
"Tante dan Joe, tolong izinkan aku mengejar kembali cinta wanita cantik di hadapanku ini," ucapnya bersungguh-sungguh.
"Aku dan Mama memberikan kebebasan untuk Gladys dalam mengambil keputusan. Apa pun keputusannya nanti, kami akan menerima," ujar Joe.
"Gladys, bagaimana, apakah kamu memberikan aku kesempatan untuk meluluhkan hatimu?"
"Percayalah, kali ini aku tidak akan memberikan tangisan dan penderitaan padamu. Yang ada hanya senyuman, tawa dan kebahagiaan akan mewarnai lembaran kehidupanmu yang baru." Perlahan pria itu memberikan kecupan penuh cinta pada kening Gladys, "demi anak kita."
"Sangat sulit bagiku untuk menerimamu kembali, Kak. Hatiku sakit jika ingat kejadian di masa lalu. Namun, aku akan memberikan satu kesempatan padamu untuk menunjukan keseriusan dari ucapanmu itu. Apabila kamu terbukti mengecewakanku lagi, terima resiko yang akan didapat."
Mark bisa bernapas lega, akhirnya pria itu mendapatkan satu kali kesempatan untuk membuktikan diri bahwa dia layak menjadi Papa dan suaminya yang baik bagi keluarga kecilnya.
Pria itu menciumi puncak kepala Gladys berkali-kali, "terima kasih sudah memberiku kesempatan. Aku berjanji tak kan membuat kesalahan yang sama. Akan kuhapus semua luka di sini dengan ukiran kebahagiaan yang terbuat dari tinta emas langka di dunia ini."
Gladys mendongak dan menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tidak usah banyak membual, cukup buktikan, maka aku akan menilai!"
Dari jarak tidak terlalu jauh, Mama Aura menyaksikan kebahagiaan tengah menyelimuti rumah tangga anak dan menantunya. Membuat wanita paruh baya itu tidak tahan, air matanya jatuh makin lama makin deras.
Di saat seperti ini, membuat wanita itu teringat mendiang suaminya. "Mas, andaikan kamu masih ada di dunia ini, kamu juga pasti setuju kan memberikan kesempatan pada menantu bodoh itu untuk membina kembali rumah tangga yang sempat hancur. Namun, jika dia tidak memanfaatkan kesempatan itu, selamanya aku tak kan membiarkannya melihat Gladys dan Alpukat."
"Jangan menangis, Mama. Mama tentu tidak ingin terlihat jelek di depan adik iparku yang bodoh itu, bukan? Jika dia melihat air mata ini, Mark akan besar kepala dan malah semena-mena pada Gladys karena menganggap kita lemah," ucap Joe seraya menyusut air mata dengan jarinya.
Wanita itu segera merubah posisi duduknya lalu menyibakan rambutnya ke belakang, "benar, kita tidak boleh lemah. Harus tetap waspada agar anak itu tidak mempermainkan Gladys lagi."
"Permisi, Nyonya, makan malam sudah siap. Apakah mau dihidangkan sekarang?" ujar Miss Lucy.
"Tolong tambahkan satu set perlengkapan makan untuk menantuku. Letakan persis di samping kursi Gladys," titah wanita itu dengan suara lembut tetapi tegas.
"Ma..." ucap Joe dan Gladys hampir bersamaan.
Gladys dan Joe saling menatap, kemudian terbengong beberapa saat.
"Kita adakan sedikit perayaan untuk menyambut kedatangan anggota keluarga baru. Biarkan suamimu makan bersama anaknya. Mama yakin, Alpukat masih merindukan Papanya," ujar Mama Aura.
__ADS_1
Wanita itu kemudian berjalan menuju ruang makan, disusul Joe, Gladys dan Mark.
Mark mengikuti istrinya berjalan menuju ruang tamu, tangannya masih sibuk menggendong si kecil yang sedang mengoceh sembari memasukan jari telunjuk ke mulut.
Sambil berjalan, pria itu mengamati semua pajangan dan ornamen dalam rumah itu terbuat dari kristal seperti lampu gantung, vas bunga dan masih banyak lagi.
Mereka berbelok ke lorong sisi kanan, kemudian terus melangkah hingga tiba di sebuah ruangan yang cukup luas.
