
Dua hari kemudian, Joe dan Kirana serta kedua orang tua wanita itu sedang bersiap-siap menuju salah satu hotel bintang lima, tempat diselenggarakan resepsi pernikahan yang diperkirakan menghabiskan budget ratusan juta rupiah dan bahkan akan ditayangkan langsung oleh salah satu stasiun televisi, sama seperti resepsi pernikahan Mark dan Gladys.
"Babe, apakah kamu gugup?" tanya Joe ketika dia tidak sengaja melihat jemari lentik wanita itu memelintir ujung rok berbahan satin yang dipadukan dengan blouse tanpa lengan berwarna peach.
Kirana mendongakan kepala, menatap wajah tampan mantan kekasih yang kini sudah berubah status menjadi suaminya. "Sedikit gugup. Bagaimana jika aku melakukan kesalahan ketika resepsi berlangsung?"
"Kesalahan apa?" Joe balik bertanya, sembari menautkan kedua alis.
"Misalkan, tiba-tiba saja high heelsku tergelincir ketika sedang berjalan menuju pelaminan atau mungkin aku mempermalukan keluarga Kurniawan karena tidak bisa berbaur dengan tamu undangan. Kakak tahu 'kan, status sosialku seperti apa," ucap Kirana lirih bagaikan suara hembusan angin di musim gugur.
Melihat mata sipit Kirana hampir tertutupi tirai berwarna kristal, membuat hati Joe teriris. Dengan lembut dia menggenggam dan mencium tangan Kirana. "Jangan memikirkan hal yang belum terjadi. Walaupun nanti heelsmu rusak, aku akan menggendongmu menuju pelaminan. Mengerti?"
Kirana menganggukan kepala sebagai jawaban. Dengan sedikit malu nyonya muda keluarga Kurniawan itu merangkul lengan suaminya. "Terima kasih Babe, karena kamu selalu bisa menghiburku."
__ADS_1
Setelah menempuh waktu sekitar hampir dua jam, dengan jarak tempuh sekitar 74,4 km melalui akses tol Jagorawi, kini dua unit mobil mewah telah berhenti di depan pintu masuk hotel bintang lima.
"Tuan, kita sudah tiba di hotel," ucap sopir yang bertugas mengantarkan sepasang pengantin baru yang masih hangat seperti kue yang baru saja keluar dari oven.
Joe turun terlebih dulu, lalu mengulurkan tangan ke arah Kirana. "Hati-hati kepalamu, jangan sampai terbentur!"
Kirana tersenyum, entah mengapa hatinya selalu berdesir setiap kali Joe berkata manis dan memperlakukannya layaknya seorang ratu. Setiap hari berada di dekat Joe, cinta dalam diri wanita itu semakin bertambah kadarnya. "Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengirimkan pria ini untuk menjadi suamiku."
"Mari saya antar, Tuan dan Nyonya ke kamar." Dengan ramah, seorang supervisor berpenampilan menarik dalam balutan jas dan celana kain mempersilakan tamu istimewa tersebut untuk berjalan menuju kamar hotel.
"Tuan dan Nyonya, kalian bisa beristirahat sejenak sebelum kita melakukan gladi bersih untuk acara besok. Nanti saya akan meminta koki hotel mengantarkan makanan ke kamar."
Joe menganggukan kepala. Tangannya masih setia menggenggam jemari sang istri. Posisi Joe dan Kirana berada di depan pintu, membuat Arief dengan leluasa menyaksikan bagaimana sikap menantunya itu terhadap Kirana.
__ADS_1
"Bagus, anakku. Buat Joe semakin tergila-gila padamu. Setelah semua harta Joe jatuh ke tanganmu, kita akan menyingkirkan suamimu itu. Kemudian, kamu bisa mencari suami yang lebih kaya daripada pria ini!" batin Pak Arief sembari tersenyum smirk.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu rencanakan. Namun, sebagai seorang ibu, tak kan kubiarkan kamu merusak kebahagiaan putriku! Aku bersumpah demi mendiang suamiku, untuk kali ini kalau sampai kamu membuat Kirana menangis maka rasakan akibatnya!" bisik Bu Sandra dengan nada mengancam.
Selama menikahi Pak Arief, Bu Sandra selalu pasrah akan perbuatan yang dilakukan oleh suaminya. Setiap kali pria itu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk, wanita paruh baya itu tak banyak berkomentar. Ketika rentenir berbondong-bondong menagih hutang dia pun berusaha bersikap tenang, meski dalam hati terasa sakit tetapi itu sudah menjadi resiko yang diterima olehnya karena bersedia menikahi tukang judi dan pemabuk seperti Pak Arief.
Beberapa hari sebelum acara akad nikah digelar, dia banyak termenung dan instrospeksi diri. Hingga dia menarik satu kesimpulan yang harus diputuskan sebagai seorang ibu, yaitu melindungi kebahagiaan putri tercinta dari rencana jahat orang sekitar.
"Sejak kapan kamu berani mengancamku, hah?" tanya Pak Arief. Kedua bola mata pria itu melotot, seakan hendak menggelinding dan jatuh di hadapan Bu Sandra.
"Aku tak perlu menjawab pertanyaanmu! Namun, yang pasti kali ini aku tidak akan tinggal diam melihat kebahagiaan Kirana hancur gara-gara pria brengsek dan benalu sepertimu!" sindir Bu Sandra tanpa ada rasa takut sedikit pun. Wanita itu semakin menunjukan wujud iblis dalam tubuh seorang ibu, membuat nyali Pak Arief menciut seketika.
Pak Arief mendegus kesal. "Kamu selalu saja berburuk sangka kepadaku!"
__ADS_1
TBC
Halo teman-teman, author sampaikan permohonaan maaf karena kemarin tidak bisa double up disebabkan kesibukan di dunia nyata. Ditambah persiapan menyambut bulan suci Ramadhan sehingga tidak sempat ngetik. Sekali lagi mohon maaf karena sudah mengecewakan kalian semua. 🙏