
Setelah melihat mobil Donny hilang dalam kegelapan jalanan perkampungan, Ameera masuk ke dalam rumah karena sudah pukul sembilan malam ia mengeluarkan kunci rumah dari dalam tas ransel. Kemudian perlahan-lahan memutar kunci hingga pintu rumah terbuka. Gadis itu melihat bundanya sedang duduk menghadap ke adah televisi.
"Bunda belum tidur?"
"Masuk rumah harus mengucapkan salam dulu, Meera!" Tegur Bunda Meta.
Ameera kehilangan konsentrasinya saat kedua bola mata menatap sosok bundanya duduk di sebuah sofa yang nyaris warnanya mulai memudar.
"Assalamu a'laikum," ucap gadis itu seraya mencium punggung tangan sang bunda.
"Wa'alaikum salam. Dari mana jam segini baru sampai rumah?" Tanya Bunda Meta mengintrogasi.
"Habis dari mall, menemani teman mencarikan kado untuk Emon."
Ameera melepaskan sepatu pentofel hitam miliknya dan merapikannya ke sebuah rak sepatu di dekat pintu kamar mandi.
"Lantas, siapa yang mengantarkanmu pulang?"
Kali ini pertanyaan Bunda Meta penuh selidik.
"Ketua kelompok bun, namanya Donny."
"Kalian hanya berdua saja?"
"Ada Naomi juga kok bun. Meera pergi ke mall diantar Donny tapi Naomi juga ikut."
Kali ini Ameera menjelaskan secara terperinci karena ia merasa saat ini bundanya sedang mengawasi dirinya sama persis ketika masih kecil. Bunda Meta atau Ayah Reza akan mengintrogasinya habis-habisan jika gadis itu pulang terlambat, bisa sampai satu atau dua jam Ameera duduk di kursi makan hanya sekedar mendengarkan pertanyaan maupun nasihat kedua orang tuanya.
Ayah Reza dan Bunda Meta begitu menyayangi Ameera, meskipun gadis itu sering membuat jengkel sang bunda karena kebiasaan buruknya yang tidak pernah berubah namun sebagai seorang ibu, wanita paruh baya itu sangat mencintai dan menyayangi putrinya apalagi semenjak kakak Ameera meninggal, seluruh kasih sayang Ayah Reza dan Bunda Meta dicurahkan kepada putri semata wayang.
"Apa dia tahu statusmu?"
"Tidak!" Ameera menggelengkan kepala.
"Meera, kamu seharusnya menjaga jarak dengan pria itu karena statusmu sudah bersuami tidak baik jika dekat dengan pria lain. Apa kata tetangga jika melihat kamu diantar seorang pria disaat suamimu tidak ada di rumah."
"Kamu itu istrinya nak Mark, meskipun pernikahan kalian tidak tercatat di KUA tapi dimata Tuhan pernikahan kalian sah," ucap Bunda Meta panjang lebar.
"Iya bun, Meera mengerti. Lagipula Meera dan Donny tidak memiliki hubungan spesial, kami hanya berteman toh tadi ada Naomi juga di dalam mobil."
Ameera mengeluarkan satu buah kotak susu rendah kalori dari dalam lemari es, susu itu dibelikan oleh Mark sehari sebelum ia pergi meninggalkan rumah orang tua Ameera.
__ADS_1
Saat Mark pulang bekerja, ia meminta Joe mampir ke sebuah supermarket membeli sepuluh kotak susu rendah kalori, sepuluh dus susu ibu hamil rasa vanila, lima kilo buah kiwi dan lima belas kotak yogurt khusus untuk Ameera. Pria itu tidak ingin istrinya kelaparan saat malam hari makanya ia sengaja membeli banyak persediaan buah dan minuman untuk Ameera.
"Ameera sudah dewasa dan bisa menjaga diri."
"Oh iya bun, ayah kemana?"
Gadis itu mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ayah diminta lembur jadi malam ini tidak pulang ke rumah."
"Lumayan, jika dapat tambahan uang lembur bisa digunakan untuk memperbaiki mesin cuci jadi kamu tidak perlu olahraga tangan saat mencuci pakaian kotor."
Bunda Meta mengambil panci berukuran tanggung, menyalakan kran air dan mengisi panci tersebut kemudian merebusnya di atas tungku. Wanita paruh baya itu menyiapkan air hangat untuk mandi putrinya.
