BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
(MASIH) KONFERENSI PERS


__ADS_3

"Sebelumnya, aku ucapkan terima kasih pada rekan-rekan sesama wartawan. Karena bersedia hadir dalam acara konferensi pers pagi hari ini. Setelah sekian lama, akhirnya kita berjumpa lagi. Mungkin kalian bertanya-tanya, ke mana aku selama ini, iya 'kan?" ucap wanita itu basa basi. Dia sengaja mengulur waktu seraya mengumpulkan keberanian untuk berbicara di depan umum.


Dengan tubuh sedikit gemetar, Stevanie kembali berbicara di depan. "Pasca perceraian, aku memutuskan untuk pensiun dari dunia model, yang sudah digeluti selama sebelas tahun dan fokus dengan kegiatan lain."


"Dan ini pertama kalinya aku berada di depan public setelah sekian lama menghilang. Mengenai pertanyaan kalian, aku akan membantu menjawab. Di sini, Ameera tidak bersalah sama sekali. Dia wanita baik dan berhati tulus."


"Kalian pasti tahu, PT Indah Sentosa merupakan perusahaan yang didirikan oleh Tuan Ibrahim. Beliau bekerjasama dengan mendiang Om Taufiq dan Mamiku. Sebetulnya, sudah sejak kecil Mark dijodohkan dengan Gladys tapi karena suatu asalan, kesepakatan itu dibatalkan dan aku menggantikan posisi gadis itu."


Stevanie kembali menarik napas, lalu menghembuskannya dengan lembut. Dia terdiam sejenak. "Wanita yang duduk di depan sini, dia adalah Gladys, gadis yang seharusnya dinikahi oleh mantan suamiku. Itu artinya, akulah orang ketiga diantara mereka. Dan jika ada yang menuduh wanita baik hati ini menjual tubuh demi status sosial, orang itu salah besar!"


"Aku berani jamin Ameera atau Gladys adalah wanita baik-baik," ucap Stevanie panjang lebar.


Hening! Tidak ada satu orang pun berani membuka mulut. Semua orang begitu terkejut dengan kebenaran yang baru saja terungkap. Setiap perkataan Stevanie seperti sebuah tamparan keras bagi mereka.


Namun, keheningan itu terjadi hanya sesaat saja. Salah satu dari wartawan ysng duduk di kursi paling belakang, kembali melontarkan pertanyaan yang begitu menohok.


"Jika memang Nona Ameera adalah wanita baik-baik, lantas mengapa dia hamil anak haram? Bukankah itu sama saja artinya dia rela menjual tubuh demi sebuah jabatan. Sedangkan kita tahu, saat itu Nona Ameera dibesarkan oleh sepasang suami istri yang bekerja sebagai pekerja biasa."


Suasana ruangan kembali ricuh. Para wartawan berbisik, bergunjing lalu ada juga sebagian dari mereka mengarahkan kamera ke arah Gladys lalu mengarahkan kembali ke pria yang duduk di kursi belakang.


"Brengsek!" maki Mark dengan wajah merah padam dan tatapan tajam yang siap menguliti siapa saja di depannya. "Tangkap wartawan itu!" seru Mark dengan suara menggelegar membuat bulu kudu semua orang merinding.


Para bodyguard sudah berlari menghampiri wartawan berpakaian kemeja kotak-kotak yang duduk di kursi paling belakang. Penampilan pria itu sangat misterius. Mengenakan masker dan topi.

__ADS_1


"Hentikan!" sergah Gladys. "Jangan tangkap pria itu!" titah Gladys.


"Sweetheart, mengapa kamu melarang para bodyguard menangkap pria itu!" ucap Mark lirih.


"Karena aku juga ingin terkenal," ujar Gladys disertai senyuman. "Sudah, tidak perlu cemas, aku baik-baik saja."


Wanita berambut kecoklatan, bertubuh bak gitar Spanyol dan bermata almond, berjalan dengan anggun menghampiri Stevanie yang termangu di atas panggung. "Vanie, kamu duduklah di sana, biarkan aku yang menjelaskan pada mereka. Terima kasih, sudah membantuku," ucap Gladys lembut.


Gladys berdiri di tengah panggung. Wajah cantiknya menjadi sorotan kamera, dia dihujani sinar blitz yang tak henti-hentinya mengambil foto wanita itu.


