BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
RENCANA MAMA AURA


__ADS_3

Kini Gladys sudah berada di dalam mobil.


Setelah kendaraan roda empat yang ditumpangi orang tua angkat wanita itu meninggalkan rumah sakit, ia beserta Mama, Kakak, calon Kakak Ipar dan tentunya Baby Andra langsung masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan pintu masuk sebuah gedung bangunan tinggi berlantai empat.


Di dalam mobil, tidak ada satu orang pun yang berani membuka mulut, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Baby Andra pun patuh, bayi mungil nan menggemaskan itu pun tidak rewel. Ia hanya sesekali menggeliat dalam gendongan sang Mama, merengek jika merasa haus namun setelah itu tertidur kembali.


"Rasanya pasti berat harus berpisah dengan orang yang selama ini kita anggap sebagai orang tua sendiri," batin Suster Kirana.


Gladys beruntung memiliki keluarga yang begitu mencintainya dan aku pun akan sangat beruntung jika Tuan Joe bersedia menerima tawaran agar kami bisa berkencan.


Apa kencan? Tunggu, mengapa aku lancang sekali berkata seperti itu. Hingga detik ini saja sikap pria itu masih dingin terhadapku, bagaimana mungkin berkencan!


"Sayang, kamu tidak perlu sedih. Ayah dan Bunda 'kan bisa sering ke sini mengunjungimu dan Alpukat," ucap Mama Aura memecah keheningan.


"Ma, bukan Alpukat lagi tapi Baby Andra," protes Joe.


"Alpukat, Joe," Mama Aura masih bersikeras dengan pendiriannya.


"Ish Mama. Jelas-jelas nama depan Alpukat itu adalah Rafandra," lanjut Joe namun tak mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan sana.


"Loh, bukan kah nama lengkap cucu kesayanganku ini adalah Alpukat dalam Bahasa Inggis jadi tidak salah dong bila Mama tetap memanggilnya begitu."


Joe nampak frustasi, ia mengacak rambutnya dengan satu tangan sementara tangan lain masih menggenggam stir mobil.


"Argh, bicara dengan Mama sampai kapanpun tidak akan menang," ucapnya lirih.


"Tentu saja, malah kamu akan dianggap durhaka oleh calon menantuku jika terus melawan."


Bola mata wanita itu melirik ke arah Suster Kirana yang sedang duduk di kursi depan.


Gadis berdarah campuran itu hanya menunduk malu, jantungnya berdetak lebih kencang. Perasaan Suster Kirana saat ini campur aduk entah ia harus bahagia karena mendapat lampu hijau dari calon Mama Mertua atau sedih karena pria yang duduk di sampingnya sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda bahwa pria itu tertarik padanya.

__ADS_1


Ah, sudahlah Kirana. Jangan terlalu berharap jika pria di sampingmu ini akan setuju dan menerima tawaran untuk melakukan penjajakan.


Ada hal yang lebih penting selain urusan perasaan yaitu soal hutang. Jika tidak melunasi dalam kurun waktu tiga bulan, maka bersiaplah, kau akan menjadi istri kelima pria buruk rupa itu!


Membayangkannya saja sudah membuat bulu kudu Suster Kirana merinding, apalagi jika ia harus benar-benar menikah dengan pria licik dan bandar judi seperti dia. Kebahagiaan dalam berumah tangga belum tentu dirasakan.


Setelah menempuh waktu sekitar empat puluh menit, mobil putih itu telah terparkir di depan rumah. Joe sengaja memarkirkan kendaraan itu di tepi jalan karena ia berencana membeli beberapa keperluan bayi dan perlengkapan kesehatan yang dibutuhkan Suster Kirana dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang perawat pribadi.


"Akhirnya kita sampai," Mama Aura merentangkan tangan setelah turun dari mobil.


Dari depan kita bisa melihat semua pelayan rumah dan tukang kebun berdiri berbaris dengan pakaian seragam. Mereka tersenyum ramah tatkala melihat ketiga majikan turun dari mobil.


"Ayo Sayang, kita masuk," Mama Aura memapah tubuh Gladys menaiki anak tangga satu per satu.


