
"Untuk bagian yang saya coret tolong kamu revisi dalam waktu satu minggu, sanggup?" tanya Bu Dona setelah memeriksa skripsi milik Ameera.
"Sanggup Bu, saya pasti bisa merevisi semua kesalahan dalam satu minggu!" ucap Ameera tanpa ada keraguan sedikitpun di dalam dirinya.
"Bagus, saya suka anak muda seperti kamu penuh keyakinan dan rasa percaya diri tinggi. Kelak, kamu akan menjadi orang sukses yang bisa membanggakan kedua orang tuamu!" puji Bu Dona.
"Terima kasih atas pujian Ibu!" balas Ameera dengan tersenyum.
"Ameera, saya perhatikan kamu semakin berisi. Apa kamu sedang hamil?"
Pertanyaan Bu Dona seketika membuat wajah Ameera pucat, ia memainkan cincin yang melingkar di jari manis sebelah kiri berusaha menutupi rasa gugup.
"Loh, kenapa gugup? Apa pertanyaan saya terlalu lancang" tanya Bu Dona.
"Tidak, Bu. Hanya saja kok Ibu bisa tahu jika saya sedang hamil?"
Bu Dona terkekeh mendengar pertanyaan mahasiswa bimbingannya "kamu lupa, bahwa saya pernah berada di posisimu," ujar Bu Dona seraya merapikan meja kerjanya.
"Tiga kali saya mengandung jadi sekali lirik saja sudah tahu bahwa kamu sedang hamil."
Ameera tersenyum getir "apa mungkin orang lain akan mudah menebak bahwa saat ini aku sedang hamil?" tanya gadis itu dalam hati.
Gludug!
Gludug!
Gludug!
Suara petir menggelegar membuat Ameera terperanjat. Langit cerah berubah menjadi kelabu, matahari mulai tertutup awan gelap disertai tiupan angin kencang menandakan hujan akan segera turun.
"Bu Dona, saya permisi dulu. Satu minggu lagi akan menemui Ibu untuk menyerahkan hasil revisi. Selamat siang, Bu."
Ameera beranjak dan pergi meninggalkan ruang dosen. Ia berjalan melewati sekumpulan mahasiswa Fakultas Ekonomi yang sedang duduk di bangku menunggu pergantian mata kuliah. Gadis itu menatap langit yang mulai diliputi awan mendung.
Ameera berhenti sejenak, mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Ia membuka aplikasi online memesan taxi untuk mengantarkan pulang ke rumah. Hampir lima menit menunggu namun semua driver tidak tersedia. Gadis itu bingung sendiri, ingin ke luar halaman kampus dan memberhentikan taxi argo tapi hujan sudah mulai turun jika menunggu hujan reda maka sore baru akan sampai rumah.
Saat Ameera menimbang-menimbang untuk menerobos hujan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya.
"Ameera!" Donny membuka jendela mobil.
__ADS_1
"Kamu menunggu taxi?"
"Iya Don, tapi driver tidak tersedia," ucap Ameera sedikit berteriak karena hujan semakin deras.
"Masuklah, akan aku antar sampai rumahmu!"
Ameera menatap Donny ragu, memilih antara menerima tawaran atau menolaknya. Jika menolak maka ia harus menunggu sampai sore sedangkan tubuhnya sudah mulai kedinginan.
"Ayo naik, hujan sudah mulai deras!"
Ameera menatap wajah Donny, pria itu tulus menolongnya.
Saat Ameera hendak berlari ke arah mobil, Donny berteriak dan meminta gadis itu menunggu.
"Kamu tunggu di situ, aku akan bawakan payung!" Donny turun dari mobil sambil tangannya memegang gagang payung, ia berjalan mendekati Ameera dan melindungi tubuh mungil gadis itu agar tidak terkena guyuran air hujan saat berjalan.
Mereka berdua berada dalam payung yang sama, posisi tubuh semakin dekat hingga Ameera bisa merasakan hembusan napas Donny yang menggelitik telinganya. Ia meremang dan bulu kudunya berdiri.
Kini Ameera dan Donny sudah berada di dalam mobil, sebagian pakaian pria itu terkena air hujan namun ia tidak menghiraukannya. Donny rela terkena flu atau masuk angin asalkan ia bisa terus melihat wajah Ameera, itu sudah lebih dari cukup.