Dia tersenyum ke arah kamera, ketika para wartawan berlomba-lomba mengabadikan wajah cantik Gladys untuk dijadikan cover pada halaman sebuah berita. "Saya ucapkan terima kasih pada Bapak yang duduk di belakang sana karena sudah memberikan pertanyaan yang cukup berani diantara teman wartawan yang lain. Saya sangat yakin, tampaknya Anda memiliki dendam terhadap keluarga kami. Namun, tidak masalah. Saya akan tetap menjawabnya."


"Dulu, saya memang dirawat dan dibesarkan oleh orang tua angkat yang merupakan dari kalangan masyarakat biasa. Ayah saya seorang buruh pabrik, sementara Bunda hanya ibu rumah tangga biasa tapi kami hidup bahagia dalam kesederhanaan."


"Mereka membesarkan dan mendidik saya agar tumbuh dewasa menjadi wanita bermartabat, memiliki attitude baik dan lisan yang bisa dijaga. Tentang hamil di luar nikah. Setiap wanita di dunia ini pasti memiliki mimpi, menikah dan hamil hasil buah cintanya dengan suami, tapi segala sesuatu di dunia ini terkadang tidak sesuai dengan harapan."


"Pesan untuk kalian semua di luaran sana, jangan pernah menggunjingkan orang lain. Apalagi menghina bayi yang dikandung oleh wanita lain dengan sebutan anak haram!"


"Sakit!" Gladys mengangkat tangan dan meletakannya di rongga perut kanan bagian atas, letak hati berada.


"Kita sesama wanita tapi tega menghina wanita lain. Di mata hati nurani kalian? Coba bayangkan, jika gadis itu adalah putri kalian, apakah sebagai Ibu akan diam saja melihat putri tercinta dihina dan digunjingkan oleh orang lain?" ucap Gladys dengan bibir gemetar.


"Membesarkan anak hasil perkosaan tidaklah mudah. Dalam keadaan lemah tak berdaya dia harus memikul beban berat dalam hidupnya. Namun, kehadiran seorang bayi adalah hadiah terindah dari Tuhan untuk setiap wanita dan saya tidak pernah menyesali atas apa yang pernah terjadi dalam hidup ini. Karena saya yakin, dibalik semua cobaan akan ada kebahagiaan yang menanti."

__ADS_1


Hening sejenak. Cairan bening mengambang di sudut mata Gladys. "Kami memang berdosa tapi kalian tidak pantas menghakimi. Di dunia ini, hanya Dia satu-satunya yang bisa menghukum para pendosa!"


Perkataan Gladys menyentak hati semua orang. Mereka termenung, menunduk dan meresapi setiap kalimat yang diucapkan oleh wanita itu.


Gladys berdehem, tenggorokannya terasa tercekat. Sebulir air mata lolos membasahi wajah cantik wanita itu. "Semoga kalian tidak mengalami rasa sakit yang pernah saya rasakan dulu."


Tanpa diduga, Stevanie merangkul tubuh Gladys. Dalam pelukan mantan rival cinta, wanita itu tak bisa membendung lagi air matanya. Dia menangis, menumpahkan semua kesedihan yang dirasakan. Sesama wanita, Stevanie bisa merasakan rasa sakit akibat hinaan dan cemoohan orang lain.


"Kamu hebat, Gladys. I'm proud of you!" ujar Stevanie.


"Sakit, Vanie... Sakit sekali!" ucap Gladys disela isak dan tangisnya.


Stevanie memapah tubuh Gladys, lalu membantunya duduk di kursi. Masih dalam posisi berpelukan, wanita itu berkata pada Mark, "konferensi pers cukup sampai di sini. Kondisi Gladys sudah tidak stabil. Minta bodyguard menangkap pria misterius itu, aku yakin, dia masih komplotan mantan pelayanmu," ucap Stevanie lirih tapi Mark masih bisa mendengar.


Dengan suara tegas, Mark berkata, "tangkap pria itu dan introgasi dia. Jika tidak mau mengaku, jebloskan ke dalam penjara!" titah Mark kepada bodyguard yang berjaga.


"Saya rasa cukup sesi wawancana hari ini. Semua pertanyaan kalian sudah terjawab. Terima kasih." Lalu Mark beranjak dari kursi. Stevanie masih memeluk tubuh Gladys. Mereka segera pergi dari ruangan. Namun beberapa wartawan masih terus mengejar tapi para bodyguard dan Barra berhasil mencegah, hingga Mark, Gladys dan Stevanie dapat masuk ke dalam mobil.


"Joe, tolong bawa kami pulang ke rumah," pinta Mark pada Kakak Iparnya.


Bersambung


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2