
"A-apa yang mau kamu lakukan?" tanya Stevanie gugup. Ini pertama kalinya ia diperlakukan kasar oleh lawan jenis bahkan saat wanita itu bercinta dengan Mark, suaminya selalu bersikap lembut.
"Kamu pikir apa, Nona!" pria asing itu tersenyum menyeringai memperlihatkan deretan gigi putih yang tersusun rapi.
"Kuperingatkan padamu, jangan sentuh aku!" Stevanie mencoba bangkit, tangannya meraih sandaran sofa.
"Kau pikir bisa lolos dariku! Jangan harap, Nona!"
Pria itu mengukung tubuh Stevanie, matanya sudah dipenuhi oleh kabut gairah. Deru napasnya mulai tak beraturan, dengan tatapan buas ia menunduk dan menciumi leher jenjang wanita itu.
Stevanie masih berusaha menghindar, kepalanya ia gerakan kesana-kemari hingga membuat pria itu jengkel.
"Diam!" pria itu menarik rambut indah Stevanie dengan kasar membuat sang empunya meringis kesakitan.
"Sudah kukatakan, patuh! Jika kamu bersikap brutal, maka jangan salahkan aku jika bermain kasar."
"Aku wanita baik-baik, tolong jangan nodai kesucianku," Stevanie menangkupkan kedua tangan, ia memelas agar pria itu mengasihani dan membiarkannya pergi.
"Apa? Wanita baik-baik!" ia tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Stevanie.
"Kalau kamu wanita baik-baik, lantas untuk apa kau kemari!"
"Kamu pikir aku orang bodoh yang bisa ditipu!" pria itu semakin mengeratkan genggamannya.
"Air matamu tak kan meluluhkan hatiku, malah semakin membuatku berga*rah dan ingin segera mencicipi tubuh molek nan sintal ini!" ia menghempaskan rambut wanita itu.
"Mari kita mulai!" pria itu mulai menundukan dan memulai aksinya.
Bugh!
Sebuah tendangan tepat mendarat di punggung pria itu.
"Brengsek, siapa yang berani mengganggu kesenanganku!"
"Laki-laki tak bermoral sepertimu pantas mendapatkannya!" ujar seorang pria pemilik mata sipit. Ia berdiri di belakang dengan posisi tegap.
"Hei Tuan, sebelumnya kita tidak punya masalah lantas mengapa menggangguku!"
Pria itu tak menjawab, ia menjentikan jemari memberikan isyarat pada anak buahnya.
"Bereskan orang ini!" titah pada pada ketiga anak buahnya berseragam serba hitam.
"Baik, Tuan!" ujar mereka hampir bersamaan.
__ADS_1
"Hei, kalian mau apa? Hentikan!" teriak pria itu saat ketiga body guard berseragam hitam memukuli kepala, perut dan menjadikannya bahan tontonan bagi pengunjung club.
"Apa kamu terluka?" tanyanya pada wanita yang sedang duduk lemah di sofa.
Stevanie masih syok dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Tubuh wanita itu bergetar, tatapan matanya kosong dan mulutnya terkatup rapat.
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang!" tangannya terulur ke depan, ia memapah wanita itu berjalan melewati lorong menuju pintu keluar club.
"Tolong bawa aku ke hotel, malam ini aku tidak ingin pulang ke mansion," ujar Stevanie saat langkah kakinya menuruni anak tangga.
"Jangan buat Mark mencemaskanmu!"
"Dia tidak akan mencemaskanku karena..."
Pria itu menautkan alis, menatap penuh arti. Sedetik kemudian ia menghela napas panjang dan dalam, "baiklah, aku akan mengantarmu ke hotel."
"Terima kasih, Mr. Lee."
Tak lama kemudian, supir pribadi Mr. Lee menyalakan mesin mobil dan melajukannya.
"Pak, kita ke hotel Gemilang!" ucap pria itu dalam Bahasa Indonesia namun dengan logat khas orang Korea.
"Baik, Tuan!"
"Aku sudah meminta mantan managerku datang tapi dia ada urusan jadi telat sampai tujuan."
"Untung saja aku datang, jika tidak entah bagaimana nasibmu sekarang."
Setelah mengatakan kalimat itu, suasana mobil kembali hening tak ada satu orang pun mengucapkan sepatah kata, mereka larut dalam pikiran masing-masing.
