
"Sebelum aku menjawab, ada pertanyaan yang ingin ditanyakan." Gladys menghela napas panjang lalu berkata, "selama ini, kalian tinggal di mana?"
"Semenjak perusahaan mengalami pailit, Papa tinggal di mansion bersamaku, karena villa yang ditinggali oleh beliau sudah dijual untuk membayar hutang," ujar Mark.
"Mansion yang dulu pernah kamu tinggali bersama Nyonya Stevanie?"
"Benar. Mansion itu adalah kado pernikahan kami."
"Aku akan kembali ke Indonesia, asalkan mansion itu dijual, bagaimana?" Gladys menatap ke arah suaminya, kemudian berkata, "apakah kamu bisa mengabulkannya?"
"Tentu, aku akan menjual mansion itu!" ujar Mark tegas.
Mama Aura dan Joe saling bertatapan. Kemudian anak sulung keluarga Kurniawan mengangkat bahu, seolah-olah semua yang terjadi di luar kendalinya.
Joe menatap ke arah Mark dengan tajam. "Kamu yakin, akan menjual satu-satunya kenang-kenangan bersama istri pertamamu itu?" tanya pria itu.
"Jika itu satu-satunya cara agar Gladys mau kembali ke Indonesia, aku ikhlas. Bahkan kalau dia mau, aku akan mengembalikan saham milik keluarga Hendrawan meskipun perusahaan yang Papa rintis akan hancur nanti. Aku bersedia, Joe!"
Mata Gladys mulai berkaca-kaca, dia terharu mendengar ucapan suaminya. Wanita itu mendongakan mata ke atas, berusaha menahan agar butiran kristal tidak jatuh.
"Itu tidak perlu, aku hanya ingin kamu menjual mansion itu. Sebab, aku tidak mau hidup di bawah bayang-bayang wanita jahat seperti dia!"
"Oke, aku akan mulai memasarkan mansion itu." Mark meraih ponselnya, kemudian menghubungi nomor Barra.
"Barra, kamu tolong segera pasarkan mansion yang saya tinggali saat ini. Jual dengan harga pasaran, diusahakan dalam waktu dekat sudah laku terjual!" titah pria itu pada asistennya.
"Siap, Bos. Segera saya laksanakan. Ngomong-ngomong, apakah akan ada uang tips jika berhasil menjualnya?" tanya Barra dari seberang sana.
"Tenang saja, itu bisa dibicarakan nanti. Saya tunggu kabar selanjutnya." Mark langsung mematikan sambungan telepon tanpa mengucapkan salam.
Pria itu mengedarkan pandangan ke arah tiga pasang mata yang tengah melihatnya dengan tatapan aneh.
"Kalian lihat, aku sudah mengabulkan keinginan Gladys. Apakah ini cukup untuk membuktikan bahwa aku sudah tidak mau memiliki hubungan apa pun dengan wanita itu."
__ADS_1
"Aku mempunyai tabungan di bank dan kurasa itu cukup untuk membeli rumah baru. Ya, walaupun tidak seluas mansionku terdahulu tapi setidaknya layak untuk ditinggali." Mark menarik napas sejenak, "kalau mau, kita akan survei bareng dan kamu bisa mendekornya sesuai keinginanmu." Pria bermata biru itu mengulurkan tangan lalu menangkupkannya ke tangan sang istri.
"Jadi kesimpulannya?" tanya Mama Aura sambil menyendok salah satu dessert kesukaannya yaitu Regal Dessert Box.
"Gladys mau ikut Kak Mark kembali ke Indonesia."
"Baiklah, jika sudah sepakat maka Mama akan mengurus semua kepindahanmu ke Indonesia. Sementara waktu, kalian akan tinggal terpisah. Gladys akan tinggal bersama Mama di apartemen tapi Mark boleh mengunjungi Alpukat kapan pun dia mau."
"Terima kasih, Tante," ujar Mark seraya tersenyum.
***
Beberapa hari kemudian, sesuai dengan rencana, Gladys dan Alpukat akan kembali ke Indonesia, tanah kelahiran dan kampung halaman wanita itu. Namun Joe dan Mama Aura baru menyusul setelah menyelesaikan beberapa urusan di Australia.
Kini mereka berada di dalam jet pribadi milik keluarga Kurniawan. Gladys dan Mark duduk bersebelahan. Alpukat dipangku oleh Papanya. Perlahan-lahan, pesawat itu melakukan take off lalu semakin tinggi dan meninggalkan Negara Australia.
