BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
TAMPARAN KERAS UNTUK STEVANIE


__ADS_3

"Kemana Mr. Lee, mengapa sudah beberapa hari ini dia tidak mengangkat teleponku bahkan SMS pun tak dibalas!"


"Cih, dasar lelaki. Dia berjanji akan selalu ada disaat aku membutuhkan namun kini malah ingkar."


Wanita itu merebahkan tubuhnya secara kasar di ranjang. Suasana hatinya sering berubah-ubah semenjak fakta kebenaran tentang Ameera terungkap.


"Ehm, sebaiknya aku ke mall saja membeli beberapa pakaian baru."


Kemudian ia bangkit menuju walk in closet, dimana fungsinya sebagai ruangan khusus untuk menyimpan pakaian serta aksesoris seperti tas, sepatu dan lainnya dalam satu tempat khusus untuk memudahkan si empunya memilih dalam satu waktu bersamaan.


"Pak, antarkan saya ke Mall Anggrek Mas," pinta Stevanie pada supir yang bertugas mengantar dan jemputnya.


"Apakah Nyonya sudah meminta izin pada Tuan Mark?"


Pria paruh baya itu nampak ragu untuk mengantar majikannya sebab Mark memberikan perintah padanya untuk tidak mengantar istrinya pergi kemanapun.


Mark memberikan hukuman pada Stevanie untuk tak berkeliaran keluar rumah agar para wartawan gosip tidak memburunya, menanyakan kejelasan isu yang sedang berhembus di luaran sana.


"Aku hanya ke mall saja mengapa harus meminta izin Mark."


"Maaf Nyonya, tapi Tuan Mark sudah memberikan perintahnya pada kami. Saya takut akan berakibat fatal jika melanggar," tolak pria itu sopan.


"Kamu itu hanya supir di mansion ini, mengapa bertingkah seperti seorang majikan!" ucapnya sambil bertolak pinggang.


"Tapi Nyonya..."


"Sudah cepat antarkan saja aku ke mall sekarang. Dia tidak akan memarahimu bila itu terjadi, aku akan pasang badan membelamu."


"Baik Nyonya, saya akan mengantar Anda."


Mau tak mau, pria paruh baya itu terpaksa mengikuti keinginan Stevanie.


Stevanie langsung berdiri di depan pintu masuk mansion, ia sudah berpakaian rapi lengkap dengan sebuah tas yang tersemat diantara lengan dan ketiak.


Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan mansion bergaya modern yang didominasi warna putih. Supir itu melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang.


Saat sedang menikmati pemandangan sekitar, kilauan cahaya kilat terlihat di awan hitam yang kian menebal.


"Aneh, mengapa perasaanku tidak tenang. Semoga tidak terjadi apa-apa," batin Pak Supir.


Tak berselang lama, kini mobil itu sudah sampai di sebuah mall terbesar di Jakarta lebih tepatnya di daerah Jakarta Utara.


"Kamu ikut masuk agar ada orang yang bisa membawakan belanjaanku nanti."


"Baik, Nyonya."


Kemudian Stevanie masuk ke dalam mall, didampingi seorang supir pribadi. Ia berjalan mengelilingi mall itu sambil memilih barang yang ingin dibeli.


"Huah, semua barang-barang ini begitu menggoda," ujar wanita itu. Matanya tampak berbinar bahagia melihat tas, sepatu, pakaian dan produk kecantikan dengan merk branded berjejer di tempatnya.


"Aku harus membeli semua produk ini."

__ADS_1


Ia sibuk memilah dan memilih barang-barang. Puas membeli semua yang diinginkan, Stevanie berjalan menyusuri beberapa toko di mall tersebut. Wanita itu mengalihkan pandangan ke sekitar dan bola matanya tak sengaja menangkap sosok pria yang sedang makan bersama dengan seorang wanita berpenampilan cantik dan menarik di sebuah restoran yang berjarak hanya 10 meter dari tempatnya berdiri.


Seperti orang yang kerasukan, Stevanie berjalan menghampiri dua insan manusia yang tengah sibuk menikmati hidangan. Disisi lain, seorang pelayan pria berjalan bersisiran dengannya. Tangan wanita itu terulur kedepan dan mengambil segelas jus yang diperuntukan khusus untuk pengunjung restoran.


Byur!


Segelas jus apel membasahi pakaian wanita itu, sontak membuat Mark terkejut dan matanya terbelalak sempurna.


"Dasar wanita murahan, berani-beraninya kamu berselingkuh dengan pria beristri. Kau pikir bisa dengan mudah merebut hati Mark, jangan mimpi!" maki Stevanie.


"Kamu siapa dan mengapa menyiramku!" tanya wanita cantik itu yang tak lain bernama Lidya. Tangannya mengusap bagian depan pakaian yang terkena siram air jus.


Stevanie menatap Lidya dari atas hingga ujung kaki, wanita itu memandang dengan tatapan tidak suka.


"Aku adalah istri dari pria yang tengah kau goda ini!"


