di lantai bawah dalam keadaan terang kecuali lorong kamar menuju ruang rawat inap ini gelap. Ketika aku membuka pintu, seorang pria misterius mengenakan pakaian serba hitam dan penutup kepala terkulai di lantai sembari memegang pisau tajam."
"Dia langsung kabur, setelah kupergoki."
Mama Aura mendegus kesal, tangannya mengepal sempurna.
"Orang itu pasti suruhan Stevanie! Aku sangat yakin, wanita itu berniat membunuh anak dan cucuku!"
"Ia tidak akan berhenti sampai nyawa putriku lenyap ditangannya!"
"Seharusnya tadi tak kubiarkan Ameera sendirian di sini. Betapa bodohnya aku!" Bunda Meta merutuki kebodohannya karena membiarkan gadis itu tinggal sendirian.
"Sudahlah Bun, ini bukan kesalahanmu. Aku juga salah karena sudah terkena jebakan mereka." Ayah Reza mengusap punggung istrinya.
"Ayah, bagaimana bisa kamu membiarkan putri kita tinggal sendirian!" tanya Bunda Meta dengan emosi meluap-luap.
"Tadi kupikir, orang itu kurir yang mengirimkan paket. Lama aku menunggunya di parkiran, setengah jam namun ia belum juga muncul."
"Bodohnya aku masih belum menyadari bahwa sudah dijebak oleh mereka!"
"Ayah, kamu sudah mencelakai putri kita!" Bunda Meta menangis tersedu.
"Nyonya Meta sudahlah, jangan menangis lagi. Jika Ameera sadar, ia pasti sedih," Mama Aura mencoba menenangkan wanita itu.
"Selagi kalian berada di sini, saya ingin mengemukakan pendapat. Bagaimana jika Ameera dibawa ke luar negeri?"
"Saya khawatir dengan keselamatanya jika ia terus berada di Indonesia."
"Ini bukan pertama kalinya Stevanie mencoba mencelakai Ameera, kita jangan ambil resiko dengan membiarkan wanita jahat itu leluasa bergentayangan."
"Mungkin terkesan egois tapi ini demi keselamatan Ameera dan janinnya," tutur Mama Aura panjang lebar.
Bunda Meta dan Ayah Reza nampak berpikir sejenak, mengambil keputusan tepat untuk gadis itu bukanlah gampang karena ini menyangkut kesiapan mental.
Jika Ameera pergi keluar negeri, itu artinya mereka akan terpisah jarak dan waktu namun tetap membiarkan gadis itu tinggal di Indonesia resikonya sangat besar bahkan bisa membahayakan nyawa.
Ayah Reza menyentuh tangan istrinya, ia seakan-akan mengerti perasaan wanita itu. Mereka beradu pandang dan sedetik kemudian wanita itu mengangguk.
"Kami setuju jika Anda membawa Ameera pergi dari sini. Demi kebaikannya."
Mama Aura tersenyum lembut mendengar keputusan dari orang tua angkat putrinya.
"Baik, aku akan menelpon Joe memintanya menyiapkan pesawat jet. Malam ini kita langsung membawa Ameera ke Australia. Nyonya dan Tuan bisa ikut denganku. Bagaimana?"
"Tentu, dengan senang hati."
Bersambung
.
__ADS_1
.
.