BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
INSIDEN DI SORE HARI


__ADS_3

Happy reading 🍃


Melbourne, Australia


Suasana sore hari di pesisir pantai dekat rumah Mama Aura sangat ramai, meski waktu masih menunjukan pukul empat sore waktu setempat tapi antusiasme para pengunjung begitu besar. Terbukti dari banyaknya orang berdatangan ke tempat wisata itu.


Gladys tengah duduk santai di ayunan. Hampir setiap sore ia akan duduk di balkon sambil memandang keindahan pantai. Birunya laut, semilir angin pantai dan sayup-sayup teriakan anak kecil memanggil orang tua mereka memberikan hiburan tersendiri bagi gadis itu.


Gadis itu menyandarkan punggungnya di sandaran ayunan sambil membuka majalah fashion. Sejak ia memutuskan untuk merubah penampilan, Gladys semakin rajin mengoleksi majalah fashion selain buku bacaan seputar kehamilan, persalinan dan bisnis.


Kini lemari buku yang terletak di kamar Gladys dipenuhi oleh buku koleksi miliknya.


"Sebentar lagi aku akan bertemu Alpukat. Tinggal hitungan waktu saja dia hadir ke dunia ini," tangannya terangkat ke atas. Ia mengusap lembut perutnya.


Gadis itu memejamkan mati, menikmati keindahan alam ciptaan-Nya.


Sementara itu, Mama Aura dan Bunda Meta tengah sibuk membuat puding buah less sugar untuk seluruh anggota keluarga. Ayah Reza dan Joe sedang duduk di sofa, menikmati pisang goreng buatan salah satu pelayan. Meskipun mereka tinggal jauh dari tanah air namun lidah terkadang merindukan makanan khas Indonesia yang berbahan dasar pisang, tepung terigu ditambah sedikit garam dan gula pasir agar lebih nikmat.


"Bagaimana Yah, pisang goreng buatan pelayan rumah ini, enak kan?" tanya Joe saat mulutnya sibuk mengunyah makanan.


"Sangat enak, Nak Joe. Ayah tak menyangka pelayan rumah ini begitu mahir membuat makanan rumahan seperti ini."


"Ayah tahu, sebelum mereka bekerja di sini, Mama memberikan catatan dalam buku khusus kepada masing-masing pelayan. Tujuannya adalah agar para pelayan memahami aturan, tata tertib dan menu makanan apa saja yang wajib diolah selama bekerja di sini," ucap Joe panjang lebar.


"Jadi, tidak sembarang orang dapat bekerja di rumah ini, Yah. Kriterianya terlalu tinggi. Wajib pintar masak, menjaga sopan santun dan terutama tahan banting bila kena omel Mama. Ayah tahu kan, Mama Joe kalau sudah marah, rasanya bumi ini berhenti berputar," ucap pria itu lirih.


"Joe Kurniawan, jangan membicarakan Mamamu sendiri!" teriak Mama Aura dari dalam dapur.


Lokasi ruang keluarga dengan dapur tak begitu jauh sehingga memudahkan anggota keluarga berinteraksi satu sama lain.


"Joe tidak membicarakan Mama tapi sisi jahat anakmu yang berbicara," timpal pria itu seraya cekikian.


Ayah Reza tertawa lihat melihat tingkah lucu sepasang anak dan Ibu saat terlibat pertengkaran kecil, sudut bibir pria paruh baya itu terangkat, "aku tenang bila suatu saat nanti harus kembali ke Indonesia, meninggalkan Gladys tinggal di sini. Mama dan Kakak gadis itu baik bahkan menerimaku dan Meta layaknya keluarga sendiri," batinnya.


"Dasar anak nakal, sudah dewasa masih saja menggoda Mama."


Sebelah tangan wanita itu meraih telinga sang anak dan menjewernya. bila sudah terlalu gemas dengan tingkah menyebalkan yang berasal dari pria berusia 26 tahun itu, Mama Aura akan menarik telinga Joe sampai merah.


"Aw, Ma. Ampun!" pekik Joe sambil berusaha melepaskan telinga dari cengkraman tangan Mamanya.


"Lain kali tidak boleh berkata sembarangan di depan Ayah Reza. Paham!"


Dalam hitungan detik, pria tampan itu berubah menjadi anak yang patuh. Dengan bibir mengerucut ke depan, kedua mata sendu dan tertunduk.

__ADS_1


"Baik Ma."


