BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
BONUS CHAPTER 03


__ADS_3

"Aku...." ucap Joe.


"Kalian bisa pulang sekarang karena saya sudah tahu jawabannya." Bu Sandra bangkit dari kursi lusuh yang terletak di ruang tamu.


"Ibu salah besar. Aku akan tetap menikahi Kirana, meski dia memiliki masa lalu kelam bahkan jika ayah tirinya meminta mahar dalam nominal besar, aku bersedia. Asalkan kalian merestui pernikahan kami."


Mark tersenyum. "Kamu memang pria sejati!" bisik pria itu.


Bu Sandra menatap pria dengan penampilan klimis dan necis dalam balutan pakaian serba branded yang sedang duduk dihadapannya. Wanita itu menatap lekat bola mata Joe. Dia hanya melihat keseriusan di kedua mata indah itu.


"Masih ada kesempatan untuk pergi dari sini. Pintu rumah saya terbuka lebar apabila Anda ingin meninggalkan gubuk ini.


Joe menggelengkan kepala. "Tidak, tekadku sudah bulat mempersunting Kirana. Jadi, aku akan berada di sini hingga Bu Sandra dan suami Ibu memberikan restu."


"Mengapa Nak Joe jatuh cinta pada Kirana? Dia gadis kampung yang dibesarkan dikeluarga tak mampu, sedangkan kamu anak orang kaya. Status sosial berbeda, bagai langit dan bumi," ucap Bu Sandra lirih. Kali ini wanita dalam balutan pakaian sederhana itu mulai berbicara dengan bahasa non formal.


"Memang kami dibesarkan dari keluarga berbeda. Namun, semua kekayaan yang dimiliki olehku adalah milik Papa dan Mama. Aku hanya mengelola serta menjaga agar kekayaan mereka tidak habis."


Bu Sandra menarik napas dalam. Terdiam beberapa saat sebelum berbicara. "Apakah kamu yakin, kedua orang tuamu setuju jika Kirana menjadi salah satu bagian keluarga kalian?"


"Sangat yakin! Mertua saya sudah jatuh hati pada Kirana sejak pandangan pertama. Bahkan beliau mencari berbagai macam cara agar mereka semakin dekat." Kali ini Mark ikut buka suara.


Sejak tadi, Mark hanya menjadi penonton, memperhatikan adegan drama yang sangat menguras emosi. Kalau saja dia tidak terikat janji dengan Gladys, mungkin sudah sejak tadi meninggalkan Joe sendirian di rumah itu.


Joe menyeringai puas mendengar pembelaan dari sang ipar. "Tidak sia-sia aku mengajak pria setengah bule ini ikut bersamaku. Ternyata kehadiran dia cukup membantu."


"Baiklah, jika memang keluarga Nak Joe bisa menerima kehadiran Kirana dengan segala kekurangan, Ibu bisa berbuat apa lagi. Toh, kalian sudah menjalin kasih selama ini. Jadi, segera dihalalkan saja, agar tidak menimbulkan fitnah."


Kedua pria tampan itu saling bertatapan, sedetik kemudian seulas senyum terlukis di wajah.


"Tentu saja, aku akan segera mempersiapkan acara lamaran dan menikahi Kirana dalam waktu dekat."


Tanpa mereka sadari, Arief sudah duduk di kursi panjang yang terletak di depan kamar utama. Posisi kursi tersebut tersembunyi, sehingga tidak ada satu orang pun mengetahui bahwa pria itu sudah tiba di rumah. Sejak beberapa menit lalu, dia mendengarkan pembicaraan mereka. Awalnya dia hendak menerobos masuk dan ikut bergabung tetapi niatan itu diurungkan olehnya.

__ADS_1


Pak Arief tersenyum smirk. "Akhirnya keberuntungan berpihak padaku!" ucap pria itu sembari melangkah masuk ke dalam rumah.


Dari ambang pintu, pria berpenampilan semrawut dengan celana jeans belel, kaos oblong serta rambut gondrong yang hampir sebagian berwarna perak berdiri sambil menatap tajam ke arah Bu Sandra.


"Oh, kita kedatangan tamu rupanya." Pak Arief berjalan sempoyongan menghampiri istrinya.


"Selamat siang, Pak," sapa Joe ramah.


"Cih, ternyata pria seperti ini yang menjadi Ayah tiri Kirana. Pantas saja semua mantan gadis itu mundur dan enggan mempertahankan jalinan kasih yang sudah dibina. Awas saja kalau dia coba-coba memeras keluarga Kurniawan, akan kupatahkan tangan dan kaki itu hingga tak lagi mampu menegak miras dan pergi ke tempat judi!" batin Mark.


"Kamu berniat menikahi putriku, heh?" tanya Pak Arief tanpa basa basi. Tangan pria itu terulur ke depan, mengambil sepotong pisang goreng di atas piring.