Joe menurunkan koper, dua buah totebag dan tas berisi perlengkapan Baby Andra.


"Mari saya bantu," tangan Suster Kirana hendak meraih tas berisi perlengkapan Baby Andra, namun ia kesulitan karena sebelah tangannya menggendong Baby Andra.


"Tidak perlu, biarkan pelayan saja yang mengurusnya. Kita masuk ke dalam susul Mama dan Gladys."


Gadis itu berjalan di belakang Joe. Saat menaiki anak tangga, ada banyak bunga mawar merah dan mawar putih yang sengaja ditanam oleh Bunda Meta.


Selama tinggal di Australia, wanita itu diberikan kebebasan penuh untuk menghias kebun dan tanaman di rumah tersebut agar terlihat lebih asri, cantik dan nyaman untuk ditinggali.


"Selamat datang, Nyonya Muda," ucap para pelayan hampir bersamaan. Mereka membungkuk dengan hormat.


Kepala pelayan memberikan satu buket bunga segar dan menyerahkannya.


"Terima kasih Miss Lucy. Kalian, aku juga ucapkan terima kasih karena sudah repot mengadakan pesta penyambutan kepulanganku dari rumah sakit."


"Ayo kita masuk, terlalu lama di luar tidak baik untuk kondisimu dan Alpukat."


Dengan patuh, Gladys menuruti perintah Mamanya.

__ADS_1


"Miss Lucy, tolong kamu bawa barang-barang itu ke kamar adikku," ujar Joe sebelum masuk ke dalam rumah.


Saat Joe berdekatan dengan Suster Kirana, ritme jantung pria itu semakin tak beraturan, dada terasa sesak dan rasanya semua udara di sekitar tak mampu memberikan pasokan oksigen.


Ia melangkah cepat, masuk ke dalam ruangan, duduk di kursi santai dekat kolam renang dengan gelisah. Joe menyentuh dada kirinya, merasakan jantungnya hampir copot akibat terlalu lama berdekatan dengan sosok gadis cantik yang selama beberapa hari ini selalu siaga merawat dan membantu adiknya.


Apa-apaan ini Joe, mengapa dirimu sulit dikendalikan! Untung saja gadis itu tidak mendengar suara degup jantungmu yang berdetak kencang.


Sungguh benar-benar gila, baru kali ini aku merasakan perasaan yang aneh bahkan rasanya hampir membunuhku!


"Come on, Joe kendalikan dirimu. Jangan sampai gadis itu jijik melihat sikapmu yang terkesan terlalu agresif," batinnya.


Joe berusaha mengendalikan dirinya, ia memejamkan mata seraya menghirup udara dalam, menghembuskan kemudian menghirup kembali sebanyak tiga kali. Setelah dirasa tenang, pria itu naik ke lantai atas menggunakan lift.


Di lantai atas, ia melihat tiga orang wanita tengah mengelilingi tubuh mungil Baby Andra.


Bayi itu tidur nyenyak di samping sang Mama, penuh kedamaian dan ketenangan. Wajah tak berdosa itu mengingatkan Joe akan sosok pria yang sudah hampir 23 tahun dikenalnya. Sosok pria yang sudah menjadi atasan, sahabat sekaligus iparnya. Sosok pria yang sangat ia benci karena sudah menorehkan luka di hati Gladys namun berkat pria itu juga, kini kebahagiaan tengah menghiasi keluarga Kurniawan.


"Aku tidak tahu apakah harus mengucapkan terima kasih atau malah harus memakimu, Mark."


"Di satu sisi kamu sudah melukai hati adikku tapi di sisi lain kamu juga memberikan kebahagiaan untuknya."


"Ah, Tuhan memang sedang mempermainkan perasaanku saat ini," ucapnya lirih sebelum melangkah masuk menghampiri Gladys dan Mama Aura.


"Ma ayo, katanya tadi mau ke mall membeli kebutuhan Baby Andra dan peralatan medis yang dibutuhkan Suster Kirana untuk merawat luka Gladys."


"Oh iya, Mama hampir lupa. Bagaimana kalau kamu dan Suster Kirana saja yang jalan, Mama capek ingin istirahat."


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2