"Terima kasih Don karena kamu mau mengantarkanku," Donny menatap mata indah milik Ameera. Sorot mata gadis itu begitu teduh dan menenangkan hati.
"Kamu tidak perlu sungkan," Donny mulai menyalakan mesin kendaraannya.
Donny bergegas membuka pintu mobil dan memayungi Ameera. Tanpa disadari oleh gadis itu, sepasang mata tengah mengawasi gerak geriknya dengan kecemburuan.
Pria itu berjalan setengah berlari menerobos hujan dan menarik tubuh Ameera.
Ameera tersentak karena posisi tubuhnya kini berada dalam dekapan Mark.
"Jangan pernah menyentuh istri saya!" ucap Mark sambil menunjuk Donny dengan jari telunjuk.
"Istri?" tanya Donny heran.
"Ya, Ameera istri saya dan kamu jangan pernah mendekatinya lagi!" bentak Mark seraya merangkul bahu Ameera.
Ucapan terakhir Mark membuat Donny tercengang dan ia melirik ke arah Ameera seakan meminta penjelasan.
Ameera hanya menundukan wajahnya tak berani membalas tatapan mata Donny.
__ADS_1
Ayah Reza dan Bunda Meta mendengar keributan di luar rumah segera membuka pintu dan melihat anak serta menantunya sedang berselisih dengan Donny.
"Ayah, bagaimana ini?" tanya Bunda Meta. Wanita paruh baya itu panik melihat menantunya berdiri dengan sorotan mata penuh kemarahan.
Kedua tangan Mark mengepal di samping tubuhnya, jika tidak ingat berada di lingkungan rumah mertuanya mungkin ia sudah memberikan bogem mentah sebagai ucapan terima kasih ke wajah Donny.
Mark menatap sinis ke arah pria itu, suasana semakin memanas tatkala Donny membalas tatapan permusuhan kepada pria di hadapannya.
"Apa yang kamu tunggu, segera pergi dari sini!" titah Mark.
Namun Donny bergeming, ia masih berdiri dan menatap tajam ke arah Mark.
"Kamu tuli, segera tinggalkan rumah ini!" bentak Mark.
"Tuan, apa yang Anda lakukan!" ucap Ameera tak mau kalah.
"Hanya melindungi apa yang menjadi milik saya!" ucap Mark tegas.
Ameera melepaskan diri dari dekapan suaminya.
"Anda pikir saya barang yang bisa dibuang dan diambil kembali jika dibutuhkan!" sentak Ameera.
"Tuan, ikatan pernikahan tidak bisa disamakan dengan sebuah barang. Anda bisa mengambil dan membuang saya seenak hati, jika bosan tinggal membuangnya ke tempat sampah!"
Ameera membungkam mulut Mark hingga membuat pria itu tidak berkutik.
Di saat bersamaan, Ayah Reza dan Bunda Meta datang menghampiri Ameera dan Mark. Mereka membawa dua buah payung.
"Ameera, Nak Mark ayo masuk. Pakaian kalian sudah basah kuyup, nanti masuk angin."
"Ayo Meera, masuk dulu ke dalam." Bujuk Bunda Meta.
"Ameera, kita bicarakan baik-baik di dalam!" perintah Ayah Reza.
"Nak Donny, sebaiknya kamu pulang. Terima kasih sudah mengantarkan Ameera," Bunda Meta meninggalkan Donny sendirian.
Donny menatap punggung Ameera dengan perasaan hancur, ia kecewa karena selama ini gadis itu menyembunyikan rahasia pernikahannya.
Pantas saja kamu menjaga jarak denganku, ternyata ada hati yang kamu jaga tapi mengapa status pernikahan kalian disembunyikan! Apakah ada rahasia yang masih belum terungkap?
__ADS_1
Ameera, kamu tahu bagaimana rasanya sakit hati? Sakit seperti ditusuk sembilu, dan dada ini terasa sesak bagaikan dihantam sebuah batu besar. Begitu banyak impian yang kubangun ketika membayangkan suatu hari nanti kita akan bersanding di pelaminan namun semua harapan itu sirna, tersisa hanya angan-angan belaka.
Episode selanjutnya besok ya Kak, insya Allah setiap hari akan author update. Jangan lupa likenya ya. ❤