BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
RENCANA IBU DAN ANAK


__ADS_3

"Beliau pria yang telah menolong Gladys, iya kan Joe!" imbuh Mama Aura.


"Benar Ma, tapi kita belum bisa memastikan kebenarannya."


"Joe, kebetulan kita akan ke rumah sakit bagaimana lakukan tes DNA terhadap Ameera! Mama sudah tidak sabar, bahkan para reader juga memaksa author untuk segera mengungkap kebenaran. Kasihan dia selalu didesak, kalau ngambek dan mogok update maka kita tidak akan memiliki kesempatan untuk unjuk gigi di novel ini." 🤣


"Bukan kah waktu yang dibutuhkan melakukan tes DNA sangat lama, setahu Joe bisa 2 sampai 4 minggu," ucap pria itu sambil melirik kaca spion di samping. Ia berencana menyalip kendaraan di depan agar bisa cepat sampai rumah sakit.


"Aduh Joe, kamu ditinggal selama 2 tahun tapi tingkat kecerdasaan masih di bawah Mama. Saat ini ilmu kedokteran semakin canggih. Dari informasi yang didapat hanya dengan mengambil setetes darah dan menunggu selama 1 hari sudah bisa dapat hasilnya."


"Akan tetapi Mama masih bingung bagaimana caranya mengambil sampel darah Ameera," Mama Aura melipat tangan ke dada.


"Joe, Ameera di rawat di rumah sakit mana?"


"RSU Persada, Ma."


"Kebetulan sekali, Mama mempunyai kenalan seorang dokter jadi bisa mintai tolong."


"Siapa? Apakah Joe mengenalnya?" tanya pria itu penasaran.


"Dia teman kuliah Mama, memang sudah lama tidak bertemu tapi kami masih sering berkomunikasi via buku wajah (bisa diterjemahkan ke dalam B. Inggris)."


"Pria atau wanita?"


"Tunggu, kamu curiga jika Mama menjalin kasih dengan seorang pria?"


"Joe tidak keberatan bila ada seorang pria lajang mempersunting mamaku yang cantik bagaikan bidadari ini untuk dijadikan istri asalkan dia baik dan tulus, why not!" pria itu mencoba menggoda mamanya. Ia mengerlingkan mata dan menahan tawa melihat perubahan ekspresi wanita di sebelahnya.


"Joe!" ucap Mama Aura penuh penegasan.


"Baik Ma, Joe akan menutup rapat mulut ini dengan gembok besar dan membuangnya ke Kali Ciliwung."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Joe menutup rapat mulutnya hingga mobil yang dikendarai tiba di sebuah rumah sakit. Pria itu memarkirkan mobil kemudian membantu Mama Aura turun kemudian mereka berjalan ke meja informasi.


"Suster, ruang rawat inap atas nama Ameera Rinaldi di mana?" tanyanya pada seorang perawat yang bekerja di belakang meja informasi.


Perawat itu membuka data pasien pada sebuah layar monitor rumah sakit.


"Nona Ameera berada di bangsal Flamboyan. Anda naik lift ke 2 belok kiri, lurus dan kamarnya tepat di sebelah tangga darurat."


"Baik Sus, terima kasih."


"Ayo Ma!"


Kini Mama Aura dan Joe berada di depan pintu kamar rawat inap. Sejenak mereka menghentikan langkah dan wanita paruh baya itu menarik napas dalam guna mengendalikan perasaannya karena sebentar lagi ia akan menjalankan sebuah misi terbesar dalam hidupnya yaitu melakukan tes DNA secara sembunyi-sembunyi.


"Ma, setelah masuk ke dalam biarkan semua mengalir apa adanya. Rencana pengambilan sample darah jangan sampai diketahui orang lain. Jika melakukan kesalahan maka kesempatan kedua belum tentu datang," Joe memberikan wejangan sebelum mereka masuk dan melihat kondisi Ameera.


"Tentu, Mama tidak mau melewatkan kesempatan emas ini hilang begitu saja. Kita jalankan misi sesuai rencana."


Joe mengetuk pintu, khawatir mengganggu istirahat Ameera.


Seorang pria muda membuka pintu, "silakan masuk Tuan Joe," ucap Donny. Pria itu mempersilakan dua tamu agung untuk masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Halo Don, apa kabar?" tanya Joe basa-basi.


"Sangat baik, Tuan."


"Mari, silakan masuk!" Donny memperilakan Joe dan mamanya duduk.


"Ameera ke mana?" tanya Joe saat melihat ranjang pasien kosong.


"Ameera sedang di kamar mandi," jawab pria itu.


Pintu kamar mandi terbuka, Bunda Meta keluar membantu putrinya berjalan akan tetapi Donny sudah lebih dulu menggendong Ameera ala bridal style.


