BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
GARA-GARA ALPUKAT


__ADS_3

Selamat membaca 🍃


Kicauan burung seolah membelah kesunyian pagi disertai cahaya kuning keemasan yang baru saja terbit dari ufuk timur. Sang surya dengan malu-malu menampakan wajahnya dibalik awan putih.


Pagi ini, terasa lebih dingin dari hari-hari sebelumnya karena Ibu Kota Jakarta sejak kemarin sore diguyur hujan dan baru reda saat jarum jam menunjukan pukul satu dini hari. Kini tersisa hanya embun pagi, udara dingin dan bau tanah akibat terkena guyuran air hujan.


Ameera masih sibuk bergulat dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Ia tahu, matahari sudah mulai beranjak dari tempatnya.


Setelah beberapa saat berkutat dengan ranjang empuk di kamar, ia memutuskan bangkit dan membuka jendela.


"Meera, bangun Nak. Hari ini kamu tidak berangkat ke kantor lagi?" terdengar suara Bunda Meta dari luar kamar.


Ameera mencari ikat rambut di sebuah laci meja belajar dan mengikat rambut dengan model up ponytail. Ia kemudian membuka pintu kamar dan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk berhadapan di ruang makan. Mereka tersenyum lembut.


"Meera tidak pergi ke kantor Bun, mau izin lagi," ucap gadis itu berjalan menuju kamar mandi. Di sana ia membasuh wajah dan memakai sabun pembersih serta tidak lupa menggosok gigi.


"Kenapa? Sudah empat hari kamu tidak berangkat ke kantor, bagaimana jika Pak Imam memberikan surat teguran ke pihak kampus?"


"Memangnya Pak Imam berani memberikan surat teguran untuk Meera?"


"Asal Bunda tahu, di kantor tidak akan ada satu orang pun berani macam-macam dengan putri Ayah Reza," ucap Ameera seraya mencium pipi ayah dan bundanya.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Bunda Meta penasaran.


"Ya, karena pewaris tunggal perusahaan adalah suami siri Meera. Jika mereka berani berbuat jahat maka Tuan Mark akan memecatnya," ucap gadis itu santai. Ia seolah-olah melupakan bahwa statusnya hanya seorang istri siri yang tak diakui oleh siapapun.


"Lagipula, kontrak magang kami seharusnya sudah berakhir satu bulan lalu namun Tuan Mark memperpanjang hingga enam bulan, jadi kalau Meera atau teman-teman bolos tidak masalah!"


"Itu hal tidak baik, jangan kamu lakukan," nasihat Ayah Reza. Pria itu menyendok sesuap nasi ke dalam mulut.


"Benar, Meera. Walaupun kamu mengandung anak dari pewaris perusahaan namun harus patuh dengan aturan yang berlaku," tangan wanita paruh baya itu meraih teko dan menuangkan air ke dalam gelas beling milik Ameera.


"Iya deh, kalau skripsi Meera sudah selesai akan kembali ke kantor," gadis itu menarik kursi dan duduk di samping sang bunda. Ia melahap semua hidangan di piring dengan rakus.


"Pelan-pelan saja, tidak akan ada orang yang merebut makananmu!" tegur Bunda Meta.


"Meera makan tergesa-gesa atas permintaan si alpukat."


Ayah Reza dan Bunda Meta saling menatap dan menaik turunkan alis.


"Siapa alpukat?" tanya Ayah Reza penuh selidik, ia takut Ameera sudah menjalin kasih dengan pria lain sedangkan statusnya saat ini masih menjadi istri siri dari pewaris PT Indah Sentosa.


Beda kasusnya jika mereka sudah berpisah, Ameera bisa leluasa berhubungan dengan siapa saja selama pria itu baik dan mau menerima masa lalu putrinya, ia sebagai ayah akan merestui.


Ameera mendekatkan wajahnya ke depan, memasang raut wajah serius dan berucap "anak Meeralah, memang Ayah dan Bunda pikir siapa?"

__ADS_1


"Meera!" ucap Bunda Meta sedikit berteriak.


Ameera tertawa karena sukses menjaili kedua orang tuanya.


"Ayah pikir kamu ada main dengan pria lain!"


"Jika pria itu adalah Nak Donny, Bunda dukung seratus persen."


Kali ini ucapan Bunda Meta sukses membuat Ameera dan Ayah Reza tercengang. Mata Ameera melotot dan mulutnya terbuka bahkan Ayah Reza tersedak makanan yang sedang ia kunyah.


"Loh, Ayah kenapa bisa tersedak! Cepat diminum dulu!" Bunda Meta menyodorkan gelas berisi air putih untuk suaminya.


Ayah Reza batuk dan merasakan ada sebutir nasi masuk ke dalam hidungnya, membuat pria itu harus mengeluarkan benda asing itu dari saluran pernapasan. Cukup lama ia berusaha hingga akhirnya benda tersebut berhasil keluar.


"Bunda, jangan berbicara hal yang membuat Ayah terkejut!"