"Mama ke atas dulu menemani adikmu. Kamu temani Ayah dan Bunda dulu."


Setelah memberitahu orang tua angkat putrinya, Mama Aura naik ke lantai dua sambil membawa piring berisi puding buah less sugar kesukaan Gladys. Ia melihat mata gadis itu terpejam di atas ayunan yang menghadap ke pantai.


"Sayang, ini Mama bawakan puding kesukaanmu."


Bulu mata lentik itu bergetar, perlahan-lahan kelopak matanya terbuka. Ia tersenyum ke arah Mama Aura, kemudian berjalan ke arah kursi yang berjarak sekitar sepuluh langkah dari posisinya saat ini.


Brugh!


Gadis itu terjerembab ke depan saat kakinya tak sengaja tersandung penyangga ayunan di bagian bawah. Perutnya membentur lantai, satu detik kemudian ia merasakan tubuhnya seperti disayat hidup-hidup oleh pisau tumpul.


"Aaa... Sakit!" Gladys meringis kesakitan. Kening gadis itu berkerut, alis saling bertaut, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.


"Astaga, Gladys!" pekik Mama Aura.


Wanita paruh baya itu berlari menghampiri anaknya. Seketika wajahnya memucat tatkala melihat darah segar mengalir di bagian bawah sana. Ia memangku kepala Gladys, menghapus peluh di kening gadis itu.


"Sayang, kamu berdarah, Nak."


Gladys masih memegangi perutnya, ia mulai kehilangan kesadaran akibat darah yang terus menerus mengalir tanpa henti.


"Iya Sayang, kamu bertahan ya."


"Joe!"


"Joe, Gladys berdarah!" teriak wanita itu dengan meninggikan dua oktaf suaranya.


Di lantai bawah, Joe tengah sibuk mengunyah pisang goreng, karena volume suara televisi terlalu kencang membuat semua orang tidak ada yang mendengar kegaduhan di atas.


"Ke mana anak itu!" ucap Mama Aura frustasi.


"Bu Meta, tolong!"


Mama Aura masih berteriak meminta tolong, untung saja salah satu pelayan baru saja naik ke lantai dua untuk membersihkan kamar mandi.


Pelayan itu berjalan mendekati sumber suara.


"Nona Gladys!" ia berteriak histeris.


"Kamu, cepat panggilkan Joe dan minta supir menyiapkan mobil!" titah wanita itu pada pelayan berseragam hitam dan putih.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, pelayan itu berlari menuruni anak tangga dengan raut wajah cemas.


"Tuan, itu..." ucapnya terbata-bata.


Pelayan itu diselimuti kepanikan di atas ambang normal. Detak jantung yang bertambah cepat, napas pendek, kepala terasa pusing, tubuh bergetar ditambah ia pobia terhadap darah membuat wanita itu semakin sulit membuka mulut.


"Ada apa?" bentak Joe.


"I-itu..." tangannya gemetar.


"Kamu kenapa? Bicara pelan-pelan," Bunda Meta mencoba menenangkan pelayan wanita itu.


"Nona Gladys..."


"Kenapa dengan Gladys!" tanya Joe semakin penasaran.


"Nona Gladys berdarah," ucapnya lirih.


"Sialan, mengapa tidak memberitahuku dari tadi!" maki Joe sambil membanting kembali pisang goreng yang baru saja hendak ia makan.


"Gladys!" teriak Joe. Ia berlari dan segera mengangkat tubuh adiknya yang sudah bersimba darah.


Dress berwarna hijau tosca kini berubah warna, bercampur dengan darah yang terus mengalir.


Joe segera bangkit, tangan kekarnya menggendong tubuh Gladys. Wanita paruh baya itu mengekori di belakang.


"Kita langsung ke rumah sakit saja Joe, Mama sudah meminta supir untuk menyiapkan mobil," ucap Mama Aura saat menuruni anak tangga.


"Baik Ma."


Setelah menuruni anak tangga terakhir, nampak orang tua angkat Gladys tengah bersiap menunggu Joe di depan pintu rumah.


"Bunda dan Mama ikut ke rumah sakit. Sementara Ayah Reza tolong berjaga di sini, siapa tahu kami membutuhkan sesuatu jadi bisa meminta bantuan Ayah."


"Baik," ujar Bunda Meta dan Ayah Reza hampir bersamaan.


Mereka masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan. Joe bertugas menjadi supir, Mama Aura dan Bunda Meta bertugas menjaga Gladys agar ia tetap sadarkan diri.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2