"Ehm, Ameera ada sedikit uang tabungan. Bunda mau pakai?"
"Tidak perlu, kamu simpan saja uangnya untuk biaya persalinan."
"Masih enam bulan lagi bun, Meera bisa menabung lagi kalau mau pakai."
"Meera!"
"Baik-baik, Meera tidak akan memaksa," akhirnya Ameera mengalah padahal dalam hati ia masih ingin berargumen dengan bundanya.
Dulu awal menikah pria itu memberikan lima juta rupiah namun semakin bertambahnya usia kandungan Ameera, Mark menambahkan jatah bulanan. Setiap awal bulan pria itu tidak pernah absen mengirimi uang untuk kebutuhan sehari-hari, biaya cek kandungan dan membeli susu ibu hamil. Menurut Ameera, uang lima juta rupiah sudah sangat besar bahkan ia bisa menyisihkan lima ratus ribu atau satu juta rupiah per bulan. Ameera hanya menggunakan uang bulanan tersebut untuk membeli kebutuhan selama hamil, ia ingin memberikan makanan bergizi dan vitamin agar bayi dalam kandungannya sehat dan kuat.
Kini Ameera sedang asyik mengunyah potongan buah kiwi ke dalam mulutnya sembari pikirannya berkelana kemana-mana.
Bunda Meta heran melihat putrinya tidak pernah merasa kenyang padahal ia sudah menghabiskan dua buah kiwi, satu kotak susu dan satu cup yogurt tapi mulutnya masih saja mengunyah makanan.
Napsu makan Ameera begitu tinggi, pantas saja tubuhnya semakin montok. Kelak bayi dalam kandungannya pasti sehat dan kuat karena putriku merawatnya dengan baik. (Bunda Meta).
"Bunda mau?"
Gadis itu menyadari bahwa tatapan mata sang bunda masih tertuju padanya.
"Jika bunda mau, ambil saja," Ameera menyodorkan piring kecil.
"Kamu habiskan saja, bunda tidak berselera."
"Ya sudah, Ameera habiskan sendiri saja kalau begitu," ucap gadis itu cuek.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, air di dalam panci sudah mendidih, Bunda Meta mengangkat panci tersebut menggunakan dua helai kain perca dan menuangkannya ke dalam ember di kamar mandi.
"Mandi dulu sana tapi jangan lama-lama nanti masuk angin."
"Oke bunda, terima kasih," ucap Ameera dengan nada manja.
"Dasar kamu ya, sudah menjadi calon mama masih saja manja," Bunda Meta mencubit hidung Ameera.
"He-he, biarpun aku menjadi mama tapi masih tetap putri kecil ayah dan bunda. Iya kan?"
"Tentu sayang, selamanya kamu akan tetap menjadi putri kecil kami."
Mata Bunda Meta berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat itu, ada rasa sakit dan takut kehilangan setiap kali memandang wajah cantik Ameera.
"Semoga kamu akan tetap menyayangi kami jika suatu saat sebuah kebenaran terungkap," ucap Bunda Meta dalam hati.
"Bunda melamun?"
"Tidak sayang, sudah mandi sana."
Bunda Meta mendorong tubuh Ameera untuk bergegas ke kamar mandi.
Cklek
Ameera memutar handle pintu dan menutupnya kembali. Di dalam kamar mandi sudah ada handuk bersih, yang sudah disiapkan oleh bundanya. Semua peralatan mandi Ameera tertata rapi di dalam rak gantung berbahan stainless steel. Benda itu dibelikan oleh Mark saat mereka masih tinggal bersama di rumah orang tuanya.
"Hufh, aku hanya bisa memandangi kamu saja sebagai obat rinduku terhadap Tuan Mark," Ameera menunjuk-nunjuk benda berwarna silver di atas sana.
"Jika tidak ingat kamu dibeli menggunakan lembaran uang berwarna merah, pasti sudah kujual ke tukang loak," maki Ameera.
"Aih, apa aku sudah gila? Ya, aku gila karena mencintai suami orang," ucap Ameera setengah berteriak.
Gadis itu meluapkan kekesalannya terhadap Mark, suaminya berubah semenjak Stevanie kembali.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan jejak. ❤