"Untung saja nasi tersebut bisa dikeluarkan jika tidak, akan menyebabkan kematian. Apakah Bunda tahu, banyak kasus kematian di luaran sana akibat tersedak sesuatu dan benda asing tersebut mengganggu saluran pernapasan?"


"Iya, Bunda minta maaf. Lain kali tidak akan mengulanginya," ucap Bunda Meta penuh penyesalan.


"Ya sudah, lebih baik habiskan makannnya."


Saat semua orang sedang menikmati hidangan di atas meja makan, Ameera membuka suara.


"Semua pakaian sudah terasa sesak jika dipakai, apalagi perut Meera semakin membesar."


"Ayah dan Bunda mau ikut?"


"Ayah harus pergi bekerja, Nak."


"Bunda mau ke kampung sebelah membantu Bibimu menyiapkan acara pengajian tasyakuran tujuh bulanan sepupumu."


"Oh begitu. Ya sudah, Meera pergi sendirian saja."


"Boleh tapi hati-hati di jalan. Jika perutmu terasa kram atau kelelahan, istirahatlah. Jangan memaksakan," ucap Bunda Meta.


"Baik, Bun."


***


Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan seorang pria lajang berusia hampir kepala tiga sedang menikmati secangkir kopi. Ia menatap layar laptop dengan serius, tatapan mata fokus pada sebuah benda mini di depannya. Tiba-tiba konsentrasinya terganggu akibat dering ponsel miliknya berbunyi.


"Mama!" gumam pria itu.


"Halo, Ma ada apa? Apakah black card yang kuberi tidak cukup memenuhi kebutuhan selama berada di Australia?" tanya pria itu saat sambungan telpon terhubung.

__ADS_1


"Dasar anak tidak tahu sopan santun! Mama telpon bukannya tanya kabar malah membicarakan kartu!" teriak wanita paruh baya berusia sekitar empat puluh tahun-an.


"Mama kan biasanya begitu, menelponku saat membutuhkan sesuatu," ucap pria itu dalam hati.


"Jam makan siang, jemput Mama!"


"Ma, Joe tidak bisa sesuka hati mengambil cuti, harus izin Mark dulu jika ingin pergi ke Australia."


"Astaga Joe, Mama tinggal selama dua tahun kecerdasanmu semakin menurun apakah Mbok Iyem tidak memberikan makanan bergizi!" bentak wanita di seberang sana.


"Tunggu! Joe semakin tidak mengerti, ada apa sebenarnya?" pria itu menata kacamata yang sudah terletak manis di pangkal hidung mancungnya.


"Saat ini Mama sudah berada di dalam pesawat jet, siang nanti mau ke mall berbelanja dan kamu jemput di sana!"


"Apa?"


"Kenapa? Kamu tidak ingin bertemu Mamamu sendiri? Merasa bebas tinggal sendirian tanpa pengawasan orang tua? Apa kamu menyembunyikan seorang wanita di apartemen?" tanya wanita paruh baya itu tanda jeda.


"Ingat Joe, tinggal satu atap dengan lawan jenis tanpa ikatan merupakan tindakan tak bermoral, Nak. Walaupun tingkat pemahaman keluarga kita masih minim tentang agama, namun untuk hal sepele seperti ini Mama paham!"


"Jangan biarkan Papamu di sana menderita melihat putranya berubah menjadi pria breng*ek dan tak bermoral," kali ini suara Mama Aura terdengar sendu.


Mama Aura mengigit bibir bawahnya menahan tangis, ia sungguh tak sanggup membayangkan putra sulung yang dibesarkan selama ini dengan penuh cinta berubah menjadi pria tak bermoral. Wanita itu merasa bersalah pada mendiang suaminya jika Joe benar-benar telah berubah.


"Sudah jangan menangis lagi. Selama dua tahun tanpa Mama, Joe tinggal sendirian hanya ditemani Mbok Iyem. Tadi hanya kaget saja karena tak menyangka akan kembali secepat ini," ucap Joe lembut. Ia tahu persis saat ini mamanya dalam suasana bersedih.


Kehilangan dua orang sekaligus dalam hidupnya membuat wanita itu mudah tersinggung dan lebih perasa. Hingga tak heran, Joe sebagai anak harus lebih mengalah dan bersabar menghadapi mamanya.


"Benar, di sana kamu tidak bermain dengan wanita nakal?"


"Sumpah, Ma! Selama ini, Joe menjadi anak baik kok."


"Mama mau dijemput di mana? Nanti Joe jemput!"


"Mall Atlantis, saat jam makan siang. Nanti Mama hubungi kamu jika sudah selesai berbelanja."


"Oke! Hati-hati di jalan. Bye, Mama!"


Setelah sambungan telpon terputus, Joe menghela napas berat.


"Sejak kehilangan Papa dan Gladys, Mama menjadi lebih perasa. Aku harus ekstra bersabar menghadapinya!"


bersambung...


Hayo, menurut kalian apakah Mama Aura akan bertemu Ameera di sebuah mall? Penasaran? Tunggu kelanjutan ceritanya besok sore. Jangan lupa tinggalkan jejak. ❤

__ADS_1


__ADS_2