Saat ini Mr. Lee dan Stevanie sudah berada di hotel. Pria itu merogoh saku celananya untuk mengambil kunci dan membuka pintu. Ia menempelkan sebuah kartu di sebuah alat khusus yang biasa terpasang di depan pintu kamar.
"Hati-hati!" ujarnya pada Stevanie.
Mr. Lee memapah wanita itu sampai ke dalam kamar. Kini Stevanie terbaring di atas ranjang hotel.
"Ada masalah apa hingga kamu memutuskan datang ke club dan mabuk-mabukan!" tanyanya sembari duduk di tepian ranjang.
"Apa kalian bertengkar lagi?"
Wanita itu tak bisa lagi membendung air matanya, hatinya terlalu sakit jika mengingat bagaimana Mark memperlakukannya dengan kejam semenjak Ameera muncul dalam kehidupan pernikahan mereka.
"Mark sekarang berubah, ia lebih membela gadis itu daripada aku istri sahnya!" wanita itu duduk di samping Mr. Lee.
__ADS_1
Stevanie menyenderkan kepala di pundak pria itu, ia menangis meluapkan isi hatinya.
"Aku hanya ingin ia kembali, namun semua rencanaku gagal. Mark semakin menjauhiku."
Pria itu membawa tubuh Stevanie dalam pelukan. Ia memeluk erat wanita itu. Suara tangisnya mengema memenuhi ruang kamar hotel.
Melihat wanita yang dicintainya menangis membuat Mr. Lee tidak tahan lagi. Andai saja dulu, pria itu memiliki keberanian menentang keluarga Pieter mungkin saja saat ini ia akan hidup bahagia bersama Stevanie.
Namun apa daya, dulu ia hanya seorang pegawai biasa tak memiliki kekayaan, kekuasaan apapun untuk melawan keluarga Pieter.
Pria itu begitu bodoh hingga harus merelakan cintanya dimiliki orang lain meskipun ia tahu Stevanie sangat mencintai suaminya namun jika ia terus berusaha merebut perhatian wanita itu mungkin saja akan berhasil sebab hati manusia bisa berubah dalam hitungan detik.
Mr. Lee mengulurkan tangan mengusap air mata Stevanie. Ia menatap mata indah milik wanita itu.
"Maafkan aku karena sudah lancang memberikan obat itu dan mencampurkannya dalam minuman suamimu. Kupikir ia akan melampiaskannya padamu ternyata..."
Air mata masih belum berhenti mengalir dari pipinya, semakin ia berusaha diam butiran bening itu semakin kuat mengalir.
Stevanie mendongakan kepala, ia melihat manik coklat pria di sampingnya. Wanita itu melihat setitik penyesalan di sana. Nasi sudah menjadi bubur, sekalipun ia memaki dan menampar Mr. Lee keadaan tidak akan berubah menjadi lebih baik.
"Maaf, seharusnya tidak kuturuti saran asistenku untuk menjebak suamimu!"
"Kamu tahu, aku begitu iri dengan kesuksesan yang diraih oleh Mark. Aku iri melihat perusahaannya semakin berkembang, memiliki kekayaan berlimah, seluruh pegawainya setia, bahkan istri cantik yang selalu mendukung kariernya."
"Aku bodoh karena memberikan peluang pada suamimu untuk bercinta dengan wanita lain!" Mr. Lee memukul kepalanya berkali-kali, merutuki kebodohannya.
"Sungguh, Vanie, aku tidak berniat mengorbankanmu dalam dendam ini."
Ia tahu pasti bagaimana sifat pria itu, 5 tahun bukanlah waktu sebentar baginya untuk bisa mendalami kepribadian Mr. Lee.
Berawal dari pertemuan yang tidak disengaja, membuat keduanya semakin akrab dan memutuskan berteman meskipun tak jarang pria itu melontarkan kode tentang perasaannya tapi ia hanya menganggap Mr. Lee hanya sebatas teman karena hati dan cintanya sudah ia berikan pada Mark.
"Tidak perlu kamu meminta maaf, semua sudah terjadi."
Bersambung
.
.
.
Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan (typo). Author ucapkan banyak terima kasih atas dukungan kalian selama ini, berupa like, komentar dan vote. Meskipun jarang kubalas komentar kalian tapi sering aku baca dan termotivasi untuk selalu update disela-sela waktu mengurus rumah tangga. 🤭
__ADS_1
Sekali lagi, author ucapkan terima kasih. 🙏