
Happy reading 🍃
Tak terasa waktu terus berputar. Sudah satu bulan berlalu, kini tinggal dalam hitungan jam Joe dan Kirana resmi menyandang status sebagai suami dan istri. Segala persiapan sudah direncanakan dengan matang, bahkan keluarga dari pihak mempelai pria sudah berada di kota Bogor sejak satu hari lalu. Kebetulan lokasi akad nikah atau kediaman Kirana hanya berjarak dua puluh empat kilometer atau sekitar satu jam lebih dari kota Bogor.
Saat ini, keluarga dari pihak mempelai pria sedang berkumpul di sebuah restoran mewah di salah satu hotel ternama di kota Bogor. Semua orang tampak bersuka cita karena sebentar lagi akan ada anggota baru dalam keluarga Kurniawan.
"Joe, bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Mark. Pria berwajah campuran Indonesia-Amerika mengiris potongan daging menjadi beberapa bagian.
"Aku gugup!" jawab Joe.
Alih-alih memberikan saran atau meringankan beban Joe, Mark malah terkekeh mendengar jawaban iparnya. "Sungguh, aku merasa bahagia melihatmu menderita, Joe! Setidaknya, Tuhan sudah berlaku adil padaku. Dulu, ketika aku mengucapkan ijab qabul untuk kedua kali, kamu dan Barra tertawa melihat penderitaanku. Kini, kamu menerima balasan atas apa yang telah diperbuat dulu."
Joe melirik Mark dengan kedua alis yang saling tertaut.
"Sweetheart, kenapa kamu menggoda, Kak Joe." Suara merdu bak nyanyian bidadari dari surga terdengar, membuat kedua pria tampan itu mendongak ke sumber suara.
"Tolong kamu didik suamimu itu, minta agar dia tidak bahagia di atas penderitaan orang lain!" Joe memasukan potongan daging ke dalam mulut, melum*tnya hingga menjadi lembut dan siap untuk dicerna oleh organ pencernaan.
"Sudahlah, lebih baik kalian habiskan semua makanan itu. Agar kita bisa kembali ke kamar dan menyiapkan energi untuk menyambut hari esok. Terutama kamu, Joe." Seorang wanita separuh baya dalam balutan celana panjang dan blouse coklat tua mencoba menengahi pertengkaran kecil yang terjadi antara anak dan menantunya.
"Baik, Ma," ucap Mark, Joe dan Gladys hampir bersamaan.
***
Keesokan hari, rumah orang tua Kirana sudah dipadati oleh para pemuda dan pemudi karang taruna yang terlibat dalam susunan kepanitian pernikahan. Meskipun sudah ada WO (wedding organizer), yang bertugas mengurusi acara akad nikah dan resepsi pernikahan yang diadakan di kediaman mempelai wanita, tetapi Kirana tetap melibatkan anak muda di kampung halamannya untuk turut serta membantu dalam acara tersebut.
__ADS_1
Di saat semua orang tengah sibuk di luar, di kamar sederhana berukuran 3x3 meter, calon mempelai wanita sedang duduk di depan meja rias. Dia tidak sendiri, melainkan ada tiga orang wanita tengah membantu gadis itu bersiap.
"Nona, tolong pejamkan mata Anda sebentar! Saya akan membubuhkan maskara ini agar bulu mata Anda terlihat lebih panjang," ucap seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun, yang berprofesi sebagai MUA.
Tanpa diminta untuk kedua kali, Kirana segera memejamkan mata. Dalam hitungan detik, wajah gadis berwajah oriental itu selesai dirias.
"Selesai! Penampilan Anda begitu sempurna. Saya yakin, Tuan Joe pasti akan terpesona melihat penampilan Nona Kirana yang terlihat begitu cantik."
"Tuan Joe beruntung mempersunting gadis sebaik dan secantik Anda, Nona," ucap asisten MUA tersebut.
"Kalian terlalu memujiku." Wajah Kirana bersemu merah. Membayangkan dalam satu jam kedepan, dia akan resmi menjadi istri dari seorang pria yang dulu pernah bertabrakan dengannya ketika mereka berada di rumah sakit. Tak menyangka, pertemuan yang tidak sengaja akan berujung di pelaminan.