Ia pasrah dan melingkari pundak pria itu, direbahkan kepalanya di dada Donny sementara Bunda Meta memegang botol infus.


Joe dan Mama Aura tersentak kaget dengan apa yang mereka lihat.


Mengapa pemuda ini begitu sigap menolong Ameera, apakah dia menaruh hati pada gadis itu? Jika kuperhatikan, sepertinya pemuda ini dari keluarga baik-baik dan sangat serasi jika bersanding di pelaminan dengan putriku.


Donny membaringkan Ameera dengan hati-hati dan menyelimuti gadis itu.


"Aku akan ke kantin sebentar," bisiknya pada Ameera.


Ameera hanya mengangguk lemah.


"Tante, Tuan dan Nyonya, saya permisi keluar sebentar."


"Ameera, bagaimana keadaanmu?" tanya Mama Aura, ia mengusap rambut gadis itu lembut.


Ya Tuhan, mengapa hatiku begitu sakit melihat perlakuan istimewa wanita ini terhadap putriku. Tatapannya penuh cinta dan kebahagiaan juga terpancar dari wajah Ameera.


"Alhamdulillah sudah membaik."


"Maaf, Tante baru bisa membesukmu. Pagi ini baru saja diberitahu Joe bahwa kamu dirawat."


"Iya Tante, tidak apa-apa."


"Oh iya, perkenalkan ini Bunda Meera," Ameera memperkenalkan Bunda Meta pada Mama Aura.


"Bun, ini Tante Aura, Mamanya Kak Joe."


"Halo, saya Aura." Mama Aura mengulurkan tangan.


"Halo Nyonya, saya Meta."


Dua wanita paruh baya yang sama-sama menyanyangi dan mencintai Ameera saling berjabat tangan.


Wajah wanita itu begitu mirip dengan Ameera, jangan-jangan dia adalah...


Tidak, Ameera adalah anakku dan selamanya tetap akan tinggal dirumah bersama kami!


"Mari Nyonya, silakan duduk kembali!" Bunda Meta duduk di tepian ranjang sementara Mama Aura duduk di kursi di dekat Ameera.


Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu dan seorang perawat masuk membawa kom stainless steal.

__ADS_1


"Selamat siang Tuan dan Nyonya, saya perawat Asri diminta Dokter Firman mengambil sample darah untuk diperiksa di laboratorium."


Joe dan Mama Aura saling melirik seolah berbicara dengan bahasa isyarat sedetik kemudian mereka tersenyum.


"Silakan Sus," Mama Aura menggeser kursi memberikan ruang untuk perawat tersebut mengambil darah Ameera.


Perawat tersebut mengoleskan kapas yang sudah dicampur alkohol kemudian mengeluarkan jarum suntik dari dalam kom dan memulai tindakan.


"Tahan sedikit Nyonya, ini akan terasa sedikit sakit."


"Sudah selesai, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat siang," seorang perawat merapikan alat dan pergi meninggalkan ruangan.


Semoga hasilnya menunjukan 99% bahwa dia memang Gladys, putriku.


"Tante!" panggil Ameera.


"Eh iya, ada apa Meera?"


"Terima kasih karena sudah membesuk dan membawakan buah-buahan."


"Sama-sama."


"Ehm, Meera."


"Kenapa Tante?"


"Joe sudah memberitahu bahwa kamu adalah istri kedua Mark dan kemarin Stevanielah yang sudah mencelakaimu, apakah benar?"


"Maafkan Meera karena sudah tidak jujur pada Tante dan harus mengetahui dari Kak Joe," Ameera menatap Mama Aura dengan rasa bersalah.


"Tante memang terkejut apalagi saat mengetahui pria itu telah merenggut kesucianmu secara paksa," dengus Mama Aura kesal.


"Lantas, apakah dia sudah datang kesini membesukmu?"


Ameera bergeming dan hanya tersenyum kecut.


Mama Aura tahu bahwa Mark belum mengunjunginya di rumah sakit.


Kamu harus sabar Nak, jika hasil DNA sudah keluar dan ternyata kamu adalah Gladys maka bersiaplah untuk meninggalkan negara ini untuk selamanya.


Aku, Aura Kurniawan tidak akan pernah membiarkan seorang pun menyakiti putriku lagi!


Kalian, para manusia jahat cepat atau lambat akan mendapatkan karma atas kejahatan yang sudah dilakukan pada Ameera.


Tunggu dan lihat saja apa yang akan author berikan pada kalian dan untuk para reader mohon bersabar karena yang punya novel sedang mempersiapkan karma bagi mereka.


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


Update lagi nih. Khusus untuk kalian. Mohon maaf jika ada typo ya guys. 😊


__ADS_2