"Kamu sudah tidak memiliki harga diri sebagai wanita hingga tega menggoda suami orang."


"Dasar tidak tahu malu. Seharusnya kamu bercermin dulu sebelum berniat merebut Mark dari sisiku."


Mark menyerahkan wadah tisu pada Lidya, ia merasa bersalah atas perbuatan yang dilakukan istrinya.


"Vanie hentikan, jangan buat dirimu malu!"


"Kenapa malu? Seharusnya kalian yang malu karena sudah berselingkuh secara terang-terangan!" teriak Stevanie, sehingga membuat semua pengunjung menatap ke arah mereka.


"Mark, apakah 1 ja*ang tidak cukup untuk memuaskan hasratmu sebagai seorang pria dan kini kamu mencari ja*ang lain untuk dijadikan istri ketiga!" tanya Stevanie sambil melipat tangan ke dada.


"Nona Lidya, tunggu!"


Mark berlari menyusul wanita itu.


"Nona, saya minta maaf atas kejadian tadi."


"Tuan Mark tidak usah cemas, tanpa Anda ucapkan sudah saya maafkan."


Mark bisa bernapas lega sebab wanita itu mau berlapang dada memaafkan tindakan bodoh yang dilakukan oleh istrinya.


"Akan tetapi, rencana saya untuk berinvestasi di PT Indah Sentosa tak kan terlaksana sebab jika kita bekerjasama, maka setiap hari selepas rapat pakaian ini akan basah akibat perbuatan wanita itu!" ujar Lidya, matanya mengarahkan ke posisi Stevanie.


Tanpa menunggu Mark membuka mulut, Lidya berjalan keluar restoran. Wanita itu sudah tak tahan lagi dengan tatapan aneh yang ditujukan padanya.


Semua orang memandangnya sinis seolah-olah ia adalah wanita penggoda sama persis seperti yang dituduhkan Stevanie.


Padahal kenyataannya Lidya dan Mark datang ke restoran hanya untuk membahas rencana investasi yang akan dilakukan oleh wanita itu tapi siapa sangka sebuah insiden terjadi membuat ia mengurungkan niatnya.


"Ternyata kamu peduli pada wanita itu!" sindir Stevanie dengan sinis.


"Seleramu rendahan sekali, Mark. Untuk kedua kalinya terbuai oleh pesona seorang ja*lang!"


Plak!

__ADS_1


Stevanie terlonjak kaget, mendapatkan sebuah tamparan tepat di pipi sebelah kanan. Ini merupakan kedua kalinya ia mendapatkan tamparan keras dari sang suami.


"Mark!" bentak Stevanie seraya memegangi pipinya yang terasa panas.


Mark menarik tangan Stevanie keluar restoran, mencari tempat sepi untuk meluapkan kemarahannya.


"Kamu sadar tidak dengan tindakanmu barusan!" tanya Mark penuh emosi.


"Sadar, memangnya kenapa? Kamu malu karena sudah tertangkap basah berselingkuh di depan umum," jawab wanita itu tak kalah emosi dari Mark.


"Hentikan Vanie, kamu membuatku semakin muak!"


"Kamu gila! Kamu sinting!" maki Mark tanpa menghiraukan istrinya.


"Aku tidak gila tapi kamu yang gila karena bermain lagi dengan ja*ang lain!"


"Vanie!"


Pria itu sudah bersiap mendaratkan sebuah tamparan kedua untuk istrinya namun ia urungkan.


"Lihatlah, bagaimana kamu membela wanita itu," ucap Stevanie, tangannya masih memegangi pipi. Ia menatap sendu ke arah Mark.


Lengan pria itu terkepal, emosinya sudah diambang batas namun sesaat kemudian bayangan mendiang Mami Stevanie terlintas di benak Mark. Ia menghela napas berkali-kali, mengendalikan emosinya yang sudah mengebu-gebu.


"Wajar jika aku membelanya karena cemburumu tidak beralasan. Kami hanya datang makan siang untuk membahas rencana kerjasama."


"Kamu tahu, akibat berita hoax yang beredar di internet membuat Joe menarik kembali investasinya dan ia juga mengundurkan diri dari perusahaan."


"Saat ini perusahaan kita sedang berada diambang kolaps, membutuhkan suntikan dana secepatnya dan Nona Lidya adalah satu-satunya harapan yang dapat membantu dari keterpurukan namun kamu malah membuatnya marah."


"Dan kini bersiaplah menerima kenyataan bahwa sebentar lagi perusahaan kita akan bangkrut."


"Apa katamu! Jadi, tadi kalian t-tidak..."


"Ya, aku dan dia tidak berselingkuh."


"Kali ini tindakanmu sudah membuat perusahaan rugi!" ujar pria itu sambil berlalu meninggalkan Stevanie.


Wanita itu membeku setelah mendengar semua penjelasan yang diucapkan oleh suaminya.


"K-kenapa... I-ini..."


"Mengapa semuanya jadi begini!" ucapnya lirih.


Wanita itu terkulai di lantai, lututnya terasa lemah hingga tak mampu menopang beban tubuh.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2