Semua pelayan berseragam putih, biru tua mondar mandir sambil membawa nampan. Mama Aura sengaja meminta para pelayan memasak makanan khas Meksiko berupa buritto isi daging dan sayur. Terbuat dari tortila tipis dengan isian daging, sayur dan pasta kacang digulung menjadi satu bersama roti tortila.
"Duduklah, malam ini kita makan malam bersama sekaligus menyambut kedatangan anggota keluarga baru."
Mama Aura selaku orang yang dituakan dalam keluarga Kurniawan mengangkat gelas tinggi-tinggi sambil tersenyum.
"Semoga kali ini kami tidak salah memberimu satu kali kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu."
"Bersulang!"
Semua anggota keluarga mengangkat gelas tinggi-tinggi.
Pria itu semakin mengagumi kecantikan istrinya saat Gladys menyuapi sang buah hati dengan telaten. Jemari lentik itu begitu terlatih memberikan suapan demi suapan ke dalam mulut Alpukat.
"Kamu memang wanita sempurna, Sayang. Pantas saja dulu Donny tergila-gila padamu. Untung saja aku masih diberikan kesempatan untuk memilikimu sekali lagi." Sudut bibir pria itu terangkat tanpa mengalihkan pandangan dari sosok wanita cantik di sebelahnya.
Pria itu terus memandangi wajah istrinya hingga suara baritone seorang pria menghentikan kegiatannya.
"Jangan terlalu lama menatap kecantikan Adikku. Bisa-bisa kamu tidur tidak nyenyak akibat membayangkan wajahnya!" ujar Joe.
Mark memutar bola mata, Joe terus saja mengganggu kesenangannya. Sejak dulu dia tidak pernah membiarkan pria itu bahagia walau hanya sebentar saja.
"Maafkan kelancangan Adik Iparmu ini, Kak." ucap Mark lirih.
Mark pun kembali menyuapkan sendok yang sudah berisi makanan ke dalam mulut lalu mengunyahnya hingga *****.
Joe tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Mark patuh dan menghormatinya sebagai Kakak Ipar.
__ADS_1
"Cuaca di Australia, semakin malam semakin dingin. Sebaiknya malam ini kamu bermalam di sini, besok setelah matahari terbit baru boleh kembali ke hotel."
Gladys dan Joe menatap Mama Aura yang sedang memakan makanan penutup berupa puding coklat.
Sementara itu, Mark seketika menghentikan kegiatannya. Dia menatap mertuanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mama hanya ingin hubungan antara Papa dan anak kembali akur, itu saja kok. Lagipula kalian berdua masih sah menjadi suami, istri tapi ingat, jangan pernah melakukan hubungan intim dulu sebelum mengulang ijab kabul."
Gladys membelalakan mata. Satu alis terangkat. Kalimat vulgar yang diucapkan Mama Aura membuat wajah wanita muda itu merona.
"Apakah kalian keberatan dengan keputusan Mama?" tanya Mama Aura.
"Tidak, Ma. Kami setuju jika itu sudah menjadi keputusan Mama." ucap Joe.
"Mark, kamu sendiri sanggup tidak menepati keinginan Tante?"
"Sanggup, Tante. Mark janji tidak akan ingkar."
"Bagus, malam ini kalian tidur satu kamar. Biarkan Alpukat merasakan kehangatan sebuah keluarga yang utuh. Biarkan dia terbangun dan melihat kedua orang tuanya berada di sampingnya," mata coklat kehitaman milik Mama Aura melirik sekilas ke arah cucunya yang sedang menghabiskan cemilan sehat, terbuat dari buah alpukat, brokoli, wortel dan ASI.
Bayi mungil itu begitu lahap memakan cemilan yang diberikan oleh Gladys. Dia tersenyum, tertawa lalu mengoceh dengan kalimat yang orang dewasa sendiri tak bisa mengartikan. Hanya Alpukat dan Tuhan yang tahu.
Bersambung
.
.
.
Note : Author sudah riset terlebih dulu jadi buah-buahan maupun sayuran boleh di mix dengan ASI asalkan sesuai petunjuk agar aman dikonsumsi oleh bayi.
Sumber (klik.dokter.com)
__ADS_1