"Kami berkata yang sejujurnya, Nona. Kecantikan Anda alami. Pantas saja Tuan Muda keluarga Kurniawan begitu tergila-gila pada Anda," timpal asisten satunya.
Mendengar pujian yang dilontarkan oleh MUA berikut para asistennya, membuat Kirana hanya mampu tersenyum sembari berkata, "Terima kasih atas pujian kalian."
"Mendiang Ayahmu pasti bahagia melihat putri kesayangannya sebentar lagi menjadi istri dari seorang pria yang berhati malaikat seperti Joe. Aku benar 'kan, Mas?" batin wanita itu.
Bu Sandra mengusut cairan yang mengalir di sudut mata dengan tangan. Dengan suara gemetar dia berkata, "Nak...."
"Ibu, sejak kapan berdiri di situ. Ayo masuk!"
Dengan perlahan, Bu Sandra melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Kirana. Kamar itu sudah dihias sebagus mungkin agar terlihat nyaman dan rapi. Dekorasi kamar simpel menggunakan lampu tumblr, bunga-bunga minimalis dan tirai transparan dipilih oleh mempelai wanita dengan perpaduan warna putih dan ungu menambah kesan intim pada ruangan.
"Kamu sangat cantik," puji Bu Sandra. Air mata yang sedari tadi dibendung kini membasahi wajah wanita itu. Dia memeluk erat tubuh mungil Kirana.
__ADS_1
"Ibu juga terlihat sangat cantik. Bahkan lebih cantik dari hari sebelumnya."
"Hari ini, hari bersejarah dalam hidupmu. Ibu harap, kedepannya kebahagiaan akan selalu menghampiri rumah tanggamu dan juga Nak Joe."
"Terima kasih, Ibu."
Tak berselang lama, iring-iringan mobil pengantin pria sudah tiba di lahan kosong yang jaraknya hanya sekitar lima meter dari rumah Kirana. Berhubung halaman rumah Kirana sudah dibuat pelaminan dan tenda, sehingga kendaraan yang datang akan terparkir di lahan kosong milik tetangga. Di lahan kosong itu terdapat empat unit mobil mewah terparkir di sana. Joe ditemani Mama Aura berada di mobil pertama, Mark dan Gladys serta Alpukat di mobil kedua, Barra, Naomi dan orang tua angkat Gladys berada dalam satu mobil.
Sementara itu, sepasang pengantin baru yang tengah dimabuk cinta berada di mobil yang lain. Begitu mendengar kabar Joe akan menikah, Stevanie segera meminta Mr. Lee merubah jadwal bulan madu yang akan diadakan seminggu sebelum akad nikah Joe.
"Kalau kamu gugup, tarik napas dalam, kemudian hembuskan dengan lembut. Lakukan sebanyak yang kamu butuhkan," ucap Mr. Lee ketika mereka semua berjalan beriringan menuju rumah Kirana.
"Jangan lupa berdo'a. Minta agar segala urusanmu dipermudah oleh Tuhan," timpal Stevanie tanpa melepas tangan dari genggaman suaminya.
Jantung Joe semakin berdebar, manakala orang tua Kirana berdiri dengan tegap di depan sana seraya tersenyum ke arah pria itu. "Sial, kenapa aku semakin gugup. Semoga acara hari ini berjalan lancar, sesuai dengan rencana awal," ujar Joe dalam hati.
"Selamat datang, Nak Joe." Bu Sandra mengalungkan sebuah kalung yang terbuat dari bunga melati.
"Mari silakan masuk!" Ayah Kirana mempersilakan Joe beserta rombongan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.
Dengan sedikit gugup, Joe naik ke atas pelaminan kemudian duduk di kursi. Beberapa kali pria itu terlihat mengusap peluh yang membanjiri kening.
"Apa yang akan Kakak lakukan?" tanya Gladys ketika melihat Mark akan mengeluarkan ponsel dari saku celana.
"Aku ingin memotret wajah Joe. Kemudian kujadikan bahan candaan saat berkumpul lagi dengan pria itu."
__ADS_1
"Jangan bersikap seperti anak-anak!" Gladys mendengus kesal karena sikap suaminya itu.
Mark menyipitkan matanya. "Kenapa aku selalu salah di matamu!" gerutu pria itu dalam hati.