"Mas....!" ucap Bu Sandra.


"Kenapa? Aku sudah mendengar percakapan kalian. Jadi, untuk apa kamu menutupi kabar menggembirakan ini dariku!"


"Benar Pak, saya berniat mempersunting Kirana dalam waktu dekat ini."


"Boleh saja, asal kamu memberikan mahar tinggi untuk pernikahan. Aku pasti akan merestui kalian."


"Kenapa berteriak? Telingaku masih berfungsi dengan baik!" Pria itu melemparkan sisa potongan pisang goreng ke atas meja.


Dengan mata merah menyala, layaknya seekor binatang buas yang siap menerkam mangsa, Pak Arief mengangkat tangan ke udara bersiap memberikan tamparan di wajah mulus istrinya.


"Pak Arief, hentikan!" seru Joe sembari mencekal pergelangan tangan Pak Arief.


Terjadi keheningan beberapa saat, ketika tangan Pak Arief tidak mengenai wajah Bu Sandra. Dia melotot ke arah wanita yang sudah bertahun-tahun merawat dan mendampingi pria itu dalam kesusahan.


"Aku bersedia memberikan mahar tinggi, asalkan Bapak merestui pernikahanku dengan Kirana." Joe melepaskan pergelangan tangan calon mertuanya. Lalu, dia berdiri di samping Pak Arief.


"Berapa pun yang aku minta, kamu akan memberikan?"


Joe menganggukan kepala sebagai jawaban bahwa dia menyetujui permintaan Pak Arief.

__ADS_1


"Nah, kalau begitu aku merestui Kirana menikah denganmu." Pria itu merapikan kaos dan menyugar rambut serta tak lupa memberikan senyuman manis ke arah Joe. Namun, menurut Mark senyuman itu membuatnya merasa jijik dan ingin sekali memberikan bogem mentah pada pria itu.


"Dasar benalu, memanfaatkan Kirana demi kepentingan pribadi! Lihat saja, aku akan memberikan pelajaran padamu!" ujar Mark dalam hati.


"Duduklah, mari kita diskusikan rencana lamaran, pernikahan dan mahar untuk Kirana." Pak Arief melambaikan tangan, meminta Joe duduk kembali di kursi.


"Aku berencana melamar Kirana dua minggu dari sekarang. Untuk akad nikah akan diadakan satu bulan setelah lamaran. Jika Ibu dan Bapak berkenan, resepsi akan digelar di Jakarta. Bagaimana?"


"Tidak masalah. Aku setuju dengan rencanamu. Namun, untuk mahar pernikahan, aku minta 500 juta. Apakah kamu bersedia?"


"Kamu gila, Mas. Memeras calon menantumu sendiri demi kepentingan pribadi!" Bu Sandra berdiri, tangan wanita itu terkepal.


"Heh, ini tidak sebanding dengan uang yang sudah kita keluarkan untuk membiayai gadis itu. Apa salahnya jika meminta imbalan atas semua pengeluaran yang sudah aku berikan untuk anakmu itu!"


"Kamu....!" Bu Sandra mengarahkan jari telunjuk ke arah suaminya.


"Bapak tenang saja, ipar saya ini orang kaya. Uang 500 juta bukan masalah baginya, tetapi sebagai orang terdekat, saya ingin mengajukan syarat. Apakah Bapak bersedia memenuhinya?" tanya Mark.


"Cepat katakan, apa syaratnya!"


"Ketika acara lamaran, akad nikah dan resepsi pernikahan berlangsung, Bapak jangan berbuat onar. Selain itu, ketika Kirana sudah sah menjadi bagian keluarga kami, saya minta Pak Arief tidak lagi mengganggu kehidupan rumah tangga gadis itu! Bagaimana?" Mark mengulurkan tangan kehadapan Pak Arief.


Pak Arief menoleh ke arah Mark dengan senyuman mengejek. "Untuk saat ini, lebih baik aku menyetujui syarat itu. Namun, kedepannya aku akan tetap memanfaatkan Kirana dan mengeruk semua kekayaan keluarga mereka. Setelah jatuh miskin, aku akan meminta gadis itu bercerai dan mencarikan suami baru untuk dijadikan mangsa." Tangan pria itu terulur ke depan. "Baik, aku setuju!"


.


.


.


TBC


Halo Kakak semua, apa kabar? Semoga sehat-sehat aja ya. Oh ya, author mau minta maaf nih, untuk bonus chapter hanya bisa diupdate tiga hari kedepan. Dikarenakan saat ini author masih dalam masa pemulihan pasca terkena penyakit yang sedang marak terjadi di berbagai negara termasuk negara kita tercinta.

__ADS_1


Tetap patuhi protokol kesehatan. Stay save untuk kalian semua. 😊


__ADS_2