"Selamat tinggal Melbourne. Terima kasih, selama kurang lebih hampir satu tahun sudah menampungku dan memberikan banyak pelajaran berharga tentang artinya sebuah kehidupan, membuatku semakin mandiri," batin Gladys.
"Ini sangat indah?" Mark berdecak kagum.
"Pemadangan di bawah sana memang indah tapi memandangimu dari jarak sedekat ini lebih mengasyikan," ucap Mark tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Gladys.
"Sudah berapa kali dalam satu hari kamu memujiku, Kak. Tidak kah kamu bosan setiap detik, setiap menit mengucapkan kata-kata yang sama," ujar wanita itu seraya menggendong Alpukat lalu melangkah menuju ke dalam kamar utama yang berada di hidung pesawat di bawah kokpit.
"Sweetheart, tunggu!" teriak Mark, "aku belum selesai bicara," timpalnya.
Wanita itu hanya mengangkat tangan ke udara, tanpa memedulikan teriakan suaminya.
Barra tersenyum geli melihat drama rumah tangga yang dia saksikan secara langsung. Menyaksikan bagaimana garingnya sang Bos saat merayu Gladys dengan mimik wajah datar, senyum kaku membuat Barra tidak bisa menahan tawa.
Pria itu puas. Sangat puas, melihat tingkah Bosnya perlahan-lahan berubah menjadi alay ala-ala ABG yang baru mengalami jatuh cinta untuk kedua kali.
"Tuan... Tidak bisakah Anda merubah mimik wajah itu agar terlihat lebih sedap dipandang?" tanya Barra dari kursi di samping yang terhalangi lorong kecil sebagai pembatas.
__ADS_1
"Kelihatannya kamu puas sekali menertawakan saya. Apakah kamu menikmati hiburan tadi?" tanya Mark. Kedua tangannya sibuk membuka halaman majalah bisnis.
"Tentu saja, Tuan. Seharusnya tadi saya merekam bagaimana ekspresi wajah Anda saat merayu Gladys. Sangat lucu sekali." Barra menyentuh perutnya yang terasa sakit akibat terlalu banyak tertawa.
"Apakah kamu akan tetap tertawa jika saya potong gajimu sebanyak dua puluh persen."
Dalam sekejap, Barra menghentikan tawanya. Dia membeku dengan bola mata terbelalak. Pria itu menangkupkan tangan ke dada.
"Aduh, Bos, jangan potong gaji saya dong. Mama bisa marah jika tahu uang bulanannya berkurang." Pria itu beringsut mendekati Mark.
"Apakah Anda tidak kasihan pada saya, Tuan. Bulan ini penghasilan saya sudah dipotong untuk biaya KPR." Barra merengek layaknya anak kecil meminta permen pada Ibunya.
"Tuan, tolong tarik kembali ucapan Anda." Kini Barra meraih tangan Bosnya.
"Saya akan benar-benar memotong gajimu jika terus bersikap seperti anak kecil!"
Sadar akan apa yang dia lakukan, pria itu segera beringsut menjauhi kursi Mark.
"Aduh, si Bos kenapa jadi sensi sih. Padahal aku belum puas menggodanya. Andaikan saja ada Naomi di sini, kami pasti bergosip membicarakan tingkah Tuan Mark," batin Barra.
"Tuan, Anda mau ke mana?" tanya Barra saat melihat Mark beranjak dari kursi penumpang.
"Bukan urusanmu, Barra!" ucap Mark. Pria itu mendengus kesal karena asistennya itu selalu saja mengurusi urusan pribadinya.
"Lebih baik kamu kerjakan semua tugas yang saya minta. Dalam waktu dua hari sudah ada di atas meja, jika tidak, kamu tanggung sendiri akibatnya." Pria itu lalu berjalan masuk ke dalam, menuju kamar utama tempat dia dan keluarga kecilnya beristirahat selama perjalanan menuju tanah air.
Ketika dia membuka pintu kamar, di atas ranjang sudah ada istri dan anaknya tertidur pulas. Dengan perlahan, pria itu berjalan menghampiri ranjang.
"Gladys, terima kasih karena kamu sudah mau kembali ke Indonesia bersamaku. Aku berjanji, dengan segenap jiwa akan menjaga kalian selamanya." Lalu Mark mencium kening Gladys dan merebahkan diri di